The Seven Islamic Daily Habits Dalam Surat Al-Fatihah (4) Berfikir Positif Kepada Allah

19/5/2009 | 25 Jumada al-Ula 1430 H | 1,095 views
Oleh: Abu Ahmad
Kirim Print

cl0079103. Berfikir Positif Kepada Allah

Adapun kebiasaan Islami yang ketiga yang diajarkan Allah dalam surat Al-Fatihah adalah membiasakan diri untuk selalu ber-positif thinking kepada Allah SWT, bagaimanapun kondisi dan keadaan diri; baik berada dalam kondisi senang atau susah, bahagia atau sedih, lapang atau sempit, sehat atau sakit, kaya atau miskin dan pada saat tertimpa musihah atau terhindar dari dari musibah.

Pada hakikatnya, semua kita pasti mendambakan kebahagiaan, kesenangan, kelapangan, sehat dan terhindar dari suatu musibah. Dan pada saat berbagai hal tersebut menghampiri, tidak sulit bagi kita untuk menyatakan bahwa Allah Maha Baik dan telah memberikan kemuliaan pada diri kita, siapapun pasti ingin merasakan itu semua, apalagi nikmat hidup layak (kaya) dan sejahtera, mulai dari anak kecil hingga dewasa, laki-laki dan wanita, bahkan hingga orang tua, pasti sangat mendambakan akan kondisi seperti itu.

Hanya saja, hidup ini tidak selamanya bertabur nikmat. Kadang hidup diselingi sedikit cobaan dan berselimut takut, di lain waktu kita merasakan kelaparan, kekurangan harta, kehilangan orang-orang tercinta, kekurangan buah-buahan dan seterusnya.

Allah berfirman:

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’”. (Ali Imran:140)

Dan kondisi tersebut kadang-kadang terjadi secara tiba-tiba, membuat kita tersentak, terkaget-kaget, sedih berkepanjangan, menjadi pemurung, marah tanpa sebab, kesal, putus asa, bahkan na’udzubillah .. sampai menjadi gila.

Allah menyebutkan tabiat kita seperti itu dalam firman-Nya:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. (Al-Fajr:15-16)

Memang tidak gampang menata jiwa menghadapi saat-saat sulit, tetapi kalau sudah terjadi kita tidak bisa lari dari kenyataan tersebut. Dan yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan mental untuk menghadapinya.

Bagaimanakah caranya?? Disinilah pentingnya berfikir positif terhadap Allah.

Yaitu kita perlu meyakinkan diri bahwa Allah selalu mengedepankan sifat kasih sayang-Nya, meskipun kita tidak merasakan itu secara langsung. Karena tidak semua hal yang tidak kita sukai berdampak buruk bagi diri kita, mungkin saja di kemudian hari cobaan itu membawa keberuntungan. Sebaliknya, tidak semua perkara yang enak dan menyenangkan itu baik bagi kita. Kadang-kadang gula yang manis dan enak, berbahaya bagi tubuh, tapi obat yang begitu pahit malah banyak faedah dan manfaatnya.

Meyakini bahwa segala yang terjadi adalah ketetapan yang terbaik dari Allah yang Maha Kasih dan Sayangnya, akan membuat jiwa menjadi tenteram. Tanpa berfikir seperti ini kita akan menjadi korban pikiran kita sendiri. Obat yang terbaik dari penyakit ini adalah berpikir bahwa kita akan sembuh dengan kasih sayang Allah.

Allah berfirman:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (At-Taubah:51)

Dan untuk memantapkan bangunan berpikir positif terhadap Allah hendaknya kita melakukan langkah-langkah berikut:

1. Latih diri selalu membaca kasih sayang Allah di sekitar kita

Kita akan malu mengeluh dan berkeluh kesah kalau saja tahu betapa besar kasih sayang Allah yang telah dan selalu dicurahkan kepada kita. Ketika menjelaskan bagaimana kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya, Rasulullah saw mengajak sahabatnya untuk memperhatikan seorang ibu yang tengah menggendong anak bayinya. Rasulullah saw bertanya kepada sahabatnya tentang kemungkinan sang ibu mencampakkan bayinya? Mereka sepakat bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi. Setelah itu Rasulullah saw berkata: “Allah jauh lebih sayang kepada hamba-Nya daripada kasih sayang ibu ini terhadap anaknya”.

Mari kita perhatikan kasih sayang di sekitar kita; kita dan makanan, kita dan awan yang bergerak, kita dan oksigen yang kita hirup, kita dan bumi yang tenang, datar dan tidak berbenjol-benjol, kita dan azab Allah.

Allah SWT berfirman:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا

“Dan kalau Sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; Maka apabila datang ajal mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya”. (Fathir:45)

2. Tata jiwa menghadapi kehilangan seseorang atau sesuatu yang dicintai

Menata jiwa agar tetap tenang saat menghadapi musibah bukanlah pekerjaan mudah. Banyak orang kehilangan akal sehatnya akibat musibah yang menerpanya. Kesedihannya dilampiaskan dengan cara yang bermacam-macam. Ada yang berteriak histeris, ada yang pingsan, ada yang menangis sekencang-kencangnya diikuti dengan memukul-mukul badan, menampar pipi, merobek pakaian dan lain-lain.

Agar kita tetap tegar menghadapi kenyataan dan merasakan belai kasih sayang Allah, maka dapat kita lakukan langkah-langkah berikut:

a. Usahakan tetap tenang di menit-menit awal musibah, pahala dan barokah menanti anda insya Allah

b. Ucapkanlah “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun” ketika terjadi musibah

c. Bandingkan nikmat yang hilang dengan nikmat yang ada

d. Biarkan air mata kasih berlinang

e. Jangan larut dalam kesedihan.

3. Tanamkan keyakinan bahwa dalam kesulitan pasti ada kemudahan

Allah SWT berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا .  إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Al-Insyirah:5-6)

Sudah menjadi kaidah umum bahwa kesulitan, ketakutan dan penderitaan jika dihadapi dengan tenang dan sabar akan berubah menjadi kegembiraan dan kesenangan. Ketakutan melihat petir dan mendengar geledek segera sirna dengan turunnya hujan yang kita harap-harapkan. Ibu yang melahirkan pasti tahu sakitnya melahirkan, tapi karena mendambakan anak, ia sanggup menahan sakit. Setelah lahir, rasa sakit melahirkan itu seolah-olah hilang digantikan dengan kegembiraan berupa hadirnya sang jabang bayi dan buah hati.

Karena itu, kondisi-kondisi sulit jika dihadapi dengan lapang dada dan dikelola dengan baik, maka akan menjadi kendaraan yang akan menghantarkan kita pada kemudahan. Tapi, kendaraan itu tidak berjalan sendiri, ia harus digerakkan dengan kerja nyata yang kontinyu dan rasa harap yang terus bersambung kepada Allah.

4. Hilangkan penyakit-penyakit mental yang menghilangkan kemajuan

Nabi selalu mengajarkan doa kepada kita:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari segala kegelisahan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari segala kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan bakhil dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan kesewenangan orang”. (Bukhari)

5. Baca kelebihan yang kita miliki, bila perlu libatkan orang lain lalu mintalah bantuan Allah

6. Jangan ragu-ragu; bertawakallah kepada Allah

Dahsyatnya Berpikir Positif

Ada sebuah cerita; pasangan suami istri sudah lama berumah tangga, tetapi belum juga dikaruniai keturunan. Secara medis mereka berdua tidak ada masalah. Semua upaya mereka lakukan tetapi belum juga berhasil. Pada suatu hari, mereka berdua datang kepada seorang dokter. Setelah dicek dan tidak ada masalah, dokter itupun berkata: “Sebenarnya ibu bisa mempunyai keturunan jika mampu menata hati”. Diagnosa dokter terhadap suami istri tersebut adalah ketakutan tidak bisa hamil dan tidak bisa mempunyai keturunan. Menurut beliau obatnya adalah menata hati menghilangkan ketakutan. Pernyataan dokter ini betul-betul mereka amalkan. Hari-hari setelah itu mereka lalui dengan berusaha untuk tenang dan menyerahkan segala urusan kepada Allah. Sang istri berusaha untuk tenang menghadapi kenyataan dan menitipkan urusan kehamilannya kepada Allah.. dan akhirnya…alhamdulillah sang istri hamil dan dikaruniai buah hati yang mereka idam-idamkan. Subhanallah.


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 19/5/2009 / 25 Jumada al-Ula 1430 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

3 Komentar

Subhanallah, jazakumullah

 

Subhanallah, Al Fatihah adalah surat yang paling sering dibaca, tapi maknanya seringkali terabaikan. Ternyata maknanya begitu dalam, lengkap dan luar biasa. Jazakumullah, pemahaman ini mudah-mudahan membuat siapa saja yang membaca ketika shalat akan lebih menikmati.

 

subhanallah, Betapa Islam memang agama yang sangat sempurna

 

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Tulis Komentar


« sebelumnya
sesudahnya »