Haniyah: Rekonsiliasi Tidak Akan Tercapai Hingga Kami Memiliki Palestina yang Merdeka

21/1/2010 | 4 Safar 1431 H | 211 views
Oleh: Al-Ikhwan.net
Kirim Print

haniyahHaniyah: rekonsiliasi tidak akan tercapai sampai kami memiliki Palestina yang merdeka

Perdana menteri Palestina di Gaza Ismail Haniyah menegaskan bahwa rekonsiliasi Palestina tidak akan berhasil sampai Palestina memiliki kebebasan dan independensi yang jauh dari tekanan dan dikte Luar Negeri.

Hal ini disampaikan oleh Ismail Haniyah dalam pernyataannya yang  disiarkan oleh televisi “Al-Quds” pada hari Selasa kemarin, beliau berkata: “Kami ingin dilakukan kesepakatan yang komprehensif dalam semua hal, untuk mencapai adanya ketentuan dan kesepehaman antara gerakan” Hamas “dan” Fatah”dalam koridor tertentu sehingga tidak terulang lagi dilakukannya usaha rekonsiliasi dan kesepakatan yang selalu gagal dan sulit tercapai; karena kita perlu rekonsiliasi sejati yang berlaku secara kontinuitas” sambil menuduh bahwa” hak veto ” Amerika merupakan penyebab utama terkatung-katungnya penyelesaian rekonsiliasi nasional saat ini.

Haniyah juga berharap agar rekonsiliasi kali ini dapat tercapai, karena hal ini sebagai langkah awal untuk memperkuat kemitraan dan merevitalisasi kerja dan aktivitas lembaga-lembaga dan institusi pemerintahan Palestina dan kerja “Dewan Legislatif Palestina” dan pembentukan pemerintahan konsensus dan persatuan.

Beliau juga menambahkan “Jika tidak ada kemauan politik di antara beberapa pemimpin di Ramallah; bahwa ada mitra dalam pemerintahan Palestina yang harus diajak bekerja sama dengannya, dan menyadari bahwa semua upaya untuk menghapusnya telah mengalami kegagalan; saya yakin bahwa langkah-langkah yang akan dicapai akan mengalami guncangan dan gangguan,” beliau juga menyeru untuk melakukan penyelesaian rekonsiliasi yang didasarkan pada kemauan politik dan perubahan dalam konsep yang lain; untuk melanjutkan adanya persatuan dan rekonsiliasi nasional, dengan mengatakan “Ayo kita bersatu dan belajar bagaimana kita bisa hidup dan bekerja bersama-sama, bukan untuk saling menghancurkan satu dengan yang lainnya.”

Dalam konteks terkait Haniyah membantah adanya laporan yang diberitakan oleh beberapa media, bahwa “Hamas” telah setuju melakukan penandatanganan Mesir namun dengan syarat harus dilakukan di ibukota Arab selain Mesir. Beliau menegaskan bahwa rumor ini merupakan bagian dari perang distorsi yang disengaja sehingga terjadi benturan antara gerakan dan pemerintah dari waktu ke waktu.

Disisi lain perdana menteri mengecam adanya kecaman membabi buta dan keji yang ditujukan kepada Sheikh Yusuf al-Qaradawi, beliau menyatakan solidaritasnya yang penuh kepadanya, dan beliau  menggambarkan bahwa serangan ini merupakan tindak “kezhaliman” yang ditujukan pada salah seorang ulama besar di era modern ini.

Beliau meminta kepada mereka yang telah menebarkan fitnah kepada ulama besar ini untuk meninjau kembali ungkapan yang rendah dan hina ini, begitu pula beliau menegaskan bahwa serangan ini terjadi bersamaan dengan adanya penangkapan yang dilakukan oleh penjajah Zionis terhadap Sheikh Raid Salah, serta menegaskan bahwa serangan tersebut ditujukan untuk meredam suara pergerakan dan adanya tuntutan memberikan perlindungan terhadap Al-Quds. Beliau berkata: “Suara mereka akan terus bergema dalam rangka membela Al-Quds bahkan hingga pada titik tidak ada lagi seorang yang mendekam di penjara-penjara Israel. ”

Adapun yang berhubungan dengan proses  penyelesaian, Haniyah mengatakan: “Kami tidak menentang segala usaha dan agenda politik yang matang dan mampu memberikan hasil untuk hak-hak bangsa,” dan beliau juga mempertanyakan: “Apa yang telah dihasilkan dari berbagai negosiasi yang dilakukan selama 18 tahun! diakui bahwa hasilnya adalah nihil dan pahit, bahwa usaha  ini tidak akan memberikan hasil positif, karena mengikuti aturan yang salah dalam memandang hak-hak warga Palestina “.

Adapun yang terkait dengan “dinding baja Mesir” Haniyah menegaskan bahwa tembok tersebut akan menambah kerumitan situasi kemanusiaan dan hidup di Gaza, beliau mengajak Mesir untuk menghentikan pembangunan tersebut, dan bekerja sama untuk menciptakan zona perdagangan bebas antara Gaza dan Mesir, dalam konteks penguatan hubungan. Beliau mengatakan bahwa “TIdak ada seorangpun yang memperdebatkan kedaulatan Negara Mesir pada tanahnya, namun pembangunan dinding dan penutupan satu-satunya jalan keluar bagi seluruh rakyat -tidak diragukan lagi- akan menambah kerasnya blokade terhadap Gaza, padahal Hukum internasional melarang setiap Negara mengambil tindakan apa pun yang dapat merusak kawasan perbatasan sebelahnya. ”

Beliau juga menegaskan bahwa sebenarnya Arab mampu menghancurkan blokade jika mereka memiliki keinginan untuk itu, namun karena tidak ada keinginan  maka Arab lemah dan tidak akan mampu menghancurkan dan mengakhiri blokade.

Ketika ditanya tentang pengalaman “Hamas”, beliau menjawab:  bahwa” Hamas “merupakan refleksi dari kehendak rakyat; dan hamas tidak hadir melalui kudeta, namun mereka ada dalam pemerintahan karena keinginan mereka (rakyat), dan pemilihan apapun yang diadakan pada masa yang akan datang, maka rakyat  sebagai penentu dalam memutuskan siapa yang berhak berkuasa,” sambil menjelaskan bahwa masuknya “Hamas” dalam pemerintahan mampu mengungkap wajah sebenarnya terhadap proses penyelesaian dan tipu daya yang dilakukan oleh banyak negara terhadap Palestina,” Pengalaman kami sangatlah berharga, sehingga patut dipelajari dalam beragai isinya; berbagai kendala dan kesulitan yang menghadang kami tidak akan mampu menghalangi kami untuk memiliki sikap tegas, sehingga Istana ini tidak boleh runtuh, dan benteneg tidak boleh hancur dan tidak melunturkan sikap-sikap kami.

Adapun yang berhubungan dengan usaha Pemerintah tentang akan diadakannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab di Libya, Hamas berharap KTT ini diadakan dalam suasana yang lebih baik terutama bagi Palestina dan Arab, dan berhadap rekonsiliasi dapat tercapai dengan baik, begitu pula dengan perselisihan yang terjadi antara pemerintah Arab dapat diredam dan dipupus sehingga dapat mencapai hasil nyata dan kongkret.

Sumber: http://www.almanar.com.lb/NewsSite/NewsDetails.aspx?id=120595&language=ar


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 21/1/2010 / 4 Safar 1431 H, dalam rubrik Akhbar Ikhwan. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

2 Komentar

Collapse Icon Akmal Burhanuddin 21 Jan 2010 pukul 14:44

Barokallah ustadz Haniye, Siru ala Barokatillah

 
Collapse Icon Ryan_al_minangkabawiy 21 Jan 2010 pukul 14:42

ukhuwah islamiyah adalah solusi segala permasalahan umat….Mari tingkatkan semangat berukhuwah

 

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Tulis Komentar


« sebelumnya
sesudahnya »