
Penterjemah: Abu Ahmad
_________
Sebelumnya kita telah berbicara tentang kerja keras Al-Ikhwan dalam melawan gerakan-gerakan misionaris dan kristenisasi yang dikomandani langsung oleh kantor pusat Al-ikhwan yaitu dengan memberikan peringatan kepada umat akan bahaya misionaris. Walaupun apa yang terjadi saat ini tidak mengalami perubahan seperti yang terjadi pada masa imam Al-Banna; karena berbagai invasi misionaris pada seperempat negara umat Islam dibawah pantauan dan perlindungan pemerintah umat islam itu sendiri, ditambah dengan kondisi yang sudah berubah; sehingga saat ini Al-Ikhwan dikepung, ditekan, dipersempit bahkan dipantau ruang geraknya secara ketat. Namun sekalipun demikian mereka tidak pernah berhenti atau putus asa dalam berkhidmah dan berjuang.
Bahaya misionaris dan kristenisasi bukanlah satu-satunya permasalahan yang dihadapai oleh masyarakat Mesir- yang didalamnya Al-Ikhwan melakukan perlawanan dan menggerakkan Al-Azhar untuk melakukan perlawanan- namun mereka juga diserang oleh gerakan lain, yang merupakan bahaya dan musibah yang sangat berbahaya; yaitu muncul dan berkembangnya aliran sesat Al-Babiyah, Bahaiyyah dan Al-Qadhiyaniyyah ditengah masyarakat Mesir.
Manakah yang lebih berbahaya yang dihadapi oleh Negara aliran-aliran sesat tersebut ataukah ataukan jamaah yang ingin menginginkan kebaikan dan mengembalikan masyarakat kepada Islam yang murni? Bagaimana Al-ikhwan melakukan perlawanan terhadapnya? Dan bagaimana mereka mengungkap kedok orang-orang yang tersesat dan menipu tersebut?.. inilah yang akan kita bicarakan dan bahas pada kesempatan kali ini.
Apa yang dimaksud dengan gerakan-gerakan sesat ini?
Al-Bahaiyah adalah aliran materialis yang tidak mengakui adanya ruh dan keabadiannya, dan mengingkari alam akhirat dan apa yang ada di dalamnya dari nikmat dan kesengsaraan. Pendirinya mengklaim dirinya sebagai nabi dan tuhan yang harus disembah, sebagaimana pengikutnya juga mengklaim bahwa wahyu yang diturunkan atas mereka adalah kitab-kita yang suci, seperti Al-Bayan, Al-iqan, dan Al-Aqdas, yang kesemua kitab tersebut bertentangan dengan Al-Quran!!
Aliran Al-Bahaiyah juga mengharamkan jihad dan melakukan perlawanan terhadap penjajah, disamping itu mereka menghalalkan yang diharamkan dan riba, dan aliran ini dianggap sebagai perpanjangan tangan penjajah Yahudi dan zionis.
Adapun aliran sesat Al-Babiyah pendirinya dikenal dengan nama Ali bin Muhammad bin Al-Mizra Al-Bazzaz Al-Syairozi, lahir di kota Syairoz di Iran tahun 1235 H / 1819 M, dan ketika umurnya mencapai usia baligh secara terang-terangan memproklamirkan aqidah yang berseberangan dengan Islam, dan mengklaim bahwa dirinya adalah Al-Bab dan sebagai imam Mahdi yang ditunggu-tunggu, namun akhirnya beliau ditangkap dan dihukum mati dengan cara ditembak oleh pemerintah saat itu, yaitu pada tahun 1266 H/1850 M.
Ajaran Al-Bahaiyah diwarisi oleh Al-Babiyah dalam bentuk keyakinan; pendiri Al-Bahaiyah adalah Husain Ali Nuri bin Abbas bin Bazrak yang dikenal dengan Al-Baha, lahir di desa Nur di Iran tahun 1233 H/1817 M, mengikuti dakwah Al-Bab dan ditinggalkan dakwahnya, mereka ikut serta dalam konspirasi untuk membunuh syah Iran; karena dendam dengan pembunuhan pengikut Al-Bab, lalu ditangkap dan diasingkan ke Baghdad kemudian ke Turki, kemudian dipenjara di Aka tahun 1868 M, kemudian dibebaskan dan meninggal, lalu dikubur di Hifa di Palestina tahun 1309 H/1892 M.
Setelah meninggal ajaran Al-Bahaiyyah digantikan oleh Abbas Abdul Baha –anak pendiri Al-Bahaiyah- di Palestina, dan dianggap anggota yang aktif dalam mengajak pada Al-Bahaiyah.
Amerika Serikat dianggap sebagai negara utama pendukung berkembangnya Al-Bahaiyah dan menjadi kepanjangan tangan zionis, karena ajarannya banyak memiliki kesamaan dan kemiripan dengan kegiatan-kegiatan Zionis.
Adapun Al-Qhadiyaniyah merupakan gerakan yang didirikan pada tahun 1900 M sebagai strategi dari penjajah Inggris di benua India; dengan tujuan menjauhkan umat Islam dari agama mereka terutama dari kewajiban jihad secara umum; sehingga mereka tidak menghadapi penjajah dengan nama Islam. Dan perpanjangan model kerja gerakan ini adalah sebuah majalah “Al-Adyan” yang dikeluarkan dengan bahasa Inggris satu kali dalam satu bulan yang didirikan sejak tahun 1902 M, dan pendiri aliran ini adalah Mirza Ghulam Ahmad, yang mengarang kitab dengan sebutan “Bukti-bukti Al-Ahmadiyah”, yang juz pertamanya keluar pada tahun 1880 M, dan pada ajaran ini dirinya mengklaim sebagai “Al-Mahdi”..!!
Abu Al-Hasan An-Nadwi berkata: “Sesungguhnya Al-Qadiyaniyah berkembang di dunia Islam yang rancu ideologinya dan tidak memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap sumber-sumber Islam yang kokoh yang menjadi rujukan para salaf, umat ini terputus hubungannya dengan masa lalunya, terhadap kebaikan hari-hari yang dilaluinya dan keunggulan para tokohnya, sehingga membuka pintu para pengklaim dan penyimpang untuk melakukan perlawanan terhadapnya, berburuk sangka pada potensi, semangat dan produktivitas Islam, sehingga umat Islampun putus asa terhadap masa depannya”.
Pengikut Al-Qadhiyaniyah mempraktekkan dan menyebarkan aliran mereka di Mesir selama beberapa tahun berturut-turut, dan propaganda mereka terus bertambah dari hari ke hari dengan agenda dan aktivits yang kian terasa meresahkan, menyeberkan penomena dekadensi moral (inmoralitas) dan akidah sesat terhadap umat Islam, dan mereka juga selalu memperindah prilaku, ucapan dan propaganda bagi siapa yang punya kecendrungan dan ingin menjalin hubungan serta menerima dukungan yang salah.
Manhaj al-ikhwan dalam melakukan perlawanan
Al-Ikhwan mengambil sikap yang tegas terhadap seluruh ideology dan gerakan-gerakan yang bertujuan melakukan penyimpangan terhadap aqidah Islam dan mengeluarkan manusia darinya, dan sikap ini begitu jelas dan gamblang sejak awal munculnya aliran-aliran, dan hal tersebut tentu tidak asing lagi; karena gerakan dakwah ini didirikan untuk mengembalikan umat pada aqidah yang lurus dan ibadah yang benar serta tauhid (beriman) kepada Allah yang murni. Dan menjadikan Islam sebagai aqidah, syariah dan system kehidupan sehingga tidak mungkin kalah dan jatuh dari kelompok atau orang yang ingin menghancurkan aqidah.
Al-ikwhan berusaha menyingkap kepalsuan dan kesesatan aliran Al-Babiyah dan Al-Bahaiyah, dan mengungkap fenomena kesesatannya dan menjelaskan kepada umat akan bahayanya dan bentuk-bentuk kesesatan aliran Al-Babiyah, yang mengklaim bahwa dia adalah nabi penutup, sebagai Al-Mahdi al-muntadzar dan mengaku sebagai Tuhan!!
Mereka menjelaskan bahwa Al-Bab –pemimpin aliran bahaiyyin- salah satu pemuka aliran kebatinan, dan aliran bahaiyyin tidak beriman pada hari kebangkitan, tentang ganjaran dan siksa. Karena itu Al-Ikhwan memerangi mereka karena telah menyebarkan aqidah yang bathil, membantah klaim-klaim bathil khususnya tentang Al-Mahdi Al-Muntazhor.
Mereka memberikan dalil tentang kepalsuan aliran sesat tersebut dengan apa yang datang dari agama samawiyah lain tentang Al-Mahdi Al-Muntzhor, tentang sifat-sifatnya dalam kitab Taurat, Injil dan agama-agama lainnya, seperti Budha dan yang lainnya, kemudian mereka menyebutkan hadits nabi yang berkenaan tentang Al-Mahdi Al-Muntazhor, menukil ungkapan para ulama terkemuka yang tsiqah dalam bidang hadits, dan menjelaskan keabsahan dan kebenarannya, sebagaimana mereka juga membandingkan antara Al-Mahdi yang disebutkan dalam sunnah dan dengan apa yang mereka tuduhkan, dan menjelaskan bahwa yang demikian adalah Dajjal perusak seperti kedzaliman para babiyyun dan bahaiyyun, tidak ada hubungan antaranya dan pengikut aliran dengan Al-Mahdi Al-Muntazhor sedikitpun, apalagi persamaan dan nasab, namuan mereka adalah pelaku kerusakan dan pendusta.
Dan pada majalah “An-Nadzir” yang diterbitkan oleh Al-Ikhwan tahun 1938 dan berhenti pada awal tahun 1940 menurunkan artikel berjudul “Al-Bahaiyyah” yang ditulis oleh salah seorang anggota Al-Ikhwan, dan di dalamnya menjelaskan tentang hakikat dan kepalsuan gerakan perusak yang telah menggejala di masyarakat.
Al-Ikhwan juga memunculkan pendapat ulama termuka dari Al-Azhar tentang aliran ini dan siapa saja yang beriman kepadanya, maka mereka menjelaskan bahwa aliran ini adalah aliran baru dari sekelompok manusia yang telah dikuasai oleh hawa nafsu, lalu Allah menyesatkan mereka dan menutup rapat hati mereka, menjadikan mata mereka penutup walaupun –pada dasarnya- bisa melihat, dan menyebarkan agama baru di tengah masyarakat; mendoktrin pengikut dan penganutnya untuk meyakini aqidahnya, melakukan penyebaran dan mengajak manusia mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman, karena itu aliran dan kelompok ini adalah aliran yang sesat dan menyesatkan; yang tidak menginginkan Islam kebaikan kecuali keburukan.
Imam Muhammad Abduh ketika ditanya tentang aliran berkata: “Dia adalah –aliran- sesat dan menyesatkan”, yaitu kelompok kecil yang bertentangan dengan Islam pada seluruh ajaran-ajarannya.
Pada aliran Al-Baha memiliki hukum dan ajaran yang tertulis dalam kitabnya; baik yang telah diterbitkan ataupun yang masih sebagai konsep:
1. Haikal (bentuk)
2. Al-Aqdas (kesucian)
3. Al-Iqon (kesucian)
4. Al-Alwah (lembaran-lembaran)
5. Al-Bayan (penjelasan)
Di kota Ismailiyah, ketika salah seorang pengikut aliran al-Bahaiyah yang bernama Muhammad Sulaiman Abdullah meninggal, Al-Ikhwan menolak mengubur mereka di pemakaman umat Islam; karena dia bukan dari golongan umat Islam, sehingga sikap ini menjadi pemecut terhadap yang lainnya pengikut aliran sesat ini, dan pada saat yang bersamaan salah seorang pengikutnya yang bernama Iwadh Afandi Abdul Karim ditangkap, dan Al-Ikhwan berharap dengan peristiwa menjadi pelajaran bagi umat Islam sehingga menentang kekufuran seperti yang diinginkan dalam Islam dan ajaran nabi Muhammad saw, dan diantara hasil dari peristiwa tersebut banyak dari pengikut aliran “Al-Bahaiyyah” yang kembali kepada agama Allah.
Dan pada waktu yang bersamaan terjadi juga di Port Sa’id; dimana Al-Ikhwan menolak mengubur salah seorang pengikut Al-Bahaiyyin di pemakaman umat Islam, dan pada waktu itu Al-Ikhwan mengeluarkan bayanat seperti berikut:
Pada hari kamis pagi, tanggal 9 Rajab tahun 1358 H, sebagian anggota Al-Ikhwan mengetahui bahwa salah seorang anggota aliran Al-Bahaiyyin yang najis telah tercabut jiwanya yang jelek ke neraka Jahannam sebagai tempat kembali yang paling buruk, dan pengikutnya memahami bahwa keluarganya dan teman-temannya menginginkan untuk di makamkan di pemakaman umum (umat Islam), sehingga terjadi ketegangan sedikit sampai Al-Ikhwan mengingatkan umat Islam perkara yang berbahaya ini, dan mengingatkan mereka akan kemurkaan Allah terhadap pelanggar agama.
Mereka juga meminta kepada masyarakat untuk membantu dalam menyelesaikan masalah ini, sehingga pada saat itu umat Islam Port Sa’id menerima dan memenuhi panggilan tersebut, dan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban mereka dalam beragama seperti melawan dan memberantas kemungkaran. Dan belum sampai waktu Dzuhur seluruh umat Islam telah mendengar berita tersebut dan bersegera mempersiapkan diri dan membwa perbekalan, sehingga umat bersatu dengan Al-Ikhwan di daerah Al-Jabanah hingga menjelang sore hari, sebagaimana juga yang dilakukan penduduk Al-Manakh; desa yang berada diantara kota dengan Al-Jabanah, mereka siap untuk mencegah dan melarang masuk pengikut aliran sesat itu jika melewati desa mereka.
Sementara itu sebelum waktu Ashar semua penduduk pengikut aliran sesat telah berkumpul di rumah duka, dan guna mencegah warga untuk memusuhi rumah tersebut dan orang-orang yang ada di dalamnya maka maka pejabat daerah segera menurunkan 50 tentara untuk menuntaskan permasalahan tersebut, dan hal ini terus bertahan hingga datang waktu Isya sementara mereka kebingungan dengan urusan mereka… dimana mereka menguburkan saudaranya?
Namun pemimpin mereka –atau nabi mereka seperti yang mereka tuduhkan- tetap berusaha keras untuk menguburkannya, namun usahanya gagal seperti abu diterpa angin oleh kesigapan Al-Ikhwan dan umat Islam, dan akhirnya mereka tidak bisa menguburnya kecuali di jalan menuju Isma’iliyah yang jauhnya 50 Mil dari Port Sa’id.
Hal tersebut merupakan pelajaran yang sangat keras dari Al-Ikhwan terhadap aliran Al-Bahaiyyah dan terhadap para pengingkar ajaran agama dan murtad dari agama Islam.
Sebagaimana hal tersebut juga merupakan kemenangan bagi kaum muslimin sehingga menjadi buah hati dan membahagiakan jiwa mereka.
Dan tidak ketinggalan pula kami sebutkan disini usaha dan kerja keras Al-Ikhwan dan pemuka-pemuka Al-Ikhwan yang dimuliakan Allah, atas perhatian mereka terhadap perkara ini dari awal hingga akhir, mereka adalah: Al-Akh Hamid Afandi Al-Masri, Muhammad Afandi Sahatah, Ibrahim Afandi As-siisi, semoga Allah memberikan ganjaran yang setimpal.
Al-Ikhwan juga berusaha mengumumkan nama-nama yang telah bebas dari kelompok ini; agar menjadi contoh yang dapat diikuti oleh yang lainnya; sehingga pada majalah “An-Nadzir” pada edisi khusus diberitakan salah sseorang dari mereka yang telah terbebas dari aliran Al-Bahaiyyah dan kembali ke Islam, adapun nashnya adalah sebagai berikut:
Yang mulia pemimpin bagian kota Al-Isma’iliyah…
Yang menghadap bapak mulia ini adalah Abdul Aziz Abdul Nabi Syalabi, seorang pedagang yang mangkal di salah jalan menuju Isma’iliyah, dan sebelumnya saya menganut aliran Al-Bahaiyyah, namun saya mendapatkan kejelasan akan kesesatan aqidah tersebut; karena itu saya berikrar kembali kepada agama Islam yang hanif, dan saya sampaikan berita ini kepada bapak agar menerima dan mendapat perlakuan yang sesuai dengan jamah lainnya. Demikianlah permohonan ini, kiranya dapat diterima”.
Sementara yang lainnya juga menulis:
“Saya Fuad Muhammad Husian, seorang pedagang keturunan Afrika di kota Al-Ismailiyah, dengan kehadiran Ust. Syaikh Muhammad Faragalli Wafa, penasehat al-Qanal dan wakil Al-Ikhwan, yang telah menjelaskan saya akan kesesatan aliran al-Bahaiyyah dan bertentangan dengan madzhab Islam, sehingga akhirnya saya mengikrarkan diri untuk kembali kepada Islam dan membebaskan diri dari aliran yang sesat tersebut.”
Dan usaha Al-Ikhwan tidak hanya terbatas pada pemberantasan kelompok dan ajaran Al-Bahaiyyah saja, namun mereka juga memantau pergerakan Al-Qadhiyaniyyah, walaupun keberadaan kelompok ini lebih kecil dari aliran Al-Bahaiyyah, namun Al-Ikhwan tetap memberikan peringatan kepada umat, jika satu saat nanti muncul; maka ketika Al-Ikhwan mengetahui ada dua orang utusan pelajar dari Albania untuk belajar di universitas Al-Azhar As-Syarif, yang sebelumnya keduanya pernah belajar di sekolah Qadhiyaniyah di Lahore, dan menganut agama dan kepercayaan musuh Allah Ghulam Mirza Ahmad al-Qadhiyani.
Akhirnya Al-Ikhwan mulai memberikan peringatan akan bahaya ini, dan ketika diketahaui oleh maktab al-irsyad al-am al-ikhwan Al-muslimun berita tersebut, maka Mursyid Am segera mengirim surat yang masing-masiing ditujukan kepada; Syaikh Al-Azhar, Dekan Kuliah Ushuluddin, ketua bagian umum; untuk memantau akan bahaya dua mahasiswa yang belajar di universitas Al-Azhar yang merupakan universitas Islam terbesar; karena keduanya bisa saja dapat menyebarkan propaganda sesat tentang aliran yang mengatakan haram melakukan jihad dan mengangkat pedang dihadapan musuh Islam, dan mengajak umat Islam untuk masuk dalam pemerintahan koloni Inggris…ect.
Lalu Syaikh Al-Azhar memerintahkan kepada bagian umum untuk mengecek administrasi dari dua mahasiswa tersebut, dan keduanya mengakui bahwa dirinya menganut aliran musuh Allah yang mengaku-ngaku sebagai nabi, Ghulam Ahmad Al-Qadhiyani yang juga mengaku telah menerima wahyu, risalah dan kenabian.
Dan ketika selesai pengecekan secara administrasi, syaikh Al-Azhar membentuk tim ilmiyah yang terdiri dari 5 anggota; mereka adalah Syaikh Abdul Majid Al-Luban, Dekan Kuliah Ushuluddin, Syaikh Ibrahim Al-Jibali, direktur ma’had Tantha, syaikh Muhammad Al-Inani ketua pemeriksa ilmu-ilmu arab di Al-Azhar, syaikh Mahmud Abu Daqiqah dari jamaah Ulama terkemuka dan syaikh Muhammad Al-Adwi pemeriksa nasihat dari Al-Azhar; hal tersebut bertujuan untuk mempelajari aliran musuh agama Al-Qadhiyaniyyah.
Sementara Al-Ikhwan telah lebih dahulu melakukan serangan dan bantarahan terhadap Al-Qadhiyaniyyah; dimana Imam Al-Banna menjelaskan di majalah “Al-Manar” untuk opini umum akan bahaya gerakan dan aliran ini, kerusakan aqidah dan kesesatan pendirinya Ghulam Ahmad yang mengaku-ngaku sebagai Al-Masih al-muntadzor, dan mengklaimm bahwa ruh Allah telah merasuk kedalam dirinya, dan dirinya adalah Al-Mahdi al-muntadzar.
Dan hasil dari serangan dan bantahan yang dikobarkan Al-Ikhwan ini akhirnya dua mahasiswa tadi mengikrarkan diri kelura dari aliran tersebut, dan menegaskan akan pertaubatan keduanya dan kembali kepada kepada aqidah Islam yang benar dan lurus.
Dengan itu semua, Al-Ikhwan mampu menjaga dan melindungi masyarakat dari penyakit ini dan penyakit lainnya yang mengancam masyarakat Mesir secara khusus dan umat Islam seluruhnya secara umum.
_________________________________
Rujukan:
1. Jum’ah Amin Abdul Aziz: Awraq min tarikh Al-Ikhwan Al-Muslimun, al-kitab at-tsalis, Dar el tauzi’ wan nasyr islamiyah, tahun 2002 M.
2. Jum’ah Amin Abdul Aziz: Awraq min tarikh Al-Ikhwan Al-Muslimun, al-kitab as-sadis, Dar el tauzi’ wan nasyr islamiyah, tahun 2005 M.
3. Majalah Al-Manar, edisi V, jilid 35, 1 Rajab 1358 H/17 Agustus 1939
4. Majalah Al-Nadzir, edisi 25, tahun kedua, 21 Jumadil Ula 1358 H/8 Agustus 1939
5. Koran mingguan al-ikhwan al-muslimun, tahun pertama, edisi 19, kamis 5 sya’ban 1352 H/23 Nopember 1933 M. Jum’ah Amin Abdul Aziz: Awraq min tarikh Al-Ikhwan Al-Muslimun, al-kitab at-tsalis, Dar el tauzi’ wan nasyr islamiyah, tahun 2002 M.
|
| Ke atas.
RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI
Maaf, untuk sementara kolom komentar tidak tersedia.