Ikhwanul Muslimin dan Partai Politik (2)

10/6/2009 | 16 Jumada al-Thanni 1430 H | 1,276 views
Oleh: Abduh Musthafa Dasuki
Kirim Print

gambar-ikhwanPenerjemah:

Abu Ahmad

_______

Sebelumnya kita telah membicarakan tentang makna politik menurut Ikhwanul Muslimin, sehingga banyak dari para peneliti dan penulis yang bingung dalam memahami pandangan Ikhwan tentang politik terutama sejak awal pendiriannya; dan bahkan banyak dari mereke memberikan tuduhan terhadap Ikhwanul Muslimin bahwa mereka hanyalah merupakan jamaah agama yang hanya menyeru pada ritualitas keagamaan belaka, namun telah terjerumus pada kondisi yang berbeda dan masuk dalam percaturan politik.

Hal ini merupakan pemahaman yang keliru; karena Ikhwan sejak berdirinya tidak pernah membedakan antara satu sisi suatu kehidupan dengan sisi kehidupan lainnya, baik agama, politik, sosial atau ekonomi, dan hal ini telah dijelaskan dalam risalah ta’lim yang ditulis oleh imam Al-Banna; agar menjadi mercusuar dan platform pada setiap perjalanan setiap Ikhwan, dan ditambah dengan pemahaman bahwa penolakan Ikhwanul Muslimin terhadap partai politik pada awal berdirinya adalah merupakan politik partisan yang selalu memecah belah bangsa dan tidak pernah menjadi sarana pemersatu, dan bahkan menjadi pemicu kehancuran di hadapan musuh yang selalu mengintai negara dan rakyat, dan karena itulah Ikhwan meminta untuk menjauhkan diri dari politik kepartaian dan berusaha menyatukan agenda kerja bangsa.

Adapun pemahaman politik dalam arti yang menyeluruh, sejak pertama didirikannya jamaah Ikhwanul Muslimin selalu bersemangat melakukan agenda politik, dengan cara menyampaikan nasihat kepada raja, pemerintah, lembaga-lembaga dan yayasan-yayasan.

Dan pada tulisan ini dan tulisan yang akan datang, kita akan membahas tentang upaya Ikhwanul Muslimin dalam memberikan nasihat dan arahan kepada pemerintah dan menentang berbagai penyimpangan yang mereka lakukan.

Dan pada edisi ini kita akan mengenal usaha dan upaya Ikhwanul Muslimin terhadap perdana menteri Muhammad Mahmud Pasha.

Muhammad Mahmud Pasha lahir di pesisir kota Saleem  ”Abu Teague” propinsi Assyut pada tanggal 4 April 1878, dan menyelesaikan studinya pada 1897, kemudian melanjutkan studi ke Balliol College of Oxford University, Inggris, dan memperoleh ijazah diploma dalam bidang sejarah, beliau merupakan orang Mesir pertama yang lulus dari  Oxford of University tersebut, dan setelah kepulangannya dari Inggris beliau diangkat sebagai inspektur pengawasan di Departemen Keuangan (1901 – 1902 m), kemudian dipindahkan ke Departemen dalam negeri, lalu diangkat sebagai asisten inspektur pada tahun 1904, kemudian diangkat sebagai sekretaris pribadi pada konsultan menteri dalam negeri Inggris tahun 1905.

Beliau membentuk pemerintahan pertama, dan memangku pos jabatan Menteri dalam negeri; dan disitu beliau melakukan politik tangan besi (dari 25 Juni 1928 hingga 2 Oktober 1929), kemudian menjadi ketua proses kemerdekaan konstitusional (dari 1929 – 1941), dan kemudian diangkat menjadi perdana menteri untuk kedua kalinya, sambil tetap menjabat pos Menteri dalam negeri ( Dari 30 Desember 1937 – 27 April 1938), dan pada pemerintahan ini beliau mengadakan pemilihan umum namun beliau melakukan kecurangan untuk kepentingan dirinya, sehingga beliau terpilih kembali sebagaiperdana menteri untuk ketiga kalinya (dari 27 April – 24 Juni 1938), dan beliau terus menggunakan politik kekerasan, dan akhirnya beliau menjabat perdana menteri yang keempat kali (dari 24 Juni 1938 hingga 18 Agustus 1939).

Usaha Ikhwanul Muslimin memberikan nasihat kepada perdana menteri Mohamed Mahmud Pasha

Ketika perdana menteri Muhammad Mahmud Pasha pada jabatannya, Ikhwanul Muslimin mengumumkan sikapnya, karena itu dalam editorial edisi pertama majalah An-Nadzir tanggal 30 Mei 1938, Imam Hassan Al-Banna berkata: “Kami memerangi setiap pemimpin, atau ketua partai, atau lembaga yang tidak bekerja untuk menegakkan Islam, seperti metode ini kami sampaikan kepada seluruh manusia, dan kami tulis untuk Rif’at Nuhas Pasha, Muhammad Mahmud Pasha dan Ali Maher Pasha, Hussein Sirri Pasha, dan lain-lainnya, dengan ini kami menginginkan adanya maaf di hadapan Allah setelah menyampaikan dakwah kepada mereka, dan mengarahkan mereka kepada apa yang kami yakini  di dalamnya ada kebaikan dan kebenaran untuk mereka dan untuk rakyat. ”

Dengan prinsip ini, Ikhwanul Muslimin dapat berinteraksi dengan pemerintah, sehingga kita dapatkan Imam al-Banna dalam tema: “Memorandum Ikhwanul Muslimin kepada perdana menteri ” di dalamnya beliau meminta kepada Pemerintahan Muhammad Mahmud untuk mengatasi dan memerangi kebodohan, kemerosotan, kemiskinan, dekadensi moral, kesehatan dan kemorosotan budaya yang merajalela di mana-mana, beliau berkata: “Wahai pemegang kekuasaan! Sesungguhnya obat ada di tangan kita, yang dapat ditetapkan manfaatnya melalui penelitian dan pertimbangan, yang didukung oleh sejarah dan kerja, dan kita tidak memiliki sarana penyembuhan dan kekuatan kecuali dengan membentangkan tangan bagi yang memiliki keberanian dan keikhlasan untuk menjadi obat, yaitu beriman kepadanya dengan keimanan yang mantap, dan saling berkontribusi, lalu menghadirkannya kepada umat secara gamblang, dan dengan penuh keberanian sertadengan penuh keseriusan. Tidak ada obat yang mujarab kecuali melalui ajaran-ajaran Islam dan syariat Islam, begitupula melalui Kitabullah yang tidak ada kebatilan di hadapan dan di belakangnya.

Wahai pemegang kekuasaan!

Jika jabatan perdana menteri takut digambarkan pembawa Islam, dan Anda memperkirakan adanya tuduhan seperti itu, dan Anda lebih suka menampakkan di hadapan manusia yang memiliki jarak yang jauh dari Islam dan tidak memberikan perhatian terhadap perkara keislaman bahkan tidak peduli terhadap yang lainnya, maka harapan pun akan hilang dan terus bertambah panjang kesengsaraan bangsa yang tidak menginginkan dari pemimpinnya untuk istiqamah di jalan yang lurus: “Jalan Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan di bumi”. (As-Syura:53). Seakan mereka semua sepakat pada satu kata.

Wahai pemegang kekuasaan!! Janganlah Anda menduga bahwa bangsa Mesir lemah jika ada seorang pemimpin, dan saya bersumpah untuk kalian, jika kalian berjalan dengannya pada jalan kemuliaan, akhlaq dan Islam yang benar maka kalian akan mendapatkan darinya bangsa yang memiliki kemuliaan, dermawan dan siap berkorban dengan jiwa dan hartanya dalam melindungi negaranya, berjuang untuk mempertahankannya, dan akan terus berjalan di belakang kalian menuju puncak kebenaran dan kebaikan, karena itulah maklumatkanlah ungkapan ini atas nama Al-Qur’an al-karim, dan tinggikanlah bendera yang menggelorakan semangat seperti jiwa Rasulullah saw.

Wahai penguasa yang terhormat!! Setelah penyampaian ini, dapat saya berikan beberapa usulan kongkret:

1. Teladan paling utama

2. Reformasi spiritual secara umum

3. Reformasi sumber-sumber tsaqafah publik

4. Reformasi hukum

5. Menanggulangi berbagai rintangan dan hambatan

6. Memanfaatkan waktu kosong

7. Menyatukan kekuatan dan kerja keras

Demikianlah usulan kongkretnya wahai saudara Rif’at!! Tidak ada sikap kami saat ini yang dapat kami angkat kepada Anda, dan selanjutnya kami akan memberikan usulan dari sisi manajerial dan ekonomis, dan untuk itu kami menyeru, sehingga kami dapat melihat pengaruhnya dari surat ini, dan kami sangat menanti adanya sisi perubahan dan perbaikan dari usulan-usulan ini”.

Asslamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Beliau juga menulis nasihat kepada pemerintah dengan tema: “Wahai para penguasa!! Luruskanlah jiwa kalian terlebih dahulu sebelum meraih jabatan, perbaikilah hati-hati kalian niscaya akan ikut baik dari para generasi dan pekerja di bawah kalian, karena kembali kepada yang benar adalah lebih baik daripada tetap berada pada kebatilan”. Di dalamnya beliau berkata: “Wahai para pemimpin, para menteri, para pengawas, para pemerhati, para pemimpi, para kandidat untuk posisi pemerintah dan manifestasi kekuasaan!! Selama kalian lemah dalam tekad dan kehendak serta manajerial, maka tidak akan mampu melayani warga dan negara Mesir. Dan selama kalian hanya mementingkan diri kalian sendiri dan lebih cinta pada diri kalian daripada negeri ini, dan kalian bekerja lebih banyak untuk kepentingan pribadi daripada untuk kepentingan umat, maka kalian mengalami degradasi dan kesenjangan psikologis; maka kalian lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah, dan lebih banyak berperilaku baik kepada Inggris dan asing serta non-muslim daripada berperilaku baik kepada Rasulullah saw dan umat setelahnya.. selama kalian saling dengki dan saling benci, menyimpang dari kesungguhan menjadi senda gurau dan kesia-siaan, dan tenggelam dalam berbagai acara pesta dan pernikahan, melakukan pelesiran antara Mesir dan Iskandariyah, tidak mau mendengar apa yang disampaikan oleh warga kecuali hanya pidato, janji-janji dan ungkapan biasa saja, maka selamanya Mesir tidak akan mengalami perbaikan di tangan kalian, dan kalian tidak akan mampu mewujudkan mimpi kecil dan besar mereka. Dan -ketahuilah- bahwa tindakan ini, sebagai usaha meluruskan kalian, akan terus terjadi setiap hari dan setiap waktu; sekalipun dalam berbagai corak jabatan dan sekalipun merupakan sosok yang berbeda dari jabatan perdana menteri.

Ketika diterbitkan buku putih yang dilakukan oleh penjajah Inggris saat itu: Ikhwanul Muslimin menolak penerbitan tersebut secara objektif dan subjektifnya. Ustadz Al-Banna –rahimahullah- membantah ketika Inggris menerbitkan buku ini tanpa bermusyawarah terlebih dahulu dengan salah seorang dari para pemimpin Mesir, penguasa pemerintahan dan para delegasi Arab peserta konferensi. Dan beliau melihat bahwa hal tersebut merupakan penghinaan dan pelecehan terhadap mereka, dan juga tidak menghargai hak-hak warga Arab yang telah dirampas, mengabaikan kepentingan mereka yang telah dicuri, begitu pula beliau melihat adanya politik tipu daya dan konspirasi yang terus menerus yang dilakukan oleh pemerintah Inggris terhadap permasalahan Palestina.

Karena itu beliau mengirim surat kepada perdana menteri, di dalamnya beliau menyampaikan: “Yang mulia Muhammad Mahmud Pasha, perdana menteri pemerintahan Mesir.. Saya ucapkan pujian kepada Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, dan shalawat dan salam semoga tercurah pada baginda Muhammad saw; sebagai hamba-Nya dan utusan-Nya, beserta keluarganya dan para sahabatnya.

Selanjutnya… sungguh telah tersebar di media-media tentang  naskah buku putih yang diterbitkan oleh pemerintah Inggris tentang Palestina, dan Ikhwanul Muslimin telah membaca buku tersebut yang penuh dengan cacat, pengingkaran dan provokasi… adapun cacatnya adalah pada peristiwa perang yang silih berganti yang terjadi di negeri Palestina yang tercinta dan penuh perjuangan, bagian yang sangat mulia dan berharga dari negeri Islam yang luas dan penuh berkah ini.. adapun bentuk pengingkarannya karena di dalamnya terdapat  penentangan secara terang-terangan  terhadap perasaan umat Islam, dan adanya pelecehan yang keras terhadap para pemimpin dan penguasa pemerintahan mereka. Adapun pemerintah Mesir terhadap pelecehan tersebut memiliki peran yang banyak; karena telah ikut andil dalam dialog antara London dan Kairo.. adapun bentuk provokasinya akan saya jelaskan kepada kalian secara gamblang dan detail..

Sejak berkecamuknya revolusi Islam di Palestina, dan Ikhwanul Muslimin ikut berpartisipasi dan berperan aktif serta berjuang bersama pasukan revolusi yang menakjubkan dan melalui kedermawanan  harta mereka –sekalipun sedikit-, dan semangat mereka- sekalipun terblokade di tempat yang sempit, dan kami selalu berusaha menenangkan gejolak marah mereka, sambil berharap kepada pemerintah Arab untuk menyelesaikan permasalahan Islam dan Arab dengan mewujudkan cita-cita umat Islam dan hak-hak Arab.

Kami juga memberikan motivasi untuk menerobos jalan perdamaian dari apa yang kalian serukan dan mengangkatnya sebagai solusi bahwa kepentingan negara Islam yang dekat memiliki hubungan dengan perjalanan damai dalam menciptakan suasana yang tenang, dan kami juga telah memperkirakan. Sekalipun demikian –sepanjang kondisi mengkhawatirkan- bahwa Inggris dan Yahudi tidak pernah mau memahami hal tersebut kecuali dengan satu bahasa yaitu bahasa revolusi, kekuatan dan darah… namun kami tetap berhati-hati untuk tidak terburu-buru dalam bersikap sehingga tidak ada seorang pun yang beralasan di hadapan kami untuk mengambil jalur yang disukai oleh hati nurani.

Saat ini, pemerintah Inggris dan Yahudi di seluruh dunia dan bahkan Yahudi Amerika secara terang-terangan melakukan dukungan sebagai syiar untuknya terhadap berbagai permasalahan dan problematika dunia, dan saat ini inggris dan Yahudi secara terang-terangan memusuhi umat Islam. Karena itu, sudah menjadi keharusan bagi setiap akh muslim untuk menunaikan kewajibannya dalam melakukan apa yang telah diridhai Allah dan Rasul-Nya, dan melakukan kewajiban dalam rangka menjaga izzah Islam dan kehormatannya, agama dan kesuciannya, karena hal tersebut merupakan bagian dari kesucian bagi negeri Islam dan kebebasannya

Wahai pemilik jabatan tertinggi!!

Sesungguhnya darah yang mengalir di bumi Palestina…

Sesungguhnya ribuan para syuhada yang telah mengorbankan jiwanya di jalan menuju kemuliaan Islam yang mulia…

Sesungguhnya para pemuda Arab yang diutus oleh inggris ke tiang gantungan berjumlah ratusan jiwa…

Sesungguhnya para senator yang di kenakan oleh kolonial dengan berbagai macam dan warna yang brutal serta penyiksaan yang merupakan gambar dari Inkuisisi terburuk pemerintahannya ..

Sesungguhnya masjid Al-Aqsa yang dinistakan kesuciannya, dan di musuhi oleh tentara Inggris akan kehormatannya ..

Sesungguhnya kehormatan para pemimpin Muslim, para raja dan para pejabat dan penguasa yang ikut andil dalam permasalahan ini, sehingga mereka tidak mau lagi mendengar kata musyawarah, tidak mau mentaati berbagai keritik, bahkan kehormatan diri kalian sendiri, kalian adalah harapan kami yang sangat besar dalam permasalahan itu…

Sesungguhnya setiap mereka hendaknya mampu menggerakkan setiap muslim untuk mau bergerak dan berkorban ke jalan yang dianugerahkan Al-Haq (Allah) dengan harta dan jiwa; sehingga menjadi pionir Islam yang dibawa, bendera yang diangkat, pemimpin yang Anda percaya kepadanya, dan menjadikan Anda memiliki kewajiban terhadap pemerintahan Mesir – yang telah menderita berbagai kehinaan – untuk mengembalikan kembali kehormatan, harkat dan martabat bangsa, tidak cukup untuk menyatakan bahwa tidak merekomendasikan Palestina untuk menerima White Paper, ada banyak cara yang dapat dilakukan minimal pemerintah berhenti untuk bekerja sama dengan Inggris, terutama pada saat politik Inggris bermain di dalamnya, di tempat yang paling strategis dari negeri Islam yang mulia.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pada pernyataan Perdana Menteri Muhammad Mahmud yang diterbitkan oleh koran (Al-Ahram) pada tanggal 20 Juni pada tahun 1938, ketika ditanya oleh wakil dari (Daily Mail): Apakah Anda berniat untuk mempelajari situasi di Palestina? Dia menjawab: “Saya Perdana Menteri Mesir, bukan perdana menteri Palestina”. Saleh Ashmawi menulis editorial yang berjudul: “Wahai rakyat Mesir hancurkanlah berhala kalian dan bersihkanlah rumah-rumah kalian untuk orang-orang yang baik-baik saja”, katanya: “Seharusnya editor dari (Daily Mail) dalam mengangkat Mohammaed Mahmud Pasha, perdana menteri Pemerintah Mesir, pemimpin dunia Islam, menyampaikan bahwa dirinya harus menerima pada saat berdialog dengan perdana menteri Inggris tentang Palestina, kemudian dia bertanya tentang niatnya pada permasalahan tersebut, maka jawabannya adalah: “Saya Perdana Menteri Mesir, bukan Perdana Menteri Palestina”.

Apakah Anda menyadari -wahai Pasha – Bagaimana pengaruh ungkapan Anda tersebut? Dan bagaimana hancurnya seakan seperti petir yang menghantam kepada semua warga Mesir, hal ini telah tersebar mengudara melalui siaran radio? Pernyataan ini adalah pernyataan yang paling menakutkan dan ibarat bom yang begitu dahsyat dan keji dibanding bom yang meledak di Al-Quds, sekalipun yang terakhir telah disampaikan oleh seorang gadis Yahudi.

Bahwa Palestina – wahai Pasha – tidak memerlukan seorang diplomat, karena di dalamnya terdapat para pahlawan mujahidin, karena itu, tidak akan adil dan tidak profesional menjadikan mereka sebagai subyek perbandingan dengan pemimpin dan perdana menteri Mesir, jika Perdana Menteri Mesir. Bahwa di Palestina terdapat generasi mujahidin dan pahlawan nan gagah berani dan lurus, dan berdiri tegak di hadapan Besi dan api, untuk menentang kolonial dan orang-orang Yahudi yang tidak biasa ke busur kepada wakil sam atau Duta Besar. Bahwa Palestina merupakan poros dan jantung seluruh umat Islam, sehingga tidak akan gentar terhadap pengingkaran seseorang, sekalipun ia adalah Perdana Menteri, atau diabaikan oleh setiap orang apapun kedudukan dan jabatan yang dimilikinya.

Karena itu selamat bagi Anda -waha Pasha – kalian telah meraih persahabatan dengan Inggris, mengabaikan kepercayaan warga Mesir dan Palestina, dan bahkan perasaan dan simpati dunia Arab dan umat Islam di seluruh dunia”

Ustadz Mohammad Abdul-Hamid Ahmad juga menulis kehinaan yang diderita oleh perdana menteri ini, beliau berkata: “Wahai Perdana Menteri Mesir saja, apa sebabnya Anda memisahkan diri dari perdana menteri Palestina yang menyebabkan kemarahan terhadap qadhiyah pada tahun terakhir ini di tempat yang sama, dan bahkan pada perasaan umat itu sendiri?.

Saya tidak merasakan apapun terhadap pengunduran diri Anda dan menjauh dari Palestina kecuali sebuah aturan yang dapat diterima pada hari itu, jika boleh  saya katakan: “Anda adalah pemimpin yang menjabat pemerintahan bukan pemimpin pemerintahan, bukan pemimpin harapan untuk membela martabat bangsa”.

Wahai Perdana Menteri Mesir bukan perdana menteri Palestina, apakah Anda memahami saham yang telah Anda kirimkan? Betapa banyak hati yang telah Anda lukai? Betapa banyak Kehormatan yang Anda hiraukan? Karena dosa apakah sehingga Anda mengeluarkan ungkapan singkat namun berbahaya tersebut”.

Pada tanggal 16 Syawwal 1355 H bertepatan dengan 31 Desember 1936 Lembaga wanita muda Mesir telah berubah menjadi partai politik, sebuah partai yang populer di kalangan kaum wanita muda Mesir, dan mengadopsi gerakan nasional yang kuat dan memiliki dampak negatif pada popularitas partai AL-Wafd di kalangan anak muda; sehingga partai Al-Wafd Mesir bergerak untuk melawan partai wanita Mesir, serta memberikan mandat kepada Mustafa An-Nuhas yang memiliki jabatan perdana menteri di Mesir pada tahun 1936 yang merupakan indikasi dari penganiayaan anggota wanita Mesir dan pembentukan kaos hijau, maka partai Al-Wafd membentuk lembaga mirip kemiliteran yang dikenal dengan “kaos biru”, dan bergerak menghantam geng wanita Mesir, sehingga mengakibatkan terbunuhnya dua orang warga, dan kemudian berakibat ditutupnya markas persatuan wanita muda Mesir, dan yang demikian itu cocok dengan kampanye politik yang dilakukan oleh An-Nuhas Pasha di lembaga DPR bahwa perkumpulan wanita muda Mesir bekerja sama dengan negara asing, terutama setelah kecelakaan yang menyebabkan An-Nuhas menembakkan senjata api, dan kemudian menutup perkumpulan wanita muda Mesir dan menangkap mayoritas anggotanya, terutama Ahmed Hussein.

Ketika Mohammad Mahmud Pasha, menjabat sebagai perdana menteri di Mesir pada akhir tahun 1937, beliau mengeluarkan surat keputusan yang melarang pembentukan dan pendirian kelompok yang bersifat kemiliteran di Mesir.

Perlu dicatat bahwa Imam al-Banna menolak tuduhan bahwa Ikhwanul Muslimin melakukan tekanan untuk melakukan konversi dari kelompok yang biasa kepada kelompok yang memiliki karakter militer seperti kelompok baju biru yang dimiliki oleh partai El-Wafd, dan kelompok baju hijau yang dimiliki oleh barisan wanita muda Mesir, dan bahkan menjadi kelompok brigade yang berinduk pada jam’iyyah al-kasyfiyah (lembaga kepramukaan), dan hal tersebut membuat miris pandangan Imam Syahid, karena kelompok-kelompok kemiliteran tersebut telah berubah pada bentuk kekerasan militer; sehingga perdana menteri Muhammad Mahmud Pasha pada bulan Januari tahun 1938 terpaksa membubarkan kelompok-kelompok tersebut, dan bersihlah kelompok Al-Ikhwan oleh usaha yang dilakukan oleh Imam Syahid.

Imam al-Banna dan Ikhwanul Muslimin telah bersikap keras terhadap permasalahan sosial masyarakat, berusaha melakukan perbaikan terhadapnya, dan menulis berbagai surat seruan, ajakan dan peringatan kepada perdana menteri dan para pejabat menterinya, sebagaimana beliau juga menulis di majalah (An-Nadzir) melalui ungkapan pemimpin redaksinya Ust. Saleh Asymawi yang mengecam dan mencela perdana menteri yang telah menerima dan melegalisasi prostitusi dan perzinahan baik secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, disebutkan: “Kami tahu – Wahai yang mulia – bahwa Anda telah membentuk di daerah pertanian di Mesir seorang gubernur dengan kebiasaan dan taqlidnya, sementara dalam tubuh Anda mengalir darah timur yang begitu panas, dan kami tidak menyangka bahwa sebagian waktu permasalahannya di Oxpord telah merubah karakter Anda, dan terjadi penghalang antara Anda dengan para gubernur terhadap adat dan taqlid, adapun Anda wahai yang mulia, Muhammad Husain Haekal menteri pendidikan- wahai pemilik kitab “Hayatu Muhammad” dan kitab “fi Manzil Al-Wahyu” sebagaimana adanya telah berteriak dengan kejahatan ini terhadap menteri yang mana Anda di dalamnya dan bertanggung jawab? Adapun kecaman yang besar ditujukan kepada menteri yang mulia Musthafa Bek Abdul Razak, menteri agama, sebagai penanggung jawab kebijakan persatuan strategi politik umum, bagaimana Anda rela –wahai yang mulia- bahwa Anda adalah alumnus universitas Al-Azhar dan bagian dari ulama Islam untuk diam terhadap kondisi seperti ini, seakan Anda telah mengabaikan urusan umat Islam dan hanya menjadi pejabat yang memerintah dan melarang saja?

Sebagaimana Ikhwanul Muslimin juga mengirim surat terbuka yang ditujukan kepada pejabat tinggi Abdul Salam As-Syadzili Pasha, menteri sosial , di dalamnya disebutkan: Buatlah undang-undang yang tajam dan hukuman yang memecut dengan keras kepada siapa saja yang melakukan perbuatan mesum baik laki-laki maupun wanita, melakukan pelecehan terhadap setiap wanita, dan bagi setiap wanita yang melakukan permusuhan terhadap wanita lainnya.

Jika kalian tidak memahami kondisi yang dikenal dengan kecemburuan dan keberanian serta keteguhan maka akan sulit dimasa mendatang mendapatkan suatu generasi yang masih dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur dan akhlaq yang mulia, dan akan sulit mengobati dan menyembuhkan penyakit yang telah mewabah dan menyebar ini, yang kian terus berkembang setiap harinya dan terus bertambah setiap waktunya, berjalanlah -wahai yang mulia- sesekali secara sembunyi-sembunyi, atau mengirim orang suruhan secara sembunyi-sembunyi ke suatu tempat; untuk melihat apa yang Anda lihat atau untuk melihat apa yang ia lihat. ”

Ikhwanul Muslimin sangat menolak keinginan dan niat Pemerintah Mohammad Mahmud Pasha mendirikan daerah café yang berbasis alkohol dan perjudian, dan melihat bahwa bahayanya tempat tersebut akan berakibat pada munculnya tari-tarian dan pelacuran secara terang-terangan, dan bahkan dapat menyebabkan ketidak nyamanan kehormatan keluarga , sedangkan di kota resor Casinos yang terletak di Kairo, yang tidak menghalangi laki-laki dapat didampingi oleh istri atau anak perempuan, sebagai sebagai sarana dan tempat amputasi nilai-nilai luhur dan akhlaq mulia, dan menyebarkan kerusakan dan perbuatan keji; dan disana akan tampak pemandangan wanita yang tidak pernah terjadi sebelumnya!!

Ketika Komisi khusus menetapkan pendapat Menteri dalam negeri akan pentingnya melakukan pemeriksaan medis untuk semua orang yang bekerja di cabarets (prostitusi), Ikhwanul Muslimin mengecamnya dengan keras dan berkata: “Kami tidak tahu apa yang menyebabkan adanya ruang ini, dan mengapa tidak dihapuskan saja sehingga dapat menghapus segala kerusakan dari akarnya, sementara kita mengumpulkan dana kepada negara dan hasil kerja dan keringat warga negara untuk diberikan kepada mereka untuk pemeriksaan kesehatan para penari?, berapa kali kami sampaikan: “Pencegahan lebih baik daripada pengobatan, dan Islam tidak memberikan pencegahan yang setengah-setengah”

Dalam sebuah memorandum Ikhwanul Muslimin yang dikirim kepada pemerintah tahun 1938 mereka meminta untuk melakukan pemisahan menyeluruh antara laki-laki dan wanita dalam bidang pendidikan, terutama di Universitas-universitas di Mesir; karena yang demikian dapat menyebabkan terjadinya kerusakan moral yang sangat besar.

Dan Ikhwanul Muslimin menganggap diamnya Syeikh Al-Maraghy saat perdana menteri Muhammad Mahmud melakukan perayaan pada pernikahan seorang Raja sehingga menjadi pusat perbincangan dimana-mana, khususnya ketika memiliki sikap lain yang bercorak politis, karena itulah Ikhwanul Muslimin bertanya-tanya: apakah hukum-hukum Islam telah berubah dengan adanya perubahan pada perdana menteri?

Perdana menteri Mohammad Mahmud adalah perdana menteri pertama yang melakukan penangkapan terhadap Imam Syahid Hasan al-Banna karena telah mendistribusikan buku yang berjudul: “Perang dan kehancuran di Palestina,” dan beliau merancang untuk membawanya ke pengadilan; sekiranya tidak ada intervensi dari kedutaan besar Inggris yang memandang bahwa pengadilan Hassan Al-Banna terhadap permasalahan tersebut akan menjadi penyebab menyebarnya ide-ide beliau, dan akan meningkatkan kebencian terhadap Inggris. Namun penangkapan terhadap anggota Ikhwanul Muslimin tetap terus berlangsungnya, melarang mereka mengadakan konferensi seperti yang berlangsung di Zagazig, dan Shebin El-koum. Namun, sekalipun demikian Ikhwanul Muslimin tetap melakukan pertemuan dan perayaan pemberian kehormatan terhadap para anggota dewan dan anggota senat yang berani mempertahankan gagasan Islam dan berjuang melawan ateisme dan pornografi di DPR dan Senat, di mana banyak dari mereka adalah para pemimpin.

Mungkin ada beberapa permasalahan yang terjadi berupa adanya aliansi antara pemerintah Mohammad Mahmud dengan Ikhwanul Muslimin, seperti yang dikutip sebelmnya sebagai bukti bahwa pemerintah Mohammad Mahmud tidak mengatur Ikhwanul Muslimin dalam menyelesaikan masalah tentang baju biru dari partai Al-Wafd, dan baju hijau untuk kelompok wanita muda Mesir, dan mereka telah mengatur bahwa pihak Ikhwanul Muslimin telah berkoalisi dengan partai minoritas untuk menentang Partai Al-Wafd, dan mereka merupakan alat yang ada di tangan mereka untuk memerangi partai Al-Wafd, sementara yang lainnya juga menganggap bahwa tindakan Ikhwanul Muslimin adalah sebagai tuntutan terhadap kolonialisme.

Namun mereka lupa bahwa tindakan personal dan pribadi yang dapat benar atau salah tidak menentukan adanya  hubungan erat antara Ikhwanul Muslimin dengan seorangpun, namun yang menentukan adanya hubungan adalah sikap timbal balik yang saling memberikan nilai positif antara Ikhwanul Muslimin dan Pemerintah.

Adapun permasalahan solusi perpecahan dalam tubuh militer, dan meninggalkan Rangers terhadap Ikhwanul Muslimin, pada tanggal 8 Maret 1938 dikeluarkan keputusan larangan adanya asosiasi atau kelompok yang memiliki bentuk kemiliteran, tidak ada pengecualian, namun tidak diterapkannya hal tersebut terhadap Ikhwanul Muslimin adalah karena brigade Al-Ikhwan telah terdaftar di lembaga kepramukaan nasional.

Adapun hubungan yang hakiki antara Ikhwanul Muslimin dengan perdana menteri Mohammad Mahmud dan menteri-menteri lainnya; faktor utamanya adalah karena dekat dan jauhnya para menteri dengan ajaran Islam, dan metode interaksinya dengan isu-isu nasional Islam, dan oleh karena itu Ikhwanul Muslimin memulai dengan memberikan nasihat, seperti surat yang dikirim imam Al-Banna kepada perdana menteri Mohamed Mahmud Pasha, dengan mengajaknya untuk menerapkan hukum Islam, dan meletakkan kepercayaannya kepada warga Mesir, dan memberikan dirinya dan menteri-menteri lainnya keteladanan yang baik kepada bangsa, berusaha memberantas kerusakan dan kehancuran yang melanda masyarakat, sebagaimana beliau juga mengajak untuk melihat hasil dari terjadinya perbedaan dan perselisihan pada satu sisi, dan persatuan dengan partai-partai lain dalam satu lembaga yang bekerja untuk kebaikan bangsa dan negara pada sisi lainnya.

Demikianlah sikap Ikhwanul Muslimin yang sebenarnya terhadap suatu pemerintahan dan yang lainnya, kadang mereka mendukung dan kadang pula menentang terhadap berbagai prinsip, dan inilah yang tidak banyak dipahami oleh mereka yang hanya mengikuti hawa nafsu dan kepentingan pribadi serta partai-partai yang mendukung partai mereka dan yang dekat dengan mereka, baik yang salah atau yang benar. Namun seorang muslim tidak mengenal al-hak hanya karena manusianya, namun mengenal seseorang dari kebenaran yang disampaikannya.

Dan pada bagian selanjutnya –Insya Allah- kita akan membahas bagaimana  interaksi Ikhwanul Muslimin dengan perdana menteri Ali Maher Pasha.

————–

Referensi:

1. Risalah Al-Muktamar As-sadis; majmuah rasail Imam al-Banna, dar el-dakwah tahun 1998.

2. Jum’ah Amin Abdul Aziz: Awraq min tarikh al-ikhwan Al-Muslimin, dar el-tawzi wa an-nasyr al-islamiyah.

3. Abdurrahman Ar-rafi’i: fi A’qab At-Tsaurah Al-Misriyah, dar el-ma’arif, at-tab’ah At-tsaniyah, 1989

4. Mahmud Abdul Halim; Al-Ikhwan Al-Muslimun, ahdats sona’at tarikh, dar el-dakwah, 1999.


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 10/6/2009 / 16 Jumada al-Thanni 1430 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

1 Message

asslmkm wr wb. alhamdulillah hari ini sy dpt bacaan baru, sepulang ulgn semester knaikan kelas lgsg browsing, artikelnya boleh saya copy, buat menyelesaikan tugas soalnya…??

 

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Tulis Komentar


« sebelumnya
sesudahnya »