Haniyeh: Pembentukan Pemerintahan di Ramallah Ranjau Dialog Palestina

13/5/2009 | 19 Jumada al-Ula 1430 H | 109 views
Oleh: Al-Ikhwan.net
Kirim Print

haneyya_tegas_300_0Tuntut Paus Minta Maaf atas Statemen Menyinggung

Haniyeh: Pembentukan Pemerintahan di Ramallah Ranjau Dialog Palestina

Gaza – Infopalestina:

Ismail Haniyeh, Perdana Menteri Palestina menegaskan bahwa pembentukan pemerintah baru Palestina di Ramallah sama saja dengan memasang ranjau terhadap dialog nasional Palestina di Kairo ibu kota Mesir. Ia menekankan bahwa pembentukannya ini mencerminkan eskalasi berbahaya.

Saat berbicara Selasa malam kemarin (12/5) dalam pertemuan terbuka resmi pertama kali pemerintah pimpinannya pasca agresi Israel, Haniyeh menegaskan bahwa sikap keras dan arogansi sebagian pimpinan Fatah dalam pembentukan pemerintah baru di Ramallah, mengindikasikan adanya kebodohan politik dalam skala prioritas. Ia menambahkan pihaknya berharap akan mengatasi kendala terhadap dialog bukan meletakkan ranjau.

Ia menambahkan, pembentukan pemerintah baru Palestina menunjukkan eskalasi berbahaya dan bisa mengantarkan dialog nasional Palestina yang disponsori oleh Mesir bisa berada di jalan buntu.

Haniyeh menyambut baik kunjungan Paus Benedictus XVI ke wilayah Palestina dan kunjungannya ke tempat kelahiran Yesus Kristus dan tempat-tempat suci di sana. Namun ia meminta agar Paus meminta maaf atas statemennya yang melecehkan Nabi Muhammad saw. yang pernah disampaikan tahun 2006.

Menjawab  statemen dan sikap Paus soal pentingnya pengakuan terhadap peristiwa Holocaust dan kunjungannya ke keluarga tawanan tentara Israel Gilad Shalit, Haniyeh menyerukan kepada Benedictus untuk mengunjungi Jalur Gaza dan mengawasi tingkat tragedi yang terjadi di sana dan memantau langsung Holocaust ril  yang dialami oleh rakyat Palestina.

Soal kunjungan PM Israel Benjamin Netanyahu ke sejumlah ibukota Arab, Haniyeh mengisyatakan bahwa pasti ada harga yang harus dibayar oleh elit Israel sebelum terbukanya pintu-pintu negara-negara Arab untuk menyambutnya yakni membebaskan Jalur Gaza dari embargo dan blokade, pembukaan perlintasan Jalur Gaza, crossings, menghentikan Yahudisasi Al-Quds. Ia meminta kepada semua pihak untuk menghadang politik-politik Israel ini.

Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyeh menegaskan bahwa Netanyahu tidak mengakui Negara Palestina bahkan dengan batas-batas 1967 sebab ia mendasarkan sikapnya bahwa konflik di kawasan ini sebagai konflik antara kubu extremis dan moderat.

Ia mengatakan, negara-negara Arab kini akan menyaksikan geliat politik yang dinamis hingga Juni depan. Bahkan Presiden Amerika Barack Obama mengungkap rencana-rencana baru soal perdamaian di Timur Tengah, masalah nuklir Iran. Ia menjelaskan bahwa langkah ini dirancang untuk memperoleh pengakuan dari negara-negara Arab terhadap Israel dan membatalkan hak kembali. (bn-bsyr)


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 13/5/2009 / 19 Jumada al-Ula 1430 H, dalam rubrik Akhbar Ikhwan. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

Belum Ada Komentar

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Tulis Komentar


« sebelumnya
sesudahnya »