The Seven Islamic Daily Habits Dalam Surat Al-Fatihah (5) Berorientasi Akhirat

25/5/2009 | 1 Jumada al-Thanni 1430 H | 1,294 views
Oleh: Abu Ahmad
Kirim Print

deewan_1

04. Berorientasi Akhirat

Allah SWT berfirman:

مَالِكِ يَوْمِ الدِّين

“Dia adalah Penguasa di Hari Pembalasan” (Al-Fatihah:4)

Adapun kebiasaan baik islami keempat  yang diajarkan Allah dalam surat Al-Fatihah adalah dengan selalu menjadikan hidup di dunia ini  beroreintasi pada akhirat; yaitu dengan menjadikannya sebagai sarana untuk  memperbanyak bekal menuju kehidupan abadi di akhirat, selalu beraktivitas dan beramal untuk kebahagiaan hidup abadi di akhirat kelak, tanpa melupakan akan kehidupan dan kenikmatannya di dunia.

Allah SWT berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Al-Qashash:77)

Marilah sejenak kita perhatikan apa yang ada di sekeliling kita; lihatlah pakaian kita, pandanglah rumah kita, renungkanlah makanan yang ada di sekitar kita, perhatikanlah kendaraan yang kita miliki dan lain-lainnya.. ternyata semuanya semakin lama semakin tua.. ada yang lusuh, ada yang luntur warnanya, ada yang sudah basi dan bau aromanya, dan ada yang jalannya sudah tidak baik lagi bahkan jika dipaksakan bisa merepotkan dan menyusahkan karena sering mogok di jalan.. dan mari tatap diri kita masing-masing.. dulu kita merasa adalah orang yang paling kuat, paling gagah, paling ganteng, paling cantik, paling pandai dan sanjungan-sanjungan lainnya…!!! tapi ternyata sekarang… ternyata semua itu adalah nisbi, semuanya adalah fana… tidak kekal dan tidak abadi.. hanya sementara.. dan pada akhirnya kita semua akan pergi dan berlalu untuk menghadap sang Khaliq untuk kemudian akan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita perbuat di dunia ini.

Umur rata-rata manusia setelah Nabi Muhammad saw adalah 60 sampai 70 tahun, dan ternyata itu semua adalah singkat, tidak semua orang dapat mencapai usia sepanjang itu….

“Suatu hari Rasulullah saw membuat kotak persegi empat, dan beliau membuat satu garis di tengah kotak persegi empat tersebut hingga keluar. Beliau juga membuat garis-garis kecil menuju arah garis yang di tengah dari dua sudut yang ada di tengah. Lalu beliau bersabda: “Garis di tengah kotak itu adalah manusia. Sedangkan kotak persegi itu adalah yang ajal yang selalu mengepungnya. Sedangkan garis yang keluar adalah angan-angannya. Sedangkan garis kecil itu adalah segala macam rintangan yang menghadang manusia. Jika dia selamat dari satu penghalang, dia akan diintai oleh penghalang yang lain”. (Bukhari).

ajal3

Karena itu hendaklah setiap kita, menjadikan amal perbuatan, aktivitas, pikiran, lintasan dan niatan selalu berorientasi pada akhirat, sehingga dengan itu semua maka kita akan mendapatkan dua kebahagiaan; yaitu bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.. bahkan sampai ketika meminta nikmat sekalipun hendaknya kita meminta tidak hanya berorientasi pada bahagia di dunia saja tapi juga berorientasi pada bahagia di akhirat juga. Seperti yang Allah sebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 200-201:

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ . وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami (kebaikan) di dunia”, dan Tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka”

Orientasi Akhirat: Berfikir tentang hakikat hidup dan perjalanan hidup setelahnya

• Hidup di dunia ini adalah terbatas (empat hal yang akan menjadi fokus pertanggungjawaban: tentang usia, masa muda, harta dan ilmu)

• Setelah hidup akan ada kematian (husnul khatimah atau su’ul khatimah)

• Akan ada kehidupan alam kubur untuk menanti hari pembalasan (Jangan sampai jadi orang yang bangkrut, hari pengadilan sangat menegangkan, kenikmatan surga sangatlah menakjubkan, siksa neraka sangatlah mengerikan)

• Akan ada setelah hari perhitungan balasan yang kekal; hidup kekal di surga dengan penuh kenikmatan dan hidup kekal di neraka dengan penuh kesengsaraan.

Orientasi Akhirat: Berfikir maju dan berorientasi masa depan

Dengan memantapkan doktrin maliki yaumiddin dalam sanubari, kita akan berfikir maju dan berorientasi masa depan. Kita tidak menjadi manusia picik, kerdil dan pragmatis.

Dengan prinsip ada kehidupan abadi setelah kehidupan fana ini, kita akan lebih hati-hati untuk melangkah.. berfikir lebih panjang sebelum berbuat.  Dan mereka yang berorientasi masa depan disebut Rasulullah saw sebagai orang yang cerdas. Sebaliknya yang pragmatis dan tidak sanggup melawan hawa nafsunya disebut sebagai orang yang lemah akal.

Rasulullah saw bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“Orang yang cerdas adalah yang mampu menundukkan hawa nafsunya dan berbuat untuk kebaikan setelah kematian, dan orang yang lemah adalah yang hanya mengikuti hawa nafsunya dan berharap kasih sayang Allah” (Tirmidzi)

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ. وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik”. (Al-Hasyr: 18-19)

Orientasi Akhirat: apakah perbuatan kita mendukung untuk kehidupan akhirat?

Orang yang mendawamkan diri membaca maliki yaumiddin akan muncul dari dalam dirinya pertanyaan di atas. Maliki yaumiddin seolah-olah menjadi filter yang membuatnya harus berfikir sejenak sebelum melangkah.

Pertanyaan ini sangat penting untuk menyelamatkan kita dari jeratan dosa, terutama saat kita melakukan pekerjaan yang dari hati terdalam kita sebenarnya menolaknya. Atau mungkin terlintas dalam benak dan pikiran kita akan melakukan perbuatan jahat, maka kita sadar bahwa hal tersebut akan ada pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Adapun jika perbuatan itu adalah baik maka kita akan bergegas dan bersegera melakukannya, karena kita sadar bahwa hal tersebut akan berakibat baik dan positif bagi kita di akhirat kelak.

Allah SWT Berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Al-Qashash:77)

Orientasi Akhirat: mewaspadai Dosa

Memang tidak ada manusia yang tidak berdosa. Tetapi kita tidak boleh menjadikan kenyataan ini untuk menyerah dan selalu melakukan dosa. Tugas kita adalah berupaya berbuat yang terbaik dan kalau terjadi kesalahan, kekeliruan dan kekurangan pada saat melakukannya, maka sebagai mukmin yang baik adalah harus segera bertobat.

Di antara perbedaan orang mukmin dengan orang fasik adalah pada sikapnya terhadap dosa. Orang mukmin jika melakukan dosa segera berusaha untuk bertobat, karena dia merasa diburu-buru oleh dosa tersebut. Dia selalu berkata di hadapan Allah, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Adam dan Hawa saat berbuat salah:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan Kami, Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi”. (Al-A’raf:23)

dan juga menyatakan diri, seperti yang diungkapkan oleh nabi Yunus As:

أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zhalim.”(Al-Anbiya:87)

Sedangkan orang fasik, ketika melakukan dosa berusaha untuk mencari-cari alasan untuk membenarkan apa yang dilakukannya. Contohnya adalah pembangkangan Iblis. Ketika ditegur oleh Allah, dia mencari-cari alasan kenapa dia tidak mau tunduk kepada Adam sebagaimana diperintahkan oleh Allah. Dia mengatakan bahwa dia lebih mulia dari Adam, karena Adam diciptakan dari tanah, sedangkan dia diciptakan dari api.. sebenarnya Iblis tidak punya bukti untuk mengatakan api lebih mulia daripada tanah, tetapi itulah Iblis, suka mencari-cari alasan untuk membenarkan perbuatannya yang salah.

Orientasi akhirat: Mengusir kegelisahan hidup

Orang yang banyak melakukan dosa akan merasakan kegelisahan hidup yang tiada tara. Hidupnya selalu di bayang-bayangi perasaan bersalah. Akibatnya tidur tidak pernah pulas, pikiran pun selalu kacau.

Orang yang menumpuk dosa adalah orang yang melawan arus nuraninya. Karena itu pertentangan antara batin dan fisiknya itu membuat hidupnya tertekan. Orang yang menumpuk dosa ibarat orang yang menumpuk barang berat di atas pundaknya. Semakin banyak diletakkan di atas pundak semakin berat bebannya dan pada suatu saat membuat dia tersiksa dan tidak mampu melanjutkan perjalanan. Itulah rahasianya kenapa orang yang banyak dosanya tidak memiliki semangat sama sekali memenuhi panggilan Allah. Mereka tidak mampu shalat, puasa, zakat, haji, membaca Al-Qur’an dan seterusnya.. padahal dari segi energi yang masuk lewat makanan mungkin sama dengan orang lain. Karena itu.. orang yang berdosa tidak pernah merasakan kedamaian hati.

Jiwa kita baru akan merasa puas jika menyerahkan diri kita sepenuhnya hanya kepada Allah, tidak kepada hawa nafsu yang rendah. Kita diciptakan untuk menyembah Allah:

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (Ar-Ra’ad:28)

Itulah sebabnya orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya memiliki kepuasan jiwa. Hal ini terjadi karena menjauhkan diri dari kejahatan, melawan nafsu jiwa, dan membaktikan diri hanya kepada Allah semata.

Allah berfirman:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً. فَادْخُلِي فِي عِبَادِي . وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku”. (Al-Fajr:27-30)


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 25/5/2009 / 1 Jumada al-Thanni 1430 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

Belum Ada Komentar

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Tulis Komentar


« sebelumnya
sesudahnya »