The Seven Islamic Daily Habits Dalam Surat Al-Fatihah (7) Senantiasa Berada Dalam Hidayah

15/6/2009 | 21 Jumada al-Thanni 1430 H | 970 views
Oleh: Abu Ahmad
Kirim Print

pr0035106. Senantiasa Berada dalam Hidayah

Allah SWT berfirman:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah Kami jalan yang lurus”. (Al-Fatihah:6)

Ayat diatas adalah merupakan permohonan kita agar senantiasa dianugrahkan hidayah oleh Allah SWT, senantiasa berada di jalan yang lurus dan tetap berada dalam komitmen untuk beribadah dan beraqidah kepada Allah SWT.

Karena semua kita dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci tanpa dosa. Tetapi perjalanan hidup kadang-kadang membelokkan kita dari jalan-Nya yang hakiki. Ada orang yang tertutup jalan hidayahnya sejak lahir karena dilahirkan oleh orang tua yang tidak beriman. Ada yang kehilangan sinyal hidayah di masa muda karena lingkungan pergaulannya telah menyeretnya ke lokasi yang jauh dari pemancar hidayah. Bahkan ada yang kehilangan hidayah di usia senja karena godaan di perjalanan menggiurkan dirinya.

Dari sekian banyak yang tersesat jalan di antara mereka ada orang-orang yang beruntung karena menemukan kembali jalan kehidupan yang sebenarnya. Cara mereka mendapatkannya bermacam-macam; ada yang menemukannya saat terkulai lemas di rumah sakit, ada yang menemukan kedamaian saat mendengarkan lantunan adzan, ada yang mendapatkannya karena doa dari anaknya yang saleh, ada juga yang menemukannya saat mendengarkan indahnya bacaan Al-Qur’an, ada yang menemukannya karena penelitian yang dilakukannya ternyata selaras dengan prinsip Al-Qur’an dan seterusnya.

Karena itu, dapat kita rasakan bahwa hidayah Allah harganya sangat mahal, tidak bisa dihargai dengan harta dunia sebanyak apapun. Sebagaimana hidayah tidak bisa dikonversikan dengan harta benda. Hidayahlah yang membuat kehidupan ini menjadi bermakna. Hidayahlah yang mendatangkan kenyamanan dan kedamaian hidup. Bahkan di saat hidayah hilang manusia di hadapan Allah lebih hina daripada binatang, dan keberadaannya di muka bumi sudah dikalikan nol dan dianggap oleh Allah seperti mayat.

Kalau diibaratkan jalan, hidayah adalah petunjuk dan rambu-rambu yang memandu kita untuk sampai ke tujuan. Agar petunjuk dan rambu-rambu berfungsi maka orang yang mau sampai ke tujuan harus mempersiapkan diri untuk mematuhi petunjuk dan rambu-rambu yang ada. Tanpa ketaatan dan kepatuhan maka petunjuk dan rambu-rambu tidak ada manfaatnya. Orang yang mendapatkan hidayah juga bisa dianalogikan dengan orang yang menemukan sinyal dan akses untuk berkomunikasi. Dengan sinyal tersebut dia dapat berkomunikasi dengan Allah memohon kepada-Nya agar memandu dirinya selama dalam perjalanan. Dan sinyal masing-masing orang berbeda kekuatannya berdasarkan jauh dekatnya dia dari sumber pemancar.

Orang yang telah mendapatkan hidayah maka hatinya akan dipenuhi oleh cahaya. Dengan bermodalkan cahaya itu mereka merasakan kelapangan dan keluasan dada untuk menerima dan melaksanakan ajaran Islam. Hati orang yang disinari oleh cahaya hidayah sama seperti rumah yang disinari oleh cahaya matahari atau listrik. Sedangkan hidup tanpa cahaya hidayah laksana hidup dalam kegelapan yang menyesakkan dan menggelisahkan, seperti rumah yang tidak berlistrik di malah hari yang kelam.

Hati penerima hidayah memiliki kecenderungan untuk banyak memikirkan masa depan (akhirat), mengambil jarak dengan rumah semu (dunia), dan selalu mempersiapkan diri untuk menghadap kematian sebelum pintu tobat tertutup.

Ketika Allah menurunkan ayat,“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. (Al-An’am:125) para sahabat bertanya: “Apakah ada tanda-tanda untuk mengenal hidayah itu? beliau menjawab: Ya. Ciri-cirinya adalah kecenderungan untuk banyak memikirkan rumah abadi, membuat jarak dengan rumah semu dan selalu mempersiapkan diri menghadapi kematian.

Hidayah Tidak Selamanya Bersemi

Kita tidak boleh puas dengan hidayah yang sudah kita peroleh, karena hidayah yang sudah berlabuh di hati tidak selamanya dalam kondisi prima. Jika dekat dengan Allah dia menguat dan saat jauh dia melemah. Persis seperti sinyal HP, ada saatnya full dan kadang-kadang menghilang tergantung jarak antara HP dengan pemancar. Semakin dekat dengan pemancar semakin kuat sinyalnya. Allah SWT berfirman untuk mengajarkan kita agar selalu berdoa dan memohon kepada-Nya:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”. (Ali Imran:8)

Nabi saw juga selalu berdoa kepada Allah seperti yang diceritakan oleh Abu Sufyan dari Anas bin Malik:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا قَالَ نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

“Wahai Zat yang selalu membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati saya pada agama-Mu, maka saya berkata: Wahai Rasulullah saw, kami telah beriman kepadamu dan beriman terhadap yang engkau bawa, apakah engkau tetap khawatir atas kami. Nabi bersabda: sesungguhnya hati-hati itu berada di antara tangan-tangan Allah, Dia mampu membolak-balikkannya sebagaimana Dia Kehendaki”. (Tirmidzi)

Bahwa karakter hati kita adalah berbolak balik, gampang berubah, dan tidak tetap dalam satu keadaan. Rasa cinta yang mendalam tidak mustahil berubah menjadi dendam kesumat. Tidak selamanya kebencian bersemayam di dalam hati, ada saatnya dia berbalik untuk mencinta. Kadang-kadang ibadah terasa begitu nikmat, tetapi pada waktu yang lain ia terasa hambar. Tidak mustahil hidayah yang telah terhunjam kuat ke dalam hati tercerabut kembali.

Siapa yang menyangka Hindun yang tadinya sangat membenci Rasulullah saw akhirnya menjadi orang yang paling dekat di hatinya atau siap yang mengira Ubaidillah yang termasuk salah seorang senior dalam Islam dan masuk dalam kafilah pertama yang hijrah ke Habsyah akhirnya kembali kepada kekufurannya.

Karena itu kita perlu waspada jangan sampai dia menghilang dari kita tanpa kita sadari. Beberapa titik rawan yang berpotensi menggerogoti hidayah di antaranya adalah fitnah, godaan harta, kedudukan, lawan jenis, si buah hati, (Ali Imran:14, At-Taubah:38) intimidasi, dan fitnah dajal serta lunturnya idealisme (At-Taubah:75-76).

Dan tidak ada jalan lain untuk selamat dari malapetaka fitnah dan prahara lunturnya idealisme kecuali dengan istiqamah dan komitmen di jalan Allah. Makna istiqamah dan komitmen adalah tekad untuk tetap mentauhidkan Allah dan menaati segala perintah-Nya hingga akhir hayat (Al-Hijr:99). Dan selalu memohon kepada Allah untuk diberikan ketetapan istiqamah hingga ajal menjemput, seperti pada ayat yang sedang kita bahas saat ini.

Merawat hidayah

Ibarat pohon yang diharapkan tumbuh lebat dan rindang, maka perlu di rawat dengan baik. Begitu pula dengan hidayah membutuhkan perawatan yang maksimal sehingga tetap berada dalam naungan Allah. Yaitu dengan melakukan cara-cara berikut:

1. Rawat dengan aqidah yang benar

2. Sinari hidayah dengan nur Al-Qur’an dan dzikir kepada Allah. (An-Nisa:174)

3. Sirami hidayah dengan ibadah.

4. Beri pupuk hidayah dengan dakwah, tarbiyah, membaca kisah teladan dan meminta nasihat orang saleh.

5. Pagari hidayah dengan taqwa, hidup bersama orang-orang baik dan doa. (At-Taubah:119)

6. Rawat hidayah dengan berislam yang wasath (pertengahan).

7. Kenali penyakit-penyakit yang bisa merusak hidayah.

Balasan untuk orang yang berhasil menjaga hidayah sehingga tetap istiqamah; dengan senantiasa mengerjakan kebaikan dan segera bertobat jika melakukan kekeliruan, pada saat sakaratul maut yang menegangkan, para malaikat akan turun mengiringi kepergian ruh dari jasadnya sembari mengatakan: “Jangan kamu takut dan janganlah bersedih, surga yang dijanjikan kepadamu sudah siap menantimu”. (Fushilat:30, Al-Ahqaf:13) dan akan berkata pula: “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku” (Al-Fajr:27-30).


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 15/6/2009 / 21 Jumada al-Thanni 1430 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

3 Komentar

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

ustad, jazakallah atas tulisanya, ana minta izin untuk ana copy paste, karena tidak bisa baca sekaligus di internet.

wassalam

 

ustad boleh kan ana copi artikelya n ada bagi ma temen2

 

terima kasih atas artikelnya

 

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Tulis Komentar


« sebelumnya
sesudahnya »