Peran Ikhwan dalam Reformasi dan Memerangi Kerusakan di Masyarakat (14) Perhatian Terhadap Pelayanan Kesehatan

17/10/2008 | 16 Shawwal 1429 H | 597 views
Oleh: Abu Ahmad
Kirim Print

Memberikan Perhatian Dalam Pelayanan Kesehatan; Usaha Al-Ikhwan pada Saat dan Pasca Perang Dunia Kedua

Sebelumnya kita telah berbicara tentang usaha Al-Ikhwan dalam memberikan bantuan pada bidang pelayanan kesehatan dan medis pra perang dunia kedua, dan pada kesempatan kali ini kami ingin menyempurnakan pembicaraan tersebut tentang usaha yang mulia ini, usaha yang memberikan pengaruh positif yang sangat besar dalam kehidupan bermasyarakat.

Bahwa kondisi kesehatan yang dialami bangsa Mesir saat itu sangatlah memperihatinkan; karena tri kondisi yang selalu mengiringi kedidupan warga warga mesir saat itu sangat akut; seperti kemiskinan, kebodohan dan penyakit. Hal tersebut sesuai dengan laporan dan hasil statistic kementrian kesehatan Mesir tentang kondisi penyakit yang diderita warga dan bangsa Mesir pada tahun 1944, dalam laporan tersebut diungkapkan bahwa 90 % dari warga Mesir menderita penyakit rabun mata, dan 55 % nya menderita penyakit balharrisia (Schistomiasis), dan 30 % menderita penyakit Inklustoma, 15 % nya menderita penyakit malaria, 12 % menderita penyakit … dan 3 % menderita penyakit TBC. Sebagaimana yang juga disampaikan oleh statistic urusan sosial pada tahun yang sama bahwa 12 juta warga Mesir dari jumlah penduduknya yang berjumlah 16 juta jiwa tidak menikmati fasilitas sosial dan kesehatan.

Karena itulah Al-Ikhwan Al-Muslimun sejak berdirinya lembaga kesehatan memberikan perhatian yang intensif terhadap kesehatan ini; dan imam Al-Banna menganggapnya sebagai bagian dari perbaikan sosial yang sangat penting, sehingga pada risalah “Nahwa El-Nour” pada awal tahun 30-an menyatakan: “Bahwa umat pada Negara-negara berkembang membutuhkan prajurit yang mumpuni, sedangkan asas dari prajurit yang mumpuni adalah badan yang sehat dan jasad yang kuat, dan beliau memberikan dalil dari Al-Quran dalam firman Allah:

إِنَّ اللهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ

“Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang Luas dan tubuh yang perkasa.” (Al-Baqoroh:247)

Oleh sebab itu Al-Ikhwan berusaha memerangi trilogy penyakit masyarakat tersebut dan menjadikannya sebagai permasalahan yang harus serius diperhatikan secara intensif dan bahkan dijadikan pembahasan khusus pada muktamar-muktamar dan pertemuan-pertemuan secara periodik dan melakukan pertemuan dengan maktab irsyad (kantor bagian penyuluruhan) di berbagai daerah, dan dengan itu pula Imam Al-Banna dalam risalah muktamarnya yang keenam meletakkan dihadapan umat hakikat yang mengerikan terhadap penyakit yang terdapat di Mesir, beliau berkata: “Sungguh saya telah meninjau berbagai klinik, puskesmas dan rumah sakit milik pemerintah pada tahun 1934 dan saya mendapati sebagai 74213837 pasien; diantaranya ada satu juta penderita Schistomiasis, dan lebih dari setengah juta orang menderita penyakit enklustoma, satu setengah juta orang menderita penyakit rabun mata, dan di Mesir tardapat 90 % orang yang menderita penyakit rabun mata dan menderita penyakit tofiliyat (kekanak-kanakan), dan di dalamnya terdapat 55575 orang yang menderita penyakit katarak (kebutaan).

Dan dalam uji medis pada sekolah-sekolah, ma’had-ma’had dan universitas, diantaranya kuliah ketentaraan ditemukan hakikat yang menakjubkan akan lemahnya tulang pensendian para pelajar, padahal mereka adalah tumpuan umat dan generasi masa depan, dan semua itu terdapat dalam umat yang telah diajarkan oleh Nabi saw untuk kuat dan siap menghadapi masa depan; sehingga Allah berkenan memberikan kesehatan pada badannya, telinganya dan penglihatannya.

Karena itu dalam konsensus (kesepakatan) pada muktamar keenam Al-Ikhwan Al-Muslimun ditetapkan “Memberikan arahan-arahan dalam berbagai bentuk; etika, kesehatan, sosial dan seni – selama ada para seniman dan spesialis di tengah masyarakat- terhadap mereka yang mampu menghadirkannya dari setiap individu masyarakat”.

Menyadiakan proyek kedokteran dan kesehatan dengan berbagai aktivitas dan kegiatan, dan kantor al-irsyad akan melakukan fasilitator dan melaksanakan kewajibannya dalam hal tersebut dengan menjalin hubungan dengan para dokter dan tim medis di pedesaan dan mengirim mereka ke tengah masyarakat yang membutuhkannya.

Dari itu semua Al-Ikhwan berusaha melakukan jaulah dengan sungguh-sungguh dan gigih serta menakjubkan, melakukan berbagai aktivitasnya diseluruh daerah di Mesir; memberikan kesadaran tentang pentingnya kesehatan, melakukan pengobatan dan membiasakan masyarakat agar perhatian pada sisi kesehatan. Dan, oleh karena itu pula, pada tahun 1943 Tim dari Al-Ikhwan melakukan jaulah besar-besatan ke berbagai daerah dengan melakukan pembersihan jalan-jalan dan gang-gang dan memotivasi warga pedesaan untuk selalu memeriksakan diri mereka ke rumah sakit dan klinik-klinik, dan melakukan pengobatan dan chek up secara rutin.

Al-Ikhwan memberikan perhatian kesehatan untuk masyarakat dengan biaya semiminal mungkin, melalui pendirian klinik-klinik dan apotik-apotik. Dan usaha yang dilakukan Al-Ikhwan dalam bidang medis ini memberikan contoh terbaik di tengah masyarakat. Sehingga banyak dari media cetak yang menulis dan memuji usaha yang dilakukan ini terutama terhadap pendirian klinik dan apotik Al-Ikhwan yang terletak di kota El-Manshurah. Dalam tulisan tersebut disebutkan: “Inilah klinik Al-Ikhwan Al-Muslimun dan apotik mereka yang berlomba dengan rumah sakit-rumah sakit daerah, dengan menarik perhatian dan kepercayaan para pasien, dimana saja mereka berjalan melintasi jalan-jalan terdengar dari lisan masyarakat dari kalangan wanita muda, ibu-ibu dan anak-anak nasihat untuk orang-orang yang sakit untuk pergi ke klinik-klinik Al-Ikhwan Al-Muslimun, dan tidak diragukan bahwa usaha ini merupakan usaha yang memberikan keberhasilan yang menakjubkan dan menunjukkan akan kejujuran akidah para tokoh yang melakukan tugas ini di tengah masyarakat”.

Pada sebelumnya, aktivitas pengobatan yang dilakukan masyarakat sangat beragam, sebagian mereka ada yang melakukannya secara tradisional sehingga harus ada pembaharuan agar tidak mengalami penyesatan dan kekeliruan; maka dibuatlah klinik dan apotik, begitupun juga dibuat kegiatan lain yang beragam dan modern seperti kegiatan olah raga dan berkemah, dan akhirnya masyarakat mulai menyadari akan pentingnya kesehatan dalam kehidupan mereka, dan mereka juga mendirikan tim penyelamat untuk penanggulangan korban bencana.

Sementara itu Al-Ikhwan juga memberikan arahan kepada masyarakat untuk melakukan medical chek up secara rutin, dan dari proyek kesehatan ini menjadikan masyarakat senang dengan keberadaan Jamaah Al-Ikhwan, seperti yang diberitakan oleh majalah “El-Busyra”, yang dalam beritanya ditulis : “Di awali pada minggu pertama yang lalu, pelaksanaan proyek medis oleh Al-Ikhwan Al-Muslimun, melalui medical chek up terhadap seluruh ikhwan dan mengobati orang-orang yang sakit dari mereka, dan ust. DR. Musthafa Ali Abdullah Bek (wakil Al-Ikhwan propinsi Benha) melakukan medical chek up terhadap al-ikhwan yang hadir, dan memberikan nasihat yang berharga dan arahan-arahan yang bijaksana, semoga Allah memberikan kekuatan dan memuliakannya dengan keislamannya”.

Dan dibawah judul “Nidaun lil Ikhwan” pada edisi yang sama majalah tersebut disebutkan: “Sekretariat Al-Ikhwan Al-Muslimun di Benha berharap dari seluruh ikhwan yang hadir yang belum melakukan medical chek up untuk datang ke kantor sekretariat untuk mengambil formulir khusus, dan yang diharapkan dari para hadirin adalah agar memperhatikan waktu-waktu shalatsetiap harinya, Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah”. (1)

Pertama kali yang menjadi perhatian Al-Ikhwan adalah memerangi penyakit; karena itulah mereka sengaja mendirikan pusat-pusat kesehatan dan klinik-klinik kedokteran serta menyediakan mobil ambulans untuk dapat berkeliling pada waktu-waktu tertentu guna membantu dan menolong orang-orang miskin dan orang-orang yang sudah tua renta, lemah dan tidak mampu, serta membantu memberikan nasihat untuk selalu perhatian terhadap kesehatan mereka. Seperti yang dilakukan pada salah satu daerah di El-Monofiyah; memobilisasi masyarakat dan propaganda secara luas untuk mencari bantuan guna mendrikan pusat kesehatan yang komprehensif dan integral, kemudian dibentuklah tim, dan hal tersebut dilakukan dengan semangat dan giat, sebagaimana pula Al-Ikhwan mendirikan cabangnya di daerah Bakos el-raml di propinsi Alexandria klinik kesehatan, begitupula di propinsi Tanta dengan mendirikan pusat kesehatan di sekitar tempat kelahiran Al-Ahmadi, yang di dalamnya ada tim yang bekerja melakukan pengobatan dengan berkeliling, dan telah berhasil melakukan pengobatan hingga 300 pasien (2).

Begitupun Al-Ikhwan melakukan pengobatan secara gratis di propinsi El-Mansora, hingga pada dua bulan Juni dan Juli tahun 1938 jumlah pasien yang berkunjung ke tempat tersebut mencapai 2060 pasien; diantaranya 1000 anak-anak, 600 wanita, 375 laki-laki, dan 54 penderita sakit gigi, 35 orang tertimpa musibah dan bencana dan melakukan 14 kali tindakan operasi.

Bidang Pemberian Sumbangan dan Pelayanan Kesehatan

Ketika Al-Ikhwan membentuk divisi bidang penyuluhan dan pelayanan sosial pada tahun 1945 disebutkan dalam AD/ART nya; bahwa diantara tujuan divisi ini adalah melakukan penyadaran tentang kesehatan dan sosial, dan melakukan kegiatan pekan perbaikan dan ishlah.

Namun Al-Ikhwan tidak berhenti pada usaha itu saja; melainkan seperti yang dilakukan ust. Hasan Al-Banna dengan mengirim surat kepada menteri kesehatan yang isinya adalah sebagai berikut:

Yang Mulia Menteri Kesehatan

Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh

Pada musibah yang sedang terjadi saat ini, telah mengancam kesehatan secara umum terhadap warga yaitu menyebarnya wabah kolera, sehingga memanggil hati orang-orang yang memiliki jujur untuk memberikan kontribusinya dengan harta dan tenaga yang dimiliki, oleh karena itu kantor pelayanan umum Al-Ikhwan Al-Muslimun mengajukan permohonan kepada yang mulia agar sudi memfasilitasi mereka untuk dapat bekerja secara maksimal, dengan memberikan keterangan bahwa mereka berada dalam pengawasan kementrian kesehatan yang memiliki 40 ribu pegawai, dan terdiri dari pemuda pilihan dan generasi umat yang bersih, yang siap disebar ke berbagai penjuru lembah dan kota hingga pedesaan dan perkampungan terpencil sekalipun, yang semuanya telah siap melakukan tugas mereka untuk menanggulagi wabah ini.

Dan yang menambah lebih tenang adalah adanya manfaat yang diharapkan dari tajnid (kaderisasi) ini –insya Allah- yang mulia akan mengetahui bahwa ribuan pemuda Al-Ikhwan yang telah telah rela memberikan jiwa dan raga untuk negerinya merupakan sekumpulan orang yang memiliki jiwa yang tangguh, disiplin yang tinggi terhadap kesatuan barisan, kepemimpinan, pengawasan dan bimbimbingan dan siap ditempatkan dimana saja.

Dan mereka siap bekerja dengan bersungguh-sungguh; karena itu kami menyampaikan kepada yang mulia beberapa contoh kerja yang dapat dilaksanakan oleh para pemuda tersebut, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para penanggung jawab dari tugas mereka, yaitu:

1. Menyebarkan seruan tentang pentingnya kesehatan di berbagai daerah dan menyiarkannya melalui media yang dikeluarkan oleh kementrian dan diiringi dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat dan membantunya untuk melaksanakan seruan tersebut.

2. Menyampaikan kepada para penderita penyakit kolerea, disemua daerah untuk sama-sama menanggulanginya, dengan menganggapnya sebagai kewajiban negara yang tidak ada perkhilafan di dalamnya.

3. Pembentukan tim yang beragam untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada pasien.

4. Memberikan bantuan yang baik kepada para prajurit dalam berbagai kerja dan aktivitas mereka; memblokade tempat yang teridentifikasi penyakit, memindahkan isyarat-isyarat non kabel dan menyetir mobil dan lain-lain.

Wahai yang mulia:

Kami telah melatih para pemuda yang bersih ini dalam memberikan pelayanan kepada negara untuk memerangi musuh yang datang tiba-tiba, dan tidak diragukan lagi bahwa pasukan ini tidak akan berkurang semangat kerja mereka kecuali dengan memberikan vaksin daya tahan tubuh dari penyakit, dan jika disetujui oleh menteri kesehatan dan dengan bekerja sama dengan departemen-departemen, perusahaan dan industry-industri para Al-Ikhwan akan mampu memberikan kepercayaan tugas ini, sekalipun ditugaskan pada waktu siang yang bertolak belakang dengan waktu-waktu kerja resmi mereka, diiringi dengan konsentrasi dan kerja mereka untuk menghindari dari bahwa wabah penyakit di negeri ini.

Demikianlah, dan kami sangat bahagia dapat memberikan laporan ini dibawah pengawasan kementrian kesehatan, 1500 bagian dari peran Al-Ikhwan Al-Muslimun yang menjadi misi ini adalah melakukan antisipasi dan pengobatan melawan wabah penyakit, terutama di tempat-tempat dan daerah-daerah yang di dalamnya tidak terdapat pusat kesehatan.

Dan sambil menunggu jawaban yang mulia, kami berharap laporan kami ini diterima dengan ikhlas

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Disisi lain kantor-kantor cabang Al-Ikhwan juga telah sibuk dengan urusan ini; di daerah Hamady misalnya Al-Ikhwan Al-Muslimun membuka klinik pengobatan untuk orang sakit yang dipimpin langsung oleh DR. Taufik Bek Utsman Abu Nasr Hakim basya, pimpinan rumah sakit daerah saat itu, dan klinik tersebut menerima pasien dua kali dalam seminggu; hari senin dan jum’at; dan bertempat di kantor cabang di naj’ Hamady. Sedangkan di kota Asyuth Al-Ikhwan juga membuka klinik pengobatan yang dipimpin oleh DR. Abbas Muhammad Husain, dan klinik tersebut memberikan pelayanan kesehatan secara Cuma-Cuma (gratis), dengan seluruh pelayanan kesehatan dan penyakit dengan berbagai macam dan bentuknya, dimulai dari jam 09.00 hingga jam 11.00 pagi setiap hari kecuali jum’at.

Dan sambutan masyarakat terhadap klinik tersebut begitu besar, seperti klinik yang didirikan oleh Al-Ikhwan di propinsi Tanta jumlah pasien yang berobat dengan berbagai penyakit dalam jangka waktu 2 bulan mencapai 1233 pasien; terdiri dari laki-laki, anak-anak dan wanita, dan klinik tersebut telah mempersiapkan tempat dengan berbagai perlengkapat  dan fasilitas serta sarana; seperti ruang pemeriksaan, alat periksa dan stetoskop, pemberian pengawasan dari para dokter dari berbagai spesialisasinya.

Begitupula majalah Al-Ikhwan memberikan perhatian dengan permasalahan ini, sehingga memberikan halaman khusus dengan tema “media kedokteran” yaitu berisi tentang pelayanan kesehatan secara gratis kepada para pembaca, yang disampaikan oleh seorang dokter sejak edisi kelima tahun pertama, dan menjabarkan berbagai penyakit yang dihasilkan olehh virus dan bagaimana menanggulangi penyakit tersebut.

Sebagaimana kantor Al-Irsyad juga sepakat untuk memperluas dan mengembangkan bagian medis yang bertujuan untuk:

1. Mendirikan klinik, puskesmas, balai pengobatan dan rumah sakit-rumah sakit dan melakukan pengawasan terhadap kinerjanya.

2. Bekerja dalam rangka mewujudkan jaminan kesehatan bagi masyarakat.

3. Bekerja untuk mensosialisasikan hidup sehat dan meningkatkan tingkat kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai macam sarana, dan memberikan bantuan pada lembaga-lembaga resmi (pemerintah) dan swasta dalam menanggulangi penyakit yang telah menjangkit dan mewabah yaitu melalui media masa, radio dan muhadhoroh-muhadhoroh.

4.    Mempererat hubungan antara lembaga-lembaga kedokteran dengan lembaga Al-Ikhwan Al-Muslimun di Mesir dan negara Arab serta negara Islam melalui pengiriman utusan, mengadakan muktamar-muktamar dan menghadirinya serta menerima para utusan yang datang kepadanya.

Pada awalnya bagian ini memiliki kantor sendiri dan khusus yang jauh dari kantor pusat, terletak di depan sekolah siniyah di Hay El-Sayyidah Zainab, dan di kantor tersebut terdapat balai kesehatan yang melayani pemeriksaan medis bagi pasien dengan biaya yang sangat murah, sebagaimana juga melakukan chek up kepada masyarakat secara rutin, begitupun dengan melakukan kesehatan keliling untuk memberikan pengobatan kepada para pasien dari keluarga miskin, membantu bagian urusan daerah di kementrian kesehatan. Namun kemudian balai kesehatan tersebut pindah ke dar el-ikhwan di kantor pusat yang terletak di daerah El-Hilmiyah, pada tanggal 15 Nopember 1944

Adapun dokter yang bekerja di balai kesehatan tersebut berjumlah 10 orang, yang dipimpin oleh dokter Ahmad Sulaiman, ketua departemen kesehatan Al-Ikhwan, dan seorang dosen di kuliah kedokteran di Qasr Al-Aini, dan juga sebagai direktur klinik pada saat itu, dan di dalamnya tergabung beberapa dokter-dokter ahli.

Dan ketika muncul wabah penyakit malaria di propinsi Qona dan Aswan Al-Ikhwan langsung menanggulangi musibah tersebut, dan mereka juga mengkritik larinya orang-orang kaya yang meninggalkan saudara mereka yang miskin dan yang tertimpa musibah tanpa ada pertolongan ataupun rasa peduli, dan mereka juga memuji pemerintah khususnya kementrian kesehatan yang cepat menanggulangi musibah secara layak, namun mereka juga mengecam pemerintah karena banyak dari masyarakat yang mati akibat kemiskinan dan kurangnya makanan bukan karena kurang obat-obatan. Dan hasilnya adalah banyak warga yang menderita penyakit karena kurangnya asupan makanan dan gizi yang buruk, sekalipun pengobatan sudah memadai.

Al-Ikhwan menjelaskan bahwa sekiranya setiap orang kaya mau mengeluarkan nishab dari zakatnya maka orang-orang miskin tidak akan mati seperti itu, dan bahkan tidak akan ada yang miskin di semenanjung negara Mesir yang terbentang dari Alexandria hingga Aswan. Dan ust. Salih Asymawi menyeru pemred majalah Al-Ikhwan, bahwa seluruh anggota Al-Ikhwan untuk segera bergotong royong memberikan bantuan dengan harta yang mereka miliki melalui Koran harian “El-Ahram” yang berwenang mengumpulkan dan mendistribusikan bantuan tersebut, mendorong mereka yang memiliki rasa malu dan memiliki kehormatan untuk berderma dengan apa yang mereka miliki; baik uang, pakaian dan makanan, sebagaimana juga diminta untuk melantunkan doa kepada Allah agar diangkat penyakit yang menimpa saudara-saudara mereka di propinsi Qona dan Aswan, menyembuhkan penyakit mereka dan merahmati dan mengampuni mereka yang telah meninggal dunia.

Al-ikhwan juga juga mendirikan 2 kantor cabang yang terletak di Qona dan Aswan agar dapat segera memberikan bantuan kepada orang-orang yang tertimpa musiban dan mempedulikan penderitaan mereka, dan menjadikan peran Al-Ikhwan sebagai bagian dari muaskar untuk membina orang-orang yang ingin memberikan pertolongan dalam mendistribusikan obat di berbagai tempat, memberikan kelapangan tempat dan memberikan arahan cara mengantisipasi, mengobati penyakit tersebut.

Dan pada masa itulah al-ikhwan membentuk regu penolong yang siap memberikan bantuan pada kondisi darurat dan terjadi musibah dan bencana, yang kantornya berada di kantor pusat, dengan memberikan pelatihan kepada anggotanya cara melakukan pertolongan, yang dikomandani oleh ust. Muhammad Nabih Abdul Majid, wakil dari bidang penanggulangan dan antisipasi, selaian itu juga dipersiapkan regu penolong khusus perang dunia kedua; dengan diberikan pelatihan cara memberikan pertolongan pada orang yang terkena serangan bom pada saat perang dunia kedua terjadi.

Dan ketika tersebar wabah kolera di Mesir yang tersebar melalui pasukan penjajah, kantor bidang pengarahan memutuskan untuk melakukan pertemuan pada tanggal 23 September tahun 1947, bertepatan dengan tanggal 13 Dzul Qaidah tahun 1366, dengan mengirim surat kepada menteri kesehatan agar mengumumkan kesiapan Al-Ikhwan mengirim 40 ribu pasukan penolong guna menanggulangi wabah penyakit kolera tersebut, dan pada pertemuan tanggal 5 Oktober tahun 1947 kantor pusat menetapkan akan mengirim surat yang kedua kepada menteri kesehatan dengan mempersiapkan balai kesehatan dan klinik-klinik Al-Ikhwan guna melakukan operasi that’im (suntikan) anti kolera dan mempersiapkan 10 mobil untuk digunakan melakukan pemantauan keliling di pedesaan yang tertimpa wabah kolera dan melalukan penyuntikan tersebut yang dibantu oleh kementerian kesehatan.

Kantor pusat Al-Ikhwan juga mengeluarkan bantuannya untuk kantor-kantor cabangnya di berbagai daerah dan propinsi dengan membentuk tim penanggulangan kolera, dan memberikan untuknya kantor sekretariat sehingga mudah melakukan pemantauan.

Begitupula Al-Ikhwan memberikan perhatian melalui muhadhoroh-muhadhoroh dan ceramah-ceramah, menyebarkan dakwah dan mensosialisakan pentingnya kesehatan kepada masyarakat yang disampaikan di berbagai tempat; baik di café-café, club-club perkumpulan, dan di tengah kerumunan masyarakat secara umum, serta masjid-masjid yang ditangani khusus oleh para dokter Al-Ikhwan, melakukan ziarah dan kunjungan ke perkampungan, pedesaan dan gang-gang, mengajak masyarakat untuk mengikuti arahan dan petunjuk yang diberikan oleh menteri kesehatan, membentuk tim pemberian pertolongan guna membantu keluarga yang sedang tertimpa musibah dan menyampaikan secara langsung akan penderitaan yang dialami. Dan bagian sumbangan dan pelayanan sosial memberikan perhatian dan menghadirkan sarana kebersihan kepada keluarga-kelurga miskin di pedesaan yang miskin, seperti pasta gigi dan sabun, mengirim laporan ke kantor pusat atas nama ketua bagian khusus penanggulangan kolera melalui telepon.

Pada Koran harian Al-Ikhwan Al-Muslimun diberitakan: “Bahwa Koran harian Al-Ikhwan menyambut baik terhadap seluruh kinerja yang dilakukan oleh para dokter dan ulama terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat”.

Namun Aktivitas Al-Ikhwan tidak terbatas pada negara Mesir saja tapi mereka juga mengirim utusan tim medis dan tim dokter ke berbagai negara Arab dan Islam yang tertimpa bencana serangan bom pasca perang dunia kedua, oleh karena itu kantor bagian penyuluhan pusat Al-Ikhwan Al-Muslimun mengirim tim dokter untuk berpartisipasi dalam membantu korban di negara Syiria saat terjadi serangan bom yang dilakukan negara Perancis terhadap negara tersebut, dan dibentuk tim dokter khusus yang dipimpin oleh dokter Muhammad Ahmad Sulaiman sebagai ketua, dan ust. Abdul Hakim Abidin sebagai sekertaris, dan dokter Ali Al-Barlisi dan ust. Ali Muhammad sebagai relawan, serta ustazah Anisah Zubaidah Ahmad sebagai anggota. Utusan tersebut bermukim di kota Damaskus dengan membuka pengobatan luar, dan jumlah orang yang melakukan pengobatan setiap harinya berjumlah sekitar 200 orang.

_____________________________________________________

1.  Majalah Al-Busyra –tahun kesepuluh, edisi ke 204, hal. 2, tanggal 17 Jumadil Akirah tabun 1360 / 5 Juli tahun 1941

2.    Majalah Al-Ikhwan Al-Muslimun –tahun pertama- edisi ke 3, hal. 2, tanggal 15 Ramadhan 1361/ 26 September 1942.


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 17/10/2008 / 16 Shawwal 1429 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

Belum Ada Komentar

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Tulis Komentar


« sebelumnya
sesudahnya »