Bendera Perdamaian Internasional Yang Dibawa Oleh Islam

17/6/2008 | 12 Jumada al-Thanni 1429 H | 729 views
Oleh: DR. Muhammad Mahdi Akif
Kirim Print

rayah-islam.jpg 

“Dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan”. (Al-Maidah:16)

Penterjemah:

Abu Ahmad

_______ 
 
Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, Al-Mursyid Am Al-Ikhwan Al-Muslimun, 12-06-2009

Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam, salawat dan salam semoga tercurah atas Muhammad bin Abdullah; nabi yang ummi dan amin, beserta keluarga, sahabatnya dan para pengikutnya hingga hari pembalasan, selanjutnya…

Kita beriman dengan yakin bahwa waktu dan hari selalu berputar, dan bahwa negara zhalim hanyalah sesaat, sementara negara yang berada diatas kebenaran akan berdiri hingga hari kiamat, seperti yang kita saksikan dalam realita yang terjadi saat ini terhadap kemanusiaan secara keseluruhan sehingga mengancam potensi kelangsungan, pertumbuhan dan peningkatan, dan memberikan perasaan, bahwa kita berkewajiban untuk melakukan perbaikan, karena perubahan sangatlah pasti bagi siapa yang memiliki akal untuk bergerak, membangunkan umat dari kelalainnya sehingga siap menghadapi musuhnya.

Karena itu persatuan manusia; yang terikat dengan wawasan kenabian seperti yang termaktub dalam sabda Rasulullah saw:

إن الله قد أذهب عنكم نخوة الجاهلية وتعظُّمهما بالآباء.. الناس لآدم، وآدم من تراب، لا فضل لعربي على أعجمي إلا بالتقوى

“Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian keburukan jahiliyah dan bangga terhadap nenek moyang kalian… padahal manusia adalah dari nabi Adam, dan nabi Adam dari tanah, tidak ada yang lebih utama bagi arab atas ajam (non arab) kecuali taqwa”,

yaitu sebagai dasar akan hilangnya jiwa dari kondisi yang memilukan saat ini; kondisi yang telah menghilangkan manusia dari nilai-nilainya, mengubah dirinya pada oreintasi materi yang kosong dan mengobarkan disekililingnya undang-undang rimba yang hanya memenangkan orang-orang yang kuat terhadap orang-orang yang lemah dan tertindas.

Sebagaimana mengharuskan manusia untuk kembali pada asal dari dibangkitannya dirinya dan pondasi kekuatannya yang terbentang dari penciptaannya sebagai anak cucu dari nabi Adam, sehingga mengharuskan padanya persatuan dengan mewujudkan saling tolong menolong, gotong royong, saling berdamai, saling berkasih sayang dan saling memberikan arahan, bersamaan dengan ini yang lebih utama adalah melakukan ijtihad dalam berkreasi dan berprestasi terhadap kebenaran, keadilan dan kebebasan untuk meningkatkan kehidupan insan yang lebih sejahtera. Inilah dasar pandangan Islam terhadap manusia, dan juga yang merupakan pandangan Al-Ikhwan Al-Muslimun sebagai dasar proyek kebangkitan insan pada zaman modern saat ini.

Bahwa Al-Ikhwan Al-Muslimun saat ini menyeru kepada seluruh dunia untuk kembali memfungsikan pandangannya terhadap risalah Islam; untuk berdiri tegak diatas pondasi-pondasinya; sehingga mampu meningkatkan derajat manusia hingga ke langit yang tinggi; mengubah mereka tanpa mengekplorasi potensi dan kekayaan lingkungan dengan pertikaian diatas bumi yang subur dan kering :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ. أَلا إِنَّهُمْ هُمْ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ

“Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan. Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar”. (Al-Baqoroh:11-12)

Sebagaimana Al-Ikhwan Al-Muslimun juga menyeru kepada seluruh orang-orang yang mau berfikir untuk optimis pada seruan Allah kepada seluruh manusia; yang termaktub dalam kitab-Nya Al-Qur’an al-karim; kepada mereka yang melanggar batas-batas pembagian geografi dan perjanjian-perjanjian negara; mengajak kepada seluruh manusia di dunia ini :

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”. (Al-Furqan:1)

Dan hal ini bertujuan untuk meletakkan dasar-dasar spiritual dan materi untuk persatuan seluruh dunia; seperti yang difirmankan Allah:

ِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنْ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“(yaitu) untuk mengeluarkan manusia dari kezhaliman menuju cahaya”. (Ibrahim:1)

Sejenak akal manusia hendaknya berfikir dan merenung pada hakikat dakwah ini; bahwa dirinya menyadari akan hal tersebut yang merupakan bagian dari dakwah yang mampu memformulasikan persatuan dibawah perdamaian dunia internasional; yang membawa cahaya hidayah bagi seluruh manusia, jauh dari pembumi hangusan materi yang berada di bumi yang basah (subur) dan kering (tandus); dengan alasan kewajiban mengembangkan dan meningkatkannya untuk negara dan bangsa yang membutuhkan dan yang terlantar, dan melindunginya dari perkara-perkara yang mengarah pada kehinaan dan paksaan.

Dan sungguh, lahirnya peradaban modern menjadi bagian dari sarana kehancuran terhadap manusia, gemerlap dengan berbagai hiasannya, dan dunia tunduk dengan berbagai macam ilmu pengetahuannya, namun masih saja merintih dihadapan para pemilik ketamakan, mengubah proyek politiknya pada pembantaian yang menyakitkan, saling melumat prinsip-prinsip ekonominya dengan melakukan kesakitan akibat lapar, gelombang penimbunan harga dan kejahatan para pengangguran.

Adapun kaidah kemasyarakatan, yang pondasi-pondasinya dihembuskan dengan cangkul kebebasan dalam pergaulan, kebebasan kehidupan dan gaya hidup yang tercela, gelombang model yang membangkitkan syahwat, sehingga tidak ada tempat berlindung dari semua ini kecuali mengikuti arus, apalagi setelah seluruh lembaga-lembaga internasional mendukung permainan yang berada di tangan para pemilik kekuatan; melalui muktamar-muktamar, pertemuan-pertemuan dan perjanjian-perjanjian sebagaiman yang mereka kehendaki dan mereka inginkan… sehingga memberikan mereka peluang agar leluas memperlakukan kaum lemah, memberikan peluang untuk merampas kekayaan-kekayaan alam negara secara zhalim, memberikan perlindungan kepada mereka untuk melakukan kejahatan, sehingga muncul pertanyaan  yang keluar dari dalam umat terhadap realita ini.. Apa jalan keluarnya?!

Realita kemanusiaan juga harus ditinjau ulang terhadap risalah-risalah langit; guna memberikan naungan terhadap bendera Allah dan bendera Al-Qur’an, dan memberikan hidayah pada jiwa manusia yang kosong; untuk menghidupkan iman yang telah mati, dan membangkitkannya kembali setelah mengalami kelemahan…

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan Apakah orang yang sudah mati kemudian Dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu Dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”. (Al-An’am:122)

Saatnya manusia memahami jalannya menuju cahaya, bergerak bebas dari berbagai belenggu ikut-ikutan dan taqlid :

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنْ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمْ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمْ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ

“(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung”. (Al-A’raf:157),

Mengulang kembali ungkapan Rib’I bin Amir: “Kami adalah kaum yang diutus untuk mengeluarkan hamba dari penyembahan hamba kepada penyembahan Tuhan hamba, dari kezhaliman agama kepada keadilan Islam dan dari sempitnya dunia kepada luasnya dunia dan akhirat”.

Wahai umat Islam

Jika kedzaliman saat ini menguasai, dan berjalan di kegelapan begitu kelam, putus asa seringkali lebih cepat menyergap ke dalam jiwa daripada cita-cita dan asa. Bahwa kezhaliman memiliki kuasa, sehingga berusaha mengalahkan bendera kebenaran; maka dihadapan kalian ada kebenaran hakiki.

Dibawah reruntuhan realita dunia yang siap mencerabut kebudayaan kalian, karena itu formulasikanlah jiwa kalian pada kekuatan kebenaran, yang dengannya kalian beriman, kepadanya kalian bersandar dan dengannya pula kalian mengarungi jalan menuju ridha Allah. Tidak ada yang mampu membuat kalian berada dalam realitas kebenaran kecuali Allah; seperti yang telah ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنْ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (Ali Imran:110)

Berusaha dan bersegera menggapai kedudukan mulia umat yang akan menjadi saksi:

وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

“Supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong”. (Al-Hajj:78)

Ketahuilah bahwa dunia saat ini sangat membutuhkan kalian dengan apa yang kalian miliki dari kehidupan robbani, tsiqoh pada pertolongan Allah :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمْ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik”. (An-Nuur:55);

Namun dengan syarat harus merealisasikan makna ubudiyah kepada Allah, ikhlas untuknya, memproklamirkan dengan tegas bahwa bendera agama Islam adalah keadilan…

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah…”. (Al-Maidah:8),

Dan seluruh manusia dihadapan Islam adalah sama; karena Islam memandang dalam seluruh risalah langit yang diturunkan ke bumi bahwa seluruh anak cucu nabi Adam dihadapan neraca kebenaran adalah sama derajatnya

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمْ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan”. (Al-Hadid:25)

Jadilah dalam kebaikan diberbagai lini kehidupan contoh yang baik bagi pembangunan insan; yang subur dengan seni kehidupan, yang kesemuanya mengikuti undang-undang kehidupan, memberikan kabar gembira dengan kemenangan dan keberuntungan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan”. (Al-Hajj:77),

Dan berbagai lini kehidupan merupakan perbuatan yang merupakan kewajiban untuk dijalani; karena orang yang berjalan diatas jalan kebaikan pasti akan sampai, karena walaupun manhajnya robbani namun tanpa ada usaha maka tidak akan mampu diraih oleh pengikutnya kecuali kerugian, keterbelakangan, ikut-ikutan dan perpecahan; karena kemuliaan manhaj tidak akan dapat digapai buahnya hanya dengan angan-angan dan mimpi belaka

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلا نَصِيرًا

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah”. (An-Nisa:123)

Wahai ikhwan sekalian

Ketika Al-Ikhwan Al-Muslimun meminta kepada seluruh umat di dunia untuk kembali memandang kepada Islam, dan meletakkannya pada neraca logika, guna meyakinkan akan jati dirinya, pondasi-pondasinya dan karakteristik kebersihan jiwa manusia… maka bagi para penerus dakwah hendaknya selalu siap dalam memaparkan Islam, selama mereka ridha dan setia memegang perjanjian dengan Allah, menyeru kepadanya setiap malam dan siang hari dengan pujian-pujian

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ

 “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki Kami kepada (surga) ini. dan Kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi Kami petunjuk”. (Al-A’raf:43)

dan bersegera lari dari teras kelompok yang akan diganti oleh Allah dengan mereka.. pada saat

يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ

“Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. (Al-Maidah:54)

Merasakan adanya makna robbani yang muncul oleh adanya hakikat keimanan kepada Allah yang menjadi tujuan, memiliki derajat yang tinggi bagi orang yang loyal kepadanya, dan bangga dengan memilki keyakinan kepadanya.

Maka dari itu jadilah kalian wahai al-ikhwan pionir di tengah umat dalam dakwah untuk menuju kembali kepada Islam sebagai manhaj kehidupan; merasuk ke dalam jiwa kalian dalam berbagai perbuatan sebelum ucapan, dan demi Allah, hal ini tidak akan hadir, kecuali dengan perbuatan dan kerja yang terus menerus dalam berbagai lapangan kehidupan yang luas; melakukan jihad,  konsep, pembanguan dan pemakmuran di seluruh penjuru dunia, dan jadikanlah kerja yang sungguh-sungguh sebagai syi’ar pada fase di dalamnya memproklamirkan kemunculan umat Islam seperti lahirnya seorang dokter yang akan mengobati luka manusia dengan obat al-muhammadi

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

“Katakanlah: “Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”. (Al-A’raf:158)

Dan janganlah meminta urusan dari selain kalian suatu perbuatan sementara kalian hanya memerintah, namun jadilah kalian orang yang pertama kali mengerjakan; baik dalam bentuk ibadah dan tauladan serta keimaman, karena

إِنَّا لا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلاً

“Kami sama sekali tidak menyia-nyiakan ganjaran bagi orang yang berbuat kebaikan”. (Al-Kahfi:30),

Luruskanlah tsaqofah keputus asaan dengan keyakinan orang-orang beriman dan keteguhan orang-orang memiliki keterikatan, dan jadikanlah Islam sebagai tsaqofah kehidupan bagi seluruh umat manusia, meluruskan kehidupan kalian melalui akal yang memiliki kesadaran, hati yang tenang dan badan yang bersih, sehingga dengan itu semua mucul perasaan tsiqoh akan janji Allah terhadap kebenaran

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi”. (Al-Fath:28),

Karena itu tidak ada janji kemenangan dari itu semua kecuali saling memberi wasiat untuk teguh dalam kebenaran dan sabar diatasnya

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (At-thalaq:3)

Salawat dan salam selalu tercurah pada nabi Muhammad saw, beserta keluarga dan sahabatnya.

Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. 


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 17/6/2008 / 12 Jumada al-Thanni 1429 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

Belum Ada Komentar

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Maaf, untuk sementara kolom komentar tidak tersedia.

« sebelumnya
sesudahnya »