Kiat Sukses Berinteraksi Dengan Al-Qur’an (9); Berinteraksi dan Mentadabburkan Al-Qur’an Secara Aplikatif (13)

12/12/2008 | 13 Dhul-Hijjah 1429 H | 713 views
Oleh: Al-Ikhwan.net
Kirim Print

13. Memperhatikan aspek realita terhadap nash-nash Al-Quran

Saat mengawali pembahasan tentang tujuan-tujuan pokok Al-Quran, menerapkan misi gerakannya, seorang pembaca yang jeli hendaknya memperhatikan sisi faktual ayat-ayat Al-Quran, meneliti kesesuaiannya dengan kondisi kontemporer, memahami solusinya dan meluruskan permasalahan -permasalahannya serta memperbaiki manhaj dan sistem hidup yang terdapat di dalamnya.

Saat membaca Al-Quran hendaknya menghilangkan belenggu zaman dan tempat, sehingga akan ditemui darinya ayat-ayat tentang mukjizat yang seakan hidup, mensifati keberadaannya yang hidup, membicarakan realita kehidupan yang nyata, menjelaskan qodhoya –problema- dan permasalahan yang terdapat disekitarnya. Pada saat membaca surat-surat dalam Al-Quran dengan metode ini, maka akan ditemui surat-surat yang hidup, bergerak, menuntun dan memberi petunjuk. Sehingga ketika menelaah ayat-ayat Al-Quran dengan metode diatas maka akan ditemukan kejujuran, kasih sayang , kelembutan, kesatuan dan kecintaan yang memanggilnya, seakan indah berinteraksi bersamanya. Ia selalu menyertainya dalam perjalanan yang indah dan menyenangkan, membimbingnya dalam suasana yang bijak sesuai dengan dunia realitanya dan kehidupannya yang nyata. Pembaca Al-Quran akan mendapatkan Al-Quran dan surat-suratnya sebagaimana yang telah ditemukan oleh Sayyid Qutb saat menyadari indahnya berinteraksi dengan Al-Quran, memperhatikan sisi realitas terhadap nash-nash Al-Quran dan arahan-arahannya, mengungkapkan dari apa yang ditemui di dalamnya, beliau berkata : “Begitulah saat saya kembali memandang surat-surat dan ayat-ayat dalam Al-Quran. Begitulah saya merasakannya, dan begitu pulalah saya kembali berinteraksi dengannya. Setelah melewati masa yang panjang untuk hidup bersamanya, sekian lama bersatu, sekian lama berinteraksi dengannya sesuai dengan tabiatnya, petunjuknya, fenomenanya dan karakteristiknya.

Saya menemukan dalam Al-Quran wawasan yang begitu luas oleh adanya keragaman contoh, menemukan kelembutan yang begitu halus oleh karena interaksi individu yang intens, serta menemukan kenikmatan yang berlimpah oleh karena keragaman sifat dan tabiat, petunjuk-petunjuk dan arahan-arahan yang terdapat di dalamnya.

Semuanya adalah kebenaran, seluruhnya adalah kejujuran, seluruhnya adalah belas kasih, seluruhnya adalah kecintaan, seluruhnya adalah kenikmatan, dan seluruhnya akan membarikan hati keragaman perhatian yang menyenangkan, keragaman kenikmatan yang berlimpah, keragaman sentuhan yang lembut, keragaman dampak yang menuntun, sehingga dapat memberikan citq rasa khusus dan suasana yang unik.

Hidup bersama Al-Quran dari awal hingga akhir merupakan perjalanan indah…perjalanan dalam alam nyata dan abstrak, teori dan praktek, ketetapan dan sentuhan yang tenggelam ke dalam jiwa yang paling dalam, sehingga menampakkan peristiwa-peristiwa alam secara konkrit. Rihlah yang memiliki keistimewaan karakter pada setiap surat dan tiap-tiap surat…” (Ad-Dzilal : 3 : 1243)

Setiap ayat-ayat dalam Al-Quran memiliki sisi realita masa depan, baik ayat yang berhubungan dengan aqidah, kisah-kisah, berita tentang umat masa lalu, arahan, hukum, atau yang berhubungan dengan sunatullah, prinsip-prinsip, nilai-nilai dan etika-etika atau lain-lainnya.

Ayat-ayat yang dapat mengenalkan tentang Allah SWT, dan menjelaskan kepada kita tentang kerajaan-Nya dan kekuasaan-Nya yang agung dan mulia, mengajarkan sifat-sifat Allah SWT dan nama-nama-Nya yang mulia, sehingga kita dapati aspek realita tentang masa depan secara nyata. Bahwa sifat-sifat Allah SWT yang terdapat dalam nash-nash Al-Quran merupakan sifat yang konkrit dan positif…seperti sifat ilmu Allah yang universal yang mencakup segala sesuatu yang ada di muka bumi.

Allah berfirman :

يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia berada bersamamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (Al-Hadid : 4)

Jika realita kehidupan selalu disertai oleh dalil pada ayat ini maka akan menjadikan hatinya dan seluruh tubuhnya hidup; menghadirkan kebersamaan Allah dalam dirinya, Dia Maha Mengetahui terhadap seluruh jiwanya, geraknya dan keadaannya, sehingga dirinya akan selalu istiqomah atas manhaj Allah, merasa diawasi dan takut kepada-Nya. Ayat tersebut secara faktual akan dapat menyinari kehidupan dan membuat jalan hidup manusia menjadi cerah.

Kisah-kisah Al-Quran yang menceritakan tentang umat pada masa lalu dan preilaku-perilaku mereka juga memiliki sisi realita masa depan, seakan dengan membicarakan keadaan manusian dan sifat-sifat mereka dan karakteristik kehidupan mereka, seorang pembaca dapat menjadikannya sebagai pelajaran dalam beraqidah, berda’wah, bergerak, memberikan inspirasi tentang pendidikan, ghazwah dan jihad, serta memberikan pengetahuan tentang karakterstik Al-Quran dan cahayanya yang mampu menyingkap berbagai wawasan dan petunjuk.

Kita berharap kepada Allah menolong kita dalam mempersiapkan aktualisasi tentang kisah-kisah dalam Al-Quran dan menjadikannya sebagai pelajaran dan ibroh dalam beraqidah, berda’wah, bergerak dan berjihad. Contoh dari kisah dalam Al-Qur’an adalah “Ma’a qishos As-Sabiqin fi Al-Quran” akan di dapat berbagai pelajaran yang unik, untuk dapat dijadikan pegangan hidup di masa mendatang.

Kami mengajak para pembaca untuk memperhatikan sisi aktualisasi terhadap ayat-ayat berikut ini:
Dalam kisah nabi Ibrahim Allah berfirman :

قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآَلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ. قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ . قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ

“Mereka berkata : “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim. Mereka berkata : “kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim. Mereka berkata : “(kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka mau menyaksikan”. (Al-Anbiya : 59-61)

dan Firman Allah tentang kisah ashabul kahfi:

وَكَذَلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا . إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا

“Mereka berkata : Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (disini). Maka suruhlah salah seorang diantara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu,d an hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali memberitakan helmu kepada seorangpun. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, danjika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”. (Al-Anbiya : 19-20) dan firman Allah pada saat men yeru nabi Zakaria untuk memberikan rizkinya kepada anak kecil : “…Maka anugrahilah aku dari sisi Engkau. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridloi” (Maryam : 19-20)

Alalh berfirman tentang raja fir’aun yang menjadi contoh nyata bagi setiap pemimpin yang zhalim dan pemimpin yang durjana :

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

“Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yan gberbuat kerusakan”. (Al-Qoshosh: 4)

Allah berfirman tentang penyiksaan dan penghinaan yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap orang-orang beriman:

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا يَضْحَكُونَ . وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ . وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ . وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu dihadapan mereka,mereka saling mengedip-ngedipkan. Dan apabila orang-orang yang berdosa kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan : “ Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”. (Al-Muthaffifin : 29-32)

Hendaknya pembaca Al-Quran memperhatikan sisi realita pada bidang ekonomi dalam ayat berkut ini :

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang berada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan”. (An-Nisa : 5)

Sisi realitas tentang sunnah Rabbaniyah :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka endustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. ( Al-A’rof : 96)

Sisi realitas tentang keluarga :

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian apabila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) kerena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjdaikan padanya kebaikan yang banyak”. (An-Nisa : 19)

Sisi realitas tentang ayat yang menetapkan akibat memerangi agama ini, kekalahan tentaranya dimana saja mereka :

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ . هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Alalh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka. Dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya diatas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci”. (As-Shof : 8-9)

Dan contoh-contoh lainnya…


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 12/12/2008 / 13 Dhul-Hijjah 1429 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

Belum Ada Komentar

RSS feed untuk komentar pada naskah ini.

Maaf, untuk sementara kolom komentar tidak tersedia.

« sebelumnya
sesudahnya »