TADABBUR AL-A’RAAF :
“Katakanlah: Siapakah yg mengharamkan perhiasan ALLAAH yg telah dikeluarkan bagi hamba-hamba-NYA dan rizqi yang baik-baik? Katakanlah : Itu adalah untuk mereka yg beriman dalam kehidupan di dunia dan khusus bagi mereka saja pada Hari Kiamat, demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat bagi kaum yang mengetahui.”[1].
TAFSIR AYAT MENURUT ULAMA SALAFUS-SHALIH Berkata Imam At-Thabari tentang makna ayat ini : “ALLAH SWT berfirman kepada Nabi SAW : Katakan wahai Muhammad kepada manusia : Siapakah yg mengharamkan perhiasan ALLAH SWT yg telah diciptakan-NYA bagi hamba-hamba-NYA untuk berhias diri dengannya dan memperindah diri dengan mengenakannya? Dan dengan semua yg halal dari rezki-rezki ALLAAH?[2]” Imam Ibnu Katsir menambahkan : “Siapa yang mengharamkan apa-apa dari jenis makanan, minuman, pakaian menurut hawa nafsunya tanpa syariat dari sisi ALLAH..?[3]” Imam An-Nasafy menafsirkan sebagai : “Pakaian dan segala apa yang manusia biasa berhias dengannya[4].” Imam Al-Biqa’iy menambahkan : “Segala sesuatu yang manusia biasa menikmatinya baik berupa pakaian, perhiasan dari hasil pertambangan (permata, intan, dan lain-lain) dan yang lainnya[5].” Bahkan Imam Asy-Syaukany menyatakan : “Tidak masalah menggunakan pakaian yang baru dan mahal-mahal serta langka bahannya, selama bahannya tidak ada yang diharamkan ALLAH, demikian pula segala jenis perhiasan selain yang tidak diharamkan ALLAAH SWT untuk memakainya, maka semua itu adalah halal dan barangsiapa yang menyangka bhw yang demikian itu bertentangan dengan zuhud maka ia sungguh telah keliru dengan kekeliruan yang amat nyata.”[6] Imam Al-Qurthubi lebih jauh lagi menyatakan ayat ini mengandung 4 hukum[7] : Pertama, yang dimaksud perhiasan disini adalah pakaian yang bagus jika pemakainya mampu, sebagian lainnya mengartikannya semua jenis pakaian sebagaimana diriwayatkan dari Umar ra bahwa jika ALLAH memberikan keluasan atasmu maka ambillah keluasan itu, dan diriwayatkan dari Ali bin Husein bin Ali RA suatu saat bertemu seseorang yang memakai pakaian seharga 50 dinar emas lalu ia jual dan ia sedekahkan uangnya dan sisanya ia belikan 2 potong pakaian murah yang tidak nyaman dipakai, maka Ali menegurnya dengan membacakan ayat ini. Kedua, ayat ini juga menjelaskan tentang pakaian yang bagus/indah yang dipakai saat pertemuan-pertemuan atau kunjungan-kunjungan, berkata Abul ‘Aliyah : Adalah kaum muslimin jika mereka saling berkunjung maka mereka mengenakan pakaian yang terbagus, dan Tamim Ad-Dariy RA membeli pakaian seharga 1000 dirham yang digunakannya saat shalat, Malik bin Dinar suka mengenakan pakaian yang indah-indah, dan Imam Ahmad bin Hanbal juga membeli pakaian berharga beberapa dinar emas. Lalu bagaimanakah dengan orang-orang yang meninggalkan ini dan memakai pakaian murah dari bulu domba lalu mereka mengatakan : Dan pakaian taqwa adalah yang lebih baik?! Aduhai malangnya, lalu apakah orang-orang yang telah kami sebutkan tadi berarti meninggalkan pakaian taqwa?! Tidak demi ALLAH, bahkan merekalah para ahli taqwa yang sebenarnya dan lebih faham dan lebih ma’rifah dari orang-orang sesudahnya!!! Berkata Khalid bin Syaudzab : Aku menyaksikan Al-Hasan (Al-Bashriy rahimahuLLAH –pen) mendatangi Farqad dengan membawa selendangnya yang indah lalu dipakaikannya pada farqad sambil berkata : Wahai Furayqad! Wahai anak Ummu Fariiqad! Ketahuilah bahwa kebaikan itu bukan pada selendang yang indah ini, sungguh yang namanya kebaikan itu ialah yang terhunjam dalam di dada dan dibenarkan oleh amalnya. Lalu juga Abu Muhammad Al-Karkhiy masuk ke majlisnya Abul Hasan bin Yasar dengan mengenakan jubah dari bulu domba (shuf), maka kata Abul Hasan : Wahai Abu Muhammad! Apakah badanmu yang ingin kamu selimuti dengan jubah itu atau hatimu?! Selimutilah hatimu lalu kenakanlah pakaian yang layak untukmu. Dan berkata Abul Faraj Ibnul Jauziy rahimahuLLAAH : Aku membenci pakaian yang amat murah dan lusuh karena 4 hal : Pertama, karena itu bukan kebiasaan para Salaf, maka yang demikian hanya untuk keadaan yang darurat (amat miskin) saja; Kedua, karena pakaian murah seperti itu mencirikan orang miskin, padahal ALLAH SWT suka melihat tanda-tanda nikmat-NYA pada diri hamba-hamba-NYA; Ketiga, karena yang demikian itu memamerkan kezuhudan, padahal kita diperintahkan menyembunyikannya; Keempat, karena ia menjadi ciri orang yang menyempal dari syariat (Khawarij –pen), padahal kita diperintah untuk tidak meniru2 suatu kaum. Bahkan saat Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya tiada masuk Jannah orang yang dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan. Lalu ada seorang yang bertanya : Wahai RasuluLLAAH, sesungguhnya orang-orang suka memakai pakaian yang indah-indah dan sandal yang bagus-bagus? Sabda Nabi SAW : Sesungguhnya ALLAH itu indah dan menyukai keindahan, yang namanya sombong itu ialah menutupi kebenaran dan menipu manusia.”…. Dst [8] Dari tafsir ayat di atas nampak pada kita bagaimana ulama salaf memaknai mengenakan perhiasan mahal, berpakaian yang indah dan bagus, di satu sisi serta di sisi lain memaknai zuhud dan tawadhu’. Atau dengan kata lain, zuhud, sederhana dan tawadhu’ tidak diartikan pada penampilan kita atau pada apa yang dipakai semata, melainkan bagaimana agar dengan pakaian apapun yang dikenakan, perhiasan apapun yang disandang, kendaraan apapun yang dipakai, dan seterusnya agar tetap seluruhnya itu diarahkan mencapai setinggi-tingginya pada keridhoan ALLAAH SWT dan bukan demi mencapai keridhoan manusia. BERSAMBUNG INSYA ALLAAH.. ——————————————————————————– [1] Al-Isra’, 17/84 [2] Tafsir At-Thabari, XII/395 [3] Tafsir Ibnu Katsir, III/408 [4] Tafsir An-Nasafy, I/367 [5] Tafsir Al-Biqa’iy, III/199 [6] Tafsir fathul Qadir, III/30 [7] Bagi yang ingin mendalami, sangat menarik apa yang dijelaskan Imam Al-Qurthuby rahimahuLLAH dalam tafsirnya, I/2106-2110, demikian panjang lebar berikut dalil-dalil yang amat dalam maknanya, ana hanya mengutip sekelumit saja, mengingat tempat dan waktu yg terbatas. [8] Shahih Muslim, I/247 no. 131
|
| Ke atas.
RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI
negaraku
tanah tumpah nya darah ku
rakyat hidup bersatu dan maju
rahmat bahgia tuhan kurniakan
raja kita selamat bertakhta
rahmat bahgia tuhan kurniakan
raja kita selamat bertakhta