Bagaimanakah Membentuk Tarbiyah Al-Muqawamah dan As-Shumud?

1/2/2009 | 4 Safar 1430 H | 1,034 views
Oleh: Al-Ikhwan.net
Kirim Print
Bagaimana membentuk tarbiyah muqawamah dan as-shumud?

Bagaimana membentuk tarbiyah muqawamah dan as-shumud?

Penerjemah:

Abu Ahmad

________

Ada beberapa nilai-nilai yang menjadi pokok utama dalam membentuk pribadi memiliki sikap muqawamah dan shumud, yang mana keduanya juga sangat dibutuhkan oleh para duat yang menginginkan kemenangan terhadap kebenaran yang diembannya, mampu mengalahkan dan menghancurkan kezhaliman. Begitupun bagi setiap orang yang sedang mencari kemenangan dan memerangi kebatilan.

Nilai-nilai yang butuh kita pelajari dan mengajarinya kepada orang lain dan kepada  anak-anak serta keluarga.. sehingga dengannya kita mendapat keyakinan bahwa dalam kehidupan ini telah ditetapkan adanya perseteruan antara al-haq dan al-batil, dan tarikan kejahatan akan terus terjadi sehingga menjadi satu bagian dari pembentukan jiwa setiap insan…

Adapun nilai-nilai yang perlu kita ketahui tersebut adalah:

Gaza; gerbang kemenangan dan kemuliaan

Gaza; gerbang kemenangan dan kemuliaan

Pertama: Al-Fahmu (Pemahaman) 

Bahwa tidak mungkin seseorang dapat mempertahankan suatu masalah dan berusaha mengajak orang lain pada kebenaran yang dibawanya kecuali dirinya harus lebih dahulu memahami berbagai aspek permasalahan yang ada secara gamblang dan mendetail, sehingga dapat menolak berbagai syubhat, tegar menghadapi berbagai usaha keragu-raguan dan pengkaburan ideology. Hal ini merupakan tembok pertama untuk menghadang berbagai trik dan tipu daya yang ingin membuat keraguan dalam fikrah dan akal manusia. Karena itu, al-fahmu merupakan sarana untuk melindungi akal dan fikiran manusia, dan merupakan tembok yang kokoh untuk menghadap  setiap usaha orang yang ingin membuat keraguan, atau melemparkan pemilik akal menjadi oportunistis, lemah kreativitas atau senang dengan kebanggaan dan ketenaran. Karena itu pula Rasulullah saw bersabda:

فقيه واحد أشد على الشيطان من ألف عابد

“Satu orang faqih (berilmu) lebih ditakuti syaitan daripada 1000 orang abid (ahli ibadah)” (Tirmidzi).

Kedua: Iman kepada Allah dan tsiqah terhadap kemenangan.

Jika al-fahmu merupakan kekuatan ideology yang dapat melindungi akal dan penghadang fikiran-fikiran rusak lainnya. Maka iman kepada Allah; merupakan kekuatan jiwa yang dijadikan sandaran oleh orang-orang beriman berupa keyakinan dan keimanan kepada Allah; kekuatan yang dapat membuat hati memiliki hubungan yang erat dengan Allah secara kontinyu, tidak pernah kehilangan sedikitpun akan perasaan dekatnya kepada Allah walau dalam kondisi apapun dan situasi bagaimanapun; kekuatan yang dapat membuat kebatilan takluk walaupun dalam kondisi yang lebih unggul dan lebih kuat; kekuatan yang berupa tsiqah kepada Allah sekalipun minim kekuatan materi dan senjata serta keterbatasan pada kemampuan lainnya.

Bahwa kekuatan iman merupakan kekuatan rabbaniyah yang sangat dahsyat; selamanya, tidak ada yang mampu mengalahkannya pada seseorang yang telah terpatri dalam jiwanya keyakinan tersebut, sekalipun masanya panjang dan menghadapi ujian yang paling keras.

Ketiga: Sabar

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. (Al-Baqarah:153)

Cukuplah ayat diatas menjadi pemberi kabar gembira yang lengkap akan janji Alah untuk orang-orang yang bersabar berupa kemenangan. Karena, kenapa mereka tidak mendapatkan kemenangan padahal Allah bersama mereka; dan Dialah, Allah yang Maha Kuat, Maha Perkasa dan Maha Sombong , yang tidak ada seorangpun mampu mengalahkannya; baik di bumi maupun di langit?!

Sesungguhnya sabar merupakan kunci kemenangan, dan petunjuk akan keberpihakannya serta sebagai bukti akan keimanan yang kokoh bagi pemiliknya.

Fajar kemenangan telah dekat, sedekat fajar matahari yang muncul di pagi hari

Fajar kemenangan telah dekat, sedekat fajar matahari yang muncul di pagi hari, dan perjuagan kalian tidak akan sia-sia

Keempat: Tsabat 

 

 Dipertengahan jalan pasti akan ada banyak fitnah, ujian dan musibah yang menghadang. Allah SWT berifman:

الم . أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ

Alif, lam, mim. Apakah manusia mengira akan ditinggalkan ketika mereka berkata kami beriman (kepada Allah) sementara mereka tidak diuji”. (Al-Ankabut:1-2)

Dan kemenangan tidak akan diberikan kecuali kepada mereka yang tsabat sekalipun ujian menghadang, tetap berada dalam prinsip-prinsip dan syariat–Nya, tidak pernah merasa hina dan tidak pernah mau tunduk kepada siapapun dari mahluk Allah sekalipun harus berhadapan dengan berbagai fitnah dan ujian serta menemui berbagai benturan; baik terhadap hartanya, anaknya atau jiwanya sekalipun. Bahwa pasukan perlawanan secara sederhana berarti kelompok terlemah dari sisi materi namun bukan berarti tidak memiliki kemampuan dan kekuatan dari sisi lainnya saat bertemu dengan ujian dan cobaan. Karena hal tersebut merupakan suatu keniscayaan yang tidak bisa dipungkiri.

Kelima: CIta-cita (Optimisme)

Pada saat terjadi perang Al-Ahzab, ketika umat Islam di blockade dari berbagai penjuru; oleh pasukan kaum musyrikin Quraisy, dari jazirah Arab di bagian depan, yahudi dari bagian belakang kota Madinah, dan ketika umat Islam menggali parit, Rasulullah saw memukul sebuah bongkahan batu besar disaat Salman tidak mampu menghancurkannya, maka muncullah cahaya, lalu nabi saw bersabda: “Allah Akbar, kelak aku diberikan kunci kerajaan Persia. Kemudian beliau memukul kembali untuk kali kedua, dan muncul cahaya lagi, dan Rasulullah saw bersabda: Allah Akbar, aku diberikan kunci kerajaan Romawi.

Perjuangan membutuhkan pengorbanan, dan dengan pengorbanan pasti akan meraih: "kemenangan atau syahadah"

Perjuangan membutuhkan pengorbanan, dan dengan pengorbanan pasti akan meraih: "kemenangan atau syahadah"

Begitulah Rasulullah saw ketika berada dalam kondisi sulit dan keras yang menimpa umat Islam; selalu memberikan kabar gembira kepada mereka berupa kemenangan, sehingga membuat mereka semakin yakin dengan keimanan mereka, dan –disisi lain- membuat orang-orang munafik terus mencela, menghina dan melecehkan, namun karena dorongan cita-cita dan optimisme yang dihembuskan Rasulullah saw ke dalam jiwa mereka sehingga memberikan hasil yang gemilang; dibangun atas dasar yang kuat dan keimanan yang benar akan kemenangan, sehingga jiwapun bersemangat untuk meraih kemenangan dan mengembalikan mata umat untuk melihat hakikat yang jelas dan gamblang, dan menyadari sekalipun kebatilan untuk sementara waktu dapat memenangkan pertarungan secara materi dan banyaknya korban yang menimpa mereka, namun mereka tetap yakin bahwa cepat atau lambat kemenangan pasti akan mereka raih.

Bahwa perjuangan dan ketegaran selalu membutuhkan angan-angan, cita-cita, asa, kabar gembira dan optimisme; sehingga mampu memberikan kekuatan untuk tetap tegar berjuang dan menggapai kemenangan dimasa mendapatang Insya Allah.

Keenam: Berkorbanan

Barangsiapa yang tidak ingin berkorban maka jangan berharap mendapat kemenangan; karena kemenangan bukan sekedar materi yang dapat diraih dengan cepat namun ia merupakan sekumpulan dari nilai-nilai; kemuliaan, martabat dan kehormatan jiwa serta mempertahankan kebenaran, dan nilai-nilai yang mengalahkan harta, jiwa dan waktu.

Pengorbanan memang sakit dan melelahkan, namun sangat penting dimiliki dalam kondisi apapun terutama dalam kancah peperangan. Sebagaimana pengorbanan merupakan harga yang sangat mahal yang harus dibayar bagi siapa yang ingin mendapat kemenangan, karena barangsiapa yang menginginkan surga tanpa pengorbanan maka selamanya tidak akan mendapatkannya.

Ketujuh: Tantangan

Ketika orang-orang Quraisy menawarkan kepada Rasulullah saw harta, kekuasaan dan wanita agar ia mau berhenti dari dakwahnya, Rasulullah saw tidak menerima tawaran tersebut sehingga mereka mampu menghadirkan apa yang mereka tidak bisa melakukannya: matahari dan bulan. Karena itu, alternative dari itu semua adalah perang.

Demikianlah kebatilan; selalu menggunakan berbagai macam cara dan sarana untuk mengalahkan para pembawa panji kebenaran; kadang dengan iming-iming, kadang dengan ancaman, dan kadang tidak menunggu dua tawaran tersebut kecuali agar mereka tunduk.

Jadilah seperti Khubaib bin Adiy, tidak pernah sedikitpun mau tunduk pada keinginan Abu Sufyan dan pengikutnya ketika diperintah untuk mengejek dan mencela Rasulullah saw dihadapan mereka, sedangkan dirinya dalam kondisi terpasung (tersalib) di batang pohon kurma, menunggu hukuman mati dalam beberapa saat, dan beliau memilih mati dengan mulia ketimbang hidup yang penuh dengan kehinaan dan kehancuran.

Demikianlah beberapa nilai-nilai sebagai syarat untuk dapat membentuk diri memiliki al-muqawamah dan as-shamad; yang selalu diajarkan setiap hari kepada anak-anak di Gaza, diperdengarkan nasyid-nasyid indah tentang al-muqawamah walau berada di tengah serangan roket dan bom-bom Zionis, yang selalu disenandungkan oleh para wanita dan orang-orang tua, kemudian dibalas oleh para mujahid dengan peluru dan misil kemuliaan dan kebanggaan yang sangat dibutuhkan oleh Arab di berbagai penjuru.

Setiap harinya –diantara mereka- ada yang syahid, namun dengan itu semua, mereka mampu mendorong jiwa kita; mengobarkan semangat jihad di dalam jiwa-jiwa dan hati-hati kita; syiar yang selalu di dengunkan adalah “Syahadah atau menang”, “Hidup mulia atau syahadah” “Hidup dengan cara terhormat, dan bebas dari penjajahan atau syahadah mendapat surga”.

Salam sejahtera atas kalian wahai pejuang Gaza… salam sejahtera atas kalian semua.

Sumber: http://www.alaqsa-online.com/article.php?id=57


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 1/2/2009 / 4 Safar 1430 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

1 Message

Membaca tulisan diatas, dizaman modern ini, perjuangan tersebut lebih tepat dengan perjuangan Hamas dengan Faksi2 Mujahidin dan Rakyat Palestina yang ada di Gaza.
Sedangkan kelompok Jahiliyah adalah penjajah zionis israel dan sekutunya yang ada di Ramallah , serta pempimpin yang ada di perbatasan Rafah.
Betapa mulianya pemimpin2 Hamas dan Faksi Mujahidin yang ada di Gaza, secara kecerdasan intelektual, mereka dapat saja hidup dunia ini dengan bermewah-mewah dan tidak perlu takut dibunuh oleh zionis israel, namun mereka lebih memilih perjuangan dengan hidup Mulia atau mati sebagai Syuhada.
Hal ini bertolak belakang dengan pempimpin yang ada di Ramallah.
Ya ALLAH berikanlah kekuatan dan perlindungan MU kepada Para Mujahidin dan Rakyat Palestina yang ada di Gaza,
karena sebentar lagi mereka akan menghadapi gempuran dari penjajah zionis israel yang tidak punya hati nurani.

 

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Tulis Komentar


« sebelumnya
sesudahnya »