Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Dalam kajian ini, saya akan menyampaikan tiga kata:
Pertama, wasiat (pesan).
Kedua, bayan (penjelasan).
Ketiga, ijabah (pemenuhan).
Mengenai wasiat, hendaklah Anda semua selalu mengingat sabda Rasulullah saw:
“Saat Ramadhan menjelang, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, dan seorang malaikat dari sisi Allah Yang Mahabenar berseru,
Wahai yang menginginkan kejahatan, berhentilah! Wahai yang menginginkan kebaikan, kemarilah. “‘
Ramadhan adalah stasiun peristirahatan spiritual dan satu fase dari perjalanan yang melelahkan. Ramadhan adalah peristirahatan, perteduhan,
air salsabil, ketenteraman, rezeki, kebun, dan taman. Di situ orang mukmin beristirahat dan melepaskan sebagian kepenatan jiwa. Bila sepuluh akhir bulan Ramadhan tiba, Rasulullah “mengencangkan sarung”, bangun semalam suntuk, dan membangunkan istri-istrinya.
Didirikan tenda dari kulit sebagai tempat beliau bersama istri-istrinya
beri’tikaf dan menyendiri dari keramaian manusia. Beliau tidak berpikir selain tentang apa yang bisa mendekatkan diri kepada “Majikan” nya.
Ikhwan sekalian…
Dengarkan dan renungkanlah baik-baik! Ikutilah teladan Nabimu saw!Perhatikan peringatan dari Tuhan kepada Anda semua,
“Wahai orang yang menginginkan kejahatan, berhentilah! Wahai orang yang menginginkan kebaikan, kemarilah!”
“Maka, mohonlah ampun kepada Tuhan dan perbaruilah taubat Anda. “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kalian akan menutupi kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (At-Tahrim: 8)
Jadikanlah hari-hari yang sedikit ini sebagai hari-hari untuk bersuci, membasuh hati, dan membekali ruhani. Perbanyaklah dzikir, tingkatkan kekhusyu’an, perbanyak doa kepada Allah swt., menghadap kepada-Nya, dan muhasabah (introspeksi) terhadap diri sendiri. Dengan demikian, Anda telah aktif mengisi bulan dan saat-saat berharga ini. Perhatikan sabda Nabi saw,
“Tidak ada satu hari pun yang merekah fajarnya, kecuali berseru, Aku adalah makhluk baru dan menjadi saksi perbuatanmu. Maka ambillah bekal dariku, karena aku tidak akan kembali sampai hari kiamat.”‘
Inilah kata yang pertama.
Yang kedua, bayan.
Saya pernah berdialog dengan banyak orang, di antara mereka adalah para dosen perguruan dnggi. Saya melihat bahwa modernisasi tidak mampu mencerna kata agama, politik, dan sosial. Rahasianya adalah bahwa doktrin-doktrin, kehidupan, dan pemikiran Eropa telah menghalangi mereka dari pemahaman yang bisa memadukan antara agama, politik, dan sosial. Mereka bahkan mengatakan bahwa spiritualisme dan segala yang berkaitan dengannya itulah yang disebut agama. Jadi, agama tidak lebih dari shalat, dzikir, doa, dan semisalnya. Adapun politik, ekonomi, dan hal-hal yang berkaitan dengannya, kekuasaan dan sarana-sarana yang mendukungnya, tidak berhubungan dengan agama sama sekali. Sampai-sampai mereka
mengatakan, “Haji dan zakat tidak termasuk dalam ruang lingkup agama.”
Saya pernah lama merenungkannya. Kemudian saya katakan kepada mereka, “Saya terima pernyataan Anda bahwa agama adalah sesuatu, sedangkan politik adalah sesuatu yang lain. Tetapi, ada sesuatu yang bernama Islam. Islam ini mempunyai undang-undang, yaitu Al-Qur’an.”
Jika mereka menerima pernyataan kita ini, maka kita bertanya kepada mereka: Bagaimanakah pendapat Anda tentang firman Allah swt.,
“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al-Baqarah: 275)
Dan firman Allah swt.,
“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang tidak ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya.” (Al-Baqarah: 282)
Serta firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkan dengan adil.” (An-Nisa’: 58)
Bukankah ini termasuk agama? Jika mereka tetap bersikeras, maka kita katakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkannya.”
Kemudian, apa komentar mereka tentang firman Allah berikut ini?
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu.” (An-Nisa’: 102)
Salahkah bila agama mengatur masalah militer dan menetapkan tata cara khusus shalat dalam peperangan? Demikian halnya dengan firmm Allah,
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian.” (Al-Anfal: 60)
Bukankah ini merupakan substansi agama yang mengatur kekuatan untuk membela Islam. Lebih dari itu, ia juga merupakan “protokol”.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, agar kalian (selalu) ingat, jika kalian tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kalian masuk sebelum kalian mendapat izin. Dan jika dikatakan kepada kalian, ‘Kembalilah!’ maka hendaklah kalian kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (An-Nur: 27-28)
Inilah Islam, yang tidak meninggalkan urusan kecil maupun besar, bahkan juga urusan makan dan minum.
“Makan dan minumlah, dan jangm berlebih-lebihan.” (Al-A’raf: 31)
Begitu pula masalah berlapang-lapang dalam majelis.
“Hai orangorang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian.” (Al-Mujadalah: 11)
Kata agama yang sulit mereka pahami sesungguhnya hanyalah Islam, yang datang membawa ajaran untuk kebaikan dunia dan akhirat. Jika mereka mengatakan, “Kami tidak bisa menerima bila agama membawa aturan-aturan ini.” Maka kita katakan kepada mereka, “Lalu, Anda sebut apa Al-Qur’an itu ?” Jika mereka mengatakan, “Kami menamainya agama.” Maka kita berkata, “Kami setuju. Perbedaan kita hanya dalam peristilahan saja. Kita diperintahkan untuk mengikuti agama ini.” Bila mereka mengelak dan berkata, “Ajaran-ajaran ini hanya berlaku untuk bangsa Arab, karena mereka adalah bangsa yang tidak berperadaban. Andaikata ia datang kepada bangsa Persia atau Romawi, tentu ia tidak membawa ajaran-ajaran ini.” Maka kita menjawab,
“Apakah kalian beriman kepada sebagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?” (Al-Baqarah: 85)
Apakah Allah swt. mengatakan bahwa ajaran ini untuk bangsa Arab, sedangkan ajaran-ajaran tertentu yang lain untuk selain mereka? Atau mengatakan,”Ajaran ini berlaku untuk tahun pertama hijrah, sedangkan yang lain berlaku untuk tahun seribu?”
Jika mereka mengatakan, “Masyarakat terus berkembang sehingga apa yang relevan untuk masa dahulu tidak relevan lagi untuk masa sekarang.”
Maka kita menjawab, “Sesungguhnya Islam dan ajaranajarannya itu tetap relevan untuk setiap zaman dan tempat.” Di antara keindahan ajaran Islam adalah, ia tidak memasuki detail-detail hukum secara keseluruhan, melainkan hal itu dibiarkannya mengikuti perkembangan zaman.
Umar bin Abdul Aziz berkata, “Akan terjadi masalah-masalah yang menimpa manusia sesuai dengan apa yang mereka bicarakan.”
Imam Syafi’i telah menyusun dua madzhab, yaitu madzhab qadim (lama) dan jadid (baru). Ada hukum yang berubah mengikuti mashalih mursalah (kemaslahatan).
Jadi, Islam telah membuat sistem politik, ekonomi, dan sosial secara sempurna, tidak menyulitkan siapa pun.
“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu
kesempitan.” (Al-Hajj: 78)
Adapun kata yang ketiga adalah ijabah.
Ada orang yang mengkritik kita dengan mengatakan, “Kami menasihati Ikhwan agar menghindari kemewahan, seperti mengendarai mobil maupun bentuk-bentuk kemewahan lain yang menjauhkan mereka dari agama karena sibuk dengan dunia dan dari ruh kehidupan karena sibuk dengan politik.”
Ikhwan sekalian…
Sebenarnya jiwa kritis semacam ini merupakan jiwa yang baik yang harus kita dorong dan kita upayakan untuk ditingkatkan, karena sesuai dengan firman Allah,
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)
“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu ddak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Al-Maidah: 78-79)
Jika jiwa kritis semacam ini hilang dari sebuah bangsa, maka selayaknya kita ucapkan selamat tinggal kepadanya. Nabi saw. bersabda,
“Jika kalian melihat umatku takut kepada orang zhalim sehingga tidak berani mengatakan,’Sungguh Anda orang yang zhalim!’ maka ucapan selamat tinggal pantas diterimanya. “
Para pelaku dakwah pasti menjumpai banyak kritikan semacam ini. Ada seseorang yang pernah berkata kepada Rasulullah saw., “Berbuat adillah!” Maka beliau saw. menjawab, “Celakalah kamu, siapa lagi yang akan berbuat adil, jika aku tidak berbuat adil?”
Ada orang lain yang berkata kepada beliau, ‘Pembagian ini tidak dimaksudkan untuk mencari ridha Allah.” Ini telah dikisahkan oleh Al-Qur’anul Karim,
“Dan di antara mereka ada yang mencelamu tentang (pembagian) zakat, jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (At-Taubah: 58)
“Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan, ‘Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.’ Katakanlah, ‘Ia mempercayai semua yang baik bagi kalian.’” (At-Taubah: 61)
jika kita mendapat kritikan semacam ini, sesungguhnya kita telah mempunyai suri teladan yang baik dalam diri Rasulullah saw. Sikap kita terhadap mereka seperti sikap Abu Dhamdham yang bersedekah dengan kehormatannya yang dicemarkan orang lain. Kita mengamalkan pula firman Allah,
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al-A’raf: 199)
Sebagian lain mengkritik kita dengan mengatakan, “Sebagian ungkapan yang kalian gunakan, wahai ‘para pendengki’, tidak sesuai adab Al-Qur’an.” Kita menjawab, “Justru Al-Qur’an menggunakan ungkapan-ungkapan yang lebih keras daripada itu dalam menghadapi para penentangnya.”
“Ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (Al- Alaq: 16)
“Dan janganlah kalian ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian kemari menghamburkan fitnah.” (Al-Qalam:10-11)
“Yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui
batas lagi banyak dosa.” (Al-Qalam: 12)
Ada seseorang yang datang kepada Abdullah bin Umar seraya berkata, “Sesungguhnya saya mencintaimu karena Allah.” Maka Abdullah bin Umar menjawab, “Sesungguhnya aku membencimu karena Allah.” Orang itu bertanya, “Mengapa?” Ibnu Umar menjawab, “Kamu biasa menempelkan perut ke paha ketika sujud, sedangkan Rasulullah saw. menjauhkan perut beliau dari paha sehingga bisa memberikan jalan yang leluasa bagi binatang untuk lewat.”
Inilah yang ingin saya bicarakan kepada Anda semua. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.
|
| Ke atas.
RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI