Shahih Wirdul Qur’an

27/11/2008 | 27 Dhul-Qadah 1429 H | 1,457 views
Oleh: Abu Abdillah
Kirim Print

Satu hal lagi, adalah apa yang dituduhkan melalui syahwat mereka, bahwa wirdul Qur’an yang sering diamalkan oleh Ikhwan adalah perbuatan bid’ah, karena tidak ada tuntunannya dalam hadits-hadits shahih sehingga harus ditinggalkan, maka aku katakan: Yuriduna liyuthfi’u nuraLLAAHa bi afwahihim… (mereka itu ingin mencoba memadamkan cahaya Allah melalui lisan mereka..)

Maka aku tidak akan menjawab tuduhan mereka itu dengan jidal, cukup aku tuliskan kutaib ini yang aku beri judul “Shahih Wirdul Qur’an” (Wirid Qur’an yang Shahih), semoga hal ini dapat menenangkan hati para Mujahid AL-IKHWAN bahwa apa yang mereka lakukan adalah didasarkan pada dalil-dalil yang shahih dan mengikuti cahaya sunnah Sayyidina Muhammad SAW, dengan izin Allah insya ALLAAH, nafa’ani waiyyaakum…

Mukadimah

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا شَقِيقُ بْنُ سَلَمَةَ قَالَ خَطَبَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ فَقَالَ: وَاللَّهِ لَقَدْ أَخَذْتُ مِنْ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِضْعًا وَسَبْعِينَ سُورَةً وَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي مِنْ أَعْلَمِهِمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَمَا أَنَا بِخَيْرِهِمْ قَالَ شَقِيقٌ فَجَلَسْتُ فِي الْحِلَقِ أَسْمَعُ مَا يَقُولُونَ فَمَا سَمِعْتُ رَادًّا يَقُولُ غَيْرَ ذَلِكَ

Ibnu Mas’ud berkata r.a.: “Demi Allah! Sungguh telah aku ambil sendiri dari bibir Nabi SAW lebih dari 70 surah, Demi Allah! Sungguh para sahabat Nabi SAW telah mengetahui bahwa aku termasuk di antara orang yang paling mengetahui tentang Kitabullah tetapi aku bukanlah yang terbaik dari mereka. Maka berkata Syaqiq (periwayat atsar ini dari Ibnu Mas’ud –pen): Maka aku duduk di halaqah mendengar orang2 yang berbicara, tak kudengar satu pun orang yang membantah kata2nya itu.”

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا مُسْلِمٌ عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ إِلَّا أَنَا أَعْلَمُ أَيْنَ أُنْزِلَتْ وَلَا أُنْزِلَتْ آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ إِلَّا أَنَا أَعْلَمُ فِيمَ أُنْزِلَتْ وَلَوْ أَعْلَمُ أَحَدًا أَعْلَمَ مِنِّي بِكِتَابِ اللَّهِ تُبَلِّغُهُ الْإِبِلُ لَرَكِبْتُ إِلَيْهِ

Ibnu Mas’ud r.a. berkata: “Demi Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia! Tidaklah turun sebuah surah dalam Kitabullah kecuali aku mengetahui dimana ia diturunkan, dan tidaklah turun sebuah ayat dari Kitabullah kecuali aku mengetahui tentang apa ayat itu turun, dan jika aku mengetahui ada orang yang lebih tahu dari aku tentang Kitabullah yang bisa dicapai dengan Unta, maka akan kupacu untaku untuk menemuinya.”

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ عَلَيَّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ نَعَمْ فَقَرَأْتُ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى أَتَيْتُ إِلَى هَذِهِ الْآيَةِ { فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا } قَالَ حَسْبُكَ الْآنَ فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

Berkata Ibnu Mas’ud: Bersabda Nabi SAW kepadaku: “Bacakan untukku (Al-Qur’an –pen).” Jawabku: Bagaimana mungkin aku membacakannya kepada Anda, sedangkan Al-Qur’an itu diturunkan kepada Anda? Jawab beliau SAW: “Bacakanlah.” Maka kubacakan surah An-Nisa’ hingga saat aku sampai pada ayat ini (Maka bagaimanakah halnya orang kafir itu, apabila KAMI kelak mendatangkan seseorang saksi/Rasul dari masing-masing umat dan KAMI mendatangkan kamu -wahai Muhammad- sebagai saksi atas semua mereka itu..?) maka beliau bersabda: “Cukup sampai di sini” Maka aku melirik pada wajah beliau SAW dan kudapati kedua matanya telah berlinang airmata.

ابْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُا: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بِئْسَمَا لِلرَّجُلِ أَنْ يَقُولَ نَسِيتُ سُورَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ أَوْ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِّيَ

Berkata Ibnu Mas’ud RA: Aku mendengar Nabi SAW bersabda: “Seburuk2 orang adalah jika ia berkata: Aku lupa surat ini dan itu atau aku lupa ayat ini dan itu, tetapi hendaklah ia berkata: Aku telah dibuat lupa darinya.”

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُونَ فِي الصُّبْحِ حَتَّى إِذَا جَاءَ ذِكْرُ مُوسَى وَهَارُونَ أَوْ ذِكْرُ عِيسَى أَخَذَتْهُ سَعْلَةٌ فَرَكَعَ وَقَرَأَ عُمَرُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى بِمِائَةٍ وَعِشْرِينَ آيَةً مِنْ الْبَقَرَةِ وَفِي الثَّانِيَةِ بِسُورَةٍ مِنْ الْمَثَانِي وَقَرَأَ الْأَحْنَفُ بِالْكَهْفِ فِي الْأُولَى وَفِي الثَّانِيَةِ بِيُوسُفَ أَوْ يُونُسَ وَذَكَرَ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ الصُّبْحَ بِهِمَا وَقَرَأَ ابْنُ مَسْعُودٍ بِأَرْبَعِينَ آيَةً مِنْ الْأَنْفَالِ وَفِي الثَّانِيَةِ بِسُورَةٍ مِنْ الْمُفَصَّلِ وَقَالَ قَتَادَةُ فِيمَنْ يَقْرَأُ سُورَةً وَاحِدَةً فِي رَكْعَتَيْنِ أَوْ يُرَدِّدُ سُورَةً وَاحِدَةً فِي رَكْعَتَيْنِ كُلٌّ كِتَابُ اللَّهِ وَقَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِي مَسْجِدِ قُبَاءٍ وَكَانَ كُلَّمَا افْتَتَحَ سُورَةً يَقْرَأُ بِهَا لَهُمْ فِي الصَّلَاةِ مِمَّا يَقْرَأُ بِهِ افْتَتَحَ بِ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا ثُمَّ يَقْرَأُ سُورَةً أُخْرَى مَعَهَا وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ فَقَالُوا إِنَّكَ تَفْتَتِحُ بِهَذِهِ السُّورَةِ ثُمَّ لَا تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِأُخْرَى فَإِمَّا تَقْرَأُ بِهَا وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِأُخْرَى فَقَالَ مَا أَنَا بِتَارِكِهَا إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِذَلِكَ فَعَلْتُ وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ وَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْ أَفْضَلِهِمْ وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ فَلَمَّا أَتَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرُوهُ الْخَبَرَ فَقَالَ يَا فُلَانُ مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَفْعَلَ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ أَصْحَابُكَ وَمَا يَحْمِلُكَ عَلَى لُزُومِ هَذِهِ السُّورَةِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّهَا فَقَالَ حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ

Dari Abdullah bin Sa’ib RA bahwa Nabi SAW membaca QS Al-Mu’minun dalam shalat Shubuh sampai menyebut Musa & Harun atau menyebut Isa beliau SAW terbatuk lalu ruku’; sementara Umar r.a. membaca 120 ayat dari surah Al-Baqarah pada raka’at pertama dan raka’at kedua dengan surah dari Al-Matsani; Al-Ahnaf membaca Al-Kahfi di raka’at pertama dan raka’at kedua surah Yusuf atau Yunus dan disebutkan dia shalat bersama Umar RA dg membaca kedua surah tersebut; Ibnu Mas’ud dengan 40 ayat dari Al-Anfal dan raka’at kedua membaca dari Al-Mufashshal; dan Qatadah RA berfatwa tentang orang yang membaca 1 surah dibagi dalam 2 raka’at, atau mengulangi surah yang sama di raka’at kedua bahwa kesemuanya adalah Kitabullah; dan berkata UbaiduLLAAH bin Tsabit dari Anas r.a. bahwa ada seorang laki-laki dari Anshar mengimami orang di masjid Quba’ dan setiap ia akan membaca sebuah surah ia selalu memulai dengan surah Al-Ikhlas sampai selesai lalu melanjutkannya dg surah yang lain dan ia selalu melakukannya di tiap raka’at, maka para sahabat membincangkannya, mereka berkata: Kamu itu membuka dg membuka dg surah ini lalu kamu menganggapnya tidak mencukupi lalu kamu tambah dg surah yang lain, maka silakan pilih apakah kamu mau membaca surah itu (Al-Ikhlas) atau kamu akan meninggalkannya dan membaca surah lainnya? Maka ia menjawab: Aku tak mau meninggalkannya, kalau kalian mau aku menjadi Imam akan kulakukan, atau jika kalian tidak menyukainya maka aku tidak akan mengimami kalian. Maka mereka melihat bahwa ia adalah orang yang paling layak mengimami mereka dan mereka tidak mau orang lain yang menjadi Imam, maka saat mereka menemui Nabi SAW mereka menceritakan hal tersebut, maka kata Nabi SAW: Wahai Fulan, apa yang menghalangimu untuk memenuhi keinginan para sahabatmu, lalu apa yang menyebabkan kamu merutinkan membaca surah ini pada tiap raka’at? Jawab orang tersebut: Karena aku mencintainya (surah Al-Ikhlas –pen). Maka sabda Nabi SAW: Kecintaanmu pada surah tersebut akan memasukkanmu ke dalam Jannah.


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 27/11/2008 / 27 Dhul-Qadah 1429 H, dalam rubrik Raddusy Syubuhat. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

1 Message

Assalamu’alaikum
JazakaLLahu, bagus sekali makalahnya. Cuma akan lebih mantap jika diberi sanad hadistnya.

 

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Tulis Komentar


« sebelumnya
sesudahnya »