Kiat Sukses Berinteraksi Dengan Al-Qur’an (9); Berinteraksi dan Mentadabburkan Al-Qur’an Secara Aplikatif (12)

27/11/2008 | 27 Dhul-Qadah 1429 H | 889 views
Oleh: Abu Ahmad
Kirim Print

12. Memahami Nilai-nilai Al-Quran Seperti Yang Dipahami oleh Para Sahabat

Para sahabat hidup di bawah naungan Al-Quran; mereka menikmati ayat-ayatnya, berinteraksi dengan nash- nashnya, mendapatkan hidayah darinya, menerangi kehidupannya dengan sinar dan cahayanya…Merekalah generasi Al-Quran yang unik.

Kadang mereka meriwayatkan sebagian yang mereka rasakan dari pengaruh Al-Quran dalam kehidupan mereka, mendapatkan sentuhan-sentuhan dan nilai-nilainya yang indah dan mempesona…Dan hal ini sangatlah jarang dan sedikit sekali yang mampu merasakannya kecuali bagi orang yang benar-benar merasakan dan menikmati sentuhan niali-nilainya.

Dan sejarah interaksi mereka dengan Al-Qur’an adalah merupakan riwayat-riwayat yang memiliki petunjuk tentang metode berinteraksi yang baik dengan Al-Quran, hubungan yang erat dan pandangan yang jernih terhadap Al-Qur’an, yang memungkinkan para pembaca dan pemerhati Al-Quran dapat mentauladani dan mengikuti jejak langkah mereka , guna mendapatkan secercah nilai-nilai dari Al-Quran seperti yang telah didapatkan oleh para sahabat, meneguk kehidupan yang damai darinya seperti yang mereka lakukan dan meraka jalani, mengkaji perkara yang telah mereka riwayatkan sebagai sarana utama dalam rangka mendapatkan petunjuk Allah dan nur Ilahi.

Sebelum ini kami telah menyebutkan ungkapan Ibnu Mas’ud : “Sesungguhnya kami kesulitan menghafal lafadz-lafadz Al-Quran namun mudah bagi kami mengamalkannya, dan umat setelah kami mudah bagi mereka menghafal ayat-ayat Al-Quran namun sulit bagi mereka mengamalkannya”.

Abdullah bin Umar bin Al-Khattab berkata: “Kami hidup di masa yang panjang dan salah seorang dari kami lebih dahulu diberi iman sebelum Al-Quran, surat-surat turun kepada nabi Muhammad saw lalu mengajarkan yang halal dan yang haram, perintah dan larangan dan hal-hal yang harus ditinggalkan dari sisinya, namun saya telah melihat dan menyaksikaan orang-orang pada masa sekarang yang lebih dahulu diberi Al-Quran sebelum iman, lalu membacanya dari surat Al-Fatihah hingga akhir namun tidak memahami dan tidak mengetahui mana perintah dan mana larangan, mana yang seharusnya ditinggalkan dari sisinya, mereka membacanya seakan seperti kambing yang mengembik…”

Bagi para pembaca Al-Quran, dalam memperhatikan dan menelaah bagaimana para berinteraksi dengan Al-Quran, mengamalkan nilai-nilai dan sentuhan-sentuhannya sehingga menghasilkan kehidupan berada di bawah naungan Al-Quran akan diperoleh hakikat jiwa dan hati yang bersih dapat menerima Al-Quran dan berinteraksi dengannya, sehingga memotivasi jiwa untuk bisa melakukan seperti yang mereka lakukan dan merasakan nikmatnya hidup di bawah naungan Al-Qur’an seperti yang mereka rasakan, bahagia hidup bersama Al-Qur’an melalui nilai-nilai dan sentuhan-sentuhannya seperti kebagiaan yang telah mereka raih serta lurus kehidupannya bersama arahan dan petunjuk Al-Qur’an sebagaimana yang dijalankan oleh para sahabat dan salafussalih.

Contoh dari itu semua sangatlah banyak, akan kami sebutkan beberapa contoh saja seperti yang disebutkan pada tulisan dibawah ini :

1. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Abu Dawud dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw saat sholat di baitul maqdis, lalu turun ayat : “Sungguh Kami (sering) melihatmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. (Al-Baqoroh : 144) maka lewat seseorang dari bani Salmah saat mereka sedang ruku pada sholat fajar, mereka telah melewati satu raka’at, dia berseru : ketahuilah bahwa qiblat telah dirubah, maka marekapun memaligkan ruku’ ke arah Ka’bah.

Ayat di atas menunjukkan kepada kita akan ketaatan para sahabat terhadap tuntunan, petunjuk dan taklif rabbani -pembebanan yang Allah berikan kepada mereka- hati mereka yang subur dengan iman yang cepat dan siap berinteraksi dengan Al-Quran; ketaatan mereka yang begitu cepat dalam mengamalkan dan komitmen terhadap perintah.

2. Diriwayatkan oleh Imam Bukkhori, Imam At-Turmudzi, Imam An-Nasa’I dan Imam Abu Dawud -riwayatnya dari Abu Dawud- dari Zaid bin Tsabit berkata : saat saya berada disamping Rasulullah saw, yang selalu mendapatkan ketenangan, lalu paha Rasulullah saw berada diatas paha saya, saya tidak mendapati paha yang begitu berat kecuali paha Rasulullah saw, kemudian beliau melirik saya dan berkata : tulislah, maka sayapun menulis di awal ayat : “Tidak sama antara orang yang duduk-duduk dari orang beriman…(An-Nisa : 95) maka berdirilah Abdullah bin Ummi Maktum -seorang lelaki yang buta- saat mendengar keutamaan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, beliau berjata : Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang tidak bisa berjihad dari orang yang beriman ? sebelum ucapannya berkahir, Rasulullah saw kembali menenangkan diri, maka pahanya jatuh keatas paha saya, dan saya dapati pahanya lebih berat dari sebelumnya, kemudian dia melirik saya dan berkata : Bacalah wahai Zaid. Maka sayapun membaca : “Tidak sama antara orang yang duduk-duduk dari orang yang beriman”. Lalu Rasulullah saw berkata : “Yang tidak mempunyai uzur”. Ayat secara keseluruhan. Zaid berkata, Allah menurunkan semuanya beruntun”.

3. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan imam Muslim, At-Turmudzi dari Ibnu Mas’ud berkata : ketika turun : “orang-orang yang beriman dan tidak mencampur keimanan mereka dengan kedzlaliman, merekalah yang mendapat ketentraman”. (Al-An’am : 82) kaum mulimin merasa berat, mereka berkata : bagaimana mungkin kami tidak mendzolimi diri sendiri, Rasulullah saw bersabda : bukan begitu yang dimaksud, yang dimaksud pada ayat adalah Syirik, apakah kalian tidak mendengar perkataan seorang hamba yang salih : “Wahai anakku janganlah engkau mensyirikkan Allah karena kesyirikan merupakan kedzoliman dan kezhaliman merupakan dosa besar”. (Luqman : 13)

4. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Abu Bakar Ash-Shiddiq bahwa beliau berkata : Wahai Rasulullah : bagaimana maksud kemenangan pada ayat ini : “(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang berbuat kejahatan niscaya akan diberi pembalasan..”. (An-Nisa : 123) Apakah seluruh kejahatan yang kami lakukan akan diberi pembalasan darinya -dalam riwayat lain berkata : saya tidak mengetahui apakah saya melakukan kejahatan pada pundak saya sehingga menjadi lemah !! maka Rasulullah bersabda : apa yang engkau lakukan wahai Abu Bakar ? saya berkata : Demi bapakku dan ibuku engkau wahai Rasulullah bagaiamana mungkin kami tidak pernah melakukan kejahatan, dan kami pasti menerima pembalasan dari setiap kejahatan yang kami lakukan -maka nabi pun bersabda : Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar, bukankah engkau pernah sakit ? bukankah engkau memiliki nasib ? bukankah engkau pernah bersedih hati ? bukankah engkau pernah mendapatkan musibah ? beliau berkata : benar. Rasulullah bersabda : demikianlah apa yang dijadikan pembalasan dengannya”.

5. Diriwayatkan dari Imam Ibnu Jarir At-Tobari berkata : Abu Tolhah membaca surat Baraah (At-taubah), lalu sampai pada ayat : “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (At-Taubah : 41) beliau berkata : saya melihat Tuhan kami telah memerintahkan kami para orang tua dan pemuda, maka persiapkanlah untukku wahai anakku untuk berperang, anak-anaknya pun berkata kepadanya : Semoga Allah merahmatimu saat ikut berperang bersama Rasulullah saw hingga syahid, bersama Abu Bakar hingga syahid, bersama Umar hingga Syahid, maka berikanlah kami kesempatan untuk berperang menggantikanmu, beliaupun menolaknya, lalu beliau menyebrang lautan hingga meninggal, namun mereka tidak menemukan pulau untuk mengubur mayatnya kecuali setelah 9 hari berjalan, namun sedikitpun mayatnya tidak mengalami pembusukan, hingga mereka menguburnya…”.

Demikianlah contoh-contoh yang dapat ditemui oleh pembaca Al-Quran, ucapan dan riwayat dari para sahabat yang terdapat dalam kitab-kitab tafsir bil ma’tsur, kitab-kitab asbabun nuzul, kitab-kitab hadits dan sunan yang shohih, dan kitab-kitab sirah dan kehidupan para sahabat…dan banyak sekali…


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 27/11/2008 / 27 Dhul-Qadah 1429 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

Belum Ada Komentar

RSS feed untuk komentar pada naskah ini.

Maaf, untuk sementara kolom komentar tidak tersedia.

« sebelumnya
sesudahnya »