23. Selalu Memutaba’ah Penggunaan Ayat-ayat Al-Quran dengan Istilah yang Sama
Sesungguhnya menajadikan surat-surat, ayat-ayatnya, kalimat-kalimatnya dan mustolahat-mustolahatnya –kalimat yang mengandung istilah- dalam Al-Quran sebagai sahabat merupakan kecendrungan lembut dan indah, karena -dengan demikian- akan mampu membimbing pembaca pada perjalanan yang cenderung pada kelembutan dan keindahan, memberikan kepadanya corak, bentuk dan contoh-contoh akan nilai-nilai, hakekat, ketetapan, dan sentuhan-sentuhan Al-Qur’an, menempatkan berada dihadapan harta karun yang tidak akan pernah habis dan kenikmatan yang selalu mengalir.
Al-Quran Al-Karim sangat teliti dalam memilih kosa kata dan menggunakan istilah-istilahnya, menjabarkan pemahaman dan hakekat-hakekatnya secara lugas dan mudah difahami, memilki keragaman cara dalam menggunakan satu istilah, sangat baik dan cermat dalam menggunakannya, bahkan memberikan nilai-nilai yang selalu baru dari susunan yang satu dengan susunan yang lainnya; kadang sesekali memberikan naungan secara khusus dan memberikan kepada pembaca cita rasa yang baru dan nikmat.
Jika pembaca ingin mendapatkan kebahagiaan hidup dan berinteraksi bersama Al-Quran maka dia harus menyerahkan dirinya kepadanya, berserah diri dihadapannya, memfokuskan perasaannya, indranya, hatinya dan akalnya dan seluruh jiwanya dalam rihlah Al-Quran yang menyenangkan, kembali darinya dengan bekal dan wawasan yang agung.
Kami menyerukan kepada seluruh pembaca untuk mengikuti penggunaan Al-Quran dalam satu istilah, menyatukan bentuk, uslub, dan corak penggunaannya, memperhatikan apa yang ditemukan yang terus bertambah secara kontinyu dari sebelumnya…mencatat fenomena perbedaan pendapat dalam penggunaan istilah tersebut, dan memberikan manfaat kepada umat manusia, namun yang harus diperhatikan adalah seorang pembaca hendaknya jangan hanya mencatat satu fenomena saja tapi harus mengikuti jejak lain yang memberikan alasan pada fenomena ini; menafsirkannya, menelitinya dan menjelaskan hukum darinya dan rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya, pelajaran dan petunjuk-petnjuk yang dapat dipetik darinya.
Pada tema ini dapat kami katakan : para ulama dahulu telah menelaah akan banyaknya fenomena dalam uslub-uskub Al-Quran, mentadabburkannya, mencatatnya dan mengajarkannya kepada umat manusia sehingga mereka dapat mengambil manfaat yang besar, semoga Allah memberi ganjaran yang baik kepada mereka.
Namun yang perlu diperhatikan atas karya mereka adalah bahwa kebanyakan dari mereka tidak memperhatikan akan fenomena ini dengan seksama, berhati-hati, teliti dan cermat, tidak berusaha memberikan alasannya dan menafsirkannya, mencatat beberapa hikmah yang terkandung di dalamnya dan menjelaskan secara jelas dan gamblang, berbicara tentang keindahan dan kelembutannya.
Peran kita adalah membangun apa yang mereka sampaikan, menyempurnakan apa yang mereka lewatkan, benarlah orang bijak yang mengatakan : “Berapa yang ditinggalkan para pendahulu untuk masa mendatang ??”…jika kita ingin berhasil meringkas istilah-istilah yang termaktub dalam Al-Quran maka kita harus smengikutinya pada uslub-uslub Al-Quran kemudian menyatukannya dan memperhatikan pesan yang diwahyukan darinya, kemudian menjabarkan dan menafsirkannya dan berusaha menggali hikmah darinya, rahasia yang ada di dalamnya, dengan selalu mengulang pertanyaan mengapa, mengapa disebutkan begini ? apa hikmah yang bisa kita ambil darinya? dan apa rahasia yang dapat kita gali? dan apa petunjuk yang dapat kita jadikan pelajaran darinya ?
Seperti Istilah “Al-Kufr” misalnya Al-Quran menggunakannya dalam sepuluh tempat, namun jika diperhatikan bahwa lafdz tersebut digunakan dalam berbagai bentuk: bentuk fi’il (kata kerja), masdar (kata jadian/keterangan), ism fa’il (subejk), dan sifat…digunakan sebagai kata kerja dalam bentuk lampau mujarrad –asli-, bentuk lampau yang disandarkan pada “ta” al-mutakallim, “ta” al-mukhattab, “ta” at-ta’nits, mukhotobin (orang kedua), mutakallimin (orang pertama) dan ghoibin (orang ketiga)…dan juga digunakan pada kata kerja dalam bentuk yang sedang berlangsung dan mendatang, baik yang disandarkan pada mufrod mutakallim (orang pertama personal) hingga mukhotob mufrod dan mukhotob jamaah. Dan yang disandarkan pada al-mutakallimin, ghoib dan ghoibin. Kata kerja dalam bentuk perintah untuk mufrod dan jama’, kadang digunakan dalam bentuk lampau secara majhul.
Adapun penggunaannya sebgai ism maka disebutkan pada bentuk berikut : “Kufr-kafir-kafirah-kufroh-kuffar-kafiroh-kufur-kafur-kufaron-kafaroh-kufron” … maka apa hikmah dari banyaknya penggunaan, keragaman dan macamnya yang kadang bisa mencakup seluruh asal kata kalimat tersebut ? hal ini dapat ditemui saat menelaah ayat-ayatnya secara keseluruhan, mencari petunjuk-petunjuknya secara sempurna.
|
| Ke atas.
RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI