The Seven Islamic Daily Habits Dalam Surat Al-Fatihah (2) Bismillah Saat Memulai Pekerjaan

11/5/2009 | 17 Jumada al-Ula 1430 H | 1,038 views
Oleh: Al-Ikhwan.net
Kirim Print

cl0005

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Bismillah artinya aku memulai kerjaku dengan menyebut nama Allah, atau aku mulai melakukan sesuatu dengan menyebut Allah (bismillah). Kedua makna di atas menunjukkan bahwa bismillah adalah kalimat penting yang mengawali sebuah aktivitas. Bismillah dengan demikian bermakna menyertakan niat karena Allah (lillahi ta’ala) dalam setiap kegiatan. Dengan menyebut namanya di awal, maka pekerjaan tersebut akan berbobot dan bernilai ibadah. Tanpa kata ini kerja seseorang akan kehilangan makna. Dan ketika telah memulai kerja dengan langkah awal yang benar maka akan mengawali pula sukses berikutnya.

Dan tentunya juga, dengan memahami makna bismillah dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehati-hari, maka sang pelaku diharapkan menyadari konsekuensi dari apa yang dilakukannya; ketika hendak makan misalnya, maka dirinya akan dipandu untuk mengingat adab-adab makan, seperti makan dan minum dengan tangan kanan, makanan yang ada harus dihabiskan untuk mendapatkan berkahnya, makan dan minum secukupnya dan tidak terlalu kenyang, serta hanya makan yang halal dan thayyib, tidak tabdzir, dan membaca doa setelah makan. Begitu pula jika pada saat berpakaian selalu membaca bismillah; maka kita akan ingat dengan adab-adab berpakaian, seperti menutup aurat, tidak sombong dengan pakaian (tidak pamer), dan bersyukur kepada Allah yang telah mengaruniai pakaian. Pada saat keluar rumah lalu membaca bismillah, maka niat bekerja untuk ibadah, memenuhi kebutuhan keluarga, tidak berniat untuk menzhalimi orang lain, tidak akan mengambil harta yang tidak halal dan seterusnya.

Bismillah adalah intisari dari nama-nama Allah

Di dalam basmalah tercantum tiga nama, yaitu Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Menurut Ibnu Al-Qayyim, tiga nama ini adalah rangkuman dari semua makna nama-nama Allah. Intisari dari tiga rangkaian nama itu mengajarkan kita untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam semua aktivitas dengan semangat nama-Nya yang Rahman dan Rahim.

Dan jika basmalah diucapkan oleh lisan yang bersumber dari hati yang bersih, maka anggota tubuh akan meresponnya dengan semangat kerja berbasis nurani. Tetap jika kata ini diucapkan lisan bersumber dari hati yang rusak, maka ungkapan basmalah tidak akan memberikan pengaruh apa-apa pada anggota tubuh. Mungkin ungkapan hanya tinggal ungkapan, tapi pekerjaan di hari itu sama sekali tidak menggambarkan suara nuraninya.

Memulai kerja dengan menyebut nama Allah SWT akan memberikan peluang kepada kita untuk mendapatkan fasilitas rahmat-Nya sepanjang hari, yaitu kemampuan untuk membaca benar dan salah yang mungkin kita hadapi pada hari itu… yang benar untuk kita terima dan tegakkan, yang salah kita tinggalkan dan anulir.

Kisah para nabi dan Rasul, sangatlah menarik untuk kita simak; nabi Nuh AS yang tegar dalam memegang teguh dakwah dan memperjuangkan prinsip, yang mana beliau selalu memulai pekerjaannya dengan menyebut basmalah.

وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Hud:41).

Nabi Sulaiman dan kerajaannya yang meliputi kawasan Palestina dan sekitarnya. Beliau menjalankan roda pemerintahannya dengan prinsip Bismillahirrahmanirrahim.

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (An-Naml:30).

Sebuah prinsip yang mengandung misi mentauhidkan Allah SWT dengan gerakan rahmatan lil’alamin. Begitu pula nabi Muhammad saw; sejak menerima perintah untuk mengucapkan basmalah saat menerima wahyu pertama, nabi Muhammad tidak pernah meninggalkan bacaan ini dalam semua aktivitas beliau. Beliau memahami bahwa basmalah tidak sekadar diucapkan saat membaca tetapi juga untuk amalan-amalan yang lain.

Pentingnya menyertakan nama Allah dalam setiap pekerjaan itulah yang membuat Rasulullah saw merasa perlu untuk mengeluarkan pernyataan tertuang dalam sabdanya:

كُلُّ عَمَلٍ لَمْ يُبْدَأْ فِيْهِ بِبِسْمِ اللهِ فَهُوَ أَقْطَعُ

“Setiap pekerjaan penting yang tidak dibuka dengan bismillahirrahmanirrahim akan terpotong”. (Abu Daud dan Ibnu Majah).

Dalam hadits yang lain, disebutkan bahwa Aisyah Ra berkata: “Nabi saw selalu menyebut Allah dalam setiap kesempatan”. (Muslim).

Bahkan sejarah kesuksesan dengan basmalah tidak berhenti pada nabi Muhammad saw saja, nilai ini juga telah diwariskan kepada kita, dan potensi untuk menjadi orang yang sukses juga terbuka lebar bagi kita semua.

Jika mau menginternalisasikan makna ini dalam hari-hari kita dan menegimplementasikannya dalam kehidupan insya Allah, perubahan revolusioner akan terjadi pada kita. Seorang pegawai berangkat dari rumahnya dengan mengucap basmalah, naik kendaraan dengan basmalah, masuk kantor dengan basmalah, membuka komputer dengan basmalah, menandatangani sesuatu dengan basmalah… insya Allah akan menjadi pegawai yang ikhlas, jujur, bersih dan profesional.

Basmalah ibarat gas yang memotivasi kita bergerak lebih kencang untuk melaksanakan kebaikan, tetapi pada saat yang sama ia berfungsi sebagai rem yang menahan kita melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji. Jika basmalah bekerja efektif di hati, lisan dan amal setiap anak bangsa, dapat kita bayangkan akan terjadi perubahan yang sangat luar biasa pada bangsa kita yang besar ini.

Namun, memang ucapan basmalah bukan segalanya.. ia adalah pembuka sukses.. kita perlu melanjutkan perjalanan agar cita-cita kesuksesan itu tercapai. Bagi yang belum siap berang karena takut resiko, pastikan Anda berani mengambil langkah untuk sama-sama berangkat, karena kesuksesan Anda akan tertunda tanpa mengambil sikap yang tegas dan berani.


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 11/5/2009 / 17 Jumada al-Ula 1430 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

3 Komentar

assalamualaikum.. mohon izin utk link buat kongsi sama teman2 saya. makasih.

 

thank’s lot off. for this information

 

Ass.wr.wb. mohon izin saya link ke blog saya ya. Terimakasih. wass.wr.wb

 

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Tulis Komentar


« sebelumnya
sesudahnya »