Keistimewaan dan ciri khas dakwah
1. Dakwah Kami adalah Islam yang kokoh
Dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah Islamiyah yang integral dalam segala sesuatu, baik syiarnya, prinsip-prinsipnya, manhaj dan tujuan-tujuannya, ia tidak menerima alternatif lain selain Islam. Konsep dan muatan dakwah yang digunakan merupakan refleksi dari pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh, “Ia tidak dinodai oleh warna lain selain Islam.”
Sebagai dakwah yang universal, ia tentu tidak hanya menjadi seruan-seruan politik yang memperhatikan urusan-urusan keadilan, persamaan, pengentasan kerusakan serta norma-norma lain –unsich- yang notabenenya merupakan bagian dari ajaran Islam. Akan tetapi ia adalah seruan dakwah Islam yang mencakup urusan agama dan dunia yang bertujuan untuk menegakkan syariat Islam secara praktis dan sempurna serta mewujudkan nilai-nilai keIslaman dan tujuan-tujuannya secara menyeluruh –dan tidak mengapa ia mengadopsi proyek-proyek perbaikan tersebut, namun sebagai bagian dari proyek dan tujuan-tujuan Islam yang dideklarasikan dan diserukannya, serta tidak ditinggalkan dengan alasan karena kekuatan atau situasi yang tidak kondusif.
Jika dakwah memiliki institusi yang berbeda dan sarana-sarana yang beragam yang bergerak di masyarakat, seperti yayasan-yayasan di pelbagai bidang, partai politik, club dan asosiasi-asosiasi tertentu, maka setiap bidang-bidang tersebut memiliki segmen-segmen dakwah tersendiri serta bidang-bidang garapan tertentu, dengan tetap menjadikan Islam sebagai rujukan. Namun tentunya seruan jama’ah yang melekat dengan nama dan eksistensinya harus lah merupakan seruan Islam yang menyeluruh, baik dalam tujuan, target-targetnya, garapan dan batasan-batasannya.
Untuk menjelaskan hal ini, Imam Syahid mengatakan, “Ketauhilah, -semoga Allah memberikan pemahaman kepadamu- yang pertama bahwa sesungguhnya dakwah Ikhwanul Muslimin merupakan dakwah yang umum yang tidak berafiliasi kepada sebuah kelompok tertentu, dan tidak condong ke salah satu corak pemikiran yang dikenal manusia, ia justru mengarah pada keteguhan agama dan inti ajarannya.”
• Dengarlah wahai saudaraku, Dakwah kita adalah dakwah yang mencakup seluruh karakteristik Islam yang disifatkan padanya, makna yang lebih luas dari makna yang dipahami oleh kebanyakan manusia. Kami meyakini bahwa makna Islam yang sesungguhnya mencakup dan mengatur seluruh urusan kehidupan, yang menjawab seluruh urusan-urusannya, dan ia juga menetapkan aturan-aturan yang sangat cermat dan teliti, dan tidak diam bertopang tangan di hadapan problematika kehidupan yang senantiasa berganti serta perangkat-perangkat hukum yang dibutuhkan untuk perbaikan manusia.”
• Kami memahami Islam dengan pemahaman yang luas dan menyeluruh sebagai aturan yang mengatur seluruh sisi kehidupan dunia dan akhirat, dan kami tidak mengklaim hal ini atau membesar-besarkannya, namun hal ini adalah sesuatu yang kami pahami dari kitab Allah dan sunnah Rasulullah Saw. serta sirah kaum muslimin terdahulu.”
• Benar, dakwah kami adalah dakwah Islam dengan seluruh muatan makna yang dikandung kalimat ini, maka selanjutnya pahamilah sesuai dengan keinginanmu, dan ketauhilah bahwa pemahamanmu dibatasi oleh kitab Allah dan sunnah Rasulullah Saw. serta sirah orang-orang saleh dari kaum muslimin.”
• Sesungguhnya dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah nilai (prinsip).”
• Sesungguhnya dakwah ini tidak cocok kecuali bagi mereka yang telah menguasai seluruh sisi-sisinya dan menunaikan seluruh tuntutan dakwah berupa jiwa, harta, waktu dan kesehatan.”
• Dakwah ini tidak menerima perserikatan. Karena diantara karakteristik dakwah adalah persatuan. Barangsiapa yang telah bersiap menerima hal tersebut, maka sesungguhnya ia telah hidup bersama dakwah, dan dakwah hidup bersamanya.”
• Wahai kaum kami, sesungguhnya kami berdakwah kepada kalian dengan AlQuran di tangan kanan, dan sunnah Rasulullah di tangan kiri, amal perbuatan orang-orang saleh dari umat ini adalah teladan kami. Kami mengajak kalian kepada Islam, nilai-nilai Islam, hukum-hukum Islam, petunjuk Islam. Jika seandainya hal ini merupakan siasat (politik) maka sesungguhnya hal ini adalah politik kami.”
• Wahai kaum muslimin, peribadatan kepada Allah, jihad di jalan serta memperkuat syariat agama Allah di muka bumi merupakan tugas kalian dalam kehidupan.”
• Jika Ikhwanul Muslimin meyakini hal tersebut, maka mereka meminta manusia untuk menjadi pilar-pilar kebangkitan Islam, sebagai pondasi kebangkitan dunia Timur di setiap lini kehidupan, dan mereka meyakini bahwa setiap tampilan kebangkitan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam atau berbenturan dengan hukum-hukum Al Quran maka hal itu merupakan percobaan yang rusak dan gagal.”
• Ikhwanul Muslimin tidak mengkhususkan dakwah pada sebuah kawasan Islam tanpa kawasan yang lain, namun mereka mengumandangkan seruan dakwah hingga sampai ke telinga para pemimpin dan panglima di setiap kutub bumi yang para penduduk negerinya memeluk agama Islam.”
• Kalian telah mendeklarasikan sejak hari pertama bahwa dakwah yang kalian serukan adalah dakwah Islam yang murni yang bersandar merujuk kepada Islam ..
Kalian memahami Islam dengan pemahaman yang menyeluruh, dan kalian meyakininya sebagai sebuah system kehidupan sosial yang sempurna yang memperbaiki kondisi masyarakat di setiap sisinya..
Kalian juga meyakini bahwa diantara kewajiban muslim adalah berjuang untuk Islam; hingga ia mampu menguasai komponen masyarakat seluruhnya dan mengambil posisinya di tengah masyarakat sebagaimana yang telah Allah siapkan baginya untuk kehidupan manusia..
Kalian juga meyakini bahwa hal itu merupakan sesuatu yang mungkin dan mudah jika kaum muslimin menginginkannya, bersatu dan berusaha untuk mewujudkannya.”
• Dalam tiga hal ini, bisa jadi ada perbedaan pandangan di antara kalian atau di antara kelompok kaum muslimin, di antara mereka masih banyak yang memahami bahwa Islam tidak lebih dari akidah atau sebuah keyakinan yang benar atau yang salah, ibadah yang sempurna ataupun yang tidak sempurna. Dan masih banyak yang memahami bahwa jihad untuk memperjuangkan Islam adalah sesuatu yang akan berakhir dan berlalu waktunya, dan masih banyak yang memahami bahwa rintangan yang berada di hadapan para mujahid untuk mewujudkan cita-cita Islam terlalu besar untuk disingkirkan.
Dengan keterbatasan pemahaman ini, kecilnya rasa optimis serta rasa putus asa yang melanda jiwa banyak manusia yang menyerah dan berguguran di hadapan kenyataan ini, dan mereka mengira bahwa hal itu akan membebaskan mereka dari celaan di dunia dan siksaan di akhirat.
Kemudian kalian bangkit wahai Ikhwanul Muslimin untuk membebaskan diri kalian dan manusia dari kepicikan pandangan, sifat lemah dan keputusasaan, serta menantikan kemenangan yang telah dijanjikan Allah kepada kalian,
الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ . الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
“(yaitu) orang-orang yang Telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali Karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah Telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Al-Hajj: 40-41)
Siapakah kalian? Apa sifat kalian?
Dan manusia akan berkata, “Apakah makna hal ini, dan siapakah kalian wahai Ikhwanul Muslimin?
Apakah kalian adalah penganut Tarekat Sufi? Atau lembaga sosial? Atau lembaga kemasyarakatan? Atau partai politik?
Maka jawaban kita kepada para penanya itu adalah, “Kami adalah para pendakwah Al Quran dan kebenaran yang mencakup:
1. Thariqah Shufiyah naqiyyah, untuk memperbaiki jiwa dan menyucikan hati serta menghimpun hati-hati manusia kepada Allah yang Maha Besar dan Maha Tinggi..
2. Jam’iyyah Khairiyyah Nafi’ah, yang mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, membantu yang tertimpa musibah, berlaku baik kepada orang-orang fakir dan miskin, serta mendamaikan orang-orang yang bermusuhan..
3. Mu’assasah Ijtima’iyyah Qa’imah, yang memerangi kebodohan, kemiskinan, penyakit dan kehinaan dalam pelbagai bentuk ..
4. Hizb Siyasi nazhif, menjadi wadah aspirasi dan terbebas dari ambisi dan kepentingan, yang memiliki target tertentu serta menguasai kemahiran memimpin dan mengarahkan ..
Kami adalah Islam itu sendiri wahai manusia, barangsiapa yang memahaminya, maka akan mengenal kami.”
Diantara identitas Jama’ah Ikhwanul Muslimin adalah, “Dakwah, tarbiyah dan jihad dengan segenap makna yang mencakupnya tiga hal tersebut.”
Imam Syahid juga mengatakan, “Sesungguhnya Ikhwanul Muslimin memiliki metode tertentu yang diikuti sebagai petunjuk jalan, yang mereka gunakan sebagai timbangan diri dan mereka akan mengetahui dimana mereka dari timbangan tersebut.”
Jika anda bertanya kepada mereka tentang prinsip dasar ini secara teoritis? Maka saya akan menjawabnya secara jelas, bahwa prinsip dasarnya adalah prinsip dasar yang dibawa Al Quran. Jika anda mengatakan, “Apakah sarana dan langkah-langkah praktis yang dilakukan? Maka sayapun akan menjawabnya dengan sangat jelas, “Sarana dan langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Saw., sesungguhnya urusan umat terakhir ini tidak akan baik kecuali jika mengikuti contoh kebaikan yang dilakukan oleh para pendahulunya.”
• Ikhwanul Muslimin tidak menyibukkan diri dalam masalah-masalah furu’. Tidak mengapa jika mereka melakukan riset dan penelitian ilmiah dalam masalah-masalah furu’, tanpa menyibukkan dirinya hanya pada masalah furu’ tersebut atau justru menyulap perbedaan tersebut menjadi prahara kebencian terhadap orang lain hingga menerima pandangannya.
• Mereka juga tidak melemparkan celaan kepada orang-orang yang tidak sepandangan dengan mereka, dan tidak menyibukkan diri untuk membantah orang-orang yang mengkritik mereka.
• Tidak terobsesi terhadap kedangkalan amal dan menyelam di belakang segala sesuatu dan peristiwa demi mengetahui tujuan dan kemana arahnya. Mereka juga tidak reaksioner dan tidak terpancing oleh pengaruh-pengaruh tertentu, tidak menakutkan dan tidak pula ditakuti. Langkah-langkah mereka seimbang dan dengan izin Allah mampu mengalahkan upaya-upaya konspirasi dan pelumpuhan.
• Tidak bergantung kepada figuritas tertentu, atau terhadap lembaga-lembaga, kedudukan dan obsesi tertentu. Mereka justru berkonsentrasi pada dakwah dan sangat menjaganya.
• Ciri khas mereka adalah komitmen terhadap prinsip-prinsip dasar yang mereka yakini, berkesinambungan dan mendarah daging antar generasi, sesuatu yang tidak pernah terwujud dalam sejarah kelompok manapun di abad ini.
• Ikhwanul Muslimin adalah sebuah jama’ah yang setiap individunya memiliki cara pandang dan aspirasi yang beragam, yang memperkaya dan membantu jamaah dalam pengambilan keputusan, namun tidak terdapat aliran pemikiran, gagasan yang saling berseteru, pemikiran kanan ataupun pemikiran kiri, serta perbedaan-perbedaan lain sebagaimana lazim terjadi di setiap partai, komunitas dan perkumpulan yang lain. Nasehat dan musyawarah merupakan perkara yang selalu dilakukan terus menerus serta tidak terputus, dan hal itu menjadi bagian dari proses pembentukan dan tarbiyah yang dilakukan.
• Mereka tidak percaya dengan lompatan-lompatan di atas kebenaran, atau pandangan yang sempit, namun justru sangat menjaga bangunan amal dan proses pembentukan secara cermat dan teliti, kepastian terhadap hakikat segala sesuatu serta penerimaan hasil dengan tanpa tergesa-gesa memetik buahnya.
• Memahami secara sadar dan penuh perhitungan terhadap jalan dan kendala yang akan dihadapinya, ketinggian tujuan dan cakupannya. Menguasai realitas lapangan dan rintangan di sekitarnya, mampu berpegang teguh terhadap prinsip-prinsip dakwah dengan penuh komitmen, kesabaran dan kesungguhan, yang tidak dihinggapi oleh perubahan, kelemahan dan rasa putus asa, dengan keyakinan bahwa kemenangan dan tujuannya tidak akan terwujud dalam satu generasi, namun merupakan upaya yang berkelanjutan dan terus menerus, sebuah panji yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, hingga terwujudnya target dan cita-cita yang diharapkan dengan izin Allah.
Imam Syahid berkata, “Ikwanul Muslimin tiada lain adalah anak-anak dakwah yang meyakini dakwah, berbuat ikhlas dan terdidik di dalam pangkuan dakwah, oleh karena itu tidak sulit bagi mereka mengorbankan makanan anak-anak dan kebutuhan mereka sendiri demi memperjuangkan dakwah dan jihad mereka.”
Mereka menganggap bahwa sesungguhnya dakwah seluruhnya adalah kewajiban, seluruhnya adalah pengorbanan dan taruhan, mereka tidak menantikan kedudukan, posisi dan kekayaan, karena sesungguhnya pahala dan ganjaran hanya dari Allah di akhirat. Dan tak seorangpun dari mereka yang mengatakan, “Mana bagianku? Mana hakku?
• Di beberapa waktu, sebagian mereka tertinggal di belakang rombongan dakwah atau keluar dari gerbong dikarenakan keterbatasan individu atau berkurangnya rasa sabar atau karena penyimpangan pemahaman dan kelemahan komitmen, namun hal itu tidak menggoyahkan dan memberikan pengaruh berarti bagi bangunan dakwah mereka.
• Mereka tidak dilemahkan oleh rasa putus asa, kebosanan atau kelesuan, namun optimisme terpancar terhadap kemenangan Allah. Apa yang mereka lakukan berupa upaya menggerakkan dan menyadarkan umat Islam dengan izin Allah menjadi menara terhadap kesungguhan usaha dan peran mereka, yang lebih dulu diketahui musuh sebelum teman.
• Dalam melakukan gerakan dan manuver-manuver dakwah mereka sangat memperhatikan fikih realitas dan kondisi yang berlaku dengan ilmu dan pengetahuan, dengan tetap bercermin pada prinsip-prinsip syariat dan tujuan-tujuannya, yang tidak hanya memenuhi legalitas syar’i dalam urusan-urusan harakah yang membuatnya mengambil tindakan tanpa memperhitungkan fikih realitas, peluang dan fase-fase yang akan dilalui dakwah serta konsekuensi apa saja yang berlaku baik berupa kebaikan maupun kerusakan.
Maka manuver-manuver tersebut seyogyanya harus memenuhi legalitas syar’i dan legalitas harakah yang notabenenya merupakan bagian dari keseimbangan syariat ketika berhadapan dengan realitas. Berapa banyak tindakan-tidakan dan gerakan yang mengatasnamakan syariat memberikan implikasi buruk terhadap dakwah karena tidak didasari oleh pengetahuan dan pemahaman terhadap kondisi dan realita.
• Rentetan peristiwa dan badai yang melanda umat Islam adalah sebagai sarana untuk menguji kebenaran manhaj, kekuatan dan kekokohan bangunan dakwah, dan dengan izin Allah mereka menjadi harapan umat Islam untuk mengembalikan kemuliaan dan keagungannya.
• Ikhwanul Muslimin adalah gerakan Islam yang integral menyeluruh, yang mencurahkan perhatiannya pada perbaikan dan pembenahan:
• Sumber rujukannya adalah syariat Islam
• Yang meyakini urgensi kesatuan umat dan menjauhkannya dari pertentangan demi mewujudkan kemaslahatan umum.
• Yang mendorong bersikap baik, dan memberikan nasehat dengan santun kepada siapa yang berbuat buruk.
• Upaya untuk meraih kekuasaan bukan semata-mata menjadi tujuan.
• Namun lebih kepada kerjasama untuk mendirikan Negara Islam yang urusannya dikembalikan kepada Allah, perbaikan individual muslim, keluarga dan masyarakat; menuju kepada yang Allah sebutkan dalam Al Quran:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Ali Imran: 110)
Imam Syahid berkata di dalam memoarnnya, “Wahai generasi umat yang kami banggakan dan yang kami cintai, Kami adalah kaum muslimin dan cukuplah demikian, manhaj kami adalah manhaj Rasulullah Saw. dan cukuplah demikian, akidah kami bersumber dari kitab Allah dan sunnah Rasulullah Saw, dan cukuplah demikian.”
Diantara Karakteristik Dakwah Ikhwanul Muslimin
Diantara ciri khas dakwah Ikhwanul Muslimin dan yang membedakannya dari dakwah-dakwah yang lain adalah:
1. Menjauhi Titik-titik khilafiyah
Ikhwan meyakini tentang kebolehan berbeda pandangan dalam masalah-masalah furu’iyyah, bahkan hal itu merupakan sebuah kemestian dan tidak selayaknya kita menghalanginya dan menjadikan perbedaan sebagai titik yang memisahkan dan membedakan.
Imam Syahid berkata, “Bukanlah termasuk aib dan cela, manakala kita berbeda pendapat. Namun yang merupakan aib dan cela adalah sifat ta’ashshub (fanatik) dengan satu pendapat dan membatasi ruang lingkup berpikir manusia.”
Ia juga berkata, “Cukuplah manusia itu berhimpun atas sesuatu yang menjadikan seorang muslim itu muslim, sebagaimana dikatakan oleh Zaid r.a.”
Beliau menambahkan, “Persepsi demikian ini penting bagi sebuah jamaah yang ingin menebarkan fikrahnya di suatu negeri yang tidak pernah reda gelora khilafiyah atas hal-hal yang sebenarnya tidak berarti untuk diperdebatkan dan diperselisihkan.”
2. Menjauhi Dominasi Tokoh dan Pembesar
Ini juga merupakan prinsip dasar sejak awal pertumbuhan dakwah. Imam Syahid berkata, “Kami telah membiasakan hal ini sejak permulaan dakwah, agar warnanya yang bening tidak bercampur dengan warna-warna dakwah lain yang diusung dan digembar-gemborkan oleh para tokoh dan pembesar, hingga tak seorangpun dari mereka dapat memanfaatkan dakwah untuk kepentingan lain yang bukan merupakan tujuan dakwah.”
Namun setelah dakwah tumbuh kuat, dan prinsip-prinsip dasarnya semakin kokoh, ia akhirnya mampu menguasai kelompok tersebut dan mengarahkan mereka untuk memperjuangkan dakwah, mempengaruhi dan menjadikan mereka bekerja untuk kepentingan dakwah.
3. Menjauhi hubungan dengan partai-partai dan golongan-golongan.
Hal ini juga merupakan karakteristik dakwah sejak awal, agar ia terhindar dari ambisi-ambisi dan konflik antar partai. Imam Syahid berkata, “Oleh karena itu kami lebih mengutamakan menjauhi semuanya dan bersabar atas segala kekurangan karena mempertahankan unsur-unsur yang shalih, sehingga tabir itu akan terkuak dan manusia akan mengetahui segala hakikat yang tersembunyi. Pada akhirnya mereka akan kembali kepada khitah utama dan hati mereka dipenuhi oleh oleh rasa yakin dan percaya..”
“Sekarang, ketika perangkat dakwah semakin kuat, tiang penyangganya semakin kokoh, sehingga mampu mengarahkan dan bukan diarahkan, mempengaruhi dan bukan dipengaruhi, maka kita persilakan dengan penuh hormat kepada para tokoh, pembesar, golongan, dan organisasi untuk bergabung, meniti jalan dan beraktivitas bersama kami. Pada saat yang sama mereka harus mau meninggalkan kebanggaan-kebanggaan kosong yang tidak bermakna, bersatu di bawah panji Al Quran yang agung dan bernaung di bawah naungan Rasulullah yang teduh, serta berjalan di atas manhaj Islam yang lurus.
Imam juga berkata, “Namun jika mereka menolak, tak menjadi masalah bagi kami untuk menunggu sejenak sembari memohon pertolongan ke hadirat Allah, sehingga pada saatnya mereka akan terkepung dan sirnalah apa saja yang ada di tangan mereka. Pada akhirnya mau tidak mau mereka harus beramal demi dakwah dengan penuh kerendahan hati, walau mereka dahulunya menjadi tokoh penentang utamanya.”
4. Tadarruj (Bertahap dalam melangkah)
Tadarruj (bertahap dalam melangkah) dan bertumpu pada tarbiyah, kejelasan langkah dakwah Ikhwanul Muslimin dan penetapan tiga fase dakwah; Fase Ta’rif, (fase penyampaian, pengenalan dan penyebaran fikrah), Fase Takwin (fase pembentukan dan pembinaan), fase Tanfidz (fase pelaksanaan) merupakan ciri-ciri istimewa yang dimiliki dakwah.
5. Mengutamakan kerja daripada seruan dan propaganda
6. Sambutan pemuda kepada dakwah
7. Cepat berkembang di pedesaan dan perkotaan
Imam Syahid berkata, “Dahulu kami berupaya keras memacu laju dakwah dan memaksimalkan penyebarannya, namun kini laju dakwah tersebut justru bergerak lebih cepat dan mendahului kami. Ia merambah segenap penjuru kota dan perkampungan dan memaksa kami menanganinya dengan serius dan serta memenuhi tuntutannya, meskipun untuk itu kami harus menghadapi pelbagai persoalan berat yang sangat melelahkan.”
8. Rabbaniyah (berprinsip ketuhanan), Insaniyah (kemanusiaan), dan ‘Alamiyah (universal).
Diantara karaktertik dakwah Ikhwanul Muslimin adalah, Rabbaniyah (berprinsip ketuhahan), insaniyah (kemanusiaan), dan ‘alamiyah (universal), yang mengumpulkan sisi spiritual dan akal manusia. Imam Syahid berkata, “Diantara karakteristik dakwah kami adalah rabbaniyah dan ‘alamiyah.”
Inilah sebabnya, dakwah Ikhwan dikatakan berkarakter rabbaniyah (berorientasi ketuhanan) sekaligus insaniyah (peduli terhadap aspek-aspek kemanusiaan). Allah berfirman dalam Al Quran:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat: 13)
Rasulullah Saw. bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةً .. وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ
“Bukan termasuk golonganku orang yang menyeru kepada ashabiyah (fanatisme golongan), dan bukan termasuk dalam golonganku orang yang mati karena membela fanatisme golongan.” (Ahmad)
Imam Syahid juga berkata, “Bahwa sebuah masyarakat manusia tidak akan menjadi baik kecuali jika ada keyakinan hati yang bangkit dari dalam jiwa hingga merasa selalu diawasi oleh Allah Swt. dan merasa terhormat dengan ma’rifah kepada-Nya. Oleh karenanya, wajib bagi manusia untuk kembali beriman kepada Allah, kenabian, kehidupan akhirat, dan kepada hari pembalasan. Yakni dimana pada saat itu Allah akan membalas seluruh perbuatan manusia selama kehidupannya di dunia.
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. (Al Zalzalah:7-8)
Di saat inilah, di saat seluruh manusia dituntut untuk melesat bangkit dengan potensi akal pikirannya untuk belajar, mengetahui, berkarya serta melakukan berbagai eksplorasi atas sumber daya alam demi mendapatkan manfaat yang sebanyak-banyaknya,
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” ( Thaha:114)
Oleh karenanya kami menyeru umat manusia kepada warna pemikiran yang memadukan antara keimanan pada yang ghaib dan optimalisasi fungsi akal.”
9. Diantara karakteristik dakwah Ikhwan adalah, Pemahaman Islam yang komprehensif, dan komprehensifitas amal serta mencakup seluruh aspek-aspeknya.
Imam Syahid berkata, “Demikianlah kita bisa melihat bahwa integralitas makna kandungan Islam telah menyatu dengan fikrah kami. Integralitas yang menyentuh semua sisi pembaharuan, dan aktivitas Ikhwan mengarah kepada pemenuhan semua sisi ini. Pada saat orang-orang selain mereka hanya menggarap satu sisi dengan mengabaikan sisi-sisi yang lainnya, maka Ikhwan berusaha menuju sisi-sisi itu semuanya. IKhwan memahami bahwa Islam memang menuntut mereka memberikan perhatian kepada semua sisi tersebut.”
Kendati demikian, dengan integralitas keIslamannya Ikhwan berupaya sekuat tenaga untuk menghindari dan menjauhi setiap sisi kekurangan dan kelemahan yang mengundang fitnah.”
10. “Ikhwan juga sangat menghindari fanatisme terhadap nama atau sebutan, karena mereka telah disatukan oleh Islam yang integral, tercermin dalam namanya, Al Ikhwan al Muslimun.”
Dakwah Ikhwan adalah dakwah salafiyah, thariqah sunniyah, Hakikat shufiyah, Hai’ah siyasiyah, jama’ah riyadhiyah, rabithah ‘ilmiyah tsaqafiyah, syirkah iqtishadiyah dan fikrah ijtima’iyah.”
11. Peka dan simpatik
Imam Syahid berkata, “Setiap dakwah memiliki karakteristik, karakteristik dakwah Ikhwan yang saya yakini ada beberapa hal, diantaranya adalah, Konstruksi (pembangunan). Dakwah kami adalah dakwah yang membangun dan bukan menghancurkan, dan ia melakukannya dengan penuh kepekaan, maka kami adalah orang yang harus melakukannya sebelum segala yang lain.”
Dalam mengikuti manhaj konstruktif dan bukan destruktif, Imam Syahid mengatakan, “Selagi kalian selalu mempersiapkan diri kalian untuk berkontribusi terhadap amal-amal Islam di segenap lapangan, maka aku wasiatkan kepada kalian untuk selalu bersikap konstruktif dan bukan destruktif, dan pada saat itu kalian harus berpikir bagaimana menciptakan lapangan kerja sosial dan merealisasikan layanan terhadap Islam, tinggalkanlah dahulu permusuhan dan kebencian; karena sesungguhnya melakukan upaya-upaya pembangunan jauh lebih baik dan berharga seribu kali daripada tindakan penghancuran.”
12. Kecocokan antara perkataan dan perbuatan
Maka kita harus mempelajari undang-undang (hukum) yang kita miliki, cukuplah apa yang terdapat di dalamnya, dan kami mengikuti apa yang kami katakan.
• Rabbaniyah (berprinsip ketuhanan)
Kami senantiasa menjalin hubungan dengan Allah dengan segenap kemampuan yang kami miliki, yaitu dengan senantiasa berzikir dan berdoa dengan doa-doa yang ma’tsur –terdapat banyak doa ma’tsur di dalam Risalah Ikhwan.
• Senantiasa berkumpul (berjama’ah)
Kami selalu berkumpul dan merindukan pertemuan serta merasakan hak-hak berukhuwah.
12. Semangat perjuangan
Kami menggadaikan diri untuk dakwah dan melapangkan hati untuk melakukan segala sesuatu untuk dakwah.
Imam Syahid berkata, “Wahai al Ikhwan al Muslimun, janganlah kalian berputus asa, karena berputus asa tidak termasuk akhlak kaum muslimin.”
Perkara-perkara umum ini telah kalian ketahui perinciannya secara keseluruhan, yang ringkasannya adalah, Pembangunan dan pekerjaan, maka bekerjalah.”
Ia adalah dakwah yang bisa kita sifati dengan beberapa sifat berikut ini:
• Rabbaniyah al Mashdar (berprinsip ketuhanan), Sumber rujukannya adalah wahyu Allah Swt.
• Washatiyah (sifat pertengahan)
• Sifat peka dan positif terhadap alam, manusia dan kehidupan
• Realistis ketika berinteraksi dengan individu dan masyarakat serta dengan orang lain.
• Mengutamakan akhlak dan kesantunan dalam tujuan-tujuannya, misi dan sarana yang digunakan.
• Manhajnya integral dan menyeluruh
• Dakwah universal
• Mengutamakan musyawarah mufakat dalam mengambil keputusan
• Memberikan perlawanan terhadap orang-orang yang menzalimi dan memeranginya.
• Salafiyah dalam pemikiran, paradigma dan akidah
• Dakwah yang logis dan diterima masyarakat, serta tidak membenci siapa saja yang ingin mengikutinya.
Jamaah ini bukan merupakan partai politik sarana politiknya nya mendapat bias dari golongan dan aliran pemikiran tertentu. Namun ia merupakan mainstream yang memberikan kebebasan berpikir dalam kerangka umum dakwah Islam, ideologi Ikhwan dan prinsip-prinsipnya, yang membiarkannya berjalan sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku, serta sesuai dengan hasil musyawarah dalam melurusakan dan mengembangkan.
Oleh Karenanya, hal itu merupakan aturan untuk mewujudkan persatuan pemahaman, persatuan nilai dan keseimbangan. Adapun pendapat personal, selagi hal itu tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar jamaah maka hal itu tetap menjadi pendapat personal dan jamaah tidak menjadikannya sebagai pandangan. Dalam banyak kondisi, Jamaah tidak mengadopsi pemahaman fikih tertentu dalam masalah-masalah furu’ yang diperdebatkan para ulama.
Jamaah ini bergerak sesuai dengan pilar dasar dan prinsip-prinsip dakwah, dan tidak berjalan sesuai dengan kemasalahatan temporal atau ambisi sesaat dan pemandangan yang sempit.
Karakteristik Manhaj Tarbiyah di Masyarakat:
Diantara karakteristik manhaj Ikhwan dalam mentarbiyah masyarakat dan mengarahkannya, serta dalam komunikasi-komunikasi dakwah adalah bahwa manhaj tersebut lahir dari:
1. Dari kesamaran menuju terang
2. Dari ucapan dan perdebatan menuju amal dan perbuatan
3. Dari sifat simpatik dan sporadic menuju program kerja yang terencana(Dari mimpi menuju dunia nyata).
4. Dari permasalahan-permasalahan furu’ dan parsial menuju permasalahan mendasar dan universal(Dari ibadah-ibadah sunah menuju ibadah-ibadah wajib dengan tetap memelihara keduanya).
5. Dari perbedaan menuju kesepakatan
6. Dari perpecahan dan perseteruan menuju persatuan dan perpaduan.
7. Dari sifat ekstrim dan berlebih-lebihan menuju sifat moderat dan seimbang.
8. Dari kesulitan dan ancaman menuju kemudahan dan kabar gembira.
9. Dari fanatisme golongan dan insklusif menuju toleransi dan keterbukaan.
Imam Syahid berkata tentang pilar-pilar yang menopang berdirinya agama ini di bumi, “Wahai Al Ikhwan al Muslimun, Agama ini telah dimenangkan oleh perjuangan pedang-pedang kalian yang bersandar terhadap pilar-pilar berikut ini:
• Keimanan kepada Allah
• Zuhud terhadap harta kekayaan dunia dan mengutamakan kenikmatan akhirat.
• Pengorbanan dengan jiwa, raga dan harta untuk memenangkan kebenaran.
• Cinta terhadap kematian di jalan Allah
• Berada di atas perjuangan tersebut dengan berpedoman kepada Al Quran yang mulia.
Ia juga berkata, “Sesungguhnya keikhlasan adalah dasar kesuksesan, dan di tangan Allah-lah segala urusan, sesungguhnya pedang-pedang kalian yang kuat tak akan meraih kemenangan kecuali dengan keimanan yang dibawanya, kesucian jiwa, kebersihan hati dan keikhlasan serta amal dari keyakinan dan ketenangan, dan hal itu yang akan membuat segala sesuatu senantiasa sesuai dengannya, hingga jiwa-jiwa mereka bersatu dengan keyakinan mereka, dan keyakinan mereka dengan jiwa-jiwa mereka, dan pada saat itu mereka adalah ideology dan ideology adalah mereka. Jika kalian telah menjadi seperti itu maka pikirkanlah: Sesungguhnya Allah telah mengilhamkan kepada kalian kecerdasan dan kebenaran, maka kerjakanlah, sesungguhnya Allah membantu kalian dengan kekuatan dan kemenangan. JIka diantara barisan kalian ada seseorang yang berpenyakit hatinya, yang kehilangan orientasi, tidak memiliki obsesi dan terluka masa lalunya, maka keluarkan ia dari barisan kalian, karena ia akan menjadi penghalang turunnya rahmat, yang menutup turunnya pertolongan dan taufik dari Allah.”
Imam Syahid menjelaskan tentang urgensi kekuatan jiwa dalam membina umat dan para penyeru dakwah serta pemusatan kekuatan dalam keimanan yang sempurna dan pengorbanan dalam perjuangan, beliau berkata, “Sesungguhnya dalam pembinaan umat dan tarbiyah bangsa-bangsa, umat ini membutuhkan kekuatan jiwa yang besar yang tergambar dalam beberapa poin berikut:
• Keinginan yang kuat yang tidak dihinggapi kelemahan
• Loyalitas yang tinggi yang tidak diwarnai oleh pengkhianatan dan kepura-puraan.
• Pengorbanan besar yang tidak dihalangi oleh ketamakan dan kebakhilan.
• Pengetahuan terhadap pilar-pilar dasar dan keyakinan terhadapnya serta penghargaan terhadap pilar-pilar tersebut yang akan menjaganya dari kesalahan dan penyimpangan atau tertipu dengan yang lain.
Setiap bangsa telah kehilangan keempat sifat ini, atau paling tidak para pemimpin dan para pengusung perbaikannya, ia adalah bangsa yang pecundang dan memperihatinkan yang tidak akan sampai kepada kebaikan dan tak mampu mewujudkan cita-cita.”
Beliau berkata, “Dengan tiga keyakinan; keimanan terhadap kebesaran risalah dakwah ini, bangga karena meyakininya serta optimis terhadap pertolongan Allah adalah tiga hal yang dihidupkan Rasulullah Saw. di dalam hati para sahabatnya dengan izin Allah.”
Untuk menjamin kebenaran dan ketepatan setiap individu dalam menjalankan manhaj Islam, dakwah menaruh perhatian besar terhadap perkembangan jiwa dan pembersihannya, serta membangun pengawasan personal dan hati yang hidup, ketakwaan, rendah hati dan rasa takut kepada Allah.
Imam Syahid berkata, “Guna menjamin kebenaran dan ketepatan dalam pelaksanaannya –atau minimal mendekati tepat- Islam dangat menaruh perhatian untuk memberikan terapi kejiwaan kepada manusia, yakni sumber aturan, materi pemikiran, persepsi dan pembentukan. Islam kemudian memberikan pengenalan bagi jiwa manusia tentang obat-obat mujarab yang bisa menyucikan hawa nafsu, membersihkannya dari noda-noda ambisi Pribadi, menunjukkannya kearah kesempurnaan dan keutamaan, serta membentenginya dari penyimpangan, penyelewengan dan permusuhan.“
Beliau juga berkata, “Sesungguhnya kita memiliki senjata yang tak lekang dimakan malam dan perjalanan hari yaitu kebenaran, dan setelah itu kita juga memiliki senjata keimanan dan cita-cita, selain ketiga senjata tersebut kita masih memiliki senjata lain, yaitu bahwa kita tidak berputus asa dan tidak tergesa-gesa, kita tidak mendahului peristiwa dan tidak dilemahkan oleh panjangnya perjuangan.”
“dan kami akan bekerja dengan keyakinan-keyakinan ini, dan kami akan melakukannya dengan kebenaran, yang didorong oleh keimanan dan dikuatkan oleh cita-cita.”
Beliau juga mengatakan, “Lalu apa persiapan kita untuk mewujudkan manhaj ini?!
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut adalah, Keimanan, jihad dan pengorbanan, serta keyakinan terhadap pertolongan Allah.
• Keimanan:
Mereka telah meyakini dengan sedalam-dalamnya keimanan, yang kuat, suci dan abadi terhadap Allah, kemenangan dan pertolongan-Nya.
• Terhadap manhaj, kelebihan dan kebenarannya
• Persaudaraan, hak-hak dan kesuciaannya
• Terhadap pembalasan, keagungan, keperkasaan dan ganjaran-Nya.
• Dan terhadap diri mereka sendiri. Mereka adalah sebuah jamaah yang dipilih untuk menyelamatkan alam semesta, dan mereka adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”
b. Jihad
• Mereka telah mengetahui dengan sebenar-benarnya dan seyakin-yakinnya bahwa dakwah yang mereka serukan tidak akan meraih kemenangan kecuali dengan jihad, pengorbanan dan kerja keras. Sebagaimana yang dilakukan para sahabat Rasulullah Saw. yang meyakini kebenaran jihad, besarnya pengorbanan dan kerja keras, maka kami juga berupaya untuk melakukannya.
c. “Kamipun meyakini pertolongan dan kemenangan dari Allah.”
Imam Syahid memusatkan perhatian terhadap makna-makna keimanan ini yaitu asas amal dan jihad, urgensi kerja keras dan pengorbanan, serta kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi, beliau berkata:
“Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan jika..:
• Kuat rasa keyakinan kepadanya
• Ikhlas dalam berjuang di jalannya
• Semakin bersemangat dalam merealisasikannya
• Kesiapan untuk beramal dan berkorban untuk mewujudkannya.
• Beramal untuk mewujudkannya.”
“Dalam menempuh perjalanan yang penuh marabahaya ini Umat tidak memiliki apapun kecuali jiwa yang beriman, perkasa dan kuat, jujur dan dermawan dalam melakukan pengorbanan dan perjuangan di tengah kemelut, jika tidak maka ia akan dikalahkan dan kegagalanlah yang akan dirasakan oleh generasi mudanya.”
“Tanpa kekuatan ruh dan pembaharuan jiwa, maka kita tidak akan mampu memberikan langkah apapun terhadap umat.”
Tentang sarana-sarana utama yang menopang dakwah, maka Imam Syahid mengatakan, “Sarana-sarana umum yang dimiliki dakwah tidak akan berubah dan berganti serta tidak keluar dari tiga hal berikut;
• Keimanan yang mendalam
• Pembinaan yang sangat cermat
• Amal yang berkesinambungan.”
Sesungguhnya sarana untuk penanaman nilai dalam setiap seruan dakwah –kiranya sudah dimaklumi, dipahami, dan terbaca bagi siapa saja yang punya perhatian kepada sejarah jama’ah-jamaah– secara global terangkum dalam empat kata; Iman, amal, mahabbah dan ukhuwah.”
Beliau juga menegaskan tentang urgensi pemusatan perhatian setiap personal terhadap dakwah dan menguasai seluruh aspek-aspeknya, “Sesungguhnya dakwah ini tidak akan mampu dipikul kecuali oleh orang-orang melebur dan memberikan apa saja yang kelak dituntut olehnya, baik waktu, kesehatan, harta bahkan jiwa. Sesungguhnya ini adalah dakwah yang tak menerima serikat, karena diantara karakternya adalah persatuan.”
Imam Syahid berkata, “Wahai Al Ikhwan al Muslimun, Agama ini berdiri tegak dengan perjuangan pedang-pedang kalian yang bersandar terhadap pilar-pilar keimanan yang kuat kepada Allah, Zuhud terhadap harta kekayaan dunia yang fana dan mengutamakan kenikmatan kehidupan akhirat, pengorbanan dengan jiwa, raga dan harta untuk memenangkan kebenaran, cinta terhadap kematian di jalan Allah, serta berjalan di atas pentas perjuangan dengan berpedoman kepada Al Quran yang mulia. Maka dengan pilar-pilar ini, bangunlah kebangkitan kalian, benahi diri dan pusatkan perhatian terhadap dakwah kalian, serta bimbinglah umat ini menuju kebaikan.”
Beliau berkata, “Beban dakwah tidak akan mampu dipikul kecuali oleh mereka yang telah menggadaikan dirinya untuk dakwah, dan merelakan dirinya untuk memikul beban perjalanan, yang senantiasa cepat menjemput kebaikan, selalu memberikan apa yang diberikan kepada mereka dengan hati yang senantiasa merasa takut kepada Allah, dan mereka selalu kembali kepada Tuhan-Nya, yang mengoptimalkan kerja mereka dengan harapan amalan tersebut diterima.”
Imam Syahid berkata, “Untuk melakukan misi dakwah, kami telah mempersiapkan keimanan yang tidak tergoncang, amalan yang tidak berhenti, keyakinan kepada Allah yang tak lemah, serta jiwa yang senantiasa bahagia jika suatu hari ia menemui Allah dalam keadaan syahid.”
Beliau kemudian menyederhanakan hal itu dalam sebuah kalimat. Ia katakana, “JIka didapatkan seorang muslim yang baik, maka akan didapatkan sarana-sarana kesuksesan dalam dirinya.”
Imam berkata di dalam referensi utama manhaj ini, “Pilar utama dalam menjalankan langkah-langkah ini adalah Al Quran yang tidak dicampuri oleh kebatilan apapun baik dari kedua tangannya maupun dari belakang, kemudian sunnah yang benar dan terjamin dari Rasulullah Saw., serta sirah yang mulia para ulama-ulama terdahulu. Kita tidak mengharapkan imbalan apaun dari upaya-upaya tersebut, melainkan untuk mendapatkan keridaan Allah dan memenuhi kewajiban serta memberikan petunjuk dan pembinaan terhadap manusia.”
Tentang kadar kekuatan komitmen Ikhwan terhadap dakwah dan syiar-syiar yang diperjuangkannya, Imam Syahid berkata, “Kami akan berjihad untuk mewujudkan fikrah kami, dan kami akan bekerja keras selama kami hidup, kami akan mengajak manusia semua untuk menyambut seruan dakwah, dan kami akan mengorbankan apa saja untuk mewujudkannya, hingga kami hidup mulia atau mati sebagai syuhada. Syiar-syiar yang senantiasa kami serukan adalah: Allah tujuan kami, Muhammad pemimpin dan tauladan kami, Al Quran adalah pedoman kami, jihad adalah jalan juang kami, dan mati di jalan adalah cita-cita kami tertinggi.”
|
| Ke atas.
RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI