Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.
Ikhwan sekalian…
Saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah, yang baik dan diberkahi:
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Ikhwan tercinta, tema kajian kita pada malam ini adalah Pembalasan dalam Al-Qur’an.
“Pembalasan” sebagai satu konsep, artinya adalah bahwa manusia dijanjikan dengan kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini. Disana kebaikan dan kejahatan yang pernah dilakukan selama kehidupan pertama di dunia diperhitungkan. Arti pembalasan adalah, manusia dijanjikan dengan kehidupan baru setelah kematiannya, yang ia akan dihisab. Jika ia melakukan perbuatan baik, maka ia dibalas dengan kebaikan dan akan hidup bahagia; sebaliknya jika ia berbuat jahat, ia akan dihisab dan akan hidup menderita.
Meskipun konsepsi ini cukup sederhana, tetapi pandangan umat-umat terdahulu terhadapnya berbeda-beda. Di antara mereka ada yang mengingkarinya seraya mengatakan, “Kita datang dari tanah. Yang
terjadi tidak lebih dari ‘rahim yang mendorong kita lahir, tanah yang
menelan, dan tidak ada yang membinasakan kita selain waktu.’”
Ada umat yang mempercayainya, tetapi keliru dalam mengggambarkannya,
misalnya bangsa-bangsa Mesir kuno. Mereka mempercayai hari Kebangkitan, mempercayai bahwa manusia itu terdiri dari badan dan ruh, dan bahwa manusia pasti akan dihisab atas segala yang pernah dilakukannya dalam kehidupan dunia, tetapi mereka berkeyakinan bahwa yang melakukan hisab tersebut ada dua belas orang hakim. Kemudian mereka mengatakan, “Manusia harus memindahkan kenikmatan yang diperolehnya di kehidupan dunia, ke kehidupan akhirat.”
Tentu saja ini merupakan konsep yang salah, meskipun dasar pemikirannya
benar. Kemudian datanglah agama-agama untuk memperbaiki aqidah ini.
Al-Qur’an juga datang dengan membawa pandangan-pandangan yang shahih. Al-Qur’an banyak menyebut dan mengulangnya, karena ia merupakan landasan kehidupan di dunia ini.
Kita mendapat Al-Qur’anul Karim telah menegaskan adanya pembalasan
ini.
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Az-Zalzalah: 7-8)
“Tidakkah kalian perhatikan bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Mujadalah: 7)
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami yang menjadi pembuat perhitungan.” (Al-Anbiya’: 47)
“Dan (pada hari itu) kalian lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kalian kerjakan. (Allah berfirman,) ‘Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadap kalian dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kalian kerjakan.’ Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka Tuhan mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata. Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan), ‘Maka apakah belum ada ayat-ayat-Ku yang dibacakan kepada kalian lalu kalian menyombongkan diri dan kalian jadi kaum yang berbuat dosa?’” (Al-Jatsiyah: 28-31)
Wahai Akhi…
Al-Qur’anul Karim juga menegaskan bahwa kehidupan di akhirat itu dapat dibandingkan dengan kehidupan dunia. Sedangkan perbandingan kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat adalah sebagaimana perbandingan antara sesuatu yang ada dengan sesuatu yang tidak ada.
“Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al-Ankabut: 64)
Wahai Akhi…
Makna ayat ini adalah, bahwa kehidupan pasti lebih sempurna di akhirat kelak. Al-Qur’anul Karim menyatakan bahwa perhitungan di sana dilakukan dengan sangat mendetail. Ia merupakan kehidupan yang kekal abadi. Sekarang muncul pertanyaan, bagaimanakah Allah swt. memperlakukan orang-orang yang pencariannya berorientasi kepada akhirat?
Jika kita memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’anul Karim, kita akan mengetahui bahwa Allah swt. memperlakukan mereka dengan perlakuan yang seluruhnya baik. Adapun orang-orang yang pencariannya berorientasi kepada dunia, maka Allah swt. memperlakukan mereka dengan perlakuan yang berujung kepada kepedihan.
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki.” (Al-Isra’: 18)
Pemberian ini pada hakikatnya adalah penghalangan (dari pemberian di akhirat), bukan sungguh-sungguh pemberian dan berlakunya hanya “bagi siapa yang Kami kehendaki,” bukan bagi semua yang menginginkannya.
Wahai Akhi…
Ini berarti bahwa Allah swt. telah menghalangi mereka dari segala kenikmatan.
“Kemudian Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Al-Isra:18-19)
“Dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran: 145)
Wihai Akhi…
Anda akan dapati orang-orang yang berorientasi akhirat termasuk orang-orang yang mendapatkan taufiq dan pertolongan, sedangkan orang-orang yang berorientasi dunia akan diabaikan, baik dalam kehidupan yang pertama maupun dalam kehidupan yang kedua. Tetapi hal itu menimpanya secara adil.
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tu tidak dirugikan.” (Hud: 15)
Ini artinya, Allah swt. memberinya kenikmatan dunia sesuai dengan kadar siksa yang akan diterimanya di akhirat.
“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan
dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (Asy-Syura: 20)
Dengan demikian, wahai Akhi, Anda mendapati bahwa pencari kebahagiaan akhirat itu dijamin mendapatkan kesuksesan dalam semua kondisi. Mungkin ia akan memperoleh sesuai haknya, mungkin berlipat-lipat dari itu, atau dibalasi kebaikannya. Ia berada dalam ridha Allah. Adapun para pencari dunia, ia pasti sengsara:
“Janganlah sekali-kali kalian teperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam satu negeri.” (Ali Imran: 196)
Wahai Akhi…
Inilah gambaran ringkas mengenai pembalasan, keterangan yang lebih luas akan banyak Anda temukan dalam Al-Qur’anul Karim.
|
| Ke atas.
RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI