Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (7): Syarat-syarat Tamkin dan Sebab-sebabnya (1)

29/10/2008 | 28 Shawwal 1429 H | 1,189 views
Oleh: DR. Ali Muhammad As-Slaaby
Kirim Print

Penterjemah:

Abu Ahmad

_______

Bahwa khilafah di muka bumi dan tamkin (kejayaan) pada agama Allah dan mengganti rasa takut dengan ketenangan dan keamanan adalah merupakan janji dari Allah SWT pada saat umat Islam mampu mewujudkan syarat-syaratnya. Dan Al-Quran telah menegaskan dengan jelas akan syarat-syarat tamkin dan keharusan menjaganya sepanjang masa.

Allah SWT berfirman:

وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ` وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat”. (An-Nuur:55-56)

Al-Qur’an Al-Karim telah menegaskan bahwa diantara syarat-syarat tamkin adalah Iman dengan seluruh makna dan rukun-rukunya, aktif dalam melakukan amal shalih dengan berbagai macam dan bentuknya, semangat dalam melakukan amal kebajikan dan ragam perbaikan, mewujudkan hakikat ubudiyah secara integral dan menyeluruh, memerangi kemusyrikan dengan berbagai macam bentuk dan ragamnya. Sedangkan keharusan untuk menjaga tamkin tersebut adalah dengan mendirikan shalat, membayar zakat dan mentaati Rasulullah saw.

Adapun yang berhubungan dengan sebab-sebab tamkin, Allah telah memerintahkan untuk melakukan persiapan yang menyeluruh seperti dalam firman Allah :

 وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat”. (Al-Anfal:60)

Melakukan persiapan pada hakikatnya merupakan upaya mengambil sebab-sebab, karena itu yang diminta untuk melakukan persiapan seperti dalam pemahaman ayat diatas adalah secara menyeluruh; karena kalimat Quwwah (kekuatan) diatas disebutkan dalam bentuk perintah dengan shighat nakirah (bentuk umum), sehingga mencakup berbagai kekuatan; kekuatan aqidah dan iman, kekuatan barisan dan pasukan, dan kekuatan senjata dan logistik.

Ayat diatas juga memberikan isyarat kepada umat Islam; untuk membuka wawasan agar melakukan persiapan secara menyeluruh; persiapan materil maupun inmateril, jiwa maupun harta, zhahir maupun bathin, ilmu dan fiqh; pada tingkatan individu maupun jamaah. Begitu pula masuk pada persiapan tarbawi, suluki (prilaku) dan persiapan mali (harta), telekomunikasi, politik, keamanan dan militer serta persiapan-persiapan lainnya.

Dan pada pembahasan ini kami akan menjelaskan syarat-syarat tamkin dalam fasal (bagian) tersendiri, dan menjelaskan sebab-sebabnya dalam fasal (bagian) yang lainnya -insya Allah-. Sehingga umat Islam dapat mengambil manfaat dalam mengintegrasikan harakah dan berusaha menegakkan syariat Allah di muka bumi ini.

Fasal Pertama

Syarat-Syarat Tamkin

Pembahasan Pertama:

Iman kepada Allah dan beramal shalih

Bahwa Allah telah menjelaskan kepada hambanya akan hakikat iman yang dengannya Allah menerima segala perbuatan dan dapat mewujudkan janji-janji Allah berupa kemenangan baik di dunia maupun di akhirat.

Dan diantara syarat untuk mendapatkan dan menjadi khalifah di muka bumi adalah mewujudkan keimanan dengan berbagai nilai-nilai yang terdapat di dalamnya dan komitmen dengan syarat-syaratnya serta menghindar dari hal-hal yang bertentangan dengannya.

Al-Qur’an al-karim dan sunnah nabawiyah telah menjejaskan secara rinci tentang makna iman, rukun-rukun, syarat-syarat dan tuntutan-tuntutan yang terdapat di dalamnya.

Dan para ulama ahlul hadits dalam perjelasan-penjelasan mereka juga telah menegaskan akan hakikat iman. Mereka berkata: Bahwa iman adalah perbuatan yang dibenarkan dalam hati, diucapkan pada lisah -dengan mengucapkan dua kalimat syahadat-, dan diamalkan dalam perbuatan. Atau iman adalah keyakinan, ucapan dan perbuatan. Tiga hakikat tersebut harus selalu beriringan dan menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Beberapa ucapan para ulama juga banyak menegaskan akan hakikat keimanan, dan mereka mengambil dalil dari berbagai ayat-ayat Qur’an dan sunnah nabawiyah akan keabsahan hakikat iman tersebut [1].

Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ` الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ` أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya”. (Al-Anfal:2-4)

Ayat diatas telah menyatukan –yang menjabarkan sifat dan karakteristik orang-orang beriman- antara kerja hati dan kerja tubuh (perbuatan), dan menganggap bahwa itu semua merupakan bagian dari keimanan. Dan disandingkannya kata iman dengan sebutan pembatasan “innama” , terhadap orang-orang beriman dengan sifat-sifatnya secara bersamaan, “Merekalah orang memiliki iman yang sebenar-benarnya” sedangkan amal perbuatan dalam sifat-sifat ini adalah mendirikan shalat dan berinfaq di jalan Allah.

Dalam ayat lain juga disebutkan firman Allah:

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong”. (As-Sajadah:15),

Bahwa sujudnya orang-orang beriman pada saat mereka berdzikir dengan ayat-ayat Allah merupakan ibadah amaliyah badaniyah, dan tasbih mereka dengan memuji Allah merupakan ibadah amaliyah lisaniyah, sementara ketidak sombongan mereka merupakan ibadah amaliyah sulukiyah akhlakiyah qolbiyah.. dan itu semua merupakan ciri yang terdapat dalam hakikat keimanan.

Dalam ayat lainnya Allah juga berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Al-Baqoroh:277).

Bahwa diantara hakikat keimanan seperti yang termaktub pada ayat diatas adalah amal shalih secara umum, dan disebutkan secara bersamaan dalam berdzikir; shalat dan zakat, yang merupakan ciri keimanan dalam amali.

Bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang menghubungkan antara iman dan amal shalih dan menjadikan keduanya satu kesatuan dari hakikat keimanan dan bagian dari sifat dan karakter orang-orang beriman ada banyak. Diantaranya adalah :

Firman Allah SWT:

إِلاَّ مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلاَ يُظْلَمُونَ شَيْئًا

“Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, Maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun”. (Maryam:60)

Dan firman Allah SWT:

إِلاَّ مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ

“Tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka Itulah yang memperoleh Balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang Tinggi (dalam syurga)”. (Saba:37)

Dan firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لاَ نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلاً

“Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik”. (Al-Kahfi:30)

Al-Qur’an dalam berbagai ayat-ayatnya, menyebutkan lafadz Iman disamakan dengan amal (perbuatan), seperti firman Allah:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنتَ عَلَيْهَا إِلاَّ لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّن يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلاَّ عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللهُ وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللهَ بِالنَّاسِ لَرَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa Amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”. (Al-Baqoroh:143)

Yang dimaksud dengan iman disini adalah shalat. Dan para mufassirin berpendapat akan makna tersebut, bahkan para sahabat juga memahami demikian, sebagaimana juga sesuai dengan riwayat tentang asbabbun nuzulnya.

Imam para mufassirin, Ibnu Jarir dalam sanadnya dari Qatadah meriwayatkan, dia berkata: “Bahwa dalam penentuan qiblat terdapat ujian dan penetralisiran, ketika kaum Anshar menunaikan shalat menghadap baitul Maqdis dua tahun sebelum datang larangan dari Nabi saw, dan Nabipun shalat setelah kedatangannya di Madinah dengan berhijrah menghadap Baitul Maqdis selama 17 bulan.

Kemudian setelah itu Allah SWT memerintahkan kepada nabi dan para sahabatnya untuk menghadap Ka’bah, di Baitul haram (Mekkah). Dan pada kesempatan itulah orang-orang munafik dan Yahudi berkata: mengapa mereka merubah arah qiblat yang sebelumnya mereka lakukan, sungguh ada seseorang -Muhammad- telah rindu dengan tempat kelahirannya. Allah berfirman:

قُل للهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Katakanlah –wahai Muhammad- hanya milik Allah arah timur dan barat, dan Allah memberikan petunjuk ke jalan yang lurus kepada siapa saja yang di Kehendaki”. (Al-Baqoroh:142)

Beberapa orang –dari kalangan umat Islam- berkata –ketika arah qiblat dirubah menjuju baitul haram-: “bagaimana dengan amal-amal kita yang sebelumnya kita lakukan -shalat- mengarah pada qiblat pertama? Maka turunlah ayat Allah:

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

“Allah SWT sama sekali tidak akan menyia-nyiakan iman kalian”. (Al-Baqoroh:143).

Kemudian imam Thobari menyebutkan sebelas riwayat dari para sahabat dan tabiin bahwa makna iman pada ayat shalat adalah jawaban atas pertanyaan terhadap sebagian sahabat akan balasan shalat yang telah mereka lakukan menghadap baitul maqdis, dan pertanyaan orang lain diantara mereka akan balasan shalat yang dilakukan oleh saudara mereka yang telah meninggal dunia menghadap baitul maqdis sebelum dirubah menghadap ka’bah [2].

Adapun makna firman Allah:

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

“Allah SWT sama sekali tidak akan menyia-nyiakan iman kalian”. (Al-Baqoroh:143).

Seperti yang disebutkan dalam riwayat bahwa imanakum maknanya adalah shalat; bahwa Allah sama sekali tidak menyia-nyiakan iman kepada Rasulullah saw dengan shalat kalian menghadap baitul maqdis atas perintah-Nya, karena yang demkian kalian telah beriman dan mempercayai utusan-Ku dan mentaatinya untuk-Ku [3].

Dan imam At-Thobari telah menegaskan adanya ikatan antara iman dengan shalat dan menjelaskan adanya keimanan dalam menunaikan shalat dan menghadap ke Baitul Maqdis lalu setelah itu menghadap Ka’bah. Dari penegasan ini terdapat isyarat yang lembut, ikatan yang disebutkan olehnya sangat mengagumkan, menunjukkan akan kapasitasnya yang mumpuni dalam tafsir dan bahasa serta yang lainnya [4].

Dan diantara ayat-ayat tentang iman yang sesuai dengan amal adalah firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الأنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan”. (Yunus:9)

Sebagian para mufassirin berpendapat bahwa makna iman disini adalah amal perbuatan yang mereka lakukan di dunia.. dan imam At-Thobari menyebutkan beberapa ungkapan dari para tabiin akan makna tersebut, seperti imam Ibnu Juraij berkata: “Allah SWT memberikan hidayah dengan iman, dia berkata: yaitu perbuatan dalam bentuk kebaikan dan wangi yang semerbak, yang akan diberikan kepada pelakunya dan diberikan kabar gembira dengan segala kebaikan, sehingga dia berkata kepadanya: “Siapakah kamu?” maka dia berkata: “Aku adalah perbuatanmu”. Maka jadilah ia sebagai cahaya yang menerangi alam kuburnya hingga dirinya dimasukkan ke dalam surga. itulah makna firman Allah: “Allah memberikan petunjuk oleh karena keimanan mereka”. Adapun orang-kafir akan ditampakkan perbuatannya dalam bentuk yang buruk dan bau yang busuk dan tidak sedap, yang selalu menemaninya dan mengirinya sehingga dirinya dilemparkan ke dalam neraka” [5].

Dalam ayat-ayat lainnya juga disebutkan akan makna iman dengan amal shalih. Seperti yang disebutkan oleh imam Bukhari dalam kitab shahihnya.

Diantaranya firman Allah :

قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلاَ دُعَاؤُكُمْ

“Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu”. (Al-Furqan:77)

Imam Bukhari berkata: makna “Du’a ukum adalah imanukum (iman kalian).. dan makna doa dalam bahasa adalah shalat”. Imam Ibnu Abbas juga menyatakan bahwa makna ayat diatas adalah iman, beliau berkata: Laula du’aukum adalah iman kalian” [6].

Dan diantara ayat lainnya juga disebutkan bahwa Allah berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآَخِرِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”. (Al-Baqoroh:177)

Ayat tersebut menjelaskan akan tipe orang beriman yaitu tashdiq dan iman, dan menjadikan perbuatan baik bagian dari iman. alasannya adalah seperti yang ditafsirkan oleh Rasulullah saw, diriwayatkan oleh Abdurrazaq dan  yang lainnya dari Abu Dzar bahwa beliau bertanya kepada Rasulullah saw tentang iman, maka beliau membaca ayat ini: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan….” Dan semua perawi haditsnya adalah tsiqoh [7].

Dan diantara kecerdasan imam Bukhari –sosok yang memiliki pemahaman dalam hadits dan tafsir- bahwa beliau menjadikan ayat ini dan apa-apa yang di dalamnya merupakan cirri-ciri kebaikan adalah bagian dari keimanan, dan beliau menggabungkan dalam bab yang disebut dengan “Bab yang berkaitan dengan Iman” dan beliau mengkaitkannya dengan 10 ayat pertama dari surat Al-Mu’minun yang berbicara tentang sifat-sifat orang beriman, bersamaan dengan hadits yang menegaskan bahwa iman memiliki 60 an cabang [8].

Dan dari ayat-ayat ini: tiga ayat yang disebutkan oleh imam Bukhari dalam shahihnya tergabung dalam bab: “Bahwa siapa yang berkata bahwa iman adalah al-amal”, yaitu firman Allah:

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan”. (Az-Zukhruf:72)

Imam Ibnu Hajar dalam kitab al-fath berkata: para mufassirin berpendapat bahwa firman Allah: “Apa yang kamu kerjakan” adalah yang kamu imani.

Adapun ayat kedua adalah:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ` عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu”. (Al-Hijr:92-93)

Imam Bukhari berkata tentang makna “La ilaha IllaLLah”. Imam Ibnu Hajar dalam syarahnya berkata: “Masuk di dalanya orang Islam dan orang kafir, karena orang kafir diperintahkan juga untuk bertauhid, berbeda dengan sebagian perbuatan yang di dalamnya terdapat perkhilafan… yang akan ditanya –sebagaimana yang disepakati- adalah masalah tauhid, dan ini adalah petunjuk khusus, dan petunjuk ayat pada masalah iman lebih utama ketimbang perbuatan yang masih menjadi perbedaan pendapat [9].

Dari ayat-ayat diatas memberikan penjelasan kepada kita bahwa iman dalam Al-Qur’an mencakup pada keyakinan, ucapan dan perbuatan, karena itulah apa yang telah diungkapkan Al-Qur’an harus diikuti dan menjadi petunjuk bagi setiap pendapat dan ucapan serta menjadi standar dalam mengambil dalil dan intisari, dan juga bagi para pemerhati dan pembahas tanpa ada keputusan-keputusan lainnya. Karena apa yang telah ditetapkan Al-Qur’an harus diterima, dan apa yang dijabarkan olehnya harus diambil, apa yang diucapkan maka orang-orang beriman harus juga mengikutinya.

______________________________________________________

[1]. Lihat: Fi Dzilal Al-iman, Al-Khalidi, hal. 23

[2]. Lihat. Tafsir At-Thobari, jil. 3, hal. 167-169

[3]. Ibid. jil. 3, hal. 169

[4]. Fi Dzilal Al-Iman, hal. 26

[5]. Tafsir At-Thobari, jil. 15, hal. 28

[6]. Shahih Bukhari, kitab al-iman, bab duaukum imanukum, 1/9

[7]. Fathul Bari, kitab al-iman, bab Umurul Iman, 1/74

[8]. Ibid

[9]. Ibid, 1/110


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 29/10/2008 / 28 Shawwal 1429 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

Belum Ada Komentar

RSS feed untuk komentar pada naskah ini.

Maaf, untuk sementara kolom komentar tidak tersedia.

« sebelumnya
sesudahnya »