5. Memelihara Keabsahan Nash-nash Al-Quran
Pembaca Al-Quran kadang disibukkan dengan dirinya saat membaca Al-Quran, berkhayal sehingga menjadi penghalang masuknya cahaya Al-Quran ke dalam dirinya, kadang jiwanya mengawang dan berkhayal ke ufuk yang jauh. Hal ini telah disebutkan pada pembahasan Adab-adab membaca Al-Quran.
Namun yang ingin kami sampaikan disini adalah hendaknya pembaca Al-Quran tetap dalam suasana membaca nash-nash Al-Quran, menghadirkan seluruh perangkat dan anggota tubuhnya untuk talaqqi, memenuhi, menelusuri dan menelaahnya dengan seksama, agar dapat berinteraksi dengan Al-Quran dan meraih apa-apa yang terkandung di dalamnya. Pembaca Al-Quran hendaknya juga memelihara suasana Qur’ani yang penuh berkah, berusaha melestarikan, menjaga dan menambah keseriusannya setiap kali akan menbaca Al-Quran, dan terus meningkatkannya setiap kali ingin mengulang-ulang bacaannya dan kembali menelaah kitabullah.
Saat membaca ayat-ayat Al-Quran kadang ditemukan sekelompok ayat yang menarik mengajak untuk memperluas dalam mentadabburkannya dan mengeluarkan apa-apa yang terkandung di dalamnya, tidak mengapa berlama-lama dalam menelusuri hal ini, guna memenuhi panggilan da’wah yang termaktub dalam isyarat ayat tersebut !! namun dengan syarat jangan keluar dari suasana nash Al-Quran Al-Karim, harus tetap dalam menjaga diri dan perasaannya, pikiran dan pandangannya, telaah dan perhatiannya berada bersama ayat-ayat, dan di bawah naungannya dan sentuhan-sentuhannya. Jika jiwanya terlena untuk keluar kepada perhatian lainnya maka jangan hiraukan, jika perasaannya terus menghiasi diri untuk mencari masalah, problema atau pembahasan lainnya yang tidak ada hubungannya dengan ayat-ayat yang sedang ditelaah, dan tidak memberikan pengaruh dalam memahami dan mentadabburkan ayat, maka jangan dilayani dan minta dilayani, hendaknya tetap memfokuskan diri dan kembali suasana membaca dan menelaah nash Al-Quran, hendaknya ia waspada dan hati-hati saat membaca Al-Quran…
Bahwa tetap pada suasana membaca Al-Quran dan konsisten terhadapan adalah merupakan kunci yang harus dipelihara agar dapa membuka rahasia-rahsaia Al-Quran dan dapat berinteraksi dengan baik serta menelaah dan memenuhi seruannya secara optimal. Kadang kita tidak mengerti bagaimana mungkin seorang pembaca, penulis atau penelaah Al-Quran membolehkan dirinya dan akalnya untuk keluar dari menyertai Al-Quran yang dicintai, meninggalkan naungannya, cahayanya dan keteduhannya, bahkan keindahan, keharuman dan keagungannya, menuju realita, permasalahan, problema dan kesibukan-kesibukan yang lain dan dibuat-buat oleh manusia itu sendiri.
Sesungguhnya nash Al-Quran memberikan dan mengandung berbagai nilai-nilai yang berharga, penuh dengan limpahan cahaya, namun dia tidak dapat ditelusuri dan dibuka kecuali bagi siapa yang memiliki kesadaran dan kemantapan diri, mengerahkan seluruh jiwanya untuk menelaahnya.
Pembaca Al-Quran hendaknya –sebagai contoh dari kiat ini- membaca nash-nash Al-Quran dengan seluruh anggota badannya, hidup di dalam suasana keteduhannya, kemudian memantau pemahamannya yang meningkat dalam kehidupan di bawah naungan Al-Quran, sebagai harta yang paling berharga yang dikeluarkan dari qaidah ini, buah yang matang yang dapat dipetik dari hasil kebersamaan dengan Al-Quran ini.
Hendaknya dirinya menelaah lebih lama tentang firman Allah :
لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا . وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا
“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-angan yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yan gberiman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (An-Nisa : 123-124)
kata “An-Naqir adalah bagian terkecil dari biji korma, dan inilah yang paling ditakuti di dalam kitabullah !!
Dan hendaknya seorang pembaca merenungi ayat Allah secara seksama :
قُلْ أَنَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَى أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَا قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah : “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfa’atan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan kebelakang sesudah Allah memberi petunjuk kepda kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syetan di pesawangan yang menekutkan ; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan) : “Marilah ikuti kami” katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita dsuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam. (Al’An’am : 71)
Dan firman Allah :
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yan gbenar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah ? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”. (At-Taubah : 111)
Dan firman Allah :
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ . وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ أَلَيْسَ اللَّهُ بِعَزِيزٍ ذِي انْتِقَامٍ
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan meminta mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah ? Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya. Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab ?”. (Az-Zumar : 36-37)
|
| Ke atas.
RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI
Maaf, untuk sementara kolom komentar tidak tersedia.