Karakteristik Masyarakat Islam Dalam Surat Al-Ahzab (7): Prinsip-prinsip Tegaknya Syari’at Islam (1) Takwa

28/4/2008 | 21 Rabbi al-Thanni 1429 H | 1,853 views
Oleh: Al-Ikhwan.net
Kirim Print

Penterjemah:

Abu Ahmad

Allah SWT berfirman :

  يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللهَ وَلاَ تُطِعِ الْكَافِرِيْنَ وَالْمُنَافِقِيْنَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا .  وَاتَّبِعْ مَا يُوْحَى إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ إِنَّ اللهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا .  وَتَوَكَّلْ عَلىَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ وَكِيْلاً

“Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara. (Al-Ahzab 1-3)

Yang dimaksud dengan pokok-pokok disini adalah prinsip-prinsip, dasar-dasar atau kaidah-kaidah yang menjadi sarana tegaknya individu muslim dan komunitas muslim, bahkan masyarakat muslim secara umum. Surat al-ahzab diawali dengan melakukan pembenahan terhadap “kehidupan dan akhlak masyarakat muslim, dengan mengungkap system Islam yang harus ditegakkan di alam realita dan alam sanubari”.[1]

Dalam ayat diatas ada seruan yang ditujukan kepada nabi Muhammad saw dengan bentuk perintah; bertaqwa kepada Allah SWT; dan tidak menuruti keinginan dan ucapan orang-orang kafir dan munafik; mengikuti wahyu yang telah diturunkan kepadanya; dan bertawakkal kepada Allah semata, karena Allah yang Maha Mengetahu segala perkara dan tidak pernah memerintahkan sesuatu kecuali di dalamnya ada hikmah dan kebaikan. Dialah Allah yang Maha Melihat terhadap apa-apa yang dilakukan manusia dan pemberi kenikmatan dan perlindungan bagi siapa yang bertawakkal kepada-Nya. Isyarat inilah yang merupakan dasar-dasar pembentukan mujtama muslim yang akan kami coba menjabarkannya, dimana dasar-dasar tersebut terdiri dari 4 bagian :

Bagian Pertama :

Taqwa Kepada Allah

Yaitu taqwa yang mencakup di dalamnya perasaan takut kepada Allah saja dan merasakan hati bersimpuh hanya kepada-Nya, yaitu firman Allah : “Wahai Nabi bertaqwalah kepada Allah” maksudnya senantiasalah kamu untuk bertaqwa kepada Allah dan takutlah akan azab-Nya jika berpaling dari-Nya.

Perintah ini bukan hanya untuk nabi saja tapi mencakup seluruh umat, karena;

العِبْرَةُ بِعُمُوْمِ الَّلفْظِ لاَ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ

“Ibrah yang diambil keumuman lafadznya bukan pengkhususan sebab”.

Sebagaimana nabi juga adalah qudwan dan uswah bagi mereka, maka adanya kewajiban kepada nabi juga merupakan kewajiban atas mereka, kecuali jika ada pengkhususan yang datang dari Allah khusus untuk dan bukan untuk yang lainnya.

Pada potongan ayat ini “Allah menyeru nabi-Nya dengan lafadz nubuwwah “Wahai Nabi”, sebagaimana juga Allah –ditempat yang lain- menyerunya dengan sifat pembawa risalah “Wahai Rasul”. Seruan Allah dengan lafadz nabi dan sifat pembawa risalah adalah merupakan penghormatan kedudukan beliau, yang mengisyaratkan juga akan kemuliaan beliau terhadap nabi lainnya. Dan juga untuk memberikan pelajaran kepada manusia –kaum muslimin- tentang etika terhadap nabinya, sehingga tidaklah boleh disebut kecuali dengan kalimat penghormatan dan pemuliaan, tidak boleh mensifatinya kecuali yang berhubungan dengan pemuliaan dan pengagungan, seperti Allah berfirman :

(لا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضاً…)

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). (An-Nur : 63)”[2]

Abu Hayyan dalam kitabnya berkata : “Seruan nabi dengan lafadz demikian “Wahai nabi” dan “Wahai Rasul” untuk menunjukkan kemuliaan dan penghormatan, dan menunjukkan kedudukan yang tinggi. Sementara seruan pada nabi yang lainnya dengan sebutan nama seperti : Wahai Adam, Wahai Nuh, Wahai Ibrahim,[3] Wahai Musa,[4] Wahai Daud[5], Wahai Isa[6]…dan lain-lainnya yang penyebutannya hanya berbentuk pemberitaan bahwa dirinya adalah utusan Allah. Namun kadangkala disebutkan dengan nama langsung : seperti firman Allah : “Muhammad adalah utusan Allah” (Al-Fath : 29) dan firman-Nya : “Tidaklah Muhammad itu kecuali utusan Allah” (Ali Imron : 144) yang mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”[7]

Kata Nabi berasal dari akar kata “naba”, berarti “berita yang memiliki faedah yang tinggi yang dapat dicapai dengan ilmu atau dzan”. Dinamakan nabi karena membawa berita tentang Allah yang dapat diterima oleh akal; bisa juga berasal dari kata nubuwwah yang berarti kemuliaan, hal itu mengisyaratkan kedudukan para nabi dari manusia yang lainnya, seperti firman Allah :

(وَرَفَعْنَاهُ مَكَاناً عَلِيّاً)

“Dan Kami telah mengangkatnya ketempat  yang tinggi” (Maryam : 57)”[8]

Adapun kata taqwa yang Allah perintahkan dalam ayat tersebut kepada Nabi saw dan orang-orang yang beriman dengannya adalah perasaan takut kepada Allah dan tunduk terhadap segala perintah-Nya.

Taqwa merupakan titian jalan yang mulia –kita berharap Allah menjadikan kita dalam golongan tersebut-, benteng yang kokoh yang berada di lubuk hati.

Ust. DR. Muhammad Adib Salih berkata : “Pada hakekatnya kedudukan taqwa sangatlah besar disisi Allah, dan sangat dituntut untuk selalu menyertai pada tiap gerak langkah manusia disetiap lini kehidupannya, tidak boleh sedikitpun ditinggalkan satu sisi dengan sisi yang lainnya, pada hubungan manusia dengan manusia lainnya, serta pada kehidupan individu dengan jamaah”.[9]

Pertanyaannya adalah : apa yang dimaksud dengan taqwa ? dan apa faedahnya Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad untuk bertaqwa padahal beliau adalah penghulu orang-orang yang bertaqwa ? dan apa alasannya perintah taqwa ditujukan kepada beliau padahal beliau sendiri seorang nabi dan rasul, dan–sebagaimana diketahui– beliau adalah ma’sum (terpelihara dari perbuatan dosa dan maksiat) ?

Tema taqwa dalam ayat Al-Quran banyak disebutkan hingga mencapai 250 kali. Kadang digunakan sesuai makna harfiahnya yaitu terpelihara dan terjaga. Misalnya dalam firman Allah :

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلالاً وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَاناً وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ كَذَلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ

”Dan Allah telah menjadikan bagimu tempat bernaung adri apa yang Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat  tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya)”. (An-Nahl : 81)

Maksudnya adalah bahwa Allah telah menjadikan rumah, pohon dan awan untuk berteduh dari sengatan sinar matahari, dan menjadikan gunung-gunung sebagai tempat tinggal seperti gua, lubang atau terowongan, dan menjadikan baju besi sebagai tameng dari tikaman pisau dan pedang, panah dan pukulan dalam perang, dan menjadikan pakaian dari kain, katun (kapas), kulit untuk memelihara dari udara dingin dan panas. Seperti yang difirmankan Allah :

فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ

“Maka Allah mengkaruniakan kepada kami dan memelihara kami dari azab yang penuh racun”. (At-Thur : 27)

Secara harfiah kata taqwa berasal dari ism waqo-yaqi-wiqoyatan ; memelihara dan menjaga, contohnya ; waqohullah waqyan wawiqayatan ; menjaganya dan memeliharanya –huruf ta sebagai penggnati dari huruf wa dan huruf wa sebagai pengganti dari ya-, dan ungkapan ; waqohullah wiqoyatan ; menjaganya, menunjukkan adanya mempertahnkan sesuatu dari sesuatu. Seperti Rasulullah saw bersabda :

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Peliharalah dirimu dari api neraka walau dengan (memberikan) sepotong kurma”. (HR. Bukhari, Nasa’i, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah dan Ahmad)

Dalam Lisan Arab dikatakan : “Aku memelihara diriku dari sesuatu jika aku menjaganya dan memeliharanya dari siksa”[10] dalam Al-Quran disebutkan :

وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

“Dan Allah memberikan kepada mereka ketaqwaan” (Muhammad : 17)

Maksudnya adalah ganjaran ketaqwaan mereka dengan terpeliharanya mereka dari azab neraka. Dan juga firman Allah :

 هُوَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ

“Dialah golongan orang yang bertaqwa dan golongan yang mendapatkan magfirah” (Al-muddatsir : 56)

Maksudnya adalah mereka golongan yang terpelihara dari azab Allah dan golongan yang beramal demi mendapatkan ampunan-Nya. Dalam ungkpan arab disebutkan : “seseorang bertaqwa” berarti dia memelihara dirinya dari dosa dan maksiat dengan amal salih. Jadi pengertian taqwa adalah kata yang memiliki pengertian universal yang berarti melakukan segala perbuatan baik dan menjauhi segala larangan.

Demikianlah pengertian taqwa secara harfi, adapun yang menjadi konsentrasi adalah hendaknya beberapa pemahaman diatas dapat diaplikasikan dalam kehidupan insan sehari-hari, karena taqwa merupakan kewajiban yang harus diamalkan dalam segala tindakan, perbuatan, tingkah laku dan ucapan, hilangnya taqwa dari diri insan mengindikasikan hancurnya sendi kehidupannya; baik di dunia dan di akhirat.

Adapun pengertian taqwa secara syar’i; Allah memerintahkan nabi-Nya untuk bertaqwa seperti yang termaktub diawal surat ahzab dan diayat lainnya, perintah untuk orang-orang beriman, ulul albab, bahkan kepada manusia secara menyeluruh. Kenapa demikian ? karena menghias diri dengan taqwa merupakan amal terbaik dan akan menempatkan pemiliknya pada derajat kemuliaan, mendapatkan kedekatan jiwa dengan Allah, dicintai dan diridloi, dan semua itu merupakan puncak tujuan hidup”[11]. Betapa banyak dalil-dalil yang menunjukkan tujuan manhaj Quran yang utama dalam membimbing kaum muslimin adalah taqwa dalam niat, amal dan prilaku.

Para ulama berbeda pendapat dalam membatasi pengertian taqwa secara istilah, namun pada kesimpulannya dari pengertian tersebut ingin memberi petunjuk kepada umat islam dan memotivasi mereka untuk taat dan tunduk kepada Allah, dan membekali diri dengan taqwa guna mengharap ridla Allah SWT.

Adapun beberapa pengertian taqwa adalah sebagai berikut :

1. Taqwa adalah “Mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya”[12].

2. “Talq bin Habib[13] berkata : Taqwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah karena hidayah Allah dan mengharap ganjaran dari-Nya, dan meninggalkan maksiat karena hidayah Allah dantakut akan azab-Nya”[14]

3. Pendapat lain menyebutkan : “Taqwa adalah adanya perasaan diawasi oleh Allah baik terhadap perbuatan yang kecil dan yang besar, dan berusaha menjaga diri dari melakukan apa-apa yang dibenci karena memuliakan Dzat Allah yang Maha Mulia”.[15]

4. Pendapat yang lainnya berkata : Taqwa adalah “segala perbuatan baik dalam ucapan dan perbuatan, yang tampak dan tersembunyi”.[16]

5. “Diriwayatkan bahwa Ubay bin Ka’ab bertanya kepada Umar bin Khattab tentang taqwa ; Umar berkata : “Apa bayanganmu saat melintas jalan yang penuh duri ? beliau berkata : “Ya”. Umar berkata : “Lalu apa yang kamu lakukan ?” baliau berkata : “Saya akan berhati dan bersungguh-sungguh”. Umar berkata : “Begitulah taqwa”.[17]

6. Taqwa adalah Sikap yang tidak pernah absen dalam setiap perintah Allah dan tidak pernah hadir dalam setiap larangan-Nya.

7. Taqwa adalah Melindungi diri dari siksa Neraka dengan cara melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

8. Ali bin Abi Thalib berkata : taqwa adalah perasaan takut kepada Allah, mengamalkan Al-Quran, mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat dan tawakkal penuh kepada Allah.

Dari beberapa pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa taqwa adalah pemeliharaan yang memiliki ciri khusus, yaitu memelihara diri dari murka Allah dan azab-Nya, benangnya adalah iman dan mengamalkan hukum-hukum agama dengan mentaati segala perintah dan menjauhi larangan Allah; dalam kesatuan yang bersinggungan antara perbuatan yang nyata ; istiqomah dijalan hidayah, gigih dalam ketaatan, dan perbuatan bathin (hati) ; ikhlas dalam beragama dan shiddiq (jujur dan benar) bersama Tuhan semesta alam.

Jadi, taqwa pada hakikatnya memiliki peranan yang sangat penting dan urgensi yang besar pada syariat Allah SWT, karena taqwa merupakan wasiat Allah yang disampaikan kepada seluruh umat manusia melalui para Nabi dan Rasul, ahli kitab dan kepada kita (umat Islam) dalam kitab Al-Quran, Allah SWT berfirman :

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

“Dan sungguhn Kami telah mewasiatkan kepada ahli kitab dan umat sebelum kalian dan kepada kalian; bertaqwalah kamu kepada Allah …” (An-Nisa : 131)

Sebagaimana Allah juga menjadikannya sebagai syarat utama mendapatkan naluri yang dapat membedakan hamba dari yang haq dan bathil, petunjuk dan kesesatan, Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَاناً وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah, niscaya akan diberikan kalian furqon (pembeda antara yang haq dan yang bathil), dan menghapus dosa-dosa kalian dan diampuni, dan Allah Maha Memiliki keuramaan yang sangat besar”. (Al-Anfal : 29)

Maksudnya adalah bahwa taqwa akan memberikan inspirasi dalam hatinya naluri menggapai petunjuk menuju jalan kebenaran dan keteguhan, mendapatkan dua ganjaran yang sangat besar; dihapusnya dosa sehingga tidak tersisa sedikitpun, baik dzahir maupun bathin, dan diampuninya dosa-dosa baik kecil maupun besar,ucapan dan perbuatan, dzahir dan bathin, rahasia dan terang-terangan.

Selain itu taqwa memiliki nilai yang sangat agung dalam perjalanan umat Islam dalam memakmurkan bumi, membangun peradaban yang tinggi, dan menghadapi berbagai rintangan serta hal-hal yang menjadi keharusan saat memperbaharui niat dan perbuatan dengan penuh keikhlasan, terutama dalam kehidupan masyarakat. “Taqwa merupakan menara hidayah bagi setiap individu dan masyarakat dalam berbagai sisi kehidupannya, modal dalam menegakkan syariat Allah dan konsepsi hal-hal yang berhubungan dengan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, disertai dengan keikhlasan niat dan amal, menghindar dari pertentangan yang dapat merusak kesucian hati”.[18]

Taqwa juga merupakan predikat yang paling mulia disisi Allah, bekal hidup yang paling baik yang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia agar dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Dan berbekallah, karena sesungguhnya bekal yang paling baik adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada Allah wahai yang memilki akal” (Al-Baqoroh : 197)

Rasulullah saw ketika memberikan bekal kepada seseorang dengan mengutamakan taqwa. Seperti sabdanya :

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ

“Bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada”

Sebagaimana juga Taqwa pada hakekatnya dapat memberikan jalan hidup manusia menjadi terang dan terjamin oleh Allah SWT

1. Taqwa dapat mengatasi problema hidup dan segala urusan menjadi mudah

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

”Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya akan diberikan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Dan Rizki yang tidak disangka-sangka”. (At-Thalak : 2-3)

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً

”Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya akan diberikan kemudahan dari segala urusannya” (At-thalak : 4)

2. Taqwa juga merupakan jaminan diterimanya amal ibadah seseorang

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya (amal) yang diterima oleh Allah hanyalah dari orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Maidah : 27)

3. Taqwa juga merupakan sarana pemisah dan pembada antara yang haq dan bathil, dan diampuninya dosa-dosa

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَاناً وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

 “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah, niscaya akan diberikan kalian furqon (pembeda antara yang haq dan yang bathil), dan menghapus dosa-dosa kalian dan diampuni, dan Allah Maha Memiliki keuramaan yang sangat besar”. (Al-Anfal : 29)

4. Dan pada akhirnya akan menghantarkan manusia menuju tempat yang terbaik yang disediakan Allah SWT

 إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ

”Sesungguhnya bagi orang yang bertaqwa adalah surga dan mata air (yang jernih)” (al-hijr:45)

Sungguh alangkah indahnya ungkapan syair dibawah ini :

عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ إِنْ كُنْتَ غَافِلاً

 Hendaknya anda bertaqwa kepada Allah jika anda lalai

يَأْتِيْكَ بِالأَرْزَاقِ مِنْ حَيْثُ لاَ تَدْرِي 

Niscaya akan datang rizki dari arah yang tidak anda sangka
 

فَكَيْفَ تخَافُ الْفَقْرَ وَاللهُ رَازِقًا

Bagaimana anda bisa takut pada kemiskinan padahal Allah Maha Pemberi rizki

فَقَدْ رَزَقَ الطَّيْرَ وَالْحُوْتَ فِي الْبَرِّ
 
Sungguh Allah telah memberi rizki kepada burung dan binatang melata didaratan
 
 وَمَنْ ظَنَّ أَنَّ الرِّزْقَ يَأْتِي بِقُوَّةٍ

Barangsiapa mengira bahwa rizki datang dengan kekuatan

مَا أَكَلَ الْعُصْفُوْرَ شَيْئًا مَعَ النَّسْرِ
 
 Niscaya tidak akan makan burung-burung sedikitpun bersama burung elang
 
 تَزَوَّدْ عَنِ الدُّنْيَا فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي

Berbekallah saat anda hidup di dunia karena anda tidak akan tahu

إِذَا جَنَّ عَلَيْكَ اللَّيْلُ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ
 
Jika datang malam apakah masih akan hidup saat fajar
 
فَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ

Betapa banyak orang yang sehat tapi mati tiba-tiba tanpa ada penyakit

وَكَمْ مِنْ سَقِيْمٍ عَاشَ حِيْنًا مِنَ الدَّهْرِ
 
Dan betapa banyak orang yang sakit bisa bertahan hidup bertahun-tahun
 
وَكَمْ مِنْ فَتَى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا

Betapa banyak anak muda saat sore dan pagi tertawa-tawa

وَأَكْفَانُهُ فِي الْغَيْبِ تُنْسَجُ وَهُوَ لاَ يَدْرِي
 
Sementara kain kafannya sudah menunggu sementara dia tidak menyadari
 
فَمَنْ عَاشَ أَلْفًا وَأَلْفَيْنِ

Barangsiapa yagn hidup seribu atau dua ribu tahun lamanya

فَلاَ بُدَّ مِنْ يَوْمٍ يَسِيْرُ إِلىَ الْقَبْرِ

Mesti pada suatu hari nanti akan berjalan menuju alam kubur

 Apa Akibat yang diderita oleh manusia yang tidak bertaqwa ?

Dalam Al-quran, kisah dua putra Nabi Adam dapat menjadi perumpamaan dan inspirasi yang menarik perhatian terhadap perbedaan orang yang bertaqwa dengan orang yang tidak bertaqwa kepada Allah :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَاناً فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ. لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ. إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ. فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

”Ceritakanlah kepada mereka kisah dua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut  yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil) : “Aku pasti membunuhmu”. Berkata Habil : “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa”. “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang dzalim”. Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi”. (Al-Maidah : 27-30)

Orang yang tidak bertakwa dan tidak takut kepada Allah akan menjadikan dirinya tamak terhadap dunia, menimbulkan sifat yang keji dan tidak bermoral, hingga tidak jera dalam melakukan tindakan yang melanggar aturan dan syariat Allah dan merugikan orang lain bahkan tidak akan segan-segan membunuh saudaranya sendiri demi mencapai keinginan yang dicita-citakannya. Begitulah yang terjadi pada kisah dua anak nabi Adam.

Pada konteks kekinian juga kita bisa melihat, masyarakat yang jauh dari ketaqwaan memunculkan sosok dan pribadi yang jauh dari nilai-nilai yang benar, pelanggaran-pelanggaran kian marak terjadi mulai dari masyarakat tingkat bawah hingga tingkat atas sekalipun. Penyuapan, korupsi, pencurian, perampokan, pemberian kesaksian palsu, pelacuran, penipuan dan tindak kriminal lainnya sudah menjadi berita yang lumrah kita dengar dimedia cetak maupun televisi, visual maupun audio visual.

Adapun kandungan ayat yang menjadi pembicaraan kita saat ini adalah bahwa Allah memerintahkan kepada nabi-Nya untuk bertaqwa, padahal beliau adalah ma’sum (terpelihara) dari segala kesalahan dan dosa, selintas tidaklah sesuai sehingga sebagian juga bertanya-tanya alasan disebutkannya perintah ini.

Untuk menjawab pertanyaan ini dapat kita jelaskan dari beberapa pendapat para mufassir :

1. Perintah Allah untuk bertaqwa kepada Rasul-Nya adalah perintah untuk selalu teguh dalam bertaqwa, seprti juga firman dalam ayat lain :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ

”Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah …” (An-Nisa : 136)

Maksudnya perteguhlah kalian dalam beriman, begitupun dalam firman Allah :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

”Tunjukkanlah kami kejalan yang lurus” (Al-Fatihah : 6)

Maksudnya teguhkanlah kami kepada jalan yang lurus. [19]

2. Perintah ini secara dzahir ditujukan kepada nabi Muhammad saw yang maksudnya juga untuk umatnya, dengan dalil shigat jama’ yang disebutkan dalam ayat, sebagaimana jika khitab ditujukkan kepada maka mencakup kepada umat yang lain.[20] Ibnu Katsir berkata : “Ini adalah peringatan dari yang Maha Tinggi kepada yang berada dibawahnya, maka jika Allah memerintahkan kepada hamba dan Rasul-Nya maka secara tidak langsung perintah kepada yang lainnya lebih utama dan tepat”. [21]

3.  Imam Fakhrurrozi[22] berkata : “Perintah terhadap sesuatu tidaklah akan terjadi kecuali tidak ada perlakuan khusus yang diperintahkan dengan objeknya, karena tidak benar jika seseorang berkata kepada orang yang sedang duduk : duduklah ! atau kepada orang bisu/orang yang sedang diam : Diamlah !, dan Nabi saw hamba yang paling bertaqwa, jadi apa alasan perintah ini ?

a. Perintah tersebut adalah perintah agar tetap teguh dalam bertaqwa, karena seseorang bisa saja berkata kepada orang yang sedang duduk : Duduklah kamu disitu sampai saya datang, begitupun jika dia berkata kepada orang yang sedang diam : anda telah benar maka diamlah semoga anda selamat, artinya tetaplah seperti yang sedang kamu lakukan !

b. Bahwa nabi setiap saat bertambah keimanan dan ketaqwaannya, sebagaimana bertambah pula ilmu dan kedudukannya. Maka perintah bertaqwa disini dimaksudkan untuk meningkatkan taqwanya, keadaan dirinya saat itu lebih baik dari yang telah lalu, seakan perintah tersebut untuk meninggalkan sesuatu yang baik kepada yang labih baik, maka tidak salah perintah ayat untuk bertaqwa.[23]

4. “Sesungguhnya perintah diatas hanyalah sebagai penekanan untuk selalu berada dalam ketaqwaan dan ketuntukan”.[24]

Dari beberapa pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa perbedaan pendapat tentang makna taqwa adalah merupakan hal yang wajar karena lafadznya sangat umum, namun yang perlu kita perhatikan, kalau Allah memerintahkan nabi-Nya untuk bertaqwa maka itu berarti perintah untuk yang lainnya, nabi seorang yang ma’sum dan penghulu orang-orang bertaqwa, kita ada apa-apanya dibanding dengan beliau, apalagi perbuatan kita, karena itu sangat wajar dan merupakan keharusan atas kita untuk bertaqwa. Bagi siapa yang memiliki banyak dosa. maka hendaknya segera bertaubat dan menjauhkan diri dari perbuatan tersebut, dan bagi siapa yang memiliki keimanan maka hendaknya dipertahankan dan dijaga serta memohon untuk diteguhkan.

Jadi perintah Taqwa pada ayat diatas adalah untuk umum, ditujukan untuk semua orang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah dan ke-Esaan-Nya dan Risalah nabi Muhammad saw, begitu pula perintah tersebut untuk selalu diingat dan dijaga, apalagi bagi seseorang yang berlumur dosa dan maksiat.

Ayat diatas juga mengingatkan akan hikmah yang besar dan pelajaran yang agung bagi para pemegang kekuasaan dan pejabat ataupun orang kaya dan memiliki kedudukan ditengah umatnya, sekalipun mereka orang terpandang dan mendapat kemuliaan mereka tetap dipeintahkan untuk bertaqwa dan berbuat adil, dan tidak terbebas dari dosa yang mereka perbuat.[25]

Demikianlah prinsip pertama yang menjadi dasar tegaknya syariat Islam dalam kehidupan individu muslim, perintah taqwa yang merupakan kaidah utama dalam pembangunan masyarakat yang islami dan merupakan pintu segala kebaikan yang tidak dapat diemui pada yang lainnya sebagaimana taqwa merupakan jalan menuju pertemuan menghadap Allah dihari kiamat mendatang.

________________________________________

[1]. Fi Dzilal Quran, jil. 5, hal. 2822

[2]. Lihat Raai’ul Bayan tafsir ayat ahkam minal Quran, Muhammad Ali As-shobuni, jil. 2, hal. 258, maktabah al-iman, Al-Mansurah.

[3]. Ibrahim, Abu al-anbiya dan khalilullah (kekasih Allah), memiliki kedudukan yang tinggi ditengah penganut tiga agama; Yahudi, Masehi dan Islam, namanya sering disebut dengan hal yang berhubungan dengan kemuliaan, doa dan keagungan, salah seorang nabi yang termasuk ulul azmi, sisi kehidupannya penuh dengan pengorbanan untuk Tuhannya dan menjadi tauladan yang baik untuk seluruh umat manusia setelah seperti ikhlas dan cinta kepada Allah yang melebihi cintanya kepada yang lainnya, Allah mengkaruniakan dua orang yang anak yang dipilih menjadi nabi ; Ismail dan Ishaq, beliaulah yang dijuluki dengan Israil, dan kepadanya pula kembali nasab (keturunan) Israil.

[4]. Musa AS adalah kalimullah dan salah seorang ulul azmi, Allah mengutusnya kepada Bani Israil untuk membebaskan mereka dari kedzaliman Firaun, dan diberikannya mukjizat untuk bisa menghadapi Firaun dan tentaranya, seperti terbelahnya lautan sehingga beliau dan kaumnya dapat menyebrang dan menghindar dari kejaran Firaun, sinar cahaya putih yang memancar dari ketiaknya seperti sinar matahari sehingga tampak tidak ada cacat dan cela, dijadikannya tongkat yang dimilikinya seekor ular agar bisa menandingi para penyihir yang menjadi tentara Firaun, bersama beliau nabi Harun –adik kandung nabi Musa- Allah mengutusnya untuk menemani dan membantu risalah yang dibawa oleh nabi Musa.

[5]. Daud AS salah seorang nabi dari bani Israil, Allah telah mengkaruiakan kepadanya antara nabi dan raja, diberikan kepadanya dua kebaikan –dunia dan akhirat-, beliau adalah salah seorang nabi yang diberikan kitab setelah nabi Musa AS, yaitu kitab Zabur. Allah berfirman : “Sungguh Kami telah lebihkan pada sebagian nabi dan Kami berikan kepada Daud kitab Zabur” (Al-Isra : 55)

[6]. Isa AS nabiyullah dan salah seorang nabi dari ulul azmi, Allah mengutusnya kepada Bani Israil dan mengajarkan kepadanya taurat dan injil, beliau lahir bapak dengan kehendak Allah, karena itu dia dinisbatkan kepada ibunya, Isa bin Maryam, saat disusui dengan seizing Allah nabi Isa bisa berbicara guna menjawab berbagai isu yang dituduhkan kepada ibunya. diantara mukjizat yang diberikan adalah dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati, ditupkan ruh atas burung yang terbuat dari tanah lalu hidup. Dan diantara risalah yang dibawanya adalah memberi kabar gembira akan datang nabiakhir zaman setelahnya, yaitu rasulullah saw, seperti dalam firman Allah : “Dan ingatlah ketika nabi Isa berkata : “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku ada seorang utusan Allah memberi kebenaran terhadap apa yang ada dihadapanku dan memberi kabar gembira dengan datangnya seorang rasul setelahku yang bernama : Ahmad”. (As-Shof : 6)

[7]. Al-Bahrul Muhith, jil. 7, hal. 210.

[8]. Tafsir Ruhul Bayan, Syeikh Ismail Hafi Al-barusuwi, jil 7, hal. 131, dar ihya turats al-arabi.

[9]. At-Taqwa fi hadyil Quran wa As-sunnah wa siyar as-solihin, ust. DR Muhammad Adib Salih, jil I, hal. 15, cet. I 1416 H/1996 M. dar el-qolam Damaskus, dan dar el-syam Beirut.

[10]. Lisan Arab, jil. 15, hal. 402.

[11]. At-taqwa fi hadyil Quran wassunnah wa siyar As-solihin, hal. 32.

[12]. Demikianlah yang diketahui kebanyakan orang tentang taqwa, sekalipun mereka kadang tidak memahami secara detail maksud dari arti tersebut.

[13]. Talq bin Habib al-anzi Basri, ahli zuhud terkemuka dan salah saorang ulama besar, memiliki suara yang indah saat membaca Al-Quran, berbakti pada orang tua. Thawus berkata : Tidak ada yang aku kenal dari seseorang kecuali dia yang indah bacaan qurannya dan paling takut kepada Allah.

[14]. Tafisr ibnu Katsir, jil. 7. hal. 466

[15]. Al-Manhaj al-qowim fi taasi birrasul al-karim saw, hal 144

[16]. Opcit.

[17]. Opcit.

[18]. At-taqwa fi hadyil Quran wa as-sunnah wasiyar as-sholihin, jil. 2, hal. 619.

[19]. Lihat kitab “ad-waul bayan fi idahil Quran bil Quran, Muhammad Amin bin Muhammad al-Mukhtar As-sanqiti, jil 6, hal. 513.

[20]. Lihat kitab “At-tafsir al-hadits, jil. 8, hal. 252.

[21]. Tafsir ibnu Katsir, jil. 3, hal. 467.

[22]. Imam Fakhrurrozi adalah Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin Al-Husain bin Al-Hasan bin Ali, Al-Qurasyi at-taimi al-Bakri, Fakhruddin Ar-Razi, Imam terkenal dan seorang mufassir terkemuka, satu-satunya ulama yang menggunakan logika dan tekstual serta ilmu para pendahulu, berasal dari Teberstan, lahir pada tahun 544 H di desa yang menjadi julukan pada namanya Ar-Rozi, diantara tulisannya “Mafatihul ghoib” dan Ma’alim Ushuluddin” dan lain-lain, wafat pada tahun 606 H.

[23]. At-tafsir al-kabir (mafatihul ghoib), Imam Fakhruddin Ar-rozi, wafat pada tahun 606 H, jil. 25, hal 190-191, dar el-kutub al-ilmiyyah, Bairut, Lebanon, 1411 H/1990 M.

[24]. At-tafsir al-kasyip, Muhammad Jawwad Mugnih, Jil. 6, hal 188. cet. II, Dar el-malayin, Bairut,  Lebanon, tahun 1980 M.

[25]. Opcit, jil. 6, hal. 189.


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 28/4/2008 / 21 Rabbi al-Thanni 1429 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

Belum Ada Komentar

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Maaf, untuk sementara kolom komentar tidak tersedia.

« sebelumnya
sesudahnya »