Sepanjang perjalanan sejarah, kelompok-kelompok penyeru perbaikan lahir dan berkembang subur. Mula-mula cahayanya terang benderang selama beberapa waktu, namun berselang pergantian masa sinarnya meredup dan padam, atau menyimpang dari prinsip-prinsipnya, atau arusnya berubah dan akhirnya dikendalikan oleh peristiwa dan perkembangan zaman, dan akhirnya ia menjadi memori di pelataran sejarah.
Perubahan dan kelemahan pada kelompok-kelompok tersebut kita saksikan terjadi setelah satu atau dua generasi berikutnya atau setelah terjadinya rentetan peristiwa tragis yang menimpa. Namun sekarang kita berada di hadapan dakwah Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Imam Syahid Hasan Al Banna – kita berbaik sangka dengan mengatakan beliau gugur sebagai syahid, walaupun kita sebenarnya tidak berhak memastikan kesucian seseorang di atas ketentuan Allah-, pada bulan Dzulqa’dah 1347 H/ Maret 1928 M, usianya waku itu sekitar 22 tahun, kemudian gugur syahid pada usia yang masih muda tahun 1949 M ..
Kita melihat ada sesuatu yang berbeda ..
Kita melihat dakwahnya begitu kuat dan tegar, dakwahnya mengalir selama kurang lebih 77 tahun, berjalan di atas jalan dan manhaj yang sama, tidak ada perubahan dan penyimpangan, padam apinya atau koyak layarnya, meskipun harus berhadapan dengan beragam ujian dan konspirasi, serta pelbagai rintangan, tekanan dan pernyiksaan.
Setelah berlalu beberapa generasi dan menyatu bersama dakwah ini, ia tetap berjalan di atas prinsip-prinsip dan misi yang diperjuangkannya, dan bahkan berada di garda terdepan di medan perjuangan antara Islam dan kebatilan. Dengan izin Allah ia menjadi harapan baru bagi umat Islam di Timur dan Barat, untuk kembali mengembalikan kemuliaan Islam di persada bumi.
Kita melihat hal itu dengan penuh keyakinan, dan kitapun mengetahui benar bahwa hal itu terwujud tiada lain adalah berkat izin Allah, karunia dan pengawalan-Nya terhadap keberlangsunan dakwah ini. Kita juga mengetahui kekuatan pembangunan yang menjadi pondasi dakwah ini, yaitu tarbiyah, dan penyiapan para rijal di dalam jama’ah melalui pembinaan yang dilakukan Imam Syahid Hasan Al Banna dan generasi pertama dakwah ini.
Kajian ini merupakan kumpulan risalah-risalah Imam Syahid dan beberapa penyampaiannya yang sejatinya adalah sebuah upaya personal yang tentu terdapat kebenaran dan kekeliruan. Dengan kajian ini kita dapat mengetahui konsep Imam Syahid dalam perbaikan dan perubahan serta target tertinggi yang ingin dicapai dengan dakwah yang diserukannya.
Dengan menitikberatkan kajian terhadap tulisan-tulisan Imam Syahid, kami juga mengambil beberapa bagian dari muruid-murid beliau, hal ini untuk menambah penjelasan dan perincian dari risalah-risalahnya.
Dalam pembahasan ini juga terdapat pengulangan ucapan-ucapan Imam Syahid di beberapa bab dan pasal, saya lebih memilih mengulang ucapan-ucapannya dibanding memberikan isyarat kepada pembaca untuk rujuk kepada perkataan-perkataannya, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah para pembaca untuk memahami makna-makna yang terkandung dalam bab tersebut.
Selain memperbanyak pengulangan perkataan Imam Syahid, kami juga berupaya untuk mengumpulkan perkataan-perkataan Imam yang terpisah ke dalam sebuah tema atau pembahasan, agar kita bisa memahami secara lebih dekat pemahaman Imam Syahid secara menyeluruh, bukan untuk membatasi atau mempersempit cakrawala berpikir.
Warisan berharga yang telah ditinggalkan oleh Imam Syahid ini sangat membutuhkan kajian-kajian intensif dan pembahasan, beliau telah menulis dan menyampaikan seruan kepada para da’i dengan pemahamannya yang mendalam terhadap Al Quran dan Sunnah Rasulullah Saw., terhadap sunnah perubahan di alam semesta, rentetan peristiwa dan pengalaman-pengalaman dakwah sebelumnya.
Semoga Allah memberikan ganjaran setimpal terhadap apa yang telah ia persembahkan untuk kita, Islam dan keluarganya.
Saya juga berharap kepada para pembaca untuk mentolerir dan memaklumi jika menemukan perbedaan-perbedaan dan kekeliruan di dalam buku ini, dan berkenan memberikan doa untuk kebaikan.
Wallahu min warâ-il Qashdi wa huwa yahdi al sabîl
Manshurah, Ramadan 1426 H/ Oktober 2005
Penulis
Dr. Muhammad Abdurrahman al Mursy Ramadan
|
| Ke atas.
RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI