Penyebutan Sebagai Asy-Syahid Secara Umum kepada Mereka yang Gugur di Medan Jihad

5/8/2007 | 21 Rajab 1428 H | 3,546 views
Oleh: Abu Jihan Halfawy Al-Garuthy
Kirim Print

Salman Al-Audah
2/1/1423 H

Pertanyaan:

Saya berdoa kepada Allah, agar Anda diberikan tambahan taufiq dan kebenaran. Semoga Allah memberikan ganjaran kebaikan atas apa yang telah anda persembahkan untuk islam. Perlu Anda ketahui, saya adalah salah satu pengunjung harian situs anda (islamtoday.com, red).

Ada beberapa catatan yang perlu saya kemukakan, terutama dalam dua hal terpenting, yaitu; pengithlakan kata ‘istisyhad’ atau istilah ‘amaliyah istisyhadiyah’ (aksi mati syahid) atas perbuatan yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di Palestina.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwasanya madzhab ahlus sunnah wal Jamaah tidak pernah menetapkan seseorang ketetapan tertentu; apakah dia di neraka atau di surga. Kata istisyhad (mati syahid) memiliki konotasi akan masuk surga. Atau paling tidak, menghukumkan seseorang sebagai pelaku istisyhad adalah bagian dari hukum bahwasanya dia akan masuk surga dengan pasti.

Yang menjadi pertanyaan saya wahai syaikh:

1. Apakah boleh menyebut seseorang yang mati di medan jihad fisabilillah sebagai syahid secara umum?

2. Apakah yang dilakukan saudara-saudara kita di Palestina termasuk aksi kepahlawanan yang diperbolehkan secara hukum syariat?

3. Bila jawaban Anda boleh, lantas apakah boleh menyerang orang-orang yang sekarang disebut sebagai kaum sipil?

Semoga Allah memberikan pehala kebaikan kepada anda. Semoga Allah menjadikan anda sebagai orang yang bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin.

Jawab:

Terima kasih buat Anda. Situs ini (islamtoday.com, red) akan senantiasa melayani seluruh pengunjungnya. Saya berharap agar Anda bisa mempublikasikan tentang isinya kepada ikhwah yang lainnya.

Mengenai kata istisyhad, kata tersebut tidak serta merta atau tidak berarti menetapkan sebuah hukum kepada seseorang. Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat, apakah si fulan boleh dikatakan sebagai syahid?

Pendapat yang paling mendekati adalah dibolehkannya penyebutan tersebut apabila memang kenyataan yang ada dan nyata lebih menguatkan bahwasanya ia bisa disebut dengan sebutan tersebut. Penetapan sebuah hukum karena dilihat dari sesuatu yang banyak. Dan hal ini sama halnya dengan penetapan hukum atas keimanan. Perbedaan pendapat tentang hal ini sudah kita ketahui bersama.

Semoga Allah selalu menyertakan dan menunjukkan pada kebenaran dalam setiap langkah anda.

___

Dari situs www.islamtoday.com

Diterjemahkan oleh Abu Jihan Halfawy El-Gharuthy, Akmal Burhanuddin bin Muhammad Nadjib bin Mamat bin Bashirun

Teks Asli:

إطلاق الشهيد على الميت في الجهاد

سلمان العودة

2/1/1423هـ

السؤال

أسأل الله لكم مزيداً من التوفيق والسداد، وأن يجزيكم على ما قدمتموه من أعمال جليلة للإسلام خير الجزاء.أفيدكم أني ممن يزور موقعكم المبارك (الإسلام اليوم) يومياً، وقد لاحظت في كثير من الأحايين إطلاق كلمة (الاستشهاد) أو مصطلح (عملية استشهادية) على ما قام به الإخوة الفلسطينيون من العمليات الفدائية، ومن المعلوم أن مذهب أهل السنة والجماعة عدم الحكم للإنسان المعين بالجنة أو بالنار، والاستشهاد يستلزم دخول الجنة، أو الحكم للإنسان بالاستشهاد فرع عن الحكم له بدخول الجنة، والسؤال يا شيخ:

(1) هل يجوز إطلاق الشهادة لمن مات في الجهاد في سبيل الله؟(2) هل ما فعله إخواننا في فلسطين من العمليات الفدائية جائزة شرعاً؟(3) وعلى فرض الجواز فهل يجوز الهجوم على ما يسمون اليوم بالمدنيين؟وجزاكم الله خيراً، ونفع الله بكم المسلمين جميعاً.

الجواب

شكراً لك، ويشرف الموقع أن تكونوا من زواره، وأرجو أن تنشروا خبره بين الإخوة .إطلاق كلمة (استشهادية) لا يلزم منه الحكم على الأعيان، وهناك اختلاف هل يقال فلان شهيد؟ والأقرب أنه يجوز إذا غلب على الظن؛ لأن الحكم هو بالغالب، وهو من جنس الحكم بالإيمان، والخلاف فيه معروف. وفقكم الله وسدد على الخير خطاكم.


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 5/8/2007 / 21 Rajab 1428 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

Belum Ada Komentar

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Maaf, untuk sementara kolom komentar tidak tersedia.

« sebelumnya
sesudahnya »