Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (6): Mendirikan Daulah; Kisah Dzul Qornain (2)

6/8/2008 | 3 Shaban 1429 H | 782 views
Oleh: DR. Ali Muhammad As-Slaaby
Kirim Print

Penterjemah:

Abu Ahmad

_______

Akhlak Kepemimpinan Dzul Qornain

Bahwa syakhsiyah Dzul Qornain memiliki keistimewaan dalam budi pekerti dan akhlaknya yang tinggi yang dapat membantunya dalam mewujudkan risalah dakwah dan jihad dalam kehidupan. Dan diantara inti dari akhlak tersebut adalah:

a. Sabar; Bahwa beliau memiliki kesabaran dalam melakukan perjalanan hidup dan perjuangan yang berat serta berdakwah kepada Allah untuk mengajak manusia menyembah kepada Al-Khaliq; seperti kegigihan beliau dalam melakukan invasi yang diembannya yang membutuhkan keseriusan dan kesungguhan dalam membuat tandzim, berpindah-pindah, bergerak dan memberikan jaminan terbaik kepada masyarakat. Karena itu pekerjaan yang dilakukannya membutuhkan pasukan yang besar, akal yang cerdas, semangat yang bergelora, kesabaran yang besar, persiapan yang matang dan sebab-sebab atau sarana-sarana tertentu yang membawanya pada kemenangan dan kejayaan[1].

b. Bahwa Dzul Qornian memiliki kewibawaan dan kesehajaan: hal tersebut dapat dirasakan oleh seseorang pada saat pertama kali melihatnya, sehingga tidak salah menyangka saat meyakini bahwa dirinya adalah bukan raja yang zhalim dan keras. Seperti ketika beliau berada pada dua tempat dan mendapatkan suatu kaum yang lemah, mereka dapat merasakan akan kesehajaannya, dan mendapatkan di dalam dirinya akan keikhlasan daripada kezhaliman dan kekuatan yang realistis atas mereka sehingga dengan itu mereka bersegera memberikan bantuan; sehingga tidak ada seorangpun yang menyangka bahwa dirinya bukanlah seorang perusak seperti yang lainnya, dan dalam dirinya memiliki kekuatan dan bekal yang tidak sebanding dengan yang lainnya. [2]

c. Keberanian: bahwa beliau juga memiliki kekuatan hati nun tegar, tidak pernah merasa lemah terhadap beban yang besar dan tanggungjawab yang berat, jika hal tersebut tertuju pada ridha Allah. Karena apa yang dilakukan dalam membangun benteng merupakan pekerjaan yang sangat besar dan karena kaum yang melakukan kerusakan mungkin saja dapat melakukan tindakan merusak kepadanya dan kepada pasukannya, namun beliau melakukan sesuatu yang baru yang tidak pernah terlintas dan terjadi sebelumnya [3].

d. Kepribadian yang seimbang: karena beliau tidak berlebihan dalam mengeksplorasi keberaniannya atas kebijaksanaannya, tidak berkurang kegigihannya atas kasih sayangnya, begitupun dengan keberaniannya atas kelembutannya dan keadilannya, dan bukanlah dunia seluruhnya –yang telah ditundukkan untuknya- cukup untuk memujinya kecuali karena ketawadhuannya, kebersihan hatinya dan kesucian jiwanya.

e. Banyak bersyukur: karena beliau adalah sosok yang hatinya hidup dan lekat dengan Allah SWT, sehingga beliau tidak pernah mabuk oleh kemenangan yang diraih dan indahnya kekuasaan setelah berhasil menundukkan orang-orang yang sombong dan para perusak, namun beliau tetap bersyukur kepada Allah [4] sambil berkata: “Ini adalah rahamat dari Tuhanku”. (Al-Kahfi:98)

f. Hidup sederhana dan tidak berlebihan: karena beliau merasa cukup dengan kondisi hidup sederhana, dan selalu menghindar terhadap harta yang tidak dibutuhkan dan perhiasan yang tidak bermanfaat; Karena itu, ketika kaum yang lemah mengadu kepadanya akan perbuatan merusaka dilakukan oleh kaum yang zhalim dan membawakan kepadanya hadiah yang banyak jika berhasil menyelesaikan permasalahannya, beliau menolak pemberian tersebut; namun beliau membantunya dengan dengan ikhlas dan sederhana, melalui agama dan kebaikan, sambil berkata : “Sesungguhnya yang telah Allah berikan kepadaku dari kerajaan dan kejayaan lebih baik bagiku dari harta yang akan kalian kumpulkan dan apa yang saya miliki lebih baik dari harta yang kalian usahakan” [5].

Sesungguhnya kunci keperibadian Dzul Qornain terwujud dalam keimanannya kepada Allah dan siap menghadapi hari akhir, kecintaannya terhadap keimanan dan kebenciannya terhadap kekufuran dan kemaksiatan dan kecintaannya yang begitu dalam terhadap dakwah kepada Allah. Dan keimanan beliau kepada Allah dan hari akhir tampak jelas dalam kepribadian Dzul Qornain saat Allah berfirman tentangnya:

مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ

“Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik”. (Al-Kahfi:95)

Dan Allah juga berfirman:

أَمَّا مَن ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَى رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُّكْرًا

“Adapun orang yang aniaya, Maka Kami kelak akan mengazabnya, kemudian Dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya”. (Al-Kahfi:87)

Dan firman-Nya:

فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا

“Maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar”. (Al-Kahfi:98)

Demikianlah bukti-bukti yang menjelaskan bahwa beliau adalah sosok yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhir. Dan intisari dari itu semua adalah:

- Bahwa terhadap pemimpin bukan saja sekedar keberanian, berhasil dalam melakukan penaklukan dan mewujudkan kemakmuran, jika tidak bersatu dalam dirinya keimanan kepada Allah dan hari akhir. Karena banyak para pemimpin yang berhasil melakukan kemajuan duniawi, namun tidak dianggap sebagai orang besar, karena itulah Al-Quran tidak menyebut mereka sebagai orang yang melakukan kebaikan, namun disebtukan sebagai pemimpin yang berhasil memakmurkan dunia namun -disisi lain- menghancurkan agama dan melakukan kerusakan terhadapnya, seperti yang dilakukan oleh Fir’aun, Hamman, Namrud dan yang lainnya.

- Bahwa keseimbangan yang menakjubkan dan kesehajaan dalam pribadi Dzul Qornain; sebabnya adalah keimanan kepada Allah dan hari akhir, karena itulah kekuatan yang dimilikinya tidak digunakan untuk menyimpang dari berbuat adil, kekuasaannya tidak menghilangkan jiwanya akan rasa kasih sayangnya, kekayaannya tidak melunturkan dirinya akan ketawadhuannya sehingga berhak mendapatkan ta’yid (dukungan) Allah dan pertolongan-Nya; dan karena itu pula Allah memberikan kemuliaan dengan memberikan sebab-sebab tamkin dan kemenangan, yang merupakan karunia dari Allah atas hamba-Nya yang Salih, maka diberikan juga kepadanya kemampuan dan kekuatan mengurus negara secara baik dan profesional, dengan memiliki system yang rapi, wawasan yang luas, prajurit yang banyak, kewibawaan dan kesehajaan yang menakjubkan[6].

Sebagaimana Allah juga memberikan kepadanya kemuliaan dengan banyaknya pembantu dan pasukan serta kekuatan sehingga membuat rasa takut dan gentar di dalam diri musuh, memudahkan perjalanan hidup atasnya, memahami akan kondisi bumi dan menguasainya baik darat maupun lautan [7], dan kejayaannya dalam memiliki kerajaan di Timur dan Barat, dan semua itu tidak diberikan kepada orang yang biasa, dan tidak mungkin dapat diwujudkan dan diraih oleh seorang pemimpin sekalipun memiliki kekuatan, kedigdayaan dan kecerdasan yang lebih kecuali jika mendapatkan dukungan dari Allah; karena dengan dukungan itulah yang menjadikan kemenangan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, dan hal tersebut menunjukkan akan perhatian dan kebesaran Allah :

وَآتَيْنَاهُ مِن كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

“Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu”. (Al-Kahfi:84)

Maksudnya adalah Allah membentangkannya dengan seluruh apa yang diinginkan dari berbagai tugas kerajaan, dan tujuan-tujuan yang berhubungan dengan kekuasaannya, dibekali dengan ilmu menguasai negara dan karakter-karakternya, memahami bahasa kaum yang ditaklukkannya; karena beliau tidak memerangi suatu kaum kecuali dia mengetahui bahasa kaum tersebut [8].

Allah telah memberikan kepadanya berbagai macam jalan untuk mencapai segala sesuatu, sehingga terlintas dalam fikiran orang yang mendengar atau yang membacanya, akan berbagai bentuk tamkin untuknya di muka bumi, dan sebab-sebabnya adalah ilmu, pengetahuan dan konsep sunnah suatu umat dan bangsa yang kadang naik dan kadang turun, dan ilmu dalam mengorganisir jiwa; baik individu maupun jamaah; berupa tahdzib (pembinaan), tarbiyah dan intidzam (kedisiplinan). Allah telah memberikan kepadanya berbagai macam kekuatan; baik dari senjata dan pasukan, benteng dan kemenangan; berbagai macam kemakmuran; konsep tata kota, membelah jalan dan mengembangkan pertanian dan lain sebagainya. Allah memberikan kepadanya berbagai macam tamkin yang hanya layak untuk sosok robbani [9]. Allah berfirman:

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِن كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu”. (Al-Kahfi:84)

Bahwa perlindungan Allah terhadap Dzul Qornain sangatlah besar oleh karena keimanannya kepada-Nya yang begitu kuat, dan kesiapan dirinya menghadapi yaumul akhir, karena itulah Allah membukakan baginya taufik sesuai dengan apa yang diusahakan olehnya dari berbagai tujuan dan misi yang mulia.

Dzul qornain mengerahkan segala potensinya untuk berdakwah dengan mengajak manusia beribadah kepada Allah, sehingga Allah menyatukan antara penaklukan dan kemenangan yang agung dengan menggunakan tajamnya pedang dan penaklukan hati dengan keimanan dan ihsan. Karena itulah, ketika beliau berhasil menguasai suatu umat atau bangsa, maka dirinya mengajak mereka pada kebenaran dan keimanan kepada Allah sebelum tertimpa atas mereka balasan atau ganjaran. Beliau juga bersemangat dalam melakukan pekerjaan perbaikan pada setiap negara atau kota yang berhasil ditaklukkannya, berusaha membentangkan kekuasaan secara baik dan benar, dan menegakkan keadilan dimuka bumi; timur dan barat, beliau juga memiliki loyalitas yang tinggi dan kecintaan pada ahlu al-iman sebagaimana dirinya juga selalu memusuhi orang-orang yang melakukan tindak kekufuran [10].

___________________________________

[1]. Lihat: Al-Hukmu wa at-tahakum fi khitab al-wahyi, jil. 2, hal. 624

[2]. Ibid.

[3]. Ibid.

[4]. Ibid. jil. 2, hal. 627

[5]. Ibid. jil. 2, hal. 625

[6]. Lihat: Ruhul Ma’ani, jil. 16, hal. 30

[7]. Lihat: Al-Bahrul Muhith, jil. 6, hal. 159

[8]. Lihat: Ruhul Ma’ani, jil. 16, hal. 31

[9]. Lihat: Mabahits fi Tafsir Al-Maudhu’i, Mustafa Muslim, hal. 304

[10]. Lihat: Al-Hukmu wa at-tahakum fi khitab al-wahyi, jil. 2, hal. 623


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 6/8/2008 / 3 Shaban 1429 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

Belum Ada Komentar

RSS feed untuk komentar pada naskah ini.

Maaf, untuk sementara kolom komentar tidak tersedia.

« sebelumnya
sesudahnya »