Selamatkanlah Bahtera Manusia

23/11/2009 | 5 Dhul-Hijjah 1430 H | 802 views
Oleh: DR. Muhammad Mahdi Akif
Kirim Print

mahdi8Risalah dari: Muhammad Mahdi Akif – Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 20-11-2009

penerjemah:

Abu Ahmad

_________

Segala puji hanya milik Allah, salawat dan salam ditujukan kepada utusan paling mulia, Nabi yang membawa petunjuk yang terpercaya, beserta keluarganya dan seluruh sahabatnya… selanjutnya ..

Allah berfirman dalam kitab-Nya:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِير مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا

“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (Al-Isra:70)

Namun, ketika kita merenungkan kondisi abad ke dua puluh ini, sebagai jawaban atas perintah Allah kepada kita, untuk berjalan di bumi, untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di cakrawala ini, mengambil isyarat dan pelajaran darinya, guna mempersiapkan diri menuju hari kebangkitan yang tidak ada keraguan di dalamnya; dan bagi para pemerhati lainnya niscara akan menemukan kondisi kemanusiaan dengan gambaran yang ironi dan mengenaskan; tampak kerusakan di darat dan di lautan akibat ulah tangan manusia yang tidak bertanggungjawab.

Bahkan kondisi yang mengenaskan lainnya juga banyak terjadi seperti adanya perang; akibat adanya sengketa dan perbedaan yang sepele, dan senjata adalah bahasa dialog digunakan antar manusia sebagai alternative…padahlah Allah telah memberikan garis-garis dan norma-norma untuk saling memberikan pengertian, kerja sama, tolong menolong dan interaksi sebagaimana yang telah diserukan oleh Allah yang menjadi dasar utama dalam menjalin hubungan antar sesama manusia .. Allah berfirman:

يَا أيُّها النَّاس إنَّا خلقناكم من ذكر وأُنثى وجعلناكم شعوبًا وقبائلَ لتعارفوا إنَّ أَكْرَمَكُم عِنْدَ اَللهِ أَتْقَاكُم إنَّ اللهَ عليمٌ خبيرٌ

“Hai orang-orang, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian dapat saling mengenal, sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertaqwa”. (Al-Hujurat: 13)

Namun nilai-nilai kemanusiaan ini telah jauh dari fitrahnya yang bersih seperti yang telah Allah anugrahkan kepada manusia, bahkan nilai-nilai ini begitupula persaudaraan manusia yang memiliki  asal-usul dan keturunan yang sama menjadi makna yang telah ditinggalkan dan nilai-nilai yang telah sirna dan hilang dalam kehidupan umat manusia; dimana manusia saat ini tidak memiliki hak dalam mempertahankan martabatnya – atau bahkan untuk mempertahankan hidup – ditengah saudaranya sesama manusia.

Padahal misi dari “nilai kemanusiaan” di sini adalah bagian dari kaedah interaksi anak cucu Adam (manusia) yang merupakan dasar yang telah ditetapkan Allah antara sesama dan sebagai aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dalam rangka melaksanakan tujuan penciptaan manusia yaitu sebagai khalifah di muka bumi ini dan menegakkan Syari’ah Allah di dalamnya, serta merekonstruksinya dengan baik dalam rangka mencapai tujuan-tujuan Ilahi yang agung ini..

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً

”Ingatlah Ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat: Aku akan membuat di muka bumi ini seorang Khalifah” (Al-Baqarah:30).

Oleh karena itu, manusia memiliki kedudukan dan posisi yang sangat mulia dalam agama Islam yang hanif ini; karena syariat dan dan ketentuan-ketentuannya hadir untuk memberikan pengayoman, memberikan jaminan akan hak-hak mereka, memperbaiki kondisi hidup mereka serta memberikan kemudahan dalam melaksanaan berbagai urusan hidup mereka, karena Allah telah memberikan segala sesuatunya kepada manusia di dunia ini, Allah berfirman:

وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالْنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالْنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَات لِّقَوْم يَعْقِلُونَ

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (Nya)”. (An-Nahl:12)

Allah juga berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَيُمْسِكُ السَّمَاء أَن تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”. (Al-Hajj:65)

Sebagaimana Allah menjadikan 5 maqhasid Syariah seperti agama, jiwa, akal, keturunan dan hartanya adalah sebagai sarana untuk melindungi kehidupannya dan kehormatannya.

Dan diantara fenomena Allah dalam memuliakan manusia adalah bahwa Allah telah menciptakannya dalam bentuk yang sempurna..

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيم

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (At-Tiin:4)

Sebagaimana Allah juga memberikan kemuliaan kepada manusia pada saat memiliki ikatan yang erat kepada Zat yang paling mulia dan tinggi, ketika Allah menciptakannya dengan tangannya sendiri, meniupkannya ruh di dalamnya, dan menjadikan kekufuran sebagai bentuk ketiadaan penghormatan dan pengagungan terhadap jati diri manusia itu sendiri…seperti firman Allah:

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِين. فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ. فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ . إِلَّا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“(ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: “Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya”. lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; Dia menyombongkan diri dan adalah Dia Termasuk orang-orang yang kafir”. (Shaad:71-74)

Dan diantara buah dari nilai-nilai dan prinsip yang mulia ini adalah lahinyr prinsip persaudaraan antara sesama manusia, bahwa manusia sederajat dalam hukum syariat Islam, yang memiliki kesatuan asal-usul dan keturunan; Adam dan Hawa .. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْس وَاحِدَة وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (An-Nisa:1)

Al-Quran dan Sunnah nabawiyah juga penuh dengan ungkapan yang dimulai dengan kata-kata seruan: “Hai Manusia” dan Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh manusia dan membawa rahmat bagi semesta alam .. Dia bersabda: “Aku diutus untuk semua orang” .. sebagaimana Allah juga berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

” Dan Kami tidak mengutusmu kecuali membawa rahmat bagi semesta alam” (Al-Anbiya:107)

Dalam Islam kita tidak diperintahkan untuk menyeru manusia kepada Allah dan syariatnya-Nya dengan cara kekuatan dan kekerasan serta intimidasi; namun dengan hikmah dan nasihat yang baik, hal tersebut karena Islam tidak banya sebagai agama toleran, namun juga memberikan penghormatan terhadap kemuliaan manusia dan akalnya, bagitu pula akan penghormatan dan persamaan  di antara semua manusia; yang telah digariskan oleh Allah yang Maha Mulia dan Agung dan menegaskan akan hubungan langsung antara Allah dan para hamba-Nya, tidak ada mediasi dan penghalang antara Allah dan manusia.

Nilai-nilai apakah yang mereka serukan?!

Demikianlah nilai-nilai Islam, yang telah menguasai dunia selama lebih dari seribu tahun, di dalamnya terdapat khalifah Islam sebagai satu-satunya mercusuar Islam di seluruh dunia; baik  ilmu pengetahuan, etika, undang-undang, dan akal. Pada sisi inilah Ibnu Rusydi mengikuti imam Syafi’i, dan Ibn al-Haytsam membuat konstruksi Bendungan Aswan, dan Harun Al-Rasyid mengikuti laju awan di atas langit agar dapat memberikan hasil baik seperti yang diperintahkan oleh Allah. Sementara saat itu, Barat masih hidup di gua-gua, kondisi yang primitif dan berlaku hukum rimba dalam kehidupan mereka.

Dan Ketika muncul apa yang dikenal sebagai zaman Renaisanse dan Pencerahan pada abad pertengahan di Eropa, barulah Barat mulai mengambil dan memanfaatkan peradaban, ilmu pengetahuan dan pemikiran Islam. Dan masyarakat dunia menduga bahwa dunia ketika berada di tangan Barat akan memberikan kedamaian dan kerja sama yang kokoh, dan akan pemimpin pada nilai-nilai akal dan jiwa secara bersamaan. Namun apa yang terjadi tidaklah demikian seperti yang diharapkan. Bahwa “peradaban” Barat memberlakukan banyak undang-undang yang bertentangan dengan sifat dan fitrah manusia yang bersih, bertentangan pula dengan nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh Allah dalam melaksanakan berbagai urusan hamba-Nya di muka bumi ini.

Sebagaimana nilai-nilai yang diterapkan hanya berfokus pada keuntungan materi, bahkan hal tersebut dijadikan sebagai fondasi dan standar hukum yang mengatur segala urusan, sehingga berakibat pada menyebarnya kerusakan dan dekadensi moral, dan menyebabkan segala sarana yang ada dihadapan manusia berorientasi pada kepentingan diri dan materi.

Demikianlah logika dasar yang di terapkan oleh orang-orang Eropa dan Amerika dalam invasi kolonialnya selama enam abad terakhir dalam sejarah manusia, mereka merampas kekayaan “bangsa terbelakang”, bahkan mereka menjual rakyatnya ke dalam perbudakan .. sehingga ratusan juta jiwa yang dimuliakan Allah dijadikan budak untuk dipekerjakan dalam pertanian dan industri “peradaban Barat”, kemudian meninggal dan tidak ada seorangpun mengetahui dan mendengar rimbanya.

Lalu perangpun meletus sehingga menambah tingkat keterbelakangan dunia selain Barat setelah selama berabad-abad di dominasi oleh kolonialisme. Lalu muncul bangsa-bangsa dan negara yang tidak memahami akan arti stabilitas, tidak mengenal peradaban sebagai sarana, terutama setelah dikenakan kepada mereka ketergantungan yang dipaksakan, sehingga dapat dijadikan sebagai pasar untuk produk pertanian, pabrik dan peternakan barat. Bagitupula pergerakan uang makro yang diciptakan oleh orang-orang Yahudi terutama pada abad ketujuh belas di Amerika; digunakan hanya untuk melindungi uang mereka, dan memberikan jaminan pada bangsa dan negara akan tersedianya pasokan pada pabrik-pabrik dan peternakan “peradaban” Barat sebagai bahan baku.

Dan hal ini dijadikan sarana untuk melakukan kontrol dan menguasai nilai-nilai materi dan pragmatism, serta menjauhkan manusia dari agama Allah yang hanif; itu semua menjadi peran utama membentuk kondisi dan mengembalikan manusia pada hukum rimba berkuasa dan perbudakan yang telah lama diperjuangkan oleh Islam untuk disingkirkan kembali merajalela, dan istilah-istilah seperti persaudaraan manusia dan kerjasama jauh api dari panggang, bahkan kamus hubungan antara masyarakat manusia tidaklah banyak ditemukan.

Akhirnya tanah yang hitam dan api yang panas menjadi meningkat terutama ketika bertemu tujuan dan kepentingan Barat dengan kapitalisme liar, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dan diikuti oleh misi dan ambisi proyek Zionis menguasai dunia Arab dan dunia Islam; sehingga darahpun mengalir dengan deras di bumi tersebut, dan muncul para pengungsi dan warga yang terusir yang mendominasi berita tentang umat Islam yang ditundukkan oleh kekuatan-kekuatan arogan global, kekuatan tirani dan korupsi internal.

Kebutuhan manusia kepada Juru penyelamat

Sekarang, pada kondisi yang penuh dengan kehancuran dan kebinasaan manusia yang dipimpin oleh Barat, dan di tengah adanya pertumpahan darah, kemiskinan dan kelaparan yang membanjiri mayoritas dunia akibat nilai-nilai oportunisme dan arogansi Barat, menyebabkan umat manusia membutuhkan adanya penerapan kebijakan dalam rangka melakukan penyelamatan secara cepat, melestarikan kehidupan manusia, melindungi harta dan kehormatannya, bahkan menyelamatkan apa yang dapat dilakukan untuk melindungi kehormatannya, menjunjung tinggi nilai-nilai kerjasama dan persaudaraan daripada hanya mementingkan keuntungan materi dan kepentingan populis dan sempit belaka.

Sepanjang perjalanan sejarah umat manusia, mereka tidak mengenal adanya dakwah atau agama seperti Islam, yang dapat menyelamatkan dunia dari kemerosotan, dan apa yang kita katakan dalam proses penghormatan Islam kepada manusia dan menjunjung tinggi jati dirinya; bukanlah sekedar jargon atau hasrat emosional, namun merupakan pengalaman sejarah dengan segala makna dan aplikasi yang nyata sebagai negara terbesar sepanjang sejarah dunia dan umat manusia.

Nabi kita sebagai utusan untuk seluruh manusia, nabi Muhammad saw telah meletakkan pondasi persaudaraan, kesetaraan dan keadilan dalam aqidah Tauhid, seperti yang telah disampaikan oleh Allah dalam hadits qudsi-Nya ia berkata:

“‎‎يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلا لا فَضْلَ لِعَرَبِيّ عَلَى أَعْجَمِيّ وَلا لِعَجَمِيّ عَلَى عَرَبِيّ، وَلا لأحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى

“Wahai manusia, ketahuilah bahwa Tuhanmu adalah satu, Bapa adalah satu, ketahuilah tidak ada yang lebih utama antara Arab dan non-Arab dan juga antara non Arab dan Arab, atau yang berkulit merah dengan yang hitam, dan warna hitam dengan yang merah kecuali Taqwa”(Ahmad).

Dalam Khutbah haji Wada, kita menemukan bahwa nabi saw menetapkan aturan hubungan manusia yang sangat agung dan mulia, memberikan haknya, martabatnya dan kesuciannya serta kebersihannya dari segala apa yang dimilikinya, beliau bersabda:

أيُّها النَّاس اسمَعُوا قَوْلي، فإنِّي لا أدري لعلِّي لا ألقاكُم بعد عامِي هذا بهذا الموقف أبدًا، أيُّها النَّاس إنَّ دماءَكُم وأموالَكُم عليكم حرامٌ إلى أنْ تَلْقَوْا ربَّكم كحرمةِ يَوْمِكُم هذا، وكحرمةِ شهرِكُم هذا، وإنَّكم ستَلقَوْن ربَّكُم فيسألُكُم عن أعمالكم وقد بلَّغت، فمنْ كان عِنْدَهُ أمانةٌ فليؤدِّها إلى مَنْ ائْتَمَنَهُ عليها

“Hai manusia dengarkanlah ucapakanku, karena aku tidak tahu apakah bertemu lagi dengan kalian pada tahun-tahun yang akan datang selamanya, wahai manusia, ketahuilah bahwa harta dan darah kalian adalah haram (suci) sehingga kalian bertemu Allah sebagai sucinya hari kalian ini, sucinya bulan kalian ini, dan sesungguhnya kalian berjumpa dengan Allah dan akan diminta pertanggungjawaban, dan kalian akan ditanya tentang perbuatan kalian dan aku telah menyampaikan, maka barangsiapa yang memiliki amanah maka tunaikanlah kepada orang yang diamanai atasnya”. (Ibnu Ishaq).

Agama kita adalah agama yang penuh dengan moral dan nilai-nilai yang berusaha melindungi kehormatan manusia, seperti yang disabdakan oleh nabi saw:

إنَّما بُعِثْتُ لأتمِّمَ مكارمَ الأخلاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

Inilah nabi kita .. dan Inilah agama kita.

Bahkan bukan perilaku nabi Muhammad saw saja, namun Islam adalah ibarat  sebuah sekolah rabbaniyah yang mampu mensihbghah kehidupan umat Islam setelahnya, demikianlah Amirul Mukminin Umar Bin Al Khattab ra yang mampu meletakkan batu bata pertama dalam sistem kesejahteraan sosial, yang merupakan manifestasi tertinggi peradaban manusia; dengan memberikan perhatian kepada anak-anak, orang tua dan orang yang tidak mampu, tidak ada perbedaan dalam hal ini antara Muslim dan non-Muslim di negara Islam.

Demikian pula terdapat salah satu siswa sekolah nabi saw, Umar, yang telah menguasai dunia, pernah pada suatu hari berkeliling pasar melihat orang yang sudah tua renta meminta-minta uang sedekah, lalu beliau berkata kepadanya: siapakah anda wahai orang tua?, Dan orang tersebut berasal dari Yahudi kota Madinah, lalu dia berkata kepadanya: “Aku adalah orang yang sudah tua renta, aku meminta upeti dan nafkah” mendengar ungkapan orang tua tersebut Umar berkata kepadanya: “Tidak selayaknya engkau mengalami seperti ini wahai orang tua, kami telah mengambil jizyah (upeti) dari kalian pada saat muda, lalu kami telantarkan pada saat sudah tua”. Lalu beliau (Umar) menggandeng tangannya menuju rumahnya dan memberikan kepadanya makanan, kemudian membawanya ke baitul maal muslimin dan memerintahkan kepada penjaganya dengan berkata: “Berikan kepada orang tua ini uang yang dapat mencukupi kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya”.

Dari Umar kita juga belajar bahwa Islam adalah agama rahmat dan keadilan terutama dalam pemerintahan antara pemimpin dan yang dipimpin, Beliau sering menangis setiap kali shalat subuh karena teringat dengan tangisan seorang anak kecil yang dipaksa oleh ibunya melakukan penyapihan dini; karena itu menyerukan kepada manusia untuk tidak mempercepat penyapihan kepada anak-anak mereka, dan akan diberikan bagian kepada anak yang baru lahir bagiannya.

Contoh ini sangatlah banyak dan tak terhitung jumlahnya .. demikianlah Islam kita, yang menebarkan kasih sayang walaupun kepada seekor binatang sekalipun, “pada setiap pemilik hati yang basah juga ada ganjarannya”, agama keadilan akan menceritakan bagaimana salah seorang warga Koptik Mesir mendapatkan keadilannya terhadap perbuatan anak dari Amr bin Al-Aas seorang penguasa Mesir pada saat itu.. Agama yang pada saat ini oleh para musuh berusaha dinodai dan dikotori, diberikan stigma yang buruk dan arogan, sementara tengkorak anak-anak dan orang tua di Gaza, Palestina, Irak, Afghanistan, dan Lebanon telah menjadi saksi akan  hampanya “rahmat” tatanan dunia baru!.

Wahai umat Islam ..

Wahai orang-orang yang beriman dengan agama dimana saja kalian berada ketahuilah bahwa amanah yang kalian emban saat ini sangatlah berat… sehingga kepada kita semua untuk tetap berada dalam posisinya .. seorang da’i.. politikus .. guru .. wartawan .. Mahasiswa, insinyur dan petani .. hendaknya melihat kembali posisi mereka, kembali kepada agama yang benar, mengembalikan produktivitas Islam seperti yang turunkan oleh Allah .. sebagai cara hidup sempurna .. bukan sekedar keyakinan..bukan sekedar Ibadah ..bukan sekedar interaksi .. namun keselurihannya ..terapkanlah Islam saat ini juga.

Wahai umat manusia ..

Berimanlah kepada Allah, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan Hari Akhir .. perbaikilah dan berbuat baiklah kepada sesama manusia… wahai anak bangsa dan umat Islam perbaikilah hubungan antara kalian dan orang tua kalian.. perbaikilah antara keluarga kalian dan saudara kalian, karena melakukan perbaikan antara sesame manusia adalah ibadah yang mulia dan agung…tunaikanlah amanah… dan berhukumlah dengan cara yang adil…

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat”. (An-Nisa:58)

Bersungguh-sungguhlah dalam pekerjaan kalian .. karena

إنَّ الله يحبُّ إذا عَمِلَ أحدُكُم عملاً أنْ يتقنَه

“Sesungguhnya Allah sangat mencinta seseorang yang jika bekerja dilakukan dengan cara yang baik (professional)” (Hadits shahih)

Karena yang demikian bukan sekedar memberikan kesejahteraan terhadap sautu bangsa bangsa saja, namun juga perbaikan, kesejahteraan serta keselamatan umat manusia secara keseluruhan sehingga mampu menghilangkan keinginan dan niat yang buruk dan jahat.

Wahai hamba-hamba Allah Ingatlah akan firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (An-Nahl:90)

Dan akhir dari seruan kami adalah Maha Suci Allah, dan segala puji hanya milik Allah semata.


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 23/11/2009 / 5 Dhul-Hijjah 1430 H, dalam rubrik Risalah Mursyid. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

1 Message

jazakallah, sangat membantu dalam peningkatan pemahaman akan nilai-nilai islam

 

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Tulis Komentar


« sebelumnya
sesudahnya »