6. MEMBACA AL-MU’AWWIDZATAN:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا
“Dari Aisyah RA berkata: bahwa jika Nabi SAW merasa tidak enak/sakit maka beliau membacakan surah 2 perlindungan (Al-Falaq dan An-Nas) dan meniupkannya untuk diri beliau, dan jika beliau sakitnya parah maka aku yang membacakannya untuk beliau tapi aku usapkan menggunakan tangan beliau karena mengharapkan barakah dari kedua tangan beliau tersebut.” [1]
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
“Dari Aisyah RA sesungguhnya Nabi SAW jika berada di atas tempat tidurnya, setiap malam beliau mengumpulkan kedua tangannya, lalu meniup pada keduanya, lalu membaca pada keduanya (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) dan (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) dan (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ) lalu beliau mengusap dengan kedua tangannya apa yang bisa dijangkau dari tubuhnya, beliau memulai dari kepalanya, lalu wajahnya, lalu apa yg mampu dicapai dari badannya, beliau melakukan yang demikian itu sebanyak 3x.” [2]
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَال قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتْ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Dari ‘Uqbah bin Amir berkata: Bersabda Nabi SAW: “Tidakkah kalian tahu ada beberapa ayat yang diturunkan semalam, yg tidak pernah ada yang menyamainya sedikitpun..? Yaitu “qul ‘audzu birabbil falaq” dan “Qul ‘audzu birabbinnas” [3]
وقال عبد الله بن خبيب : خَرَجْنَا فِي لَيْلَةِ مَطَرٍ وَ ظُلْمَةٍ شَدِيْدَةٍ نَطْلُبُ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّي لَنَا فَأَدْرَكْنَاهُ فَقَالَ : ” قُلْ ” فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ : ” قُلْ ” فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا قَالَ : ” قُلْ ” قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدُ وَ الْمُعَوِّذَتَيْنِ حِيْنَ تُمْسِي وَ حِيْنَ تُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ يَكْفِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ
Berkata AbduLLAAH Ibnu Khubaib RA: Kami keluar pada suatu malam yang hujan lebat dan gelap gulita luar biasa untuk meminta Nabi SAW untuk mendoakan kami, maka kami menemui beliau SAW, lalu langsung beliau SAW bersabda: Katakanlah..! Maka kami tidak satupun yang berkata apa-apa, maka kata beliau lagi: Katakanlah..! Maka kami masih tidak satupun yang berkata apa-apa, maka kata beliau lagi: Katakanlah..! Maka aku berkata: Apa yang harus kukatakan..? Maka beliau bersabda: (: قل هو الله أحد) dan surah 2 perlindungan. Bacalah itu setiap sore dan tiap pagi 3x, akan mencukupimu dari segala masalah.” [4]
اقرءوا المعوذات في دبر كل صلاة
“Bacalah surah 2 perlindungan pada tiap ba’da shalat.” [5]
كَانَ رَجُلٌ [ مِنَ الْيَهُوْدِ ] يَدْخُلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، [ وَكَانَ يَأْمَنُهُ ] فَعَقَدَ لَهُ عُقَدًا فَوَضَعَهُ فِي بِئْرِ رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ، [ فَاشْتَكَى لِذَلِكَ أَيَّامًا ، (وَفِي حَدِيْثِ عَائِشَةَ : سِتَةَ أَشْهُرٍ ) ] فَأَتَاهُ مَلَكَانِ يَعُودَانِهِ ، فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِهِ وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيْهِ ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا : أَتَدْرِي مَا وَجَعُهُ ؟ قَالَ : فُلانٌ الَّذِي [ كَانَ ] يَدْخُلُ عَلَيْهِ عَقَدَ لَهُ عُقَدًا فَأَلْقَاهُ فِي بِئْرِ فُلانٍ الأَنْصَارِيِّ ، فَلَوْ أُرْسِلَ [ إِلَيْهِ ] رَجُلٌ ، وَأَخَذَ [ مِنْهُ ] الْعُقَدَ لَوَجَدَ الْمَاءَ قَدِ اصْفَرَّ، [ فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ فَنَزَلَ عَلَيْهِ بِـ ( الْمُعَوِّذَتَيْنِ ) ، وَ قَالَ : إِنَّ رَجُلاً مِنَ الْيَهُوْدِ سَحَرَكَ ، وَ السِّحْرُ فِي بِئْرِ فُلاَنٍ ، قَالَ : ] قَالَ : فَبَعَثَ رَجُلا ( وَ فِي طَرِيْقٍ أُخْرَى : فَبَعَثَ عَلِيًّا رَضِي اللهُ عَنْهُ ) [ فَوَجَدَ الْمَاءَ قَدْ اصْفَرَ ] فَأَخَذَ الْعُقَدَ [ فَجَاءَ بِهَا ] ، [ فَأَمَرَهُ أَنْ يَحُلَّ الْعُقَدَ وَ يَقْرَأُ آيَةً ] ، فَحَلَّهَا [ فَجَعَلَ يَقْرَأُ وَ يَحُلَّ ] ، [ فَجَعَلَ كُلَّمَا حَلَّ عُقَدَةً وَجَدَ لِذَلِكَ خِفَّةً ] فَبَرَأَ ، ( وَ فِي الطَّرِيْقِ الأُخْرَى : فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّمَا نَشَطَ مِنْ عِقَالٍ ) وَكَانَ الرَّجُلُ بَعْدَ ذَلِكَ يَدْخُلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَذْكُرْ لَهُ شَيْئًا مِنْهُ وَلَمْ يُعَاتِبْهُ عَلَيْهِ السَّلامُ [ قَطُّ حَتَّى مَاتَ ] “.
“Ada seorang laki-laki Yahudi masuk ke tempat Nabi SAW –ia sudah dipercaya oleh Nabi SAW– lalu ia tiba-tiba membuat sebuah buhul (simpul ikatan) lalu ia membenamkannya ke dalam sumur milik seorang Anshar, maka Nabi SAW menjadi sakit selama beberapa hari (dalam riwayat Aisyah RA: selama 6 bulan), maka turunlah 2 orang malaikat menjenguk beliau, yang seorang duduk di dekat kepala beliau yang satunya duduk di dekat kedua kaki beliau, maka berkata salah satu malaikat : Tahukah kamu apa penyakitnya? Dijawab yang kedua: Karena si Fulan, yang pernah membuatkan satu buhul baginya, dan melemparkannya ke dalam sumur milik si Fulan, seorang Anshar. Maka seandainya ia (maksudnya Nabi SAW) mengutus seseorang untuk mencari buhul tersebut, maka ia akan menemukan sumur tersebut airnya telah berwarna kuning. Maka saat itu turunlah Jibril AS pada nabi SAW dengan membawa surah 2 perlindungan (Mu’awwidzatan: Al-Falaq dan An-Nas) lalu Jibril berkata: Seorang Yahudi telah menyihirmu (wahai Muhammad), dan (benda) sihir tsb diletakkan di sumur si Fulan. Maka Nabi SAW pun mengutus seseorang (dalam riwayat yang lain dikatakan: yang diutus adalah Ali RA), maka ia menemukan sumur tersebut airnya telah berwarna kuning, maka dicarilah buhul tersebut, lalu ditemukan. Maka Nabi SAW memerintahkan untuk membukanya sambil membaca surah (2 perlindungan), maka beliau SAW membaca ayat sambil membuka tiap buhul, dan tiap terbuka 1 ikatan dari buhul itu nabi SAW merasa badannya menjadi lebih segar (dalam riwayat lainnya dikatakan saat semua buhul tersebut terbuka maka Nabi SAW langsung berdiri seolah-olah beliau baru lepas dari ikatan). Dan orang yang telah melakukan sihir tersebut tetap masuk ke rumah beliau seperti biasa, dan Nabi SAW tidak pernah berbicara sepatah katapun soal perbuatan orang itu kepadanya, dan tidak pula beliau menghukumnya sedikitpun sampai orang itu meninggal.” [6]
(BERSAMBUNG INSYA ALLAAH…)
———————————————————————-
[1]. HR Bukhari, XV/422, bab Keutamaan Mu’awwidzatain, hadits no. 4629
[2]. HR Bukhari, XV/423, bab Keutamaan Mu’awwidzatain, hadits no. 4630
[3]. HR Muslim, IV/246, bab Keutamaan membaca Mu’awwidzatain, hadits no. 1348
[4]. Al-Kalimut Thayyib, Ibni Taimiyyah dan di-shahih-kan oleh Al-albani (lih. Tahqiq-nya atas hadits tsb, juz I/68, hadits no.19)
[5]. HR Nasa’i, I/196; Ibni Khuzaimah, no. 755; Abu Daud, no. 1523; Ibni Hibban, no. 2347; Ahmad, IV/159; di-shahih-kan oleh Al-albani (lih. Ash-Shahihah, II/144, hadits no. 645)
[6]. HR At-Thabrani dalam Al-Kabir, V/210, hadits no. 5011; Al-Hakim, IV/360-361; HR Ibnu Sa’d, dlm At-Thabaqat, II/199; An-Nasa’i, II/172; Ibnu Abi Syaibah, dlm Al-Mushannaf, VIII/29-30, hadits no. 3569; Ahmad, III/67; berkata Al-Hafizh Al-Iraqi dlm Takhrij Al-Ihya’ (II/336): Shahih sesuai syarat Muslim. Dan disepakati oleh Al-albani (Ash-Shahihah, II/260 hadits no. 2761)
|
| Ke atas.
RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI