80 Tahun Al-Ikhwan Al-Muslimun… Pemahaman Yang Mendalam

12/5/2008 | 7 Jumada al-Ula 1429 H | 1,390 views
Oleh: Al-Ikhwan.net
Kirim Print

ikhwan2.jpg

Penterjemah:

Abu Ahmad

______

Disaat umat Islam berada dalam kebodohan dan kegelapan, dan ketika pemahaman Islam yang konprehensif mengalami penyempitan dan terbatas posisinya hanya di masjid dan tidak memiliki peran yang besar dan tempat yang luas dalam berbagai lini kehidupan, begitupun disaat umat Islam sedang merintih akibat kejatuhan yang berkepanjangan terhadap khilafah Islam sehingga mengarah pada hilangnya kesemangatan umat dan kehilangan sumber kekuatannya, kehilangan karakter konsep peradaban untuk kebangkitannya dan memainkan perannya sebagai pemimpin di tengah umat manusia, dan di tengah kegelapan yang gulita…hadir seorang pemuda berumur 21 tahun yang sebelumnya telah mereguk dari sungai nil air nan bersih, jernih dan menyegarkan, mendapatkan dari agama Islam petunjuk dan pelajaran dan dari Al-Quran syari’at dan minhaj (jalan hidup), beliau berkata dihadapan kaumnya:

يا قومنا إننا نناديكم والقرآن في يميننا والسنة في شمالنا وعمل السلف الصالحين من أبناء هذه الأمة قدوتنا، نناديكم إلى الإسلام وتعاليم الإسلام وهدي الإسلام

“Wahai kamu kami, sesungguhnya kami menyeru kalian, Al-Quran ada ditangan kanan kami dan sunnah ada di tangan kiri kami, dan kerja para salafus shalih dari generasi umat ini adalah tauladan kami, kami menyeru kalian pada Islam dan ajaran-ajaran Islam serta petunjuk Islam”,

الإسلام نظام شامل يتناول مظاهر الحياة جميعًا فهو دولة، ووطن، أو حكومة، وأمة، وهو خلق وقوة، أو رحمة وعدالة، وهو ثقافة وقانون أو علم وقضاء، وهو جهاد ودعوة أو جيش وفكرة، كما هو عقيدة صادقة وعبادة صحيحة سواء بسواء

“Islam adalah sistem menyeluruh yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah-air, pemerintahan dan ummat, akhlak dan kekuatan, kasih-sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan sumber daya alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan da’wah, pasukan dan ideologi, sebagaimana ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.”

Maka dari itu asas dakwah Al-Ikhwan terfokus pada tiga hal (al-fahmu al-amiq -pemahaman yang mendalam-, at-takwin ad-daqiq -pembentukan yang kokoh-, al-amal al-mutawashil -kerja yang berkesinambungan), silsilah ini disampaikan agar kita mendapatkan pemahaman darinya sesuatu dari prestasi yang tidak jauh dari 3 fokus diatas.

Pemahaman yang keliru

Sebelum munculnya dakwah al-ikhwan, umat Islam sedang mengalami titik jenuh hingga berada pada kondisi kerancuan pemikiran dan kekosongan yang besar dalam pemahaman, hal ini terjadi dalam berbagai bentuk dan modelnya, ada sekelompok yang mencampurkan antara yang usul (pokok) dengan yang far’i (cabang), dan ada sebagian lain yang begitu keras terhadap permasalahan cabang dan untuknya mereka memerangi saudara mereka sesama muslim, dan yang ketiga ada kelompok yang menafikan hal-hal prinsip dan pokok dan memerangi orang-orang yang menyeru kepadanya, sementara yang lainnya juga ada orang yang kurang pemahamannya terhadap agama pada sebagian urusan, adapun yang lainnya juga ada yang memahami Islam sesuatu yang ekstrim, sehingga mereka juga ikut ekstrim terhadap diri mereka sendiri dan terhadap orang lain, sebagaimana ada juga kelompok yang selalu mempermudah segala urusan, ada kelompok yang begitu cepat menuduh suatu perbuatan kafir dan mengkafirkan orang yang melakukannya, sementara kelompok lainnya juga ada yang berkeyakinan bahwa Al-Quran memiliki sisi maknawi (spiritual) yang berbeda dengan yang zhahir, yang kesembilan ada juga kelompok yang memiliki pemahaman keliru terhadap al-wilayah (garis kekuasaan) sehingga pada selanjutnya beragama pemahaman manusia terhadap Islam, bahwa Islam adalah : terbatas pada ibadah zhahir saja, atau bentuk keutamaan dan kemuliaan, atau sisi keruhanian yang sempurna, atau santapan falsafah terhadap ideology dan ruh, atau nilai-nilai ilmiyah yang penuh semangat, atau aqidah yang diwariskan dan kerja-kerja taqlidiyah, inilah beberapa pandangan manusia dan pemahaman mereka terhadap Islam yang hanif, sehingga tampak seperti yang disampaikan oleh Jum’ah Amin kerja dakwah banyak yang menuju pada fiqh yang mendetail dan pemahaman yang mendalam.

Dan ada juga diantara mereka yang bersembunyi di balik sesuatu dari petunjuk yang zhahir, mengabaikan taklif yang hakiki, yang berat, yang panjang dan yang mahal harganya, dakwahnya sempit dalam hal itu saja, dan terbatas pada sekitar masjid, melakukan pemberontakan seperti singa kelaparan jika ada sesuatu tambahan yang berbeda dengannya, menutup kedua matanya jika ada bahagian yang merusak yang fardhu dan menghilangkan yang wajib, dan ada juga yang memandang bahwa kemenangan Islam dalam berjihad di jalan Allah untuk menyeru umat manusia pada sebagian ibadah seperti shalawat, dzikir, doa-doa yang lembut, wudhu yang sempurna dan membaca Quran, ada juga yang terlalu keras dan ekstrim, ada yang berlebihan dan melampaui batas sehingga memutus hubungan dan silaturrahim, berperang bukan pada medan yang sebenarnya, mengklaim banyak orang yang menyamakan mereka dengan kekufuran, mencampur adukkan antara wala (loyalitas) dan bara (berlepas diri).

Imam Hasan Al-Banna mensifati kondisi umat Islam bersama dengan Islam adalah seperti ucapan beliau:

خلعوا عن الإسلام نعوتًا وأوصافًا ورسومًا من عند أنفسهم، واستخدموا مرونته وسعته استخدامًا ضارًّا مع أنها لم تكن إلا للحكمة السامية، فاختلفوا في معنى الإسلام اختلافًا، وانطبعت للإسلام في نفس أبنائه صور عدة تقرب أو تبعد أو تنطبق على الإسلام الأول الذي مثله رسول الله وأصحابه خير تمثيل

“Mereka telah melepaskan diri dari Islam; baik sifat, karakter dan bentuk yang sebenarnya dari jiwa mereka, menggunakan keluwesan dan keluasannya dengan cara yang salah dan berbahaya padahal hal tersebut tidak dapat memberikan kebaikan kecuali hikmah yang beracun, sehingga mereka berselisih pendapat pada masalah makna Islam, dan terpatri dalam jiwa anak-anak mereka tentang Islam dengan berbagai pemahaman, secara dekat ataupun jauh, atau ada juga yang tercetak seperti Islam pada masa awal yang pernah diterapkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya”.

Hadirnya al-Ikhwan

Pada waktu yang tepat, dan disaat suasana dan kondisi yang mengenaskan yang hampir saja menghilangkan eksistensi Islam dan pemahaman yang bukan pada tempatnya, hadir sang imam Al-Banna, seakan Allah SWT telah memberikan ilham pada jalan yang benar untuk menghilangkan debu-debu yang menempel pada tubuh umat dalam memahami Islam yang sebenarnya, menampakkan gambaran yang benar, menyeluruh dan integral, sebagaimana yang disampaikan oleh salah seorang muridnya Prof. Thal’at As-Syanawi “Imam hadir dengan menyatukan antara pemahaman yang menyeluruh dan benar terhadap Al-Quran dan petunjuk nabi Muhammad saw, dan antara pendidikan yang mendalam terhadap sejarah dan eksistensinya, dan terhadap sunnah Allah dalam kejayaan, sebagaimana pula kejelian yang mendalam terhadap kondisi umat Islam dan sfesifikasi penyakitnya, serta memahami sarana solusi dan prioritasnya”, maka sang Imam kembali dengan dakwahya yang intergral dengan pemahaman yang bersih yang hampir saja sirna, membawa jamaah pada pemahaman ini dan mengajak kepadanya, serta menanggungbeban dalam mengokohkannya di tengah masyarakat dari berbagai cobaan, ujian, darah dan syuhada, betapa banyak darah yang tumpah, anak-anak yang menjadi yatim dan wanita yang menjanda serta ibu yang menderita hingga pemahaman ini benar-benar terpatri sepanjang perjalanannya selama 80 tahun.

Dan pada masa yang di dalamnya bercampur tujuan-tujuan antara materi yang menyilaukan dan syahwat yang merendahkan dan keinginan yang mehinakan, Al-Ikhwan melantunkan slogan “Allah ghayatuna” (Allah tujuan kami). Dan pada masa yang di dalamnya hilang akan nilai-nilai dan berbaliknya posisi orang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah umat; yaitu yang akhlaknya rendah, al-ikhwan menyerukan “Ar-Rasul Qudwatuna” (Rasul adalah pemimpin kami). Dan pada masa yang di dalamnya terdapat banyak manhaj, ideology, syariat dan undang-undang, Al-Ikhwan mengumandangkan “Al-Quran Dusturuna” (Al-Quran adalah dustur kami). Dan pada masa yang didalamnya jalan-jalan yang terpecah antara jalan syaitan dan hawa nafsu, Al-Ikhwan menampakkan jalannya “Al-Jihad Sabiluna” (Jihad adalah jalan kami). Dan pada saat angan-angan diliputi kelalaian dan hati terkuasai oleh hawa nafsu, jiwa dan ruh serta lisan para Al-Ikhwan mengucapkan “Al-maut fi sabilillah asma amanina” (mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi kami). Hingga dakwahpun berlalu dengan kokoh dan tegar sesuai dengan pemahaman ini, sekalipun telah berjalan 80 tahun lamanya, namun tetap berlalu sesuai dengan jalannya dalam satu satu prinsip, tidak mengalami penyimpangan, perubahan atau redupan cahayanya atau berbalik arah tujuannya, sekalipun harus menghadapi berbagai makar dan konspirasi, berbagai cobaan hambatan, rintangan dan siksaan, namun generasi penerus Al-ikhwan tetap tumbuh dan bermunculan mengikuti perjalanan dakwah ini, mengikuti jalan yang satu, prinsip yang sama, dan tujuan yang satu demi melakukan jihad, sehingga menjadi pionir pemimpin dalam medan perang antara Islam dan kebatilan, dan menjadi –dengan karunia Allah- cita-cita umat Islam di bagian Timur dan Barat guna memimpin umat mengembalikan kemuliaan Islam dengan izin Allah.

Kami memandang dengan penuh keyakinan, kami memahami bahwa yang demikian adalah karunia Allah, keberkahan dan perlindungan-Nya terhadap dakwah ini, dan kami melihat bagitu kuat dan kokoh asas dakwah ini, melalui tarbiyah (pembinaan) dan i’dad (penyiapan) generasi dalam tubuh jamaah di tangan sang Imam Asy-syahid, pemimpin dan pionir pertama jama’ah al-ikhwan al-muslimun.

Islam kami

Imam syahid hadir disaat kondisi umat dalam memahami Islam seperti yang dijelaskan sebelumnya, sehingga beliau menjadikan firman Allah:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنْ اتَّبَعَنِي

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf: 108).

Dan bertolak pada dakwahnya ini, dapat dijelaskan bahwa Al-Ikhwan tegak berdiri pada 3 pokok penting, yang mana ketiga hal tersebut sangar mereka yakini dan imani, dan berusaha mereka terapkan, mereka serukan dan juga mereka korbankan jiwa mereka pada jalannya.

1. Al-Ikhwan berkeyakinan bahwa hukum-hukum Islam dan ajarannya adalah universal, mencakup segala urusan manusia di dunia dan di akhirat, dan bagi siapa yang menduga bahwa ajaran-ajaran Islam hanya terbatas pada sisi ibadah saja, atau ruhiyah saja dan tidak memiliki keterkaitan dengan sisi lain adalah merupakan suatu kekeiruan dan kesalahan, karena Islam adalah akidah dan ibadah, bangsa dan warga, agama dan Negara, spiritual dan kerja, mushaf dan pedang. Al-Ikhwan juga berkeyakinan bahwa Islam adalah makna yang menyeluruh dan universal, dan bahwasannya Islam harus menguasai berbagai sisi kehidupan dan harus tersibghah secara menyeluruh, menjadi hukum dan terintegrasi kaidah-kaidahnya, taklim-taklimnya dan menjadi sandaran darinya, ketika umat menginginkan menjadi seorang muslim sejati dengan Islam yang benar dan baik.

2. Al-IKhwan berkeyakinan bahwa asas dari taklim-taklim Islam dan makna-maknanya adalah kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, yang jika keduanya dipegang dengan teguh maka selamanya tidak akan tersesat, dan bahwasannya berbagai pendapat dan ilmu akan sampai pada Islam dan mewarnainya dengan warna yang menarik, membawa warna zaman yang telah diabadikan oleh bangsa yang mengalaminya.

Karena itulah umat harus mengambil system-sistem Islam yang mampu membawa umat pada kebersihan dan kemudahan, memahami Islam sebagaimana yang difahami oleh para sahabat dan tabiin dari salafussalih, berdiri pada batas-batas dan arahan-arahan robbani sehingga tidak mengikat diri selain pada ikatan tali agama Allah, dan kita tidak menjadikan masa hidup kita dengan warna zaman yang tidak sesuai dengan Islam.

3. Al-ikhwan juga berkeyakinan bahwa Islam adalah agama yang universal yang mengurusi berbagai aspek dan sisi kehidupan dari berbagai bangsa dan umat, disepanjang masa dan waktu, datang dengan penuh kesempurnaan dan kemuliaan daripada bagian-bagian kehidupan ini, khususnya berbagai urusan dunia.

Dari sini Al-Ikhwan memahami bahwa yang demikian tidak akan mungkin memberikan perbaikan akan kondisi umat kecuali dengan melakukan perbaikan pandangan dan wawasan terhadap agamanya terlebih dahulu, bahwa islam adalah manhaj yang menyeluruh dalam berbagai sisi kehidupan, sesuai dengan masa dan tempat.

Sungguh benar Hasan Al-Banna saat menjelaskan bahwa dakwah al-islam dengan pemahaman ini

قد امتدت طولاً حتى شملت آباد الزمن، وامتدت عرضًا حتى وسعت آفاق الأمم، وامتدت عمقًا حتى استوعبت شئون الدنيا والآخرة

“Telah membentang jangkauannya sehingga mencakup sepanjang jaman, melebar jangkauannya sehingga mencapai ujung dunia, dan meluas kedalamannya hingga meliputi berbagai sisi kehiduapn dunia dan akhirat”.

Pemahaman Al-Ikhwan

Sejak munculnya Al-Ikhwan, kalimat yang diucapkan dalam setiap dakwahnya adalah

ولكننا أيها الناس فكرة وعقيدة، ونظام ومنهاج، لا يحدده موضع ولا يقيده جنس ولا يقف دونه حاجز جغرافي ولا ينتهي بأمر حتى يرث الله الأرض ومن عليها ذلك لأنه نظام رب العالمين ومنهاج رسوله الأمين

“Namun dakwah kami wahai manusia adalah fikrah dan akidah, nizham dan manhaj, tidak terbatas pada tempat, tidak terikat pada jenis dan tidak ada pembatas geografi dan tidak berhenti hanya pada satu perkara hingga Allah mewariskan bumi ini dan atas orang yang dikehendaki, karena Islam adalah nizham Tuhan sementara alam dan minhaj rasulullah al-amin”

Dan yang dengan asas itulah dakwah Al-ikhwan muncul dan bergerak, tumbuh sepanjang 80 tahun lamanya dalam jiwa-jiwa para al-ikhwan dan generasi umat secara menyeluruh, bahwa pemahaman yang benar dan menyeluruh merupakan orbit utama, menjadikannya sebagai penggerak asasi yang harus dimiliki demi mulusnya perjalanan dakwah, ia adalah gelas yang berisi air yang dapat diminum oleh generasi dakwah. Dan seorang mukhlis yang aktif yang tidak memiliki pemahaman yang benar dan tidak mau memberikan kontribusi dakwahnya, maka pada hakikatnya ia telah terjerumus pada kesesatan yang besar, contohnya adalah al-khawarij, dan perbedaan antara hafalan dan pemahaman seperti jasad dan ruh, al-hifzhu adalah jasad sedangkan al-fahmu adalah ruhnya, dan ibrah yang diambil bukan karena banyaknya pengetahuan, hafalan dan kerja, namun al-ibrah adalah kejelian hafalan, kejernihan pemahaman dan kebersihan pengetahuan.

Dan sesungguhnya kejayaan agama Allah tidak akan sempurna kecuali atas dasar pemahaman yang benar dan universal terhadap Islam seperti yang telah dibawa oleh nabi Muhammad saw tanpa ada penyimpangan, pengurangan atau penyempatan atau ada kesalahan dalam wawasan dan keyakinan.

Dan bahwasannya pemahaman yang benar merupakan pembuka untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh kejelian, dan orang yang memiliki pemahaman yang benar adalah pemilik kecerdasan dan kejelian dalam ekskusi dan kesadaran yang penuh.

Sebagaimana pemahaman yang benar juga merupakan rujukan kami saat terjadi perbedaan atau mulai tampak ada penyimpangan di dalamnya.

Dan sesungguhnya pemahaman yang benar terhadap Islam tidak dapat berjalan baik melalui pemaksaan, dan tidak akan menyebar dengan kekerasan, dan tidak akan secara berkesinambungan melalui tekanan, namun ia merupakan pemahaman, pengetahuan dan kepuasan.

Dan pemahaman yang benar terhadap Islam harus terpatri dalam setiap kerja, setiap ijtihad, dalam setiap prilaku dan akhlak, sehingga jauh dari suatu penyimpangan yang terjadi dalam suatu kerja.

Perjalananan dakwah Al-ikhwan telah berlangsung selama 80 tahun, mengarungi perjalanan hidup berdasarkan pada batas-batas usul al-fahm yang dua puluh seperti yang telah digariskan oleh imam Al-Banna, yang tujuannya adalah:

إدراك الفهم الصحيح للإسلام، العمل الراشد للإسلام والتجمع حوله، والحذر من خط الانحراف، وجمع المسلمين على فهم واحد، وتضييق شُقة الخلاف بين العاملين للإسلام، أن واجبنا هو السعي لإحياء الفهم الذي كاد أن يندثر

“Memiliki pemahaman yang benar terhadap Islam, kerja yang terarah pada Islam dan bergabung disekitarnya, berhati-hari pada penyimpangan, menyatukan umat Islam pada pemahaman yang satu, mempersempit dan meminalisir kisi-kisi perpecahan pada kalangan aktivis Islam, dan kewajiban kita adalah berusaha menghidupkan pemahaman yang hampir saja sirna”.

Faedah yang berlimpah

Imam Ibnu Al-Qoyyim berkata:

صحة الفهم نور يقذفه الله في قلب من يشاء من عباده فيميز به بين الصحيح والفاسد، والحق والباطل، والهدى والضلال

“Pemahaman yang benar adalah cahaya yang dipatrikan oleh Allah dalam hati siapa yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya, sehingga dengannya dapat membedakan antara yang benar dan yang rusak, yang hak dan yang bathil, petunjuk dan kesesatan”.

Dari sini Al-ikhwan memahami bahwa; bahwa pemahaman yang dapat memberikan manfaat dan faedah yang berlimpah, buah yang banyak; baik terhadap invdividu, jamaah, masyarakat dan umat, yaitu sebagai berikut:

1. Memelihara jamaah terhadap konsep Islam yang benar dan menafikan keburukannya dan berusaha menghindar darinya.

2. Mencegah munculnya sekolah-sekolah pemikiran yang beragam di dalam madrasah dakwah yang satu, namun menjadi tempat mereguk ilmu dan sumber yang satu.

3. Mencegah setiap penyimpnagan yang masuk dalam Islam, dan tidak mencegah masuknya ideology yang bertentangan oleh karena perasaan atau ingin memudahkan suatu peristiwa yang rancu di dalam tubuh jamaah yang penuh berkah, namun karena ketegasan dan pemahaman yang mendalam.

4. Dapat menentukan kecapakapan dalam penerapan, kebersihan kerja dan terjaga dari ketergelinciran.

5. Melindungi individu muslim, jamaah dan umat Islam dari kesalahan dan penyimpangan dalam wawasan, keyakinan dan prilaku.

6. Membebaskan akidah dari kepalsuan, kejumudan dan hal-hal yang mungkin masuk dari akibat wahm dan syubhat.

7. Memecahkan kejumudan yang dapat menimpa akal karena taqlid dan menutup pintu ijtihad.

8. Melindungi individu muslim dari mengikuti hawa nafsu, prasangka buruk atau penyimpangan, menentukan seputar pemahaman yang bersih dan jauh dari berlebihan dan penyimpangan.

Sisi-sisi pemahaman

Ketika imam Al-Banna berkata dalam risalah muktamar kelima

إن ميدان القول غير ميدان الخيال، وميدان العمل غير ميدان القول، وميدان الجهاد غير ميدان العمل، وميدان الجهاد الحق غير ميدان الجهاد الخاطئ

“Bahwa medan kata-kata bukanlah medan khayalan, dan medan kerja bukanlah medan kata-kata, dan medan jihad yang benar bukan medan jihad yang salah”

Al-Ikwan Al-Muslimun sepanjang sejarahnya menyatakan bahwa para aktivis Islam membutuhkan pemahaman yang benar, guna meluruskan jalan, sehingga kita dapatkan Islam di bumi realita dengan gambaran yang benar.

Kadang seorang muslim memahami tujuannya namun keliru pada sarana dan uslub perubahan, dan kadang benar melakukan hal tersebut namun keliru dalam manhaj yang dijadikan sarana untuk berjalan diatasnya, atau dalam salah satu jalan dakwah atau tarbiyah.

Karena itu Al-Ikhwan meyakini bahawa sisi-sisi yang harus dikerjakan dalam melakukan pemahaman adalah

الغاية التي نسعى لها- الوسيلة التي نستخدمها- التغيير الأمثل الذي نسلكه- المنهاج الصحيح الذي نعتمده- الهوية التي يجب أن نحملها- الجهاد الحق الذي نشعله- طرائق الدعوة والتربية التي ننتهجها.. إلخ

“Tujuan yang diinginkan, sarana yang digunakan, perubahan yang tepat untuk dijadikan jalan, manhaj yang benar untuk dijadikan sandaran, semangat yang membara untuk dijadikan beban, jihad yang benar yang harus selalu bergelora, jalan-jalan dakwah dan tarbiyah yang akan menjadi jalani.. etc”.

Stasiun-stasiun penting

1. Keberhasilan fikrah yang bagus menurut Al-ikhwan terbentuk pada tiga perkata; (memberikan gambaran yang benar, mengimaninya dengan keimanan yang mendalam, hati yang menyatu secara kokoh).

2. Pemahaman yang benar membutuhkan pada; (keimanan dengan pemahaman yang benar dan menyeluruh, bekerja dengannya, mengajak manusia kepadanya, memberikan taklif kepada seluruh manusia untuk menerapkannya), menempuh jalan di jalannya terhadap apa yang dapat kita lakukan dan temui.

3. Kendala-kendala terhadap pemahaman yang benar (pandangan-pandangan parsial dan arogan, cetek fikiran, mengabaikan waktu dan produktivitas, rancu antara sarana dan tujuan).

4. Kita harus (menghindar terjerumus pada kerancuan dan kesalahan, komitmen pemahaman yang bersih tanpa pengurangan dan berlebihan atau melampaui batas atau mengurangi).

5. Penyimpangan terhadap pemahaman yang benar pada Islam oleh karena; (kebodohan atau mengikuti hawa nafsu, terlalu bangga terhadap pendapat sendiri atau takwil yang salah atau menjadikan Al-Quran sebagai pengikut bukan yang diikuti).

Hasil dari pemahaman

Bahwa hasil pemahaman yang natural terhadap pemahaman yang benar dan universal sepanjang 80 tahun dakwah, menjadikan Al-Ikhwan Al-muslimun jamaah mendapatkan cita-cita yang mencintai kebaikan, maka ciri mereka adalah:

1. Dakwah Salafiyah: karena mereka menyeru untuk kembali pada Islam, kepada sumbernya yang bersih; kitab dan sunnah.

2. Thariqoh Sunniyyah: karena mereka membawa jiwa mereka untuk bekerja sesuai dengan sunnah yang suci dalam segala sesuatu, khususnya dalam aqidah dan ibadah selama mereka mendapati jalannya pada hal tersebut.

3. Hakikat Sufiyah: karena mereka memahami bahwa dasar kebaikan adalah kebersihan jiwa, kejernihan hati, kelapangan dada, santun dalam kerja, memelihara akhlak, cinta kepada Allah dan ukhuwah di dalamnya.

4. Ha’iah Siyasiyah: karena mereka bekerja untuk memperbaiki pemerintahan secara internal dan meluruskan pandangan dalam menyatukan umat Islam dengan yang lainnya dari umat-umat diluar, membina bangsa akan kekuatan, kemuliaan dan membangkitkan nasionalisme.

5. Jamaah Riyadiyah: karena mereka selalu memperhatikan kesehatan, menyadari bahwa orang mukmin yang kuat lebih baik dari mukmin yang lemah, dan bahwa taklif Islam tidak akan mampu ditunaikan kecuali dengan badan yang kuat, hati yang penuh dengan keimanan, dan akal yang memiliki pemahaman yang benar.

6. Rabitah Ilmiyah Tsaqofiyah: ilmu dalam Islam adalah kewajiban yang harus diambil, dicari walaupun di negeri China, dan Negara akan bangkit atas keimanan dan ilmu.

7. Syirkah Iqtishadiyah: Islam juga difahami dengan mengatur harta dan kekayaan, dan nabi saw bersabda:

نعم المال الصالح للرجل الصالح

“sebaik-baik harta yang baik milik seseorang yang salih”,

dan

من أمسى كالاً من عمل يده أمسى مغفورًا له

“Barangsiapa pada sore harinya membawa harta yang berlimpah karena hasil tangannya sendiri maka mendapatkan ampunan Allah baginya”.

Penutup

Imam Al-Banna berambisi memberikan pemahaman yang benar, karena itu beliau memulain arkan al-bai’ah (rukun-rukun bai’at) dengan al-fahmu, lalu membuat bahagian-bahagiannya menjadi 20 usul (dasar-dasar penting); agar tercakup berbagai sisi; akidah, ibadah dan fikriyah yang dapat dijabarkan dan diamalkan oleh setiap al-akh dalam mengarungi perjalanan dakwahnya; dan juga menjadi contoh yang bersinar dan penjaga dari ketergelinciran dan penyimpangan, imam Al-Banna mejadikan al-fahmu sebagai rukun pertama dari rukun-rukun bai’ah lainnya; sehingga dapat menjaga shaf pertama dari kesalahan dan penyimpangan, dan dari sini bahwa setiap al-akh yang berba’iat kepada Allah dalam dakwah ini harus menjadikan dirinya sebagai penjaga yang amanah -melalui pemahaman ini- dari berbagai perubahan dan penyimpangan; memenuhi janji dari berba’iat kepada Allah, mengharuskan untuk komitmen dengan batasan-batasan pemahaman dalam harakah dan kerjanya, khutbah dan ceramah-ceramahnya, karangan dan tulisan-tulisannya, dalam komentar-komentarnya yang umum dalam majlis-majlis dan detasemennya.

Oleh:

Ismail Hamid

sumber:

www.ikhwanonline.com


Naskah Terkait Sebelumnya:


Dipublikasikan pada 12/5/2008 / 7 Jumada al-Ula 1429 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah. Anda dapat mengikuti seluruh komentar pada naskah ini melalui RSS 2.0 feed. Anda juga dapat memberi komentar, atau melakukan trackback dari situs Anda. Kirim | Print | Ke atas.

Tulis Komentar

Belum Ada Komentar

RSS feed untuk komentar pada naskah ini. TrackBack URI

Maaf, untuk sementara kolom komentar tidak tersedia.

« sebelumnya
sesudahnya »