Oleh: Dr. Muhsin Muhammad Saleh
Penerjemah:
Abu Ahmad
_______
Apakah mungkin bagi Mesir dapat berinteraksi dengan Hamas sebagai aset strategis dan terbaik untuk melayani kepentingan keamanan nasional? Dan bukan sebagai masalah atau sebagai beban yang dapat menghalangi dan memberatkan posisinya, dan berharap sekiranya dapat lepas darinya?
Jelas bahwa sikap dari rezim pemerintahan Mesir dengan Hamas – terutama setelah berhasil memenangkan pemilu dan membentuk pemerintahan – seakan sebagai beban dan pembawa masalah, dan tanpa perlu diulang bahwa interaksi Mesir dengan pemerintah Hamas; dengan adanya sikap terhadap embargo, adanya usaha menjatuhkan pemerintahan Hamas di Jalur Gaza, adanya penutupan Perbatasan Rafah, adanya konsep perlawanan, adanya arus yang bermunculan dari kelompok-kelompok Islam, dan adanya pemerintahan Palestina, serta adanya agresi Zionis terakhir kali atas Jalur Gaza .. Semuanya menunjukkan -seakan- ada perasaan beban atau adanya suatu “masalah” oleh pemerintah Mesir yang bernama HAMAS.
Bahwa kebocoran yang terkait dengan penutupan perbatasan Rafah setelah HAMAS menguasai Jalur Gaza menyatakan bahwa Presiden Mesir Hosni Mubarak telah berbicara kepada sahabat dekatnya; bahwa dirinya tidak akan mengizinkan keberhasilan dan tegaknya pemerintahan HAMAS di Gaza, dan oleh karena itu HAMAS memahami bahwa penutupan perbatasan sebagai bagian dari proses kudeta secara tersembunyi yang gagal yang dilakukan oleh rezim pemerintah Mesir terhadapnya, apalagi ditambah dengan pengetatan perbatasan dan penghancuran terowongan, dan peristiwa-peristiwa yang terkait dengan para hujjaj (orang-orang yang ingin menunaikan ibadah haji), orang yang sakit, dan orang yang melakukan perjalanan serta yang kembali, seluruhnya menambah terjadinya ketegangan antara kedua pihak.
Sebagaimana dukungan dari pihak Mesir untuk mengirim tentara Arab ke Jalur Gaza ditafsirkan oleh HAMAS sebagai upaya untuk menjatuhkan pemerintahannya dan untuk memberikan dukungan kepada presiden otoritas dan gerakan Fatah untuk dapat menguasai kembali Jalur Gaza sebelum dilakukan pencapaian rekonsiliasi dan konsensus nasional, dan ketika HAMAS memberitahukan kepada Mesir tidak bisa berpartisipasi dalam dialog, maka Tanggapan Mesir secara lisan begitu keras dan marah.
Lampu hijau untuk agresi
Satu minggu sebelum agresi Zionis atas Jalur Gaza, wartawan koran (Maariv) berbahasa Ibrani (Ben-kaset 20/2/2008) memberitakan adanya perintah yang menyebutkan bahwa negara-negara Arab mempersilakan kepada entitas Zionis untuk melaksanakan tugasnya (melakukan serangan atas Jalur Gaza dan menjatuhkan pemerintahan HAMAS), koran tersebut berkata: “Setidaknya pada saat ini mereka memberikan dukungan untuk menghancurkan pemerintahan HAMAS dan membunuh para pemimpin Hamas, dan menyatakan bahwa pada salah satu suratnya dengan menyebutkan daftar nama-nama yang direkomendasikan untuk dibunuh terutama dari para pemimpin HAMAS.
Dan pada kunjungan Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni ke ibukota Kairo, Mesir, terjadi dua hari sebelum dimulainya agresi; menyatakan bahwa situasi akan berubah di Jalur Gaza, dan dia berkata bahwa kekuasaan HAMAS atas Jalur Gaza tidak menjadi permasalahan bagi “Israel” saja, kami memahami keinginan Mesir, dan apa yang kita lakukan adalah sebuah ekspresi dari kebutuhan daerah, hal ini menurut banyak kalangan telah menjadi lampu hijau dari Mesir untuk melakukan agresi.
Begitu pula para pakar menginterpretasikan desakan dari pihak berwenang Mesir untuk melanjutkan penutupan di perbatasan Rafah setelah dimulainya agresi dan tidak mengambil tindakan apa pun terhadap pembantaian yang dilakukan Zionis atas warga di Jalur Gaza, bahkan hanya sekadar menarik duta besarnya atau mengusir Duta Besar Zionis dari Mesir- seperti yang dilakukan oleh Venezuela – dan ditambah dengan isi surat Presiden Mesir dan inisiatif Mesir itu sendiri yang tidak mengakomodir kepentingan warga Palestina di Gaza..
Mereka menginterpretasikan ini semua sebagai tanda keinginan dari Mesir untuk menjatuhkan pemerintahan Hamas, dan ditambah pula adanya kedatangan Dahlan ke Kairo sebelum agresi bersama dengan banyak pengikutnya untuk mengatur strategi setelah jatuhnya Hamas.
Dalam beritanya juga di laporkan bahwa Presiden Mesir dalam pembicaraan dengan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy beberapa hari setelah dimulainya agresi untuk menekankan perlunya perubahan atas pemerintahan HAMAS, dan memastikan kembalinya kekuasaan Abu Mazen di Jalur Gaza, dan tercatat adanya dukungan lainnya dari negara Arab terhadap pilihan ini, ia berkata: bahwa Mesir tidak akan membuka perbatasan Rafah kecuali adanya kewenangan dan pengawasan dari pengamat internasional yang diawasi oleh “Israel” untuk mencegah terjadinya penyelundupan senjata di masa mendatang!.
Begitu pun pada informasi yang dekat dengan makna ini ketika berkunjung jenderal Amos Gilad, penasihat politik Menteri pertahanan Ehud Barak ke Mesir pada hari Kamis 8/1/2009; di mana ia berbicara kepada seorang pejabat senior keamanan Mesir, dan menegaskan bahwa kembalinya Otoritas dan Abu Mazen sebagai jaminan bagi dua pihak dalam mewujudkan stabilitas dan keamanan dan ketertiban.
Manakah yang menjadi Beban Berat?
Bahwa inisiatif Mesir yang diumumkan oleh Presiden Mesir, telah menjadi kekhawatiran HAMAS akan peran Mesir; karena dalam nash tersebut tidak ada pernyataan kutukan terhadap agresi brutal Zionist, tidak membedakan antara aggressor dan korban agresi, tidak ada permintaan dalam bentuk yang tegas untuk melakukan penarikan pasukan Zionis dari Jalur Gaza, bahkan sama sekali tidak berhubungan langsung dengan pihak pemerintah Palestina yang mengelola Jalur Gaza (HAMAS), dan melakukan pembelaan terhadapnya, dan ketika disebutkan disebutkan adanya kedua belah pihak; Israel dan Palestina mendesak untuk melakukan pertemuan untuk mencapai perjanjian dan menjamin tidak melakukan kembali serangan dan agresi dan mencari penyebab eskalasi; bahwa pihak Palestina yang dimaksud adalah pemerintah otoritas di Ramallah; dengan alasan bahwa merekalah satu-satunya faksi yang bisa bertemu dengan pihak Zionis.
Bahwa sikap rezim Mesir -terutama dalam beberapa periode terakhir- tidak mungkin dapat dipahami kecuali hanya menambah tekanan pada Hamas, dan mencerminkan sampai dimana pihak berwenang Mesir dapat berinteraksi dengan Hamas adalah sebuah beban berat!.
Strategi Keseimbangan
Bagaimana jika pandangan rezim Mesir terhadap Hamas dilihat dari perspektif yang lain; sebagai keseimbangan yang strategis yang dapat memberikan kepentingan nasional tertinggi Mesir?
Berikut ini kami sajikan fakta-fakta untuk memperjelas realita yang terjadi:
1. Gerakan Hamas yang terbatas aktivitas nya pada aksi nasional untuk mempertahankan bumi Palestina, tidak ikut campur terhadap urusan dalam negeri Mesir dan urusan negara-negara Arab selama dua puluh satu tahun, sejak dimulai pendiriannya, sebagaimana proyek Islam yang dilakukannya adalah terkait dengan kemerdekaan bumi Palestina, tidak mengancam rezim Mesir dan rezim negara-negara Arab yang sedang berkuasa.
2. Bahwa gerakan Hamas adalah gerakan independen, tidak pernah mau tunduk pada berbagai rezim atau pihak manapun, dan rezim Mesir adalah pihak pertama yang mengetahui bahwa klaim loyalitas pada “Iran” atau bekerja untuk kemaslahatannya adalah tidak benar, dan keuntungan yang di dapat oleh HAMAS dalam menjalin hubungan dengan Iran hanyalah untuk mendukung program perlawanan hanyalah sebagai alasan, terutama setelah diserang oleh rezim-rezim Arab dan tertutup baginya pintu-pintu dialog, dan kemudian gerakan ini memiliki tingkat dinamis yang memungkinkan mereka untuk menanganinya secara positif sekalipun dengan orang-orang yang berbeda dengan mereka.
3. Bahwa Hamas adalah gerakan yang berakar dari dalam dan luar, apalagi setelah menjadi pemimpin perlawanan Palestina pada tahun-tahun sebelumnya; mampu memenangkan pemilihan formal dan yang dilakukan secara adil di Tepi Barat dan Jalur Gaza, dan dari segi lembaga legislatif yang mewakili rakyat dari daerah-daerah tersebut, dan mencerminkan keprihatinan dan aspirasi rakyat, dan hal tersebut akan sia-sia jika melakukan marjinalisasi dan menyepelekannya.
Pengalaman menunjukkan bahwa semua upaya untuk menyerang dan memukul Hamas selama dua puluh satu tahun telah gagal, dan hal tersebut justru setiap kali dilakukan penyerangan menjadikannya lebih kuat dan lebih populer di tengah masyarakat Palestina.
4. Seperti yang sudah diketahui dalam perencanaan strategis, dengan apa yang dikenal sebagai sebuah ancaman nyata dalam negosiasi terhadap lawan atau musuh yang cenderung pada tipu daya dan bohong belaka, atau tidak memenuhi tuntutan minimum, dan satu-satunya ancaman nyata untuk penyelesaian negosiasi dengan Zionis adalah menghancurkan pasukan perlawanan bersenjata.
Bahwa melakukan pukulan terhadap pasukan perlawanan Palestina adalah merupakan pukulan terhadap sarana penekan hakiki bagi warga Palestina, dan menambah juru runding Palestina itu sendiri untuk serius mengambil seluruh hak-hak atau sebagian hak-hak warganya, kemudian meletakkannya pada “kondisi” dan “lumpur” yang tidak mungkin terjadi kecuali harus melaksanakan syarat-syarat yang dibuat oleh penjajah.
Adalah menyedihkan bahwa Zionis berseliweran di pasar dengan beberapa rezim Arab dan menjadikannya sebagai mitra dalam perang melawan “kelompok ekstrimis dan teroris”, sedangkan pada saat yang sama dirinya (Israel) juga memerangi Hamas dan kekuatan pasukan perlawanan; untuk dapat terus menguasai Tanah Suci dan me-yahudikannya serta menghinakan warganya, dan, pada saat yang sama pula rezim-rezim Arab berpura-pura tidak melihat terhadap HAMAS dan pasukan perlawanan; untuk menganggapnya sebagai simbol kemuliaan dan martabatnya, sebagai lini pertahanan bangsa yang maju untuk kepentingan umat, bahkan kemuliaan yang hakiki terhadap tuntutan politik.
Bahwa kedua pihak; Zionis dan Amerika sangat memahami akan bahasa kekuatan dan kepentingan, dan keberadaan HAMAS harus dilakukan dengan cara berinteraksi dengannya dalam bentuk nilai tambah bahkan pada kelompok yang bertentangan dengannya sekalipun.
5. Tanpa mengurangi penghormatan yang besar kepada bangsa dan tentara Mesir, yang tidak memiliki kesempatan untuk berperang secara nyata; Rezim Mesir telah mengalami kerugian di Jalur Gaza saat perang terjadi pada tahun 1967, perang yang terjadi hanya dalam satu hari, sementara Jalur Gaza tetap tegar selama lebih dari tiga minggu yang dipimpin oleh HAMAS, tanpa ada yang mampu dari alat-alat perusak Zionis yang modern untuk bisa masuk ke kota-kota di Gaza.
Bahwa pihak Keamanan nasional Mesir menjadikannya sarana penting untuk mempertimbangkan gerakan perlawanan Palestina dengan standar untuk mencari elemen positif dan potensial, dan dapat dilihat di sini pada nilai dari kekuatan perlawanan yang populer dalam kondisi tidak adanya tentara yang terstruktur mampu atau ingin terlibat masuk dalam perang atau melakukan peran tertentu.
6. Proses reformasi di Palestina -apakah berhubungan dengan PLO atau Otoritas Nasional Palestina atau layanan keamanan – akan terjadi hanya dengan partisipasi dari HAMAS. HAMAS yang tepat untuk mengambil alam yang adil dan peran yang positif dalam proses ini.
Selain itu, Hamas terus menikmati banyak kohesi dan efektivitas tinggi dalam setiap perintahnya dibandingkan dengan adanya kehancuran oleh karena tindak korupsi dan penurunan popularitas yang dialami oleh gerakan Fatah, yang tidak lagi dapat dicapai selama dua puluh tahun terakhir.
Pada ini, Mesir cepat atau lambat, baik dengan pemimpin HAMAS di Palestina atau masyarakat sebagai mitra dalam kepemimpinan, sehingga sistem yang pertama untuk membawa Mesir untuk mencapai pemahaman dengan pergerakan, dan memberikan keuntungan dalam meningkatkan plafon dituntut oleh bangsa Palestina.
7. Bahwa cara yang dilakukan oleh pemerintah Mesir dalam menjalin hubungan dengan HAMAS – termasuk masalah Jalur Gaza dan perbatasan Rafah- telah menimbulkan kemarahan warga Mesir dan warga Arab dan dunia Islam dan bahkan dunia internasional, dan menyebabkan kerugian besar pada diplomasi Mesir, menjatuhkan kewibawaan dan posisi tawar Mesir. Padahal sekiranya pemerintah Mesir mau membuka pintu perbatasan Rafah dan menggagalkan blokade maka akan mendapatkan banyak keuntungan:
-Mencapai popularitas besar dari warga Mesir dan menguatkan front internalnya.
- Membuat masalah blokade sebagai masalah Zionis saja dan bukan masalah Mesir.
- Meningkatkan kemampuan untuk mempengaruhi; baik kepada Hamas dan Fatah dalam mempercepat langkah rekonsiliasi nasional.
8. Bahwa entitas Zionis masih menganggap Mesir sebagai musuh, dan berusaha mengembangkan strategi sesuai dengan standar-standar dan prospek masa depan untuk melakukan perang dengan Mesir dan negara-negara Arab, dan Mesir berhak untuk menyesuaikan strategi mereka sesuai dengan kemungkinan adanya agresi Zionis, khususnya pada perundingan “Camp David” yang membuat wilayah Sinai jatuh secara militer.
Oleh karena itu, dengan adanya fraksi perlawanan yang kuat di Gaza tidak hanya menjadi unsur pelindung bagi warga Palestina untuk mencegah mereka dari pengusiran, kelaparan dan kehinaan, tetapi juga akan menjadi unsur pertahanan, garis terdepan dan pencegah entitas Zionis melakukan petualangannya; baik yang telah diperhitungkan atau yang belum diperhitungkan melawan Mesir.
9. Sistem monarki di Mesir telah jatuh sejak tahun 1952 ketika sedikit sekali memberikan pembelaan terhadap hak warga Palestina pada perang tahun 1948, dan membawa Mesir selama bertahun-tahun menanggung beban kepemimpinan dari bangsa Arab untuk kemerdekaan Palestina, sementara warganya masih terus aktif memberikan kontribusi dan mengerahkan potensi.
Hal ini tak masuk akal untuk negara yang berhasil meluncurkan pasukan untuk kemerdekaan Palestina pada perang Salib dan perang Tatar; apakah -Mesir- saat ini tidak mampu melakukan tindakan walau sekadar mengusir duta besar Zionis atau menarik duta besarnya sendiri.
Bahwa yang diminta dari rezim dan pemerintahan Mesir pada fase ini tidaklah banyak, hanya diperlukan untuk tidak menjadi mitra dalam melakukan blokade, dan menyatakan bahwa ia tidak lagi terikat dengan adanya penutupan perbatasan Rafah atau perbatasan-perbatasan lainnya; karena Zionis sendiri tidak menghormati kesepakatan tentang garis perbatasan dan melakukan pelanggaran hingga ratusan kali, dan juga mengumumkan bahwa Mesir tidak akan masuk ke dalam berbagai perjanjian baru yang tidak menjamin penuh hak-hak Palestina, serta keamanan nasional Mesir.
|
| Ke atas.
RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI
marilah kita berdoa di dalam hati kita masing-masing,kita tidak perlu menunjukkan kekhalayak ramai bahwa kita sudah berdoa bagi mereka(bangsa palestina). sudah tindakan yang sangat munafik …
Ya…Allah….
aku bermohon kepada-Mu…
Lindungi bangsa Palestina dari kebiadapan bangsa yahudi laknatullah…
Ya Allah…. Ya Rabbi….
Tunjukan kekuasaanMu untuk kemenangan bangsa Palestina.
Turunkan Malaikat – malaikatMu untuk menolong saudara2ku di bumi Palestina tercinta. Selamat Berjihad Saudara2…ku.
Tunggu aq di Janah-Nya….Amien.
Ya ALLAH berikanlah kekuatan bagi saudara2 kami di Palestina, turunkanlah atas merek arezeki yang berlimpah, berilah kesabaran dalam ujianMu, tunjukanlah ya ALLAH kekuasaanMU atas musuh2MU. Hancurkanlah musuh2MU, lumatkanlah mereka, tunjukkanlah bahwa siapa yang benar dan siapa yang ENGKAU murkai. Kirimkanlah kepada saudara2 kami di Palestina dan Gaza balabantuan seperti telah ENGKAU kirimkan bala bantuan ketika abrahah akan menghancurkan rumahMU. Tiada daya selain dengankekuatanMu, JIka tidak kepadMU ya ALLAH kepada siapa lagi kami memohon pertolongan.