Mukaddiman
Dalam berbagai kesempatan jaulah dan memberikan taujih, sering ana mendapatkan pertanyaan-pertanyaan sbb ; “Mengapakah banyak kader dakwah sekarang ini cenderung kepada dunia? Apakah mereka lupa kepada asal mereka saat periode awal dulu mereka itu tidak punya apa-apa? Tidakkah mereka melihat ikhwahnya yang lain yang tidak semujur dirinya dalam rezki, lalu dimanakah ukhuwwah?”
Atau kadang ana juga mendapatkan pertanyaan yang sebaliknya : “Akhi, kenapa ikhwah kita nampaknya tidak siap melihat ikhwah yang lain diberi kemudahan oleh ALLAH? Padahal ALLAH menyediakan perhiasan dunia ini untuk dinikmati oleh orang yang beriman? Adapun soal ikhwah lain, maka bukankah ALLAH menentukan rezki berbeda-beda pada setiap orang, di zaman Nabi SAW pun sudah ada perbedaan tersebut dan tidak dihapuskan oleh Nabi SAW.”
Ada juga ikhwah yang menyampaikan masalah lain lagi : “Mengapa kader sekarang koq pada genit ya? Mereka mulai rame-rame pakai celana jeans segala, lalu dimana lagi al-wala’ wal bara’ mereka?” Ada pula yang bertanya kebalikannya : “Akhi, kita ini kan harus masuk ke segala lapisan masyarakat, lha kalau semuanya bertahan dengan baju koko (baca: baju taqwa) lalu siapa yang akan menggarap kelompok-kelompok yang alergi terhadap baju seperti itu? Padahal mereka yang demikian itu jauh lebih banyak jumlahnya, lagian baju taqwa itu juga kan asalnya juga bukan dari Islam tapi dari China?”
Demikianlah sekelumit kegalauan yang menimpa sebagian ikhwan dan akhwat dalam ber-ta’ammul (berinteraksi) dengan masyarakat di era mu’assasi ini, dan semua ini insya ALLAH adalah merupakan kebaikan belaka, karena semuanya didasarkan kepada ghirah-islamiyyah (kecemburuan/semangat keislaman). Yang berbahaya adalah kalau dasarnya disebabkan karena ghill wal hasad (dengki dan iri), maka apapun yang dilakukan ikhwahnya yang lain akan nampak selalu salah dan cela dimatanya, sekalipun telah ditegakkan atasnya berbagai hujjah wal barahin (alasan dan bukti) [1]. Wal ‘iyadzu biLLAAH…
TADABBUR QS AL-ISRA’ :
“Katakanlah: Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing, maka RABB-mu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalan-Nya”[2].
TAFSIR AYAT MENURUT ULAMA SALAFUS-SHALIH
Berkata Imam At-Thabari tentang makna syakilah : ALLAH SWT berfirman kepada Nabi SAW : Katakan wahai Muhammad kepada manusia : Setiap kalian itu beramal sesuai dengan keadaannya masing-masing, keinginannya yang beragam, jalannya yang berbeda-beda, maka RABB-mu lah yang lebih mengetahui siapa yang lebih mendapat petunjuk yang lebih dekat kepada kebenaran dibandingkan dengan yang lainnya[3]. Dalam bagian yang lain beliau –rahimahuLLAH- menyitir pendapat lainnya yang menyatakan bahwa makna syakilah juga berarti niatnya[4].
Sementara Imam Ibnu Katsir menambahkan bahwa ALLAH SWT lebih mengetahui antara kami maupun kalian, dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalnya, karena sesungguhnya bagi ALLAH SWT tiada yang tersembunyi sedikitpun dari-NYA[5].
Imam Al-Baghawi menambahkan : Yaitu menurut jalan yang dipilih dan disukainya[6].
Imam Al-Biqa’iy menafsirkannya : Katakanlah (wahai para tokoh) setiap kalian (baik yang bersyukur maupun yang kufur)[7] berbuat menurut keadaannya masing-masing (yaitu apakah baik ataupun buruk)[8]. [9]
Berkata Ibnu Hayyan saat memberikan taujihnya mengulas ayat ini[10], ia -rahimahuLLAH- menjelaskan perbedaan-perbedaan tersebut sudah terjadi di era terbaik, yaitu Abubakar RA berkata bahwa ayat yang paling beliau sukai adalah[11]: “Yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukuman-Nya..”[12];
Sementara Utsman RA berkata tiada ayat yang lebih kusukai daripada ayat: “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Sesungguhnya AKU-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan sesungguhnya azabku adalah azab yang pedih..”[13];
Berkata Ali RA tiada ayat yang lebih kusukai kecuali ayat: “Katakanlah: Hai hamba-hamba-KU yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat ALLAAH..”[14]; demikianlah perbedaan sudut-pandang di kalangan para sahabat RA tentang suatu masalah, semoga ALLAH SWT meridhai mereka semuanya.
Maka dari itu, hendaklah kita -wahai ikhwah wa akhwat fiLLAAH- mengarahkan diri kita semua kepada ridha ALLAH SWT, apakah dengan wasilah (sarana) kemiskinan maupun kekayaan, karena itu bukanlah titik masalahnya, karena baik miskin atau kaya bukan menjadi sebab haram atau halal, titik masalahnya adalah bagaimana dampak kedua hal tersebut kepada keimanan kita, kepada dakwah kita dan kepada jihad kita. Apabila dengan kemiskinan itu kita menjadi tidak sempat beribadah, terhambat dari dakwah dan jihad -padahal kita mampu untuk mengubahnya- maka wajib bagi kita untuk mengubahnya, dan mengingat berbagai dalil yang menjelaskan tentang keutamaan kekayaan.
Demikian pula bagi ikhwah wa akhwat yang diberikan kekayaan oleh ALLAH SWT maka apakah asal kekayaan tersebut jelas halalnya dan juga dalam pengalokasiannya memberikan maslahat? Jika jawabannya tidak, maka hendaklah resapi berbagai dalil tentang keutamaan kemiskinan dibanding harta yang haram.
Demikianlah dengan ini maka semua dalil yang ada akan bertemu pada titik inshaf (adil dan moderat) biduni ifrath wala tafrith (tidak berlebihan tidak pula berkurangan), dan janganlah sekali-kali kita mempertentangkan dalil, karena yang demikian itu adalah sifat orang-orang munafiq, na’udzu biLLAAHi min dzalik.. Ingatlah kata-kata Sayyid Quthb –ja’alahuLLAHu syahidan- saat mengomentari ayat ini, beliau menyatakan bahwa ayat ini merupakan statement yang tersirat akan akibat dari setiap perbuatan dan tujuan seseorang, maka hendaklah setiap orang mengusahakan -dengan semua hal yang mampu ia usahakan- dan agar ia mengarahkan seluruh hati, fikiran dan amalnya untuk menempuh jalan petunjuk, yaitu jalan yang akan mempertemukannya dengan ALLAAH SWT[15]..
BERSAMBUNG INSYA ALLAAH…
——————————————————————————–
[1] Pembahasan bagi kelompok ahlul-ghill wal hawa’ dalam jama’ah ini telah berlalu, tafadhal dilihat lagi tulisan ana berjudul : Manhajut Tatsabbut wat-Tabayyun fil Harakah
[2] Al-Isra’, 17/84
[3] Tafsir At-Thabari, XVII/540
[4] Ibid, XVII/541
[5] Tafsir Ibnu Katsir, V/113
[6] Tafsir Al-Baghawy, V/124 [7] Ini juga pendapat Imam An-Nasafiy, lih. Juga dalam Tafsirnya, II/215
[8] Tafsir Al-Biqa’iy, V/98
[9] Imam Ibnul Jauzy meringkasnya menjadi 3 pendapat: Keinginan, niat & agamanya; lih. Zadul Masir, IV/189
[10] Tafsir Al-Bahrul Muhith, V/392
[11] Maksudnya adalah ayat yang mendahulukan rahmat dari azab ALLAAH SWT
[12] Ghafir, 40/3
[13] Al-Hijr, 15/49-50
[14] Az-Zumar, 39/53
[15] Az-Zhilal, 5/42
|
| Ke atas.
RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI
Artikel in sangat bermanfat untuk membangun iman para umat, insya Allah menjadi berkat bagi semua.
emang kita tinggal di dunia, tapi sekedarnya aja tujuan akhir kita akhirat. jangan lupakan dunia sekedar ngak lupa Al qashas 77