Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (6): Mendirikan Daulah; Kisah Dzul Qornain (4)

13/10/2008 | 12 Shawwal 1429 H | 513 views
Oleh: DR. Ali Muhammad As-Slaaby
Kirim Print

Penterjemah:

Abu Ahmad

C. Dzulqornain mencegah kezhaliman

Dalam perjalanan yang dilakukan oleh Dzulqornain dan mendapati kaum yang lemah dan sedang terancam kehancuran kerena akan adanya pasukan Ya’juj dan Ma’juj yang ingin menyerang mereka. Dan ketika Dzulqornain berada di tengah mereka, beliau tidak bersikap memelihara dihadapan rakyat yang lemah, namun beliau mewariskan sebab-sebab kekuatan sehingga mereka mampu melakukan perlawanan dihadapan para pelaku pengrusakan, dan Dzul Qornain tetap bertahan bersama mereka sampai Ya’juj dan Ma’juj menyerang kaum tersebut, dan pada akhirnya mereka berhasil melakukan perlawanan dan mengalahkan mereka. Dari kisah ini, Allah ingin memberikan pelajaran kepada kita bahwa seorang pemimpin atau raja tidak hanya bekerja untuk melawan serangan musuh, namun berusaha juga mencegah terjadinya kezhaliman.

Bagaimana cara Dzulqornain mencegah kezhaliman?

Bahwa Dzulqornain tidak datang dengan membawa balatentara untuk melindungi kaum yang lemah terssebut sekalipun beliau memiliki kemampuan untuk itu, namun beliau meminta dari mereka bergotong royong dalam membantu mereka melakukan perlindungan diri dan mengajarkan seni melindungi diri serta memberikan pengalaman dan pelatihan diri untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan bermanfaat dengan bersama-sama membuat benteng; sebagai sarana yang ampuh untuk melindungi diri dan melakukan perbaikan jika yang dianggap tepat.

Dan Dzulqornain menolak menganggap kaum yang lemah sebagai pemalas. Syaikh Mutawalli Sya’rawi berkata: “Hal demikian memberikan kita perhatian bahwa Allah SWT memberikan kemampuan, dan poetnsi yang besar pada setiap orang.. kemampuan yang tidak bisa dimiliki kecuali karena kehendak Allah dengan berbagai sarana yang membantu dalam menunaikan tugas dan pekerjaan, adapun yang dimaksud potensi diri yaitu kekuatan jiwa yang terdapat dalam diri sehingga melahirkan kemampuan untuk bekerja, dan kebanyakan dari kita tidak sadar adanya kemampuan diri, tidak sadar bahwa dalam dirinya memiliki kekuatan yang mampu untuk bekerja dan pekerjaan yang banyak, potensi ini tidak mau difungsikan secara maksimal padahal dirinya memiliki kekuatan dan kelebihan seperti kemampuan memindahkan sesuatu dari satu tempat ke tempat yang lain…dan melakukan pekerjaan yang banyak dan bermanfaat.

Potensi inilah yang yang sering diabaikan oleh manusia dalam jumlah yang sangat besar, tidak difungsikan secara maksimal, padahal setiap orang pasti bisa melakukan berbagai pekerjaan, dan dihadapannya terdapat banyak sarana yang dapat dilakukan oleh potensi yang dimiliki; namun hal tersebut tidak disadari dan tidak difungsikan secara baik; dirinya memiliki potensi untuk berfikir, jika dilatih terus dengan ilmu pengetahuan maka akan membuka banyak pintu untuk mendapatkan rizki; namun dirinya telah dirasuki rasa malas untuk berfikir dan tidak difungsikan untuk dikembangkan dan ditumbuhkan.

Apa yang dilakukan oleh Dzulqornain?

Beliau tidak meminta bantuan terhadap balatentaranya yang besar dan juga terhadap penduduk lainnya. Namun beliau meminta dari kaum itu sendiri yang saat itu lemah, beliau meminta kepada mereka untuk menghadirkan kepadanya besi lalu membangun benteng hingga dapat mencapai dua puncak gunung, kemudian beliau membuat pancang besi dan mengisinya dengan tembaga sehingga menjadi benteng yang sangat kuat dan kokoh.

Jadi yang dilakukan oleh Dzulqornain adalah memfungsikan potensi dari kaum yang lemah, yang akan diserang oleh Ya’juj dan Ma’juj; yaitu dengan mengajarkan kepada mereka bagaimana memfungsikan potensi yang mereka miliki dan bagaimana membangun benteng; dengan cara mengajak mereka ikut serta dalam membuatnya dan mendirikannya, sehingga ada peran serta dan kontribusi dalam membangun benteng tersebut, dan Dzulqornain hanya membantu dalam hal pengalaman dan ilmunya saja sehingga mereka memiliki rasa tsiqoh dalam diri mereka; bahwa mereka memiliki kemampuan melindungi diri, dan belajar terhadap sesuatu yang dapat membantu dan melindungi mereka.

Dan Islam melarang kita untuk membiasakan manusia pada kemalasan atau memberikan uang atau sesuatu tanpa pekerjaan, karena yang demikian akan merusak jiwa umat, karena setiap manusia yang diberikan upah sebelum bekerja maka akan terbiasa nrimo dan selamanya tidak akan mampu melakukan pekerjaan secara baik [1].

Bahwa Dzulqornain melakukan tugas sebagai pemimpin yang menguasai negeri, sehingga memperkuat orang-orang yang lemah dan menjadikannya memiliki kemampuan untuk diri dari serangan musuh dan tidak bergantung pada perlindungan orang lain, dan juga tidak membiarkan manusia bermalas-malasan; namun berusaha mengubah mereka menjadi orang-orang yang sungguh-sungguh dan giat dalam bekerja [2].

Demikianlah waqfah penting dan pelajaran berharga dan urgen bagi setiap umat, khususnya pada zaman kita saat ini, karena -uma saat ini- sedang menghadapi krisis dan bahaya yang mengancam yang lebih keras dan lebih buruk dari serangan Ya’juj dan Ma’juj, bahaya kekufuran dan pertentangan dari Yahudi dan Nashara, yang berusaha menghancurkan bangunan umat dan melepaskannya dari jati diri mereka; yaitu aqidah dan islamnya. Dan membuatnya menjadi lemah dan terkungkung tangannya dihadapan makar tersebut, yang selalu meminta bantuan, meminta diingkari dan mengadu kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan menyeru untuk melakukan muktamar internasional.

Bahwa Al-Quran Al-Karim selalu mengajarkan dan memberikan petunjuk kepada kita menuju keselamatan yaitu perintah untuk selalu komitmen dengan manhaj Allah dan menjadikan jalan yang baik dan benar serta sungguh-sungguh baik dalam berjihad, berperang, mengerahkan kekuatan dan menggunakan ilmu yang mutakhir sehingga umat berhak mendapatkan rahmat Allah. Dan umat hendaknya meninggalkan angan-angan dan mimpi yang menipu, hendaknya aktif dalam kerja, mengerahkan potensi, berjihad dan menggapai syahadah. Seperti halnya kaum yang lemah, lalu mau bergerak melakukan pekerjaan dengan pimpinan Dzulqornain maka mereka mendapatkan tujuan yang mereka cita-citakan, keinginan yang mereka idamkan.

Karena itu mari coba kita melihat lebih detail apa yang dilakukan oleh Dzulqornain setelah berhasil membangun benteng.

Dzulqornain melihat kearah benteng yang dapat melindungi umat dari serangan musuh, lalu beliau berkata: “Ini adalah rahmat dari Tuhanku” (Al-Kahfi:98); ungkapan yang indah dan penuh dengan kebaikan, dan memiliki banyak makna:

1. Sayyid Qutb berkata: “Dzulqornain melihat pekerjaan besar yang telah berhasil dirampungkannya, namun tidak membuatnya sombong dan angkuh, dan bahkan tidak membuatnya mabuk kepayang oleh kekuatan dan ilmu yang dimiliki, namun beliau ingat kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya, serta mengembalikan segala pekerjaan yang dilakukannya kepada yang telah memberikan kekuatan tersebut” [3]. 

2. Dzulqornain ingat Tuhannya saat berhasil menyelesaikan tugasnya, hal ini mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita harus selalu ingat kepada Allah. Dan diantara bentuk terbesar dari dzikir adalah ketika mendapatkan taufik dalam melaksanakan pekerjaan, sehingga merasakan adanya kekuatan yang diberikan Allah, lalu tawadhu dan tunduk serta berdzikir dan bersyukur.

3. Bahwa pembuatan benteng merupakan rahmat dari Allah, dan Dzulqornain memfungsikan ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadanya, dan memanfaatkan kedudukan dan kerajaannya yang telah dianugrahkan Allah kepadanya dengan baik; yaitu dipergunakan untuk membantu umat dan memberikan kebaikan di dalamnya, mencegah tindakan refresif dan permusuhan. Dan ilmu yang dimiliki merupakan rahmat dari Tuhannya dan memfungsikannya secara baik juga merupakan rahmat dari-Nya.

4. Bahwa suatu kaum sedang terancam oleh adanya serangan dan agresi dari Ya’juj dan Ma’juj, sehingga terancam eksistensi mereka oleh adanya kerusakan yang dilakukan oleh para agresor, sementara tidak ada yang dapat melindungi mereka kecuali Allah melalui sarana pembangunan benteng, karena itu benteng tersebut merupakan rahmat dari Allah, sehingga menjadi penyelamat mereka atas izin Allah, sekiranya tidak sempurna pembangunan benteng tersebut dan sekiranya kaum tersebut tidak mengadu dan tidak melakukan apa-apa tanpa ada kerja, usaha dan gerak maka tidak mungkin mampu menyelamatkan diri dari bahaya yang mengancam, karena itu, keselamatan tidak akan dapat diraih kecuali dengan kerja dan usaha yang berkesinambungan, saling bergotong royong dan dan tunduk terhadap syariat Allah dibelakang pemimpin robbani [4].

5. Allah berfirman: “Maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar”. Dzulqornain –setelah berhasil membangun benteng dan menyadari itu semua merupakan rahmat Allah- mengumumkan akan keyakinan yang diimaninya bahwa gunung, benteng dan penghalang yang telah dibangunnya kelak akan hancur jika telah datang masanya sesuai dengan janji Allah yang tidak pernah meleset.

___________________________________________________________

[1]. Al-Qishash Al-Qur’ani fi Suratil Kahfi, hal. 93-94

[2]. Ibid. hal. 95

[3]. Fi Zhilalil Qur’an, jil. 4, hal. 2293

[4]. Lihat: Ma’a Qishash As-sabiqin, jil. 2 hal. 350


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 13/10/2008 / 12 Shawwal 1429 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

Belum Ada Komentar

RSS feed untuk komentar pada naskah ini.

Maaf, untuk sementara kolom komentar tidak tersedia.

« sebelumnya
sesudahnya »