Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 10-09-2009
Ramadhan merupakan madrasah akhlak terpuji
Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah saw beserta keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mendukungnya.. selanjutnya,
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Baqarah:183)
Ayat diatas menegaskan akan tujuan utama diwajibkannya puasa, yaitu untuk menghidupkan taqwa di dalam hati, menumbuhkan akhlak yang mulia dalam jiwa, sebagaimana ia juga betujuan untuk memunculkan spirit baru bagi orang-orang beriman. Puasa merupakan salah satu sarana dari itu semua, jalan untuk menuju arahnya; karena ia mampu meningkatkan sisi rohani dan akhlaki bagi orang yang berpuasa, sehingga mampu memperkokoh kehendaknya dan membawanya untuk taat dan patuh terhadap apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, dan mencegahnya dari sesuatu yang berasal dari ucapan dan perbuatan yang tidak layak, melindunginya dari tunduk kepada syahwat dan mengikuti hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejahatan, sebagaimana mencegah dirinya dari ucapan kotor, dosa, dan permusuhan atas orang lain, sebagaimana dalam hadits disebutkan:
وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلا يَرْفُثْ، وَلا يَصْخَبْ
“Jika pada suatu hari salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan berteriak”. (Muttafaq alaih)
dan dalam atsar disebutkan:
إذا صمتَ فلْيَصُمْ سَمْعُك وبصرُك ولسانُك عن الكذب والمَحارم، ودَعْ أذى الخاصَّة، ولْيَكُنْ عليك وقارٌ وسكينةٌ يومَ صيامك، ولا تجعلْ يومَ فطرِك وصومِك سواء
“Jika Anda berpuasa, maka tahanlah (puasalah) pendengaranmu, penglihatanmu, lisanmu dari kata dusta dan yang diharamkan, tinggalkan sesuatu yang meyakitkan diri, dan jadilah atas dirimu orang yang tenang dan damai pada saat anda berpuasa, dan jangan jadikan saat berbuka dan berpuasa anda sama saja”.
Dan jika ada seseorang yang memusuhi orang yang berpuasa dengan ucapan atau perbuatannya, maka dirinya telah terlatih untuk memiliki citra yang baik dan mampu mengendalikan amarah serta akhlak yang mulia.
فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِم
“Maka dari itu, jika ada seseorang yang mencelanya atau mengajaknya berkelahi (bertengkar) maka cukup katakana: “Maaf saya sedang berpuasa”. (Muttafaq alaih).
Dalam hadits lain disebutkan:
أَعِفُّوا الصِّيَامَ؛ فَإِنَّ الصِّيَامَ لَيْسَ مِنَ الطَّعَامِ وَلا مِنَ الشَّرَابِ، وَلَكِنَّ الصِّيَامَ مِنَ الْمَعَاصِي، فَإِذَا صَامَ أَحَدُكُمْ فَجَهِلَ عَلَيْهِ رَجُلٌ أَوْ شَتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ
“Sucikanlah puasa, karena puasa itu bukan sekedar menahan diri dari makan dan minum saja namun puasa adalah menahan diri dari maksiat, dan jika pada suatu seseorang berpuasa lalu ada orang lain mencelanya atau mencacinya maka katakanlah saya sedang berpuasa”. (At-Thoyalisi)
Akhlak yang mulia adalah rahasia kebangkitan umat
Umat Islam yang mumpuni adalah umat yang mampu mensinergikan antara ibadah ruhiyah dan kreatifitas materi, dan antara keberhasilah hidup di dunia dan keberhasilan hidup di akhirat, dan para cendekiawan menyadari bahwa undang-undang saja tidak akan mampu memberikan jaminan dalam memuluskan suatu pekerjaan dan produktifitas yang baik serta pemerataan distribusi, sementara dari sini (ibadah) akan terwujud ketaqwaan, kemuliaan akhlaq dan pembinaan jiwa yang hidup sebagai tujuan asasi bagi seluruh udang-undang dan syariat, bahkan sebagai tujuan utama dari diutusnya Rasulullah saw, seperti sabda beliau:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”. (Ahmad dan ditashih oleh Baihaqi menurut syarat Muslim).
Dan sungguh benar ungkapan penyair terkemuka saat berkata:
وإنما الأُمَمُ الأخْلاقُ ما بَقِيَتْ فإنْ هُمُوا ذَهَبَتْ أخْلاقُهُمْ ذَهَبُوا
Sesungguhnya eksistensi umat tampak pada akhlaknya
Jika rusak akhlaknya maka akan hilang pula eksistensinya
Islam menginginkan melalui ibadah yang mulia pada bulan Ramadhan pada setiap tahunnya untuk mengingatkan umat Islam agar berpegang teguh pada akhlak mulia sehingga mampu merekonstruksi peradaban dan memberi ketenangan hidup di dunia; sebagai rahasia kekuatan dan pondasi kebangkitan serta titik tolak perubahan menuju yang lebih baik…
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Ar-Ra’ad:11)
Sementara itu, musuh-musuh Islam juga menyadari bahwa tarbiyah yang seimbang akan menghasilkan generasi yang merdeka dan mulia, tidak mau menerima kezhaliman, dan tidak akan tunduk akan kondisi yang pahit, serta tidak mau menyerah pada penjajahan, tidak akan mudah dan mau menyerahkan tempat-tempat yang disucikan, tidak mudah menerima bantuan dengan/tanpa embel-embel, serta mereka melihat melihat generasi yang menjadi pionir kemerdekaan pada umat ini, sebagaimana mereka juga melihat akan ketegaran umat ini dalam menghadapi musuh, dan puncaknya adalah pada saat terjadi perang furqan di Gaza yang begitu mengharukan, mereka melihat para pemuda
Jika pada siang hari berada dalam barisan yang rapi… berada di tempat-tempat tersembunyi dan benteng-benteng,
namun jika malam tiba maka mereka tidak akan tampak berkumpul kecuali dalam keadaan bersujud. Para pemuda yang tidak pernah hancur pada kondisi malam.. dan tidak pernah tunduk pada kondisi yang mengenaskan.
Karena itulah para musuh Islam berusaha dengan gigihnya menghancurkan apa yang masih tersisa dari sumber-sumber kekuatan di tengah para pemuda, mereka berusaha untuk mengumbar syahwat para pemuda, mengajak pada hawa nafsu dan melepas akan ikatan agama, akhlak dan sosial, mereka mengerahkan tenaga dan fikiran untuk mendorong masyarakat Islam pada kehancuran akhlaknya.
وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلاً عَظِيمًا
“Sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran)”. (An-Nisa:27)
Karena itu pula, bagi umat Islam hendaknya mereview kembali akan posisi dan sikapnya pada ketaqwaan; yang merupakan tujuan utama ibadah puasa yang mulia ini.
Bagaimana mewujudkan system dan bangsa yang bertaqwa?!
Bahwa diantara dampak taqwa yang dibutuhkan oleh umat adalah berpegang teguh pada tali agama Allah, berkumpul dan bersatu pada kebenaran dan tidak bercerai berai…
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ* وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. (Ali Imran:102-103)
Dan hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan perbaikan dan perdamaian antar lembaga, institusi dan bangsa di seluruh dunia Arab dan Islam yang sedang diuji dengan pembantaian dan tekanan, adanya perubahan dari posisi sebagai pemimpin menjadi pengikut, banyak tangan-tangan kotor eksternal yang selalu mengobarkan api fitnah dan permusuhan pada satu negeri, seperti yang kita lihat dan rasakan di Sudan, Yaman, Lebanon, Pakistan, Afghanistan, Somalia dan yang lainnya sehingga terjadi luka dan mengalir darah di tubuh umat Islam.
Bahwa sesungguhnya kami mengajak kepada semua pihak untuk segera melakukan perdamaian antar berbagai penguasa dan bangsa demi mewujudkan keamanan dan kedamaian, mencegah dari keterpurukan dan kehancuran, melindungi umat dari kekalahan dan ketundukan terhadap kehendak keji musuh yang selalu mengintai, sehingga mampu mewujudkan makna taqwa yang menjadi tujuan utama puasa, dan tentunya hal tersebut menuntut adanya penegakan kebenaran, keadilan dan persamaan serta kemerdekaan; karena segala bentuk penindasan akan mengarah pada pengebirian potensi akal umat, mengkerdilkan keinginan dan kehendaknya, dan pada saatnya nanti akan mengikis habis pemahaman terhadap makna iman kepada Allah, dan menghilangkan dampak ritual pada ibadah, tanpa dapat memberikan dampak positif sosial yang menyatukan seluruh kalangan, mengganti nilai-nilai luhur pada umat menjadi kekuatan diatas ideology dan logika, dan menghentikan tugas lemabga-lembaga dan institusi pemerintahan pada suatu Negara sebagai kekuatan yang selalu melakukan penindasan, terhadap tugasnya yang utama dalam memberikan pelayanan kepada umat, dan porsi kekuasaan dan kekayaan hanya terbatas pada umat dan tanggungjawab mereka yang sesuai dengan sikap menjadi kekuasaan yang selalu melakukan penindasan, sementara itu kondisi keamanan hanya terpaku pada keamanan sosial, dan pada akhirnya menggoyang keadilan di tengah umat, menyebar kezhaliman dan kejahatan sosial dan sirna nilai-nilai luhur akan eksistensi dan pengaruhnya, sementara kemunafikan merajalela dimana-mana yang berusaha memusuhi para cendekiawan umat dan orang-orang yang terhalang kebebasan mereka.
Dan pada akhirnya, dalam bentuk seperti ini, akan mampu mengubah masyarakat terpecah tidak memiliki keterikatan sama sekali antar sesame; karena di dalamnya telah muncul sikap egoisme personal, hancurnya jaringan dan hubungan serta ikatab sosial di dalamnya, sebagaimana telah sirna nilai-nilai yang terkandung dalam tubuh umat, melemahkan sikap loyalitas kepada Negara, dan pada akhirnya mengancam stabilitas umat itu sendiri.
Apalagi pada sisi pertahanan dan keamanan suatu kaum ditengah Negara yang memiliki dasar pemerintahannya adalah penjara, penyiksaan dan melemparkan tuduhan yang tidak beralasan kepada orang-orang yang tidak berdosa, merampas harta mereka, dibanding pemerintahan yang berlandaskan syura dan kebebasan seperti yang pernah diungkapkan oleh Umar bin Al-Khattab kepada para pejabatnya:
أدِرُّوا على المسلمين حقوقَهم، ولاَ تَضْرِبُوهم فَتُذِلُّوهُمْ، وَلاَ تُجَمِّرُوهُمْ (أي لا تحبسوهم بغير حق) فَتَفْتِنُوهُمْ، ولا تُغْلِقُوا الأَبْوَابَ دونَهم، فَيَأْكُلَ قَوِيُّهم ضَعِيفََهم، ولا تَسْتَأْثِرُوا عليهم فتَظْلِمُوهُم، ولا تَجْهَلُوا عليهم
“Berikanlah kepada umat Islam hak-hak mereka, dan janganlah kalian pukul dan siksa mereka sehingga kalian menghinakan mereka, dan jangan kalian kurung mereka tanpa alasan yang benar sehingga kalian tebarkan fitnah kepada mereka, dan janganlah kalian tutup pintu terhadap orang yang ada dibawah mereka sehingga orang-orang yang kuat akan memakan orang-orang yang lemah dari mereka, dan jangan pula kalian kobarkan perang sehingga kalian menzhalimi mereka dan tidak peduli dengan kondisi mereka”. (Al-Kharaj Li Abi Yusuf)
Dan dalam kondisi spiritual yang penuh berkah ini, saya ingatkan kepada seluruhnya akan sabda nabi saw:
إِذَا كَانَ أُمَرَاؤُكُمْ خِيَارَكُمْ، وَأَغْنِيَاؤُكُمْ سُمَحَاءَكُمْ، وَأُمُورُكُمْ شُورَى بَيْنَكُمْ؛ فَظَهْرُ الأَرْضِ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ بَطْنِهَا، وَإِذَا كَانَ أُمَرَاؤُكُمْ شِرَارَكُمْ، وَأَغْنِيَاؤُكُمْ بُخَلاَءَكُمْ، وَأُمُورُكُمْ إِلَى نِسَائِكُمْ فَبَطْنُ الأَرْضِ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ ظَهْرِهَا
“Jika para pemimpin kalian adalah orang-orang terbaik dari kalian, orang-orang kaya kalian adalah yang paling dermawan, urusan kalian selalu dilakukan musyawarah ditengah kalian, maka kerak bumi ini adalah lebih baik bagi kalian daripada perut buminya, namun jika para pemimpin kalian orang yang paling jahat, dan orang-orang kayanya adalah yang paling kikir, segala urusan kalian diserahkan kepada wanita-wanita kalian maka perut bumi adalah lebih baik ketimbang kerak buminya”. (Tirmidzi)
Dan nabi saw juga bersabda:
إِذَا أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَ عَلَيْهِم الحُلَمَاءَ، وَجَعَلَ أَمْوَالَهُمْ فِي أَيْدِي السُّمَحَاءِ، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ بَلَاءً اسْتَعْمَلَ عَلَيْهِم السُّفَهَاءَ، وَجَرَلَ أَمْوَالَهُمْ فِي أَيْدِي البُخَلَاءِ، ألاَ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فِي حَوَائِجِهِمْ رَفَقَ اللهُ بِهِ يَوْمَ حَاجَتِهِ، وَمَن احْتَجَبَ عَنْهُمْ دُونَ حَوَائِجِهِمْ احْتَجَبَ اللهُ عَنْهُ دُونَ خَلَّتِهِ وَحَاجَتِهِ
“Jika Allah berkehendak menjadikan suatu kaum kebaikan maka akan diberikan kepada mereka orang-orang yang berhati lembut, dan menjadikan harta mereka berada di tangan orang-orang yang dermawan, dan jika Allah menghendaki lainnya maka akan diberikan kepada mereka orang-orang yang jahil, dan diberikan urusan hartanya kepada orang-orang yang paling bakhil, katahuilah barangsiapa yang menjadi pengelola urusan umatku lalu memberikan kasih sayang kepada mereka akan kebutuhannya maka Allah akan memberikan kasih sayang dan memenuhi segala kebutuhannya, dan barangsiapa yang menghalang-halangi urusan dan kebutuhan mereka maka kelak Allah akan menutupi segala urusannya”. (Al-Kharaj li Abi Yusuf)
Apakah mungkin umat yang memiliki ibadah shiyam dan Al-Qur’an akan menyimpang dari prinsip-prinsip kemanusiaan yang tinggi, nilai-nilai Rabbaniyah yang mulia, kemudian akan memiliki eksistensi dan posisi yang mulia, dan akan tetap ada namanya yang tercetak di al-khulud (tempat keabadian)?!
Maka dari itu, apakah para pemimpin Arab dan umat Islam mau menggunakan kesempatan emas ini dan hari-hari yang penuh berkah ini untuk melakukan perbaikan dan perdamaian di tengah bangsa, menghentikan air mata orang-orang yang dizhalimi dari umat mereka, serta menetapkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip keadilan, kebebasan dan syura di tengah mereka.
Palestina dalam sanubari
Pada saat dan suasana bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, umat tetap harus memiliki kesadaran dan sigap selalu terhadap berbagai konspirasi yang sedang dialami oleh Arab dan umat Islam khususnya, dan terhadap permasalahan Palestina dan masjid Al-Aqsha umumnya, umat harus bangkit untuk membantu dan menyelamatkan saudaranya di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang tegar dan sabar, yang telah menyumbangkan para pemudanya, dan hingga saat ini mereka masih menyumbangkan pengorbanannya yang besar, dan tegak berdiri dengan peran yang menakjubakan terhadap berbagai tindak kejahatan yang dilakukan oleh Zionus, karena itulah banyak terjadi berbagai konspirasi atas bangsa mujahid ini, sementara para musuh berlomba memblokadenya, menekannya dan berusaha menghancurkannya dari dalam; dengan harapan dengan bentuk blockade, tekanan dan konspirasi tersebut mereka dapat mengalahkan mereka terhadap apa yang tidak mereka dapatkan pada saat perang dan agresi.
Karena itu umat Islam saat ini sedang berada dalam ujian yang berat, tidak ada dihadapannya pilihan lain kecuali harus mencapai keberhasilan dalam meneguhkan keinginan dan kehendak yang kuat terhadap saudara kita di Gaza, mendukung mereka dengan berbagai bentuk dukungan materi, informasi dan spiritual, menyeru dunia seluruhnya untuk memahami secara adil akan permasalahan mereka dan berdiri tegak di samping mereka dalam rangka mengembalikan hak-hak mereka serta menegaskan akan eksistensi mereka.
Umat hendaknya jangan lupa bahwa terdapat 11 ribu pahlawan dari para pahlawan Palestina, telah disembunyikan oleh penjajah yang zhalim dan keji di balik jeruji besi, sedangkan memerdekakan mereka untuk kembali di tengah umat menajdi prioritas utama dalam bentuk perhatian dan kerja.
Hanya kepada Allah saya memohon semoga Allah memberikan petunjuk kepada umat dan pemimpin ini, para pemimpin dan rakyatnya, menyatukan hati-hati mereka dalam kebaikan, menghentikan kejahatan sebagian mereka atas sebagian lainnya, dan memberikan kepada umat ini kemenangan yang besar, membukan kepada mereka kemenangan yang nyata, karena sesungguhnya Allah Kuasa atas segala sesuatu.
Allah Akbar, segala puji hanya milik Allah dan shalawat dan salam atas nabi kita Muhammad saw…
Dan segala puji hanya milik Allah.
|
| Ke atas.
RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI