Ramadhan Seruan untuk Bersatu

5/10/2007 | 24 Ramadhan 1428 H | 2,112 views
Oleh: DR. Muhammad Mahdi Akif
Kirim Print

Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, shalawat dan salam atas penghulu para nabi; nabi Muhammad saw, pembawa hidayah yang amin, beserta para keluarga, sahabat, para tabi’in dengan baik hingga hari pembalasan, selanjutnya:

Suara panggilan adzan di setiap fajar Ramadhan selalu berkumandang untuk mengajak dengan kesatuan jasad dan hati dalam beribadah yang menundukkan segala prilaku, berusaha untuk meraih ridha Allah “Dan telah diwajibkan (kepada kalian) untuk tidak beribadah kecuali kepada-Nya”. (Al-Isra: 23), dan setiap kali terbenam hari-hari Ramadhan seluruh kaum muslimin meraih kemenangan melalui doa yang diarahkan kepada Tuhan mereka “Ya Allah sungguh hanya untuk-Mu aku berpuasa, dan atas rizki-Mu aku berbuka”. Dan menyatu orang yang berbuka seluruh kaum muslimin di seluruh dunia, walaupun berbeda Negara, jenis, warna atau kekayaan, namun semua berada dalam satu hidangan rahman berdzikir melantunkan kalimah Illahi.. “Katakanlah sesungguhnya diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan yang Esa, apakah kalian mau menyerahkan diri”. (Al-Anbiya: 108)

Demikianlah umat kita bersatu dalam beribadah-ibadah, mengingatkan kesatuan mereka dengan satu arah menuju kalimat “La Ilaha Illallah”, satu kiblat dan satu syi’ar, bahkan hingga pada satu menahan diri dari syahwat yang dimubahkan, sehingga meluas naungan ibadah secara gamblang kepada setiap muslim sambil mengemban dakwah secara sederhana, lalu mengubah prinsip kesatuan prilaku politik yang diterapkan pada kemaslahatan dan oportunis kepada kaidah yang diwajibkan Islam dengan pasti, dan menganggap kesatuan yang bersandingan dengan keimanan: “Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara”. (Al-Hujurat: 10), dan menjadikan perkhilafan dan perpecahan sebagai sohib kekufuran: “Wahai orang-oragng yang beriman, jika kalian taat kepada satu kelompok dari golongan ahli kitab maka akan mengembalikan keimanan kalian menjadi kafir” (Ali Imron: 100), yaitu mengembalikan persatuan kalian menjadi berpecah belah.

Demikianlah syumuliyah Islam melakukan perubahan perjalanan umat ini menuju medan Rabbani yang terbatas pada sisi maknanya akan perpecahan dan kehinaan, yaitu yang tidak dapat mampu menghadapi kekuatan penguasa yang sombong disepanjang sejarah, padahal Al-Quran telah memberikan peringatan akan hal tersebut sambil menegaskan kepada kaum akan kondisi hidup mereka yang berada ditengah banyak fitnah, kejahatan dan kerusakan, mereka adalah orang yang disebutkan dalam firman Allah: “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”. (Al-Baqoroh: 204-205)

Bagi yang merenungkan kondisi alam saat ini akan mendapatkan bahwa para peniup fitnah sangatlah banyak, bahkan yang berusaha menanamkan benihnya di bumi-bumi Islam lebih banyak guna melemahkan besarnya kekuatan umat dengan berbagai macam nama, kadang dengan nama kebebasan, kadang dengan nama hak-hak minoritas, kadang pula dengan nama memerangi terorisme, keputusan PBB serta dengan nama program bantuan dan pangan, dan dengan demikian darah kaum muslimin ditumpahkan dengan senjata saudaranya sendiri dan dengan alasan syar’i aturan dunia baru, sehingga mengubah senjata Palestina, Iraq, Lebanon, Sudan, Afghanistan, Somalia dan Pakistan dalam menghadapi musuh yang telah merampas negeri mereka tertuju ke dalam dan pundak ikhwan yang seharusnya berdiri satu barisan bersama mereka dalam satu medan.

Bertaqwalah kepada Allah dalam persatuan kalian

Ini merupakan seruan yang disampaikan Ikhwanul Muslimin kepada mereka yang disatukan dalam bulan Ramadhan dengan syiar-syiarnya, menyatukan mereka akan syahadah tauhid dengan ikatannya, kesatuan Negara dengan perasaannya sambil mengingat firman Allah: “Jika kalian mendapatkan kebaikan maka mereka akan merasakan kesengsaraan, dan jika kalian mendapatkan musibah maka mereka akan senang dengannya…” memahami wasiat Allah: “dan jika kalian bersabar dan bertaqwa tidak akan memudharatkan tipu daya mereka sedikitpun, sesungguhnya Allah dengan apa yang mereka lakukan Maha Mengetahui”. (Ali Imron: 120) dan juga memahami bahwa musuh-musuh mereka tidak akan putus asa dalam mengobarkan fitnah di antara barisan kaum muslimin: “Setiap kali mereka menyalakan api peperangan maka Allah akan memadamkannya, mereka berusaha melakukan kerusakan di muka bumi, dan Allah tidak suka orang yang melakukan kerusakan”. (At-Taubah: 64) maka tidak ada perang di kalangan mereka lebih besar kecuali yang menjajah bumi dan merampas sumber daya alam dan memata-matai kehormatan mereka: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan” (Huud: 113)

Bahwa persatuan dan perlawanan yang mampu mengokohkan berbagai kata-kata dan iman merupakan tangan kemuliaan dan kesucian untuk memotong jalan kepada para mujahid, atau mengambil lagi haknya, kita tidak mau melumurinya dengan kotoran melalui jabatan tangan musuh yang berlumuran darah ikhwan dan akhwat tanpa tuduhan kepada mereka kecuali berpegang teguh dan mulia pada persatuan dengan mengatakan Tuhan kami adalah Allah.

Kami sampaikan secara khusus kepada kalian wahai para pemegang persatuan di Palestina… ikhwan kami di baitul Maqdis dan sekelilingnya.. wahai kalian yang mendapatkan kemuliaan dengan persatuan dan kesucian pundak kalian dengan berintisab pada bumi Isra untuk menjadikan Ramadhan dengan tiupan angin dan wanginya, suasana sejuk yang dapat meninggikan di dalamnya bendera saling memaafkan, saling mengampuni, kalian bukanlah orang yang paling mulia di hadapan Allah dari Rasul-Nya Muhammad saw dan khalifahnya As-shiddiq saat disampaikan kepada keduanya firman Allah: “..dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (An-Nuur: 22)

Wahai para penguasa dan pemimpin dunia Islam: Ramadhan memberikan kepada semua kesempatan membuka pintu untuk kembali, maka jadikanlah kesempatan untuk membuka dihadapan rakyat kalian pintu perdamaian dan kembali, mengangkat hijab yang dapat memisahkan kalian dengan bangsa kalian, perbaikilah loyalitas kalian dan arah kalian dengan menjadikan prioritas kalian keridlaan internal dan eksternal, dekat dengan rakyat bukan dengan yang lain, saatnya di bulan Ramadhan mengubah diri dari hanya sekedar risalah yang menghinakan dan protokoler yang saling berganti pada kekuatan perubahan hakiki yang dapat menyatukan umat baik pemerintah dan rakyatnya… ”dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, Karena pertolongan Allah. dia menolong siapa yang dikehendakiNya. dan dialah Maha Perkasa lagi Penyayang. (sebagai) janji yang Sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjinya, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui. (Ar-ruum: 4-6)

Dan shalawat dan salam atas nabi kita Muhammad saw beserta keluarga dan sahabatnya.. segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam. []


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 5/10/2007 / 24 Ramadhan 1428 H, dalam rubrik Risalah Mursyid. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

Belum Ada Komentar

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Maaf, untuk sementara kolom komentar tidak tersedia.

« sebelumnya
sesudahnya »