Suara Dari Dalam Hati (13) Renungan tentang Ukhuwah, Tajarrud dan Tsiqah (1)

19/7/2010 | 8 Shaban 1431 H | 802 views
Oleh: Al-Ikhwan.net
Kirim Print

Muhammad Badi’, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin

Penerjemah:

Abu ANaS

_______

Pertama saya ingin mengingatkan firman Allah:

وَالَّذِينَ هُمْ لأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

“Dan orang-orang yang menepati amanah dan janji-janji mereka” (Al-Mu’minun:18)

Sifat diatas merupakan salah satu sifat penghuni surga yaitu memelihara dan menjaga amanah dan janji-janji yang mengikat dirinya kepada Allah SWT, kemudian bersama sesama manusia –agar kita menjadi orang yang senantiasa menunaikan apa yang dinasihatkan kepadanya, maka kita akan melihat, tekhnik apa yang dapat kita jadikan sarana untuk dapat menunaikan taklif ini? Ini menuntut apa yang kita coba sampaikan dengan izin Allah yaitu tentang ukhuwah, tajarrud (totalitas) dan tsiqah, yaitu 3 sifat yang dengannya kita telah berjanji kepada Allah dalam baiat kita.

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu sesungguhnya telah berbaiat kepada Allah”. (Al-Fath:10)

Karena itu, tidak boleh bagi manusia memberikan masukan sehingga harus dengan jujur mengakui bahwa kita hidup bersama dengan kebenaran tanpa ada keinginan lain, hidup bersama yang lainnya namun tanpa jiwa, dan hidup dari jiwa tanpa hawa nafsu”.

Al-Ukhuwah sebagaimana dimaksudkan ustadz Al-Banna –sosok yang telah mendirikan jamaah yang penuh berkah ini, bahwa batasan-batasan dunia atau garis mereka yang tidak boleh dilanggar adalah berlapang dada… apa yang dimaksud lapang dada disini?? Apa engkau telah mencobanya? Apakah jika terjadi ketidakcocokan  menyiapkannya sebagaimana yang diinginkan? Dimana ia berada terhadap diri sendiri sementara anda memiliki urusan dengan orang lain? Karena Allah akan mencintaimu sebesar kecintaanmu kepada ikhwan mu, bukan karena besarnya kecintaan mereka kepadamu lalu meningkat derajat ukhuwah yang penuh berkah untuk mencapai lebih tinggi lagi yaitu itsar? Apakah engkau mengetahui makna itsar? Apakah engkau telah mencobanya dalam satu sikap? Apakah dimaksud disini mendahulukan saudaramu dari dirimu sendiri? Apakah engkau ingat dengan ikhwanmu yang dipenjara dan yang ditangkap, dan dalam kondisi menyelesaikan solusi bagaimana mereka menerima siksaan bahkan kematian sebagai tebusan untuk ikhwan mereka. Kita berharap kepada Allah semoga mereka mendapatkan kemenangannya berupa kebaikan dunia dan akhirat melalui karunia Allah dan rahmat.

Ukhuwah bukan sekedar hak yang harus dipenuhi namun ia juga merupakan nilai-nilai dan dhawabit (norma-norma) yang mampu mencegah diri dari melakukan ghibah, namimah, najwa (berbisik-bisik), suudzan (buruk sangka), dan berlindung dengan adab-adab nasihat

من نصح أخاه بينه وبينه فقد زانه، ومن نصحه على الملإ فقد شانه

“Barangsiapa yang menasihati saudaranya dihadapan saudara lainnya maka dia telah menzinahinya, barangsiapa yang menasihati dihadapan orang banyak maka dia telah menyakitinya”.

Apakah engkau telah menzinahi saudaramu atau telah menghinakannya. Begitu pula adab berselisih (berbeda pendapat) dengan adab yang mulia, sebagaimana yang diungkapkan oleh imam Al-Banna: “Tidak mengapa melakukan netralisir satu fakta dengan dalil dan bukti dibawah naungan cinta kepada Allah tanpa membuat kondisi pada pertengkaran yang tercela dan fanatisme buta”.

Marilah kita kembali pada pondasi ini dan mengukur jiwa kita padanya dan jangan katakan fulan melakukan ini kepada saya begini atau melakukan demikian itu, bahkan sekiranya dia melakukan pelanggaran terhadap dirimu yang mana engkau berada dalam ketaatan kepada Allah di dalamnya..!! Kadang kita melihat ketika berkurang rasa cinta kepada Allah atau menipis hak-hak ukhuwah,  kita melihat munculnya pertengkaran yang tercela karena fanatisme. Dan peringatan rabbani disini sangat penting karena munculnya api dimulai dari yang kecil, dan syaitan akan berputus asa menyembah di muka bumi kita, namun senang dengan apa yang remeh dari perbuatan kalian” senang dengan pertikaian diantara kita; karena itu dia selalu mendorong kita untuk tidak mengatakan yang terbaik, dan pada selanjutnya kata-kata ini menipis dari tingkat ukhuwah dan melemahkannya

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ

“Dan Katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka”. (Al-Isra:53)

Dan menguatnya bisikan syaitan dengan kadar istijabah kita pada ajakannya, apakah terlintas mau melakukan tipuan syaitan bukan dari kata-kata namun dari mimpi lalu sampai padanya kenyataan

يَا بُنَيَّ لا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإِنسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Yusuf:5)

Syaitan senantiasa hadir dalam berbagai permasalahan

مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي

“Setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku”. (Yusuf:100)

Bahwa tidaklah tipuan baik syaitan manusia atau jin jika melihat satu barisan rapi bahkan dalam shaf shalat kecualibersegera mencari lubang dalam shaf. Nabi pernah melihat dengan matanya sendiri terpisahnya lubang dari barisan, sementara syaitan tidak senang melihat adanya saling berkasih sayang dan senang dalam tubuh umat Islam sehingga terus bergerak ingin membuat perpecahan dan kesedihan

إِنَّمَا النَّجْوَى مِنْ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu Tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah”. (Al-Mujadilah:10)

Syaitan telah mencoba senjata yang berbahaya ini dari siapa yang lebih baik dari kita, sekiranya bukan karena karunia Allah maka terwujudlah misinya

وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”. (An-Nisa:83)

Bukankah syaitan-syaitan manusia dan jin telah memecah belah antara Aus dan Khazraj sebagai contoh yang sangat kongkret dari golongan Anshar? Bukankah mereka yang telah menebarkan pertikaiana lama antara mereka? Bukankah jiwa-jiwa menjadi panas antara muhajirin dan Anshar dalam berbagai sikap dan kondisi, namun kembali kepada pondasi dan tsawabit menjadi obat dan solusi dalam pertikaian sepele dan furu’; karena apa yang ada diantara kita lebih berharga dari apa yang ada dimuka bumi ini, dan saya ingin menyampaikan setelah merasakan nikmat ukhuwah ini dan memperluas pembahasan sehingga mencakup ukhuwah pada seluruh umat Islam, dan memberikan nikmat ini kepada non muslim, tentang manisnya keadilan Islam dan kebaikannya kepada mereka yang telah kehilangan akibat orang-orang yang tidak iltizam dengan perkara Islam yang murni, sebagaimana yang telah dibawa dan dipraktekkan oleh Rasulullah saw.


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 19/7/2010 / 8 Shaban 1431 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

Belum Ada Komentar

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Tulis Komentar


« sebelumnya
sesudahnya »