Al-Qur’an Menurut Hasan Al-Banna (14) Jalan Menuju Pembalasan

2/11/2009 | 14 Dhul-Qadah 1430 H | 377 views
Oleh: Asy-Syahid Hasan Al-Banna
Kirim Print

hasan al-bannaIkhwan tercinta…

kebangkitan pada hakikatnya adalah penegasan bahwa manusia akan hidup setelah kehidupan di dunia ini. Al-Qur’anul Karim membela teori ini dengan cara yang indah sekali dan mengajukan berbagai argumentasi yang tidak memberi tempat lagi untuk keragu-raguan, kecuali bagi orang yang hatinya berpenyakit. Ambillah sebagai contoh:

“Wahai manusia, jika kalian dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kalian dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging 0rang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kalian dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kalian sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kalian ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kalian yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya.” (Al-Hajj: 5)

Wahai Akhi…

Argumen ini diambil dari perkembangan manusia. Ia berasal dari tumbuh-tumbuhan bumi, kemudian berubah menjadi nuthfah, kemudian berubah menjadi yigot, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian berubah menjadi badan, kemudian berubah menjadi anak-anak, kemudian menjadi pemuda, kemudian menjadi orang tua, kemudian meninggal dunia.

Seluruh bukti ini membawa perhatian kita kepada kenyataan yang dapat kita saksikan dan kita rasakan dalam proses perkembangan manusia.

“Dan kalian lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.” (Al-Hajj: 5-7)

Wahai Akhi…

Argumen ini menegaskan bahwa Allah yang telah menciptakan kehidupan dari tanah yang tak bernyawa, lantas menjadikannya sebagai manusia dan yang menciptakan kehidupan dari tanah yang mati lantas menjadikannya sebagai tumbuh-tumbuhan, bukankah Dia bisa menghidupkan kembali orang-orang yang mati?

Di sini ada argumen yang mengacu kepada penciptaan pertama. Wahai manusia, dari manakah asalmu? Dari tiada. Maka Allah yang telah mengadakan kita dari ketiadaan, akan mengadakan kita sekali lagi.

“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?’ Katakanlah, ‘Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.’” (Yasin: 78-80)

Ayat ini turun setelah kedatangan Nadhar bin Haritsah seraya membawa segenggam tanah kepada Nabi saw., lantas bertanya kepada beliau mengenai penciptaan kembali manusia setelah mati.

Wahai Akhi…

Hakikat semacam ini bisa ditemukan dalam banyak ayat Al-Qur’anul Karim.

“Katakanlah, ‘Jadilah kalian batu atau besi. Atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiran kalian.’ Maka mereka akan bertanya, ‘Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?’ Katakanlah, ‘Yang telah menciptakan kalian pada kali yang pertama,’ lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepada kalian dan berkata, ‘Kapan itu (akan terjadi)?’ Katakanlah, ‘Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat.’” (Al-Isra’: 50-51)

Wahai Akhi…

Di sini kita bisa menemukan hakikat yang indah. Al-Qur’anul Karim menyebutkan alasan orang yang menentang, kemudian segera membantahnya. Ternyata alasan tersebut tidak mempunyai kekuatan sama sekali. Kemudian kita akan melihat hakikat ini disebutkan dalam ayat yang mulia.

“Dan manusia berkata, ‘Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?’” (Maryam: 66)

Gaya pengungkapan yang mengejutkan ini ditujukan kepada jiwa.
“Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami
telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?” (Maryam:
67)
Wahai Akhi, bantahan terhadap anggapan keliru ini diungkapkan dengan nada kesejukan:

“Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama setan.” (Maryam: 68)

Wahai Akhi…

Hakikat ini diulang-ulang dalam kitab Allah berkali-kali dan ini merupakan upaya untuk membawa perhatian kita kepada penciptaan. Dalam surat Al-Waqi’ah terdapat dalil-dalil yang dikemukakan secara serasi dan koheren satu sama lain.

“Dan mereka selalu mengatakan, ‘Apakah apabila kami mati dan menjadi tanah dan tulangbelulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan kembali? Apakah bapak-bapak kami yang terdahulu (dibangkitkan pula)?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya orang-orang terdahulu dan orang-orang terkemudian, benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal. Kemudian sesungguhnya kalian, wahai orangorang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan memakan pohon zaqum, dan akan memenuhi perut kalian dengannya. Sesudah itu kalian akan meminum air yang sangat panas. Maka kalian minum seperti unta yang sangat haus minum. Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan.’” (Al-Waqi’ah: 47-56)

Kemudian datang pula dalil-dalil yang lain.

“Kami telah menciptakan kalian, maka mengapa kalian tidak membenarkan (hari berbangkit)?” (Al-Waqi’ah: 57)

Kemudian datang ungkapan yang membawa perhatian kita kepada penciptaan kehidupan dari nuthfah:

“Maka terangkanlah kepada-Ku  tentang nuthfah yang kalian pancarkan. Kaliankah yang menciptakannya, atau Kami-kah yang menciptakannya? Kami telah menentukan kematian di antara kalian dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan, untuk menggantikan kalian dengan orang-orang yang seperti kalian (dalam dunia) dan menciptakan kalian kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kalian ketahui. Dan sesungguh-nya kalian telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kalian tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)?” (Al-Waqi’ah: 58-62)

Kemudian datang ungkapan yang membawa perhatian kita kepada kehidupan dari tanah:

“Maka terangkanlah kepada-Ku tentang yang kalian tanam. Kaliankah yang menumbuhkannya atau Kami-kah yang menumbuhkannya? Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur; maka jadilah kalian heran tercengang. (Sambil berkata), ‘Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami menjadi orang yang ddak mendapat hasil apa-apa.’ Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kalian minum.” (Al-Waqi’ah: 63-68)

Tetapi, apakah hubungan antara air dengan kebangkitan?

Wahai Akhi…

Keduanya disebutkan di sini karena ia merupakan lingkungan yang diperlukan untuk kehidupan yang baik. Kemudian, datang sebuah “tantangan” yang lain,

“Maka terangkanlah kepada-Ku tentang api yang kalian nyalakan (dari gosokan-gosokan kayu). Kaliankah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?” (Al-Waqi’ah: 71-72)

Selayaknya akal manusia memikirkan mukjizat ini, yaitu bahwa api itu keluar dari pohon. Sedangkan kehidupan pohon itu tergantung kepada air. Jadi, air yang merupakan unsur berlawanan dengan api, darinyalah api muncul. Jadi, Allah yang bisa menciptakan sesuatu dari lawannya, dan menciptakan api dari air, bukankah Dia pasti mampu menciptakan manusia dari tanah yang
merupakan bahan baku penciptaannya serta tempat kelahiran dan kehidupannya?

Wahai Akhi…

Inilah lima argumen yang dibawakan secara koheren dan serasi.

“Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Mahabesar.” (Al-Waqi’ah: 74)

Wahai Akhi…

Sekarang kita bahas syubhat yang mereka ucapkan, yaitu bahwa manusia akan mau dan lebur menjadi tanah, lalu berubah menjadi tumbuhan yang dimakan manusia juga, sehingga ada dua manusia yang terdapat dalam satu unsur. Maka ruh yang manakah yang menempati badan?

Kita menjawab, Al-Qur’an telah mengabarkan tentang svubhat ini:

“Oaafj . Demi Al-Qur’an yang sangat mulia. (Mereka tidak menerimanya)
bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang
pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, berkatalah orang-orang kafir: ‘Ini adalah suatu yang ajaib.’ Apakah kami setelah mati
dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi) itu adalah suatu
pengembalian yang tidak mungkin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui
apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan
pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat). Sebenarnya,
mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang
kepaca mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau-balau. Maka
apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka,
bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak
mempunyai retak-retak sedikit pun? Dan Kami hamparkan bumi itu
dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami
tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang
mata, untuk menjadi pelajar-an dan peringatan bagi tiap-tiap hamba
yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air
yang banyak manfaatnya, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang
tinggi-tinggi vang mempunyai mavang yang bersusun-susun. Untuk
menji’di rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan
air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.”

(Oaaf. 1-11)

Wahai Akhi…

Bila kita memikirkan argumen-argumen ini dengan pikiran jernih, kita akan mengetahui bahwa semua argumen itu tidak terbantahkan. Adapun orang yang hatinya berpenyakit, maka tidak ada seorang pun kuasa untuk memberikan penjelasan kepadanya, kecuali hanya memohon kepada Allah agar menyembuhkan penyakitnya itu.

Di antara metodologi pendidikan dalam Al-Qur’anul Karim, ketika menjelaskan syubhat-syubhat ini, tidak mengemukakan semua jenis syubhat yang muncul berkenaan dengan konsep hari kebangkitan ini.
Sebab, seorang guru harus memberikan informasi-informasi kepada
murid yang bisa menerangi akalnya dan tidak menjadikan pemikirannya
carut marut. Ia harus mendahulukan informasi yang positif sebelum
memberikan informasi yang negatif. Ia tidak boleh memberikan unsur
informasi yang negatif kecuali bila benar-benar diperlukan. Al-Qur’anul
Karim juga menggunakan metode ini, sehingga ia tidak memaparkan syubhat-syubhat yang kuat, misalnya syubhat tentang reinkarnasi. Syubhat ini tertolak berdasarkan semua nash Al-Qur’an.

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (Fathir: 18)

Maka bagaimana mungkin ruh manusia yang shalih berpindah ke tubuh
manusia yang jahat? Tetapi Al-Qur’anul Karim tidak membahas masalah ini, karena ia telah menyatakan dengan tegas bahwa setelah ruh keluar dari  badan, ruh tersebut pergi kepada Tuhannya. Al-Qur’an tidak menjelaskan masalah ini secara panjang lebar, karena metode yang digunakan Al-Qur’anul Karim tidak menggunakan perdebatan sehingga syubhat tersebut dengan sendirinya tertolak.

Ikhwan semua yang tercinta…

Allah swt. telah membuat kaidah pembalasan sebagai berikut: Kebaikan itu akan dilipatgandakan adapun kejahatan akan tetap sebagaimana adanya atau diampuni.

“Dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (An-Nisa’: 40)

“Barangsiapa yang membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.” (Al-An’am: 160)

Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan kejahatan-kejahatan
di dalam kitab-Nya. Maka barangsiapa berniat melakukan kebaikan tetapi
belum melaksanakannya, ditulis baginya satu kebaikan; apabila ia telah
melaksanakannya, ditulis baginya sepuluh sampai tujuh puluh kebaikan, bahkan sampai berlipat-lipat dari itu. Dan barangsiapa berniat melakukan kejahatan tetapi tidak melaksanakannya, ditulis baginya satu kebaikan; dan jika ia telah melaksanakannya, ditulis baginya satu kejahatan.”

Berdasarkan hadits ini, wahai Akhi, kita mendapati bahwa Allah swt. membagi balasan kebaikan itu menjadi tiga macam, sedangkan balasan keburukan itu hanya satu. Karena jiwa manusia itu mudah tertarik kepada kejahatan. Allah swt. mengetahui bahwa kecenderungan naluri manusia itu kepada kejahatan, karena ia berada di negeri kejahatan.

Rasulullah saw. bersabda:

“Semua anak Adam bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.”

Kecenderungan kepada kejahatan ini tidak bisa dihalangi kecuali oleh keinginan yang besar untuk mendapatkan kebaikan dan balasan kebaikan. Andaikata satu kebaikan dibalas dengan satu kebaikan dan satu kejahatan dibalas dengan satu kejahatan, niscaya kejahatan itu lebih banyak daripada kebaikan dan tak pelak lagi manusia akan berputus asa. Karena itu, Allah swt. telah membuka tiga pintu untuk kebaikan dan satu pintu untuk hukuman. Dia mengemukakan kebaikan dengan variasi yang indah,

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajdah: 16-17)

“Mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.” (Ghafir: 40)

Tujuannya, wahai Akhi, adalah untuk mencegah faktor-faktor kejahatan yang ada dalam jiwa manusia serta mengalahkan nafsu dan godaan, di samping keputusasaan. Sayidina Umar ra. mengatakan, “Kebaikan Allah itu banyak dan baik.”

Kita mendapati bahwa Allah swt. memperlakukan manusia dengan keutamaan.

“Jikalau Allah menghukum manusia dengan kezhalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.” (An-Nahl: 61)

Wahai Akhi, orang yang berbuat baik akan berada di surga, sedangkan
surga itu,

“Di dalamnya terdapat apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terdetik dalam hati manusia.”

“Banyak muka pada hari itu berseri-seri. Merasa senang karena usahanva. Dalam surga yang tinggi. Tidak kalian dengar di dalamnya
perkataan yang tidak berguna. Di dalamnya ada mata air yang mengalir.
Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan. Dan gelas-gelas yang
terletak (di dekatnya). Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun. Dan
permadani-permadani yang terhampar.” (Al-Ghasyiah: 8-16)

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (Al-Qiyamah: 22-23)

Adapun di neraka terdapat siksa yang pedih. Di sana mereka diberi minum air yang panas mendidih dan diberi makan ghislin (nanah dan darah).

“Sekali-kali tidak (demikian), sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka.” (Al-Muthafifin: 15)

Wahai Akhi, di surga itu ada ridha Allah yang besar. Di dalamnya ada kenikmatan ruhani dan kenikmatan materi. Di neraka juga ada siksa ruhani dan siksa materi.

“Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga, ‘Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepada kalian.’ Mereka (penghuni surga) menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir. Yaitu orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.’ Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka pada hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (Al-A’raf: 50-51)

“Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan), ‘Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kalian telah memperoleh dengan sebenarnya apa (adzab) yang Tuhan kalian menjanjikan kepada kalian?’ Mereka (penduduk neraka) menjawab, ‘Betul’. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, ‘Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang zhalim. Yaitu orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.’” (Al-A’raf: 44-45)

Wahai Akhi…

Orang yang berbuat baik akan berada di surga, sedangkan surga itu,

“Di dalamnya terdapat apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terdelik dalam hati manusia.”

“Banyak muka pada hari itu berseri-seri. Merasa senang karena usahanya. Dalam surga yang tinggi. Tidak kalian dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. Di dalamnya ada mata air yang mengalir. Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan. Dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya). Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun. Dan permadani-permadani yang terhampar.” (Al-Ghasyiah: 8-16)

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (Al-Qiyamah: 22-23)

Adapun di neraka terdapat siksa yang pedih. Di sana mereka diberi minum air yang panas mendidih dan diberi makan ghislin (nanah dan darah).

“Sekali-kali tidak (demikian), sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka.” (Al-Muthafifin: 15)

Wahai Akhi, di surga itu ada ridha Allah yang besar. Di dalamnya ada kenikmatan ruhani dan kenikmatan materi. Di neraka juga ada siksa ruhani dan siksa materi.

“Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga, ‘Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepada kalian.’ Mereka (penghuni surga) menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir. Yaitu orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.’ Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka pada hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (Al-A’raf: 50-51)

“Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan), ‘Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kalian telah memperoleh dengan sebenarnya apa (adzab) yang Tuhan kalian menjanjikan kepada kalian?’ Mereka (penduduk neraka) menjawab, ‘Betul’. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, ‘Kutukan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.’” (Al-A’raf: 44-45)

Jik a balasan ruhani dan materi ddak diberikan secara bersama-sama, niscaya ia menjadi pincang. Al-Qur’anul Karim mengetahui bahwa manusia itu terdiri dari ruhani dan jasmani (materi). Badan manusia dan kebutuhan-kebutuhan materinya itulah yang menggiring kepada kejahatan. Ketika ia menghentikan dirinya dari tuntutan-tuntutan materi, maka harus ada kompensasinya. Jika dikatakan bahwa balasan itu hanya bersifat ruhani, lalu di mana kompensasi jasmani yang telah mengendalikan ruhani itu? Karena itu, harus ada kompensasi yang bersifat materi pula. Keadilan dalam balasan menuntut konsekuensi makna ini.

KESIMPULAN

Wahai Akhi, setelah kita mengetahui bahwa Allah swt. telah berbuat baik kepada kita; Dia memerintahkan kita melakukan satu kebaikan dan menyiapkan balasan yang berlipat ganda untuk kebaikan ini; Dia juga telah mengasihi kita, Dia menjadikan kejahatan itu dengan satu balasan, dan ini pun masih bisa diampuni dengan taubat yang sungguhsungguh; jika kita mengetahui juga bahwa kaum salaf yang mendahului kita mempunyai keimanan kepada pembalasan ini sampai pada tingkatan seakan-akan mereka melihatnya secara nyata di hadapan mereka, ketik i berjalan, datang dan pergi, maka kesimpulan yang bisa kita ambil adalah hendaklah hati kita yakin sepenuhnya kepada akhirat, kita menjadi orang yang senantiasa berdzikir, dan hendaklah kita meletakkan firman Allah berikut ini di hadapan mata.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kalian serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kalian lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kalian kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Hadid: 20-21)

Ikhwan semua, karena itu hendaklah Anda menyambut seruan Tuhan.

Ingatiah selalu kepada akhirat, kemudian yakinlah bahwa itu tidak tergantung kepada amal Anda, tetapi kepada karunia Allah semata. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 2/11/2009 / 14 Dhul-Qadah 1430 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

1 Message

mantapppppppppppppp

 

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Tulis Komentar


« sebelumnya
sesudahnya »